Sore itu, Abi sudah menyelesaikan pelajaran terakhirnya di sekolah. Ia berjalan menuju samping sekolah, tempat ia biasa menunggu Widi, pacarnya, untuk pulang bersama. Abi duduk di bangku yang terletak di bawah pohon rindang. Ia mengeluarkan buku dari tasnya dan mulai membacanya dengan asyik.
Buku yang sedang dibaca Abi adalah buku tentang Agribisnis, sebuah bidang yang sangat diminatinya. Abi meminjam buku itu dari perpustakaan sekolah tadi siang. Abi bercita-cita untuk kuliah di jurusan Agribisnis dan menjadi seorang ahli pertanian. Ia terinspirasi oleh kakeknya yang dulunya adalah seorang petani sukses. Abi juga memiliki mimpi untuk memajukan kesejahteraan para petani di daerahnya.
Abi terus larut dalam membaca buku itu, hingga ia tidak menyadari bahwa Widi sudah datang dan berdiri di depannya.
“Lama nunggu ya?” ucap Widi sambil tersenyum.
Abi terkejut dan langsung menutup bukunya. Ia menoleh ke arah Widi dan membalas senyumnya.
“Enggak kok, baru aja.” kata Abi sambil memasukkan bukunya kembali ke dalam tas.
“Lagi baca buku apa sih? Kayaknya serius banget?” tanya Widi dengan rasa penasaran. “Buku Agribisnis. Aku pinjam di perpus tadi.” jawab Abi singkat.
“Oh, rajin banget ya pacar aku. Emang kamu suka banget ya sama Agribisnis?” goda Widi. “Apaan sih kamu?” kata Abi tersenyum malu.
Mereka sudah berpacaran sejak masuk ke SMA, tetapi tidak pernah memberitahu siapa pun, terutama Wida. Widi hanya tidak tega menyakiti hati dan perasaan Wida, kembarannya, yang diam-diam juga telah lama menyukai Abi. Tapi Widi juga tidak bisa membohongi perasaannya pada Abi.
“Oh iya, gimana untuk pendaftaran kuliah nanti kamu udah siapin?” sambung Abi.
Widi terdiam sesaat. Abi pun menunggu jawaban Widi dengan sedikit heran.
“… kayanya belum, Aku nunggu keputusan dari papa dulu soalnya.” jawab Widi akhirnya. Dia tidak bersemangat untuk membahas itu, karena papa Widi menyarankan Widi untuk melanjutkan kuliah di Jakarta. Sebenarnya dia tidak mau, tapi dia juga tidak mau mengecewakan papa dan mamanya. Dia juga tidak tahu apakah dia bisa kuliah bersama Abi atau tidak.
“Oh, tapi kita bakal kuliah bareng kan?” tanya Abi memastikan. Dia berharap Widi bisa masuk ke universitas yang sama dengannya, agar mereka bisa tetap bersama.
Widi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Walaupun sebenarnya dia masih sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan Abi. Dia tidak yakin, karena sebelum itu dia harus bisa lolos seleksi masuk universitas terlebih dahulu, apalagi di jurusan kedokteran yang sangat kompetitif.
Widi dan Wida terlahir di dalam keluarga yang berprofesi sebagai dokter. Papa, Mama, dan Kakaknya pun juga adalah seorang dokter. Mereka sangat bangga dengan profesi mereka dan selalu berharap anak-anak mereka bisa meneruskan tradisi keluarga. Widi dan Wida pun tumbuh dengan didikan yang ketat dan disiplin. Mereka selalu mendapat nilai bagus di sekolah dan mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Namun, di balik semua itu, Widi dan Wida memiliki cita-cita yang berbeda. Sebenarnya, Widi bercita-cita menjadi seorang fotografer dan bermimpi bisa memiliki studionya sendiri, sedangkan Wida bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Mereka tidak berani mengungkapkan keinginan mereka kepada orang tua mereka, karena takut mengecewakan kepercayaan orang tuanya. Sehingga dalam diam, mereka mencoba menyelami dunia kedokteran, dunia yang hanya menjadi topik pembicaraan keluarganya. Dan lambat laun, mereka pun jadi terbiasa dan berusaha membuat papa mereka bangga dengan tujuan sesungguhnya untuk menjadi dokter. Hingga sampai suatu hari, Papa mereka mengumumkan bahwa Widi dan Wida harus masuk ke Universitas Kedokteran agar bisa menjadi dokter juga seperti keluarga mereka. Widi dan Wida merasa terkejut dan tidak bisa menolak. Mereka hanya bisa pasrah dan mengikuti keputusan sang papa.
“Eh, tadi ada apaan sih ama Wida?” tanya Widi mengalihkan topik. Dia merasa tidak nyaman membahas soal kuliah.
“Enggak itu, tadi Wida ngasih kado lagi sama aku.” Abi hanya menggaruk kepalanya sambil terkekeh.
Wida memang sering memberi kado kepada Abi, sebagai tanda perhatian dan cinta. Abi selalu menerima kado-kado itu dengan sopan, tapi dia tidak pernah memberi harapan kepada Wida. Dia hanya menganggap Wida hanya sebagai teman baiknya saja.
“Oh, gitu…” sebenarnya ada sedikit perasaan cemburu dari Widi. Namun, Widi berfikir untuk apa dia cemburu pada kembarannya sendiri. "Wida itu kan emang suka sama kamu Bi." lanjut Widi sambil tersenyum. Dia berusaha bersikap dewasa dan tidak egois. Dia tahu bahwa Wida juga berhak untuk bahagia, meskipun itu adalah Abi.
Abi sedikit membulatkan matanya. “Kamu ngomong apa sih?” dia tidak percaya dengan ucapan Widi. Dia pikir Widi hanya bercanda.
“Beneran tau.” Widi menatap Abi dengan serius. Dia ingin Abi tahu bahwa dia tidak marah atau iri dengan Wida. Dia hanya ingin Abi mengerti perasaan kembarannya itu.
“Yaudah sih, biarin aja, aku kan sayangnya sama kamu.” kata Abi tersenyum gombal pada Widi. Dia mencoba meredakan suasana yang mulai tegang. Dia memeluk Widi erat dan mencium pipinya.
Widi juga ikut tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Abi. Dia juga beberapa kali mendorong-dorong Abi karena geli. Dia merasa bahagia bersama Abi, meskipun harus menyembunyikan hubungan mereka dari semua orang.
“Oh iya, kenapa sih kita musti nyembunyiin semuanya dari Wida sama anak-anak di sekolah, lagian kalo Wida tau kan dia juga enggak akan banyak berharap sama aku, dan dia juga pasti enggak akan ngelakuin semua hal kaya tadi lagi, Di.” kata Abi.
Akhirnya Abi mulai berani untuk bertanya pada Widi, karena dia merasa heran dengan keputusan Widi yang memilih menyembunyikan hubungannya dari anak-anak di sekolah sejak pertama mereka menjadi sepasang kekasih.
“Masalahnya kan udah jelas, karena Wida juga kan suka sama kamu Bi, aku enggak mau kalo nanti Wida malah sedih cuma gara-gara dia tau hubungan kita. Lagian juga ada saatnya kok Wida tahu semuanya.” jelas Widi. Dia tidak mau melukai hati Wida berharap suatu hari nanti Wida bisa menerima hubungan mereka dengan lapang d**a.
Abi hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. “Yaudah sih aku gimana kata kamu aja deh.” kata Abi dengan ekspresi wajahnya yang mulai berubah dalam seketika.
Dia merasa tidak adil dengan keputusan Widi. Walaupun sebenarnya Abi juga merasa tidak nyaman dengan hubungannya dengan Widi yang harus disembunyikan dari orang-orang. Dia ingin bisa bebas menunjukkan cintanya kepada Widi di depan umum, tapi itu tidak bisa dia lakukan karena permintaan Widi.
“Yaudah jangan bete gitu dong.” kata Widi tertawa sambil mencubit pipi Abi. Dia mencoba menenangkan Abi dan membuatnya tersenyum lagi. Dia tahu kalau Abi tidak suka dengan situasi ini, tapi dia berharap Abi bisa sabar dan mengerti tentang keputusannya.
“Iya iya, enggak kok.” Abi berusaha tersenyum dan mengikuti keinginan Widi.
Abi sangat menyayangi Widi lebih dari apapun. Ada banyak mimpi yang Abi fikirkan bersama Widi kedepannya. Dari mulai kuliah bersama di kampus yang sama, dan sukses bersama-sama. Begitu juga Widi, Widi sangat menyayangi Abi. Tapi, Widi juga begitu sangat menyayangi Wida, kembarannya. Sehingga dengan sangat terpaksa, Widi merahasiakan hubungannya dengan Abi hanya karena ingin menjaga perasaan Wida agar tidak terluka.
***