BAB 9

1003 Words
"Lin, lo kenapa sih dari tadi cemberut mulu?" Tanya Riana seraya meletakkan dua mangkuk bakso ke atas meja kantin, lantas perempuan berparas cantik kalem itu pun mendudukkan dirinya di bangku, tepat menghadap Ollin. "Udah gue beliin bakso nih, jangan cemberut mulu napa? Lagi ada tamu lo?" Ollin menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Riana. "Ck itu, barusan si b******k Keenan nyamperin gue. Mana ngata-ngatain gue lagi. Kurang ajar banget itu mulut laki satu. Minta dicabein bener. Sumpah ya, gue bakal benci dia seumur hidup gue." Ucapan Ollin syarat akan kekesalan. Matanya berkilat penuh amarah. Riana mencibir, "Jangan bilang gitu ah, pamali. Lo bilangnya bakal benci dia selamanya, tahu-tahu lo udah cinta aja." Riana tampak meneguk es teh yang dipesannya. Ollin mengerucutkan bibirnya kesal, gadis itu memberi tatapan tidak terimanya pada Riana. "Kok lo ngomong gitu sih Na? Jangan dong. Amit-amit gue cinta sama mantan." Riana tertawa pelan, tawa yang begitu merdu sesuai dengan peringainya yang kalem. "Ya siapa tahu aja. Kita manusia, kan nggak tahu rencana Tuhan. Hari ini lo bisa bilang benci, tapi besok? Bisa saja lo cinta. Tuhan maha membolak-balikkan hati." Ollin menghela napasnya mendengar ucapan sang sahabat. "Tapi dia kan b******k. Kayak nggak mungkin gitu kalau gue jatuh cinta lagi sama dia. Lagipula ya, mantan b******k kayak gitu pantesnya di buang ke tempat sampah khusus, atau diangkut ke TPM alias tempat pembuangan mantan sana, biar nantinya di daur ulang dan nggak bakal nyakitin cewek lagi. Bener nggak nih omongan gue? Bener dong?!" Riana tertawa mendengar perkataan Ollin. "Anjir lo! Pantesan sampe sekarang masih jomblo omongan lo sadis bener." Ollin hanya mengedikkan bahunya tidak acuh. Lantas meraih mangkuk baksonya, lalu memberikan tambahan bumbu―saos, kecap, dan sambal―pada makanan berkuah yang memiliki bola-bola daging di dalamnya itu. Ollin menambahkan sekitar lima sendok―malah lebih―sambal cabai pada baksonya, hal itu membuat Riana tanpa sadar meneguk ludahnya kasar, merasa ngeri melihat merahnya kuah bakso Ollin, yang bukan dihasilkan dari saos, melainkan sambal tersebut. "Lin, ini masih pagi loh. Dan gue rasa lo belum sarapan. Makan makanan pedas di pagi hari kayak gini, gue rasa nggak cocok deh. Lo ganti menu aja, tenang gue yang bakal bayarin. Nasgor kayaknya pas." Riana memberi usulan. Ollin memandang Riana dengan alis bertaut, perempuan itu menggelengkan kepalanya, "Nggak ah, lagian makan yang pedes-pedes gini bisa bikin stres gue ilang. Gue bisa ngelupain si b******k Keenan, gue bisa ngelupain skripsi gue yang bikin kepala gue cenat-cenut setiap saat. Lagian, kayak lo nggak pernah ngeliat gue makan pedes aja. Walopun gue makan lima sendok sambal, gue nggak bakal sakit perut." "Iya, kalau lo makannya siang atau sore. Lah ini? Ini masih pagi Neng, perut lo belum kesentuh makanan. Jangan ngeyel deh." Riana mengulurkan tangannya hendak meraih mangkuk bakso Ollin, namun dengan sigap Ollin menyentil jemari lentik Riana. "Jangan macem-macem sama bakso gue. Urusin aja tuh bakso lo," ketus Ollin tanpa memedulikan ringisan Riana. "Serah lo dah Lin, gue nggak tanggung jawab kalau terjadi apa-apa sama perut lo. Lagian gue cuma modalin baksonya doang." "Iya-iya, jangan bawel deh lo." Kemudian, Ollin pun mulai memakan bakso berkuah super pedas miliknya itu. Perasaannya mengatakan tidak akan terjadi hal buruk dengannya nanti. Tapi, dalam hati sebenarnya Ollin berdo'a agar tidak terjadi apa-apa dengan perutnya nanti. **** Gray mengucap salam setelah berhasil membuka pintu apartemennya. Langkahnya terhenti, alisnya bertaut bingung, pasalnya ruangan apartemennya kini terlihat sangat gelap. Gray tahu kalau Ollin sudah pulang―terlihat dari sepatu yang kerap Ollin pakai sudah tertata rapi di atas rak sepatu miliknya―lagipula ini sudah pukul tujuh lewat. Ia tadi harus mampir ke rumah Aldi, makanya ia pulang telat. Merayap dan menggerayangi tembok, laki-laki itu mencari sakelar lampunya. Beberapa kali hampir terjatuh karena tersandung vas besar dan meja yang ada di sana, akhirnya Gray menemukan di mana letak tombol sakelar yang dicarinya tersebut. "Tumben sekali sepi, biasanya itu perempuan udah jogat-joget nggak jelas di depan laptopnya," gumam Gray menyinggung kebiasaan Ollin yang kerap berjoget ria menirukan video pratice dance dari boy band dan girl band Korea kegemarannya. "Udah tidur kali ya? Tapi kan ini masih jam tujuh, ini aja masih lewat delapan menit." Gray kembali bergumam. "Ah, masa bodoh. Emang aku pikirin. Perempuan ngeselin kayak dia nggak pantas dapat perhatian. Mending aku ambil wudhu dan segera solat Isya'. Nggak baik nunda-nunda solat, Allah aja nggak pernah nunda nyuruh malaikat Israil nyabut nyawa," gumam Gray dengan kesal. Laki-laki itu rupanya masih menyimpan kekesalan akibat ulah Ollin semalam. Padahal nyaris 24 jam waktu berlalu. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk Gray menyelesaikan kegiatan hariannya tersebut, mulai dari wudhu, solat, dan dzikir. Gray tidak perlu mandi, karena sebelumnya laki-laki itu sudah mandi di rumah Aldi. Keluar dari kamar seraya membenarkan peci yang bertahta di kepalanya, Gray tampak sangat tampan. Langkah kaki Gray tidak selebar biasanya lantaran, tubuh bagian bawah laki-laki itu yang terbalut sarung. Entah setan apa yang merasukinya, tiba-tiba Gray merasa sangat penasaran dengan mahasiswinya itu. Gray ingin melihat Ollin, ingin tahu apa yang gadis itu lakukan, kenapa tumben-tumbennya tidak bersua heboh. Membuka pintu kamar Ollin, pandangan pertama yang tertangkap oleh indera penglihatan Gray adalah pekatnya gelap. Gray menghidupkan sakelar lampu di kamar itu, yang untungnya terletak di sisi pintu. Setelah cahaya dari lampu menyebar ke seluruh ruangan, Gray baru bisa melihat isi kamar itu dengan baik. Matanya membulat melihat Ollin yang tampak terduduk di depan pintu kamar mandi. Wajahnya tampak pucat, namun Gray tahu jika perempuan itu belum kehilangan kesadarannya. Berjalan terges laki-laki itu mendekati Ollin. "Kamu kenapa?" Tanyanya terdengar khawatir. Ya, Gray memang khawatir. "Pe-perut saya sakit, Pak," jawab Ollin begitu lirih sebelum kesadarannya terenggut. Ollin tersungkur di lantai dengan tubuh yang terkulai lemas. "Eh Astagfirullah. Kamu mau mati Al? Kalau iya jangan di apartemen saya ya, tahan sebentar, saya bawa kamu ke rumah sakit, tapi jangan juga di mobil saya. Kamu matinya di rumah sakit aja. Saya nggak mau kalau arwah kamu sampai bergentayangan di apartemen dan juga mobil saya," kata Gray dengan paniknya. Laki-laki itu segera membopong tubuh Ollin, membawa tubuh wanita itu keluar dari apartemennya. Tentu saja dengan tujuan rumah sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD