Berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang Unit Gawat Darurat atau yang lebih dikenal dengan ruang UGD itu, membuat Gray yang semula sudah konyol terlihat semakin konyol. Entah setan apa yang merasukinya, hingga frekuensi kekhawatiran laki-laki itu lantaran melihat kondisi tidak berdaya Ollin, begitu besar.
Sepertinya Gray tidak sadar dengan penampilannya saat ini, sepasang sandal yang tidak serasi, yang satunya berwarna putih, yang satunya lagi berwarna merah muda. Tidak hanya itu saja, kancing baju kokonya tampak terbuka, menampilkan kaos putih yang menjadi dalaman baju Gray, serta tubuh bagian bawah laki-laki itu yang hanya terbalut oleh kolor berwarna merah muda bergambar Spongebob sebatas lutut. Sementara, kepala laki-laki itu masih mengenakan peci. Bukankah penampilan Gray memang terlihat konyol? Sudah seperti orang gila saja.
Tapi, tunggu! Bukankah Gray tadi mengenakan sarung? Lalu di mana sarungnya? Apa sarung Gray tadi tertinggal di suatu tempat? Atau malah tertiup oleh angin?
"Maaf Mas? Apa sarung ini punya Mas?" Suara berat nun serak yang terdengar khas karena logat Jawanya itu, membuat langkah mondar-mandir Gray seketika terhenti.
Dosen yang mengajar di Universitas Cakrawala itu, menatap bingung sesosok laki-laki berseragam satpam yang datang serta menenteng sebuah sarung di tangannya. Tidak dapat dipungkiri, jika Gray mulai was-was akan sesuatu. Sesuatu yang sudah dilupakannya, dan membuatnya ditertawakan oleh ... lupakan! Gray tidak mau mengingat-ingat kejadian sepuluh menit yang lalu, di mana dirinya melihat seorang dokter dan dua perawat yang tampak menahan tawa.
Semula Gray menerka bahwa mereka hanya menahan senyum, lantaran mereka yang terpesona dengan kharismanya yang begitu memabukkan itu. Apalagi dokter dan dua perawat itu sama-sama berjenis kelamin perempuan.
Tidak menutup kemungkinan bukan, jika para petugas kesehatan itu menaruh keterpesonaan mereka pada Gray? Dan ternyata oh ternyata, mereka tidak menahan senyum terpesona, melainkan sebuah tawa mengejek yang secara tidak langsung melukai harga diri seorang Gray Asean Yanuardi. Pamornya hancur seketika di hadapan tiga perempuan sekaligus. Ingin rasanya Gray berteriak kencang, namun laki-laki itu sadar jika saat ini ia tengah berada di rumah sakit, tempat di mana banyak orang mengalami gangguan kesehatan. Dan sangat tidak dianjurkan untuk membuat keributan di tempat itu.
"Hah!?" Terdengar tidak sopan. Lantaran Gray hanya menjawab dengan suara yang hampir terdengar seperti dengkusan. Apalagi orang yang barusan mengajaknya berbicara itu, merupakan seorang laki-laki yang dilihat dari wajahnya berusia sekitar empat puluhan atau bahkan lima puluhan tahun, yang jelas lebih tua dari pada Gray.
"Sarung berlogo gajah manjat kelapa ini, benar-benar punyamu Mas? Soalnya saya tadi lihat Mas lari tunggang langgang dari parkiran, niatan awal saya tadi mau menegur Mas karena tidak memarkirkan mobil dengan baik, tapi setelah melihat Mas Ganteng yang lagi gendong wong wedok langsung mandek deh saya. Pengen bantu, tapi gara-gara ngelihat sarung Mas Ganteng yang melorot tiba-tiba saja saya pengen ngakak. Mana celana Mas warnanya pink lagi. Jan, ndak pantes karo awak e sampean sing gedi dhuwur itu Mas." Penjelasan berlogat mendok yang diselingi bahasa Jawa itu sedikitnya tidak dipahami oleh Gray.
Gray merasa tersinggung akan ucapan dari Pak Satpam yang dari name tag-nya bernama Yadi itu. Apalagi saat ini laki-laki paruh baya itu kembali terbahak. Memangnya apa yang lucu? Gray sama sekali tidak tertawa. Dan ya, kenapa Gray tidak sadar kalau sarungnya sudah mlorot bahkan sudah terlepas dari pinggangnya? Sekhawatir apa ia tadi, sampai ia melupakan dunia nyata dan malah menghancurkan reputasinya?
Setelah mahasiswinya bangun nanti, ia akan meminta pertanggung jawaban pada perempuan itu. Nama baiknya sudah hancur, benar-benar mengesalkan si Alana itu. Gara-gara dirinya pingsan, ia ikut terkena imbasnya. Reputasinya jelek sudah, untung saja tidak ada yang melihatnya di rumah sakit itu. Andai saja ada yang melihat ia dengan penampilan super bodohnya dan memfoto ia yang tengah menggendong Ollin tersebut, pastilah besok di kampus sudah ada headline news dengan berita yang sangat jauh dari realita. Alias berita yang sengaja dihiperbolakan agar jadi trending topic. Oh God!
Gray mendengkus memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk, yang barangkali saja akan terjadi padanya. "Kenapa bapak malah ketawa?! Saya ini frustasi loh! Reputasi saya udah anjlok. Lagipula kenapa bapak nggak cepet-cepet ngasih itu sarung ke saya?! Ya Tuhan, saya tadi udah diketawain sama orang-orang loh, Pak."
Gray tahu, sebagai dosen berpendidikan tinggi, ia berlaku cukup tidak sopan dengan laki-laki paruh baya di hadapannya kini. Tapi, untuk sekarang ini ia tidak bisa beramah tamah. Pikirannya terlalu kacau untuk berpikir jernih. "Duh, maaf Mas. Saya kalau ketawa ndak bisa ditahan, terakhir kali nyoba nahan, eh metune soko mburi, alias mak bus, baunya ndak enak. Kentut saya baunya super loh, bisa bikin ayam semaput." Pak Yadi, satpam berkumis tipis itu meringis melihat bibir Gray yang sudah maju beberapa senti. Ah, rupanya Gray mulai ngambek lagi. "Lagipula kalau saya merecoki Mas Ganteng karena sarung ini, saya kasihan sama si Mbak yang Mas gendong. Nanti kalau terlambat ditangani gimana? Kan kasihan Mas. Kapriye panjenengan niki?"
Setelah dipikir-pikir lagi, benar apa kata Pak Yadi. Bagaimana kalau dokter terlambat menangani mahasiswi yang dipanggilnya Alana itu? Bagaimana kalau Alana meninggal dan pada akhirnya menjadi arwah penunggu apartemen miliknya? Bagaimana pula kalau ia yang dituduh meracuni mahasiswinya itu?! Untunglah, otak cerdasnya sudah kembali. Kalau tidak? Ia pasti masih menjadi laki-laki i***t.
"Ya sudah Pak, Bapak pergi saja. Mana sarung saya, terima kasih sudah mengembalikannya pada saya," ucap Gray yang kali ini menggunakan nada lembut, terdengar sopan. Ia tersenyum seraya menerima uluran sarung dari si Bapak Satpam tersebut.
*****
Ollin tersenyum menerima suapan makanan dari tangan Pak Dosen. Ollin merasa Gray sangat berbeda kali ini, laki-laki itu begitu baik. Sampai-sampai mau menyuapinya segala. Padahal Ollin tadi sudah menolaknya. Tatapan mata laki-laki itu juga terlihat ramah, tidak seperti biasanya yang malah kerap menunjukkan raut kekesalan.
Tidak hanya itu saja, bahkan Gray rela tidak mengajar hari ini hanya untuk menungguinya di rumah sakit. Setelah semalam dokter selesai memeriksanya, Ollin dinyatakan harus diopname, paling tidak untuk dua hari ke depan sampai kondisi Ollin benar-benar pulih. Sakit perut yang tadi malam Ollin alami, sedikit aneh karena mengakibatkan perempuan itu pingsan, ya wajar saja sebenarnya karena cairan dalam tubuh Ollin berkurang banyak. Gray juga tidak pulang dari semalam, terbukti dari pakaian yang Gray kenakan masih sama. Namun penampilan Gray terlihat jauh lebih baik dari semalam, semua pakaian Gray terpasang rapi di tubuhnya.
"Cepat sembuh dong, saya nggak mau kamu susahin terus," ucap Gray seraya menyuapkan sendok terakhir bubur untuk Ollin. Suaranya terdengar kesal.
Menerima suapan Gray, Ollin langsung menelannya. Tidak perlu dikunyah, karena tekstur bubur itu sudah kelewat halus. "Iya, Pak iya. Hari ini saya juga udah bisa pulang kok, nggak perlu nunggu besok. Saya udah baik-baik saja." Ollin membalas dengan cemberut.
"Baik-baik saja dari mana, itu wajah kamu masih pucat banget. Emang kamu pikir saya tega gitu ngelihat kamu yang kayak gini? Kalau kamu pingsan gimana? Cairan tubuh kamu itu udah banyak banget yang hilang, mana kemarin dokter bilang kalau kamu juga dehidrasi lagi. Kamu itu harus rajin minum air putih, sehari minimal delapan gelas. Kamu juga banyak beraktivitas, seharusnya kamu sadar, Alana. Kalau kamu bisa jaga diri kamu sendiri, kan saya nggak usah repot!" Ollin hanya tersenyum kecil mendengar omelan Gray. Sama sekali tidak berniat mendebat ucapan sang dosen.
Entah mengapa jantungnya berdebar aneh mendengar omelan itu. Ollin merasa, Gray menaruh banyak perhatian padanya. Hal yang sangat jarang ia terima dari sosok berjenis kelamin laki-laki.
Kalau dilihat-lihat Pak Gray memang ganteng. Apalagi kalau pakai sarung, peci, baju koko kayak gini. Sayang dianya gay, coba kalau enggak? Batin Ollin, seraya memperhatikan dengan lamat Gray yang tampak mengomel, mengenai pola hidup Ollin yang sangat berantakan.
Apalagi, saat ini dosennya itu tengah mengelap sudut bibir Ollin yang kotor, wajahnya memang tidak begitu dekat tapi cukup membuat Ollin melihat dengan jelas wajah si dosen tampan.
"Heh, Alana! Kamu dibilangin malah bengong aja. Kamu denger nggak apa yang udah saya bilang tadi? Jangan-jangan kamu nggak denger, lagi? Awas aja kalau kamu emang sengaja nggak dengerin apa kata saya. Benci sama saya sih boleh, sah-sah aja, kalau kamu mau tetap jadi berandalan ya silakan. Tapi untuk kesehatan, kamu harus memperhatikannya dengan baik. Jangan asal saja, kan kalau udah sakit gini siapa yang repot? Orang lain juga, kan? Untung saya baik, biarpun aslinya malas." Gray kembali berbicara, menasihati si mahasiswi sombong yang terkadang senang membuat tensi darahnya naik itu.
Ollin tidak menjawab, ia kembali tersenyum. Kecerewetannya hilang, tergantikan lemas yang mendera tubuhnya. Dari semalam, setelah dirinya sadar, Ollin berubah menjadi sosok pendiam yang sama sekali tidak menggambarkan seorang Alana Ollin Nadheranjani, yang ceriwis, banyak ngomong, nyablak, slengean, berandalan dan semacamnya.
"Iya, Pak. Saya mengerti." Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya Ollin menjawab. Gerakan Gray yang masih dalam mode membersihkan sudut bibir Ollin itu terhenti. Satu alisnya naik, membuat sebuah lengkungan yang terlihat lucu bila dipadukan dengab wajah Gray yang berekspresi datar.
"Tumben kamu kalem kaya putri keraton gini? Btw, kamu lebih cantik kalau kalem kayak gini, nggak urakan seperti biasanya." Gray bersuara, seraya menarik tangannya dari wajah Ollin. Kemudian, laki-laki itu melipat sapu tangan yang tadinya, ia gunakan untuk membersihkan noda di wajah Ollin.
Untuk pertama kalinya, Ollin merasa berbunga-bunga karena ucapan Gray. Rona di wajahnya jelas terlihat, kontras sekali karena memang semula wajah Ollin yang terlihat pucat. Anehnya, Gray sama sekali tidak menyadari hal itu.
"Saya kan cewek Pak, wajar kalau cantik. Sayang aja bapak gay. Coba kalau enggak, pasti udah naksir sama saya," balas Ollin dengan cengiran tipisnya. Gray tidak merespon, tidak juga memberi tanggapan. Namun, dua sudut bibir laki-laki itu tertarik membentuk seulas senyum yang menambah kadar ketampanannya, sayang sekali Ollin tidak mengetahui hal itu.