Saat perpisahan kelulusan anak XII, Abi duduk bersama Okan di salah satu bangku di lapangan sekolah. Mata Abi terus mencari-cari keberadaan Widi. Abi belum melihat Widi sejak pagi.
“Cari Widi ya?” tanya Okan sambil menepuk bahu Abi hingga membuat Abi kaget. “Yang dateng malah Wida tuh.” lanjut Okan sambil menunjuk ke arah Wida, Dian, dan Niken yang berdiri di sebelahnya. Mereka adalah sahabat-sahabat Wida yang selalu bersamanya.
Wida, Niken, dan Dian menghampiri dan mengajak Abi ke tempat yang tidak begitu bising. Mereka ingin berbicara sesuatu pada Abi. Okan mengikuti Abi seakan tidak mau ketinggalan berita soal mereka. Ia penasaran dengan apa yang akan terjadi antara Abi dan Wida.
“Bi, ini Wida mau ngomong sesuatu nih untuk terakhir kalinya sama kamu.” kata Dian sambil menarik Wida agar lebih mendekat pada Abi. Wida tersenyum manis pada Abi, membuat Abi merasa bingung.
Abi merasa bingung kenapa Dian mengatakan jika Wida ingin bicara untuk terakhir kali padanya. Apakah Wida tahu soal hubungan Abi dan Widi? Atau apakah Wida akan mengatakan sesuatu?
Tiba-tiba Niken dan Dian sedikit menjauh dari Abi dan Wida. Mereka memberi ruang untuk mereka berdua. Sementara Okan, dia malah mendekat lebih dekat dengan Abi dan mulai memasang kupingnya lebar-lebar untuk mendengarkan apa yang akan Abi dan Wida bicarakan. Bahkan mata Okan saat ini pun sedang berpura-pura melihat ke arah panggung perpisahan. Dengan memasang pose yang dibuat se-cool mungkin, Okan pun mulai menguping.
“Ini adalah kado terakhir yang bisa aku kasih ke kamu, Bi.” Wida menyerahkan sebuah kotak berwarna biru muda yang dihiasi pita putih kepada Abi. “Karena ini adalah hari terakhir kita ketemu sebagai siswa SMA.” Dia tersenyum sedih, menatap mata Abi yang berkilau. “Tadinya aku fikir setelah ini kita bakalan ketemu lagi, tapi kayaknya kita enggak bisa ketemu lagi karena aku harus nerusin kuliah di Jakarta.” Dia menundukkan kepalanya, menahan air mata yang mulai menggenang.
“Jakarta?” kata Okan yang tiba-tiba menimbrung. Dia duduk di sebelah Abi, ikut mendengarkan pembicaraan mereka. “Kamu mau kuliah di Jakarta, Da?”
“Iya, Aku sekeluarga mau pindah ke Jakarta, Kan.” Wida mengangkat wajahnya, mencoba tersenyum. “Makanya Papa juga udah ngurusin semuanya untuk kuliah aku sama Widi di sana nanti.” Dia menjelaskan dengan nada datar.
Abi dan Okan pun saling menatap heran, pasalnya Widi sama sekali tidak menceritakan tentang hal tersebut pada Abi dan Okan. Bagaimana mungkin Widi tidak memberitahu mereka tentang rencana besar ini?
Okan memberikan kode pada Abi agar segera mencari Widi. Dia tahu bahwa Abi dan Widi memiliki perasaan khusus satu sama lain, meskipun mereka tidak pernah mengungkapkannya secara langsung.
“Hmm, Wida…” Abi mengambil kotak kado dari tangan Wida, dan merasakan hangatnya tangan Wida. “Aku cuma mau bilang makasih buat kadonya dan semua kado yang udah pernah kamu kasih sebelumnya sama aku.” Abi menatap Wida dengan penuh penghargaan. “Aku berdoa semoga suatu saat nanti kita ketemu lagi dan kita juga udah jadi orang yang sama-sama sukses.” Lanjut Abi mengucapkan harapannya dengan tulus.
“Aamiin Bi.” Wida membalas doa Abi dengan lembut. “Semoga kamu juga bahagia, Bi. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik.”
“Yaudah, aku harus pergi, Da.” Abi berdiri dari kursinya, memeluk Wida sebentar. “Sampai jumpa lagi, ya.”
Belum juga Wida menjawab, Abi sudah pergi meninggalkan Okan dan Wida. Dia bergegas menuju pintu kelas, berharap masih bisa menemukan Widi.
“Da, Serius Widi juga Ikut pindah dan nerusin kuliah di Jakarta?” tanya Okan memastikan. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Wida.
Wida hanya mengangguk bingung karena Okan terlihat serius. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia sendiri juga merasa sedih dan kecewa dengan keputusan Papanya yang mendadak. Dia tidak ingin meninggalkan teman-temannya, apalagi Abi.
Kini Abi sedang pergi mencari Widi. Dia periksa seluruh ruangan dan setiap sudut kelas. Dia bertanya pada setiap orang yang dia temui, tapi tidak ada yang tahu keberadaan Widi. Dan akhirnya Abi menemukan Widi sedang berada di aula sedang mengucapkan salam perpisahan dengan teman-temannya yang lain.
Widi menyadari kehadiran Abi di depan pintu kelas. Lalu dia pun pamit pada teman-temannya untuk menghampiri Abi. “Aku kesana dulu ya.” Widi pun berjalan dengan wajah yang sedih dan tertunduk. Dia tahu bahwa Abi pasti sudah tahu tentang kepindahannya.
Abi mengajak Widi ke sebuah sungai yang menjadi tempat favorit mereka berdua. Di sana, mereka sering bermain, bercanda, dan bercerita tentang segala hal. Abi berharap di sana, Widi akan mau bicara dengan lebih leluasa dan jujur.
Di sungai, mereka mendengar gemericik air yang menenangkan, melihat ikan-ikan yang berenang riang, dan merasakan angin yang sejuk. Namun, suasana hati mereka tidak seindah pemandangan di sekitar mereka. Abi merasa kesal dan kecewa, sementara Widi merasa canggung dan bersalah.
"Jadi, maksud kamu itu apa? Kamu kok nggak ceritain ini semua sama aku? Kenapa kamu nggak bilang kalo kamu mau lanjutin kuliah kamu di Jakarta. Kenapa Di?" tanya Abi pada Widi dengan tatapan yang cukup serius. Matanya menatap tajam ke arah Widi, mencari jawaban yang memuaskan.
"Aku mau cerita kok sama kamu, Bi." jawab Widi dengan suara lembut. Dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap balik Abi. Dia tahu dia telah menyakiti hati Abi.
"Alah, kamu kok kayak yang nggak nganggep aku ada deh. Masalah kaya gini aja kamu nggak ceritain sama aku! Sampe aku harus tau dulu dari orang lain!" Abi bangkit dari duduknya lalu menghampiri Widi yang sedang menunduk seolah merasa bersalah karena tidak menceritakan semuanya pada Abi sebelumnya. "Sebenernya rahasia apa lagi sih yang kamu sembunyiin dari aku, Di?" lanjut Abi bertanya dengan sangat kesal. Suaranya meninggi, menunjukkan emosi yang tidak terkendali.
"Sumpah ya, Aku enggak sembunyiin apapun dari kamu, Bi..." Widi menarik tangan Abi. Dia ingin meredakan kemarahan Abi dan menjelaskan semuanya. "Aku cuma nggak mau kamu marah sama aku." lanjut Widi menjelaskan.
"Ya, justru dengan tau kayak gini aku malah tambah marah sama kamu, Di!" Abi menarik tangannya dari genggaman Widi. Dia merasa tidak percaya dengan alasan Widi. "Kamu kira aku bakal marah kalo kamu cerita dari awal? Kamu kira aku bakal ngelarang kamu pindah ke Jakarta? Kamu kira aku nggak peduli sama kamu?"
"Bukan begitu, Bi. Aku tahu kamu peduli sama aku. Aku juga peduli sama kamu. Tapi ini semua bukan kemauan aku, Bi." Widi mencoba membela diri. Dia merasa tidak adil jika Abi menyalahkannya. "Ini semua karena Papa. Dia yang udah ngurusin kuliah aku di Jakarta. Dia yang pengen aku kuliah di sana. Dia yang bilang kalo di sana lebih bagus, lebih banyak peluang, lebih banyak tantangan."
"Terus kamu nggak bisa nolak? Kamu nggak bisa bilang kalo kamu nggak mau?" Abi mengejek Widi. Dia merasa Widi tidak punya pendirian dan mudah dipengaruhi orang lain. "Apa kamu nggak mikirin aku? Apa kamu nggak mikirin mimpi kita? Apa kamu nggak mikirin tentang hubungan kita?"
"Aku mikir kok, Bi. Aku mikir terus. Aku bingung, Bi. Aku bingung harus gimana." Widi menangis. Dia merasa tertekan dan tidak bahagia. Dia tidak tahu bagaimana cara membuat Abi mengerti. "Aku nggak mau ninggalin kamu, Bi. Kamu itu segalanya buat aku. Tapi aku juga nggak mau ngecewain Papa. Dia udah berkorban banyak buat aku. Dia udah kerja keras buat aku. Dia juga udah ngasih yang terbaik buat akucselama ini."
Abi terdiam. Dia melihat Widi yang sedang menangis di depannya. Dia merasakan sesak di dadanya. Widi mencoba memeluk Abi dengan erat. Dia ingin menunjukkan rasa cintanya kepada Abi. Tapi Abi tidak membalas pelukannya. Abi hanya diam dan tidak bergerak.
Abi melepaskan pelukannya dari Widi. Dia melihat Widi dengan tatapan yang dingin dan kosong. Dia tidak merasakan apa-apa terhadap Widi. Dia hanya merasakan kebohongan, pengkhianatan, dan kesia-siaan dari Widi.
"Kamu tahu nggak, Di? Kamu tahu apa yang kamu lakukan sama aku? Kamu tahu apa yang kamu rusak?" Abi bertanya pada Widi dengan suara yang datar dan tanpa emosi. Matanya menatap lurus ke arah Widi, tanpa ada rasa sayang atau cinta.
"Apa, Bi? Apa yang aku lakukan? Apa yang aku rusak?" Widi balik bertanya dengan suara yang bingung dan ketakutan. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Abi. Dia tidak tahu apa yang salah dengan Abi.
"Kamu udah ngerusak mimpi kita, Di. Kamu juga udah ngerusak janji kita." Abi menjawab dengan suara yang tegas dan keras. Dia mengungkapkan apa yang dia rasakan dan pikirkan tentang Widi. Dia menyalahkan Widi atas semua yang terjadi.
"Kamu jangan ngomong kaya gitu dong, Bi. Kamu nggak bisa nyalahin aku kaya gitu." Widi membantah dengan suara yang putus asa dan sedih. Dia tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Abi. Dia tidak mau kehilangan Abi.
"Kamu nggak bisa ngelakuin ini sama aku, Di. Seharusnya kamu jangan ngasih harapan palsu sama aku!" Abi melanjutkan dengan suara yang marah dan sakit.
Abi berbalik dan meninggalkan Widi. Dia berjalan sedikit lebih cepat di pinggir sungai. Dia tidak mau melihat Widi.
Widi pun menangis dan berteriak memanggil nama Abi. Dia mencoba berlari mengejar Abi. Tapi Abi tidak menghiraukan Widi. Abi tidak menoleh ke belakang sedikitpun. Dia terus saja melanjutkan langkahnya.
Widi menatap Abi yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya. Dia merasakan sesuatu di dalam hatinya. Dia merasakan rasa sedih, rasa sakit, dan rasa kehilangan. Tapi dia tidak bisa mengubah dan memperbaiki apapun. Dia menundukkan kepalanya dan menangis.
Widi duduk di pinggir sungai dan memandangi air yang mengalir. Dia memandangi ikan-ikan yang berenang. Dia memandangi langit yang biru. Dia memandangi dirinya sendiri. Dia bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada dirinya dan Abi selanjutnya.
***