"Pak, saya menang loh. Ngomong-ngomong, saya dapat apa nih?" Ollin bertanya, bermaksud menggoda Gray yang saat ini tengah mengerucutkan bibirnya, lantaran kesal sudah kalah dalam lomba adu memasak ala-ala itu. "Bukannya kamu sendiri yang nentuin hadiahnya kalau kamu menang?" Ketus Gray.
"Masa sih? Kok saya lupa ya?" Ollin terkikik setelah mengucapkannya, membuat bibir Gray semakin mengerucut.
"Nggak lucu ya, Al. Jangan ngeledek saya lagi dong, kamu nggak tahu apa, saya itu kesel. Rasanya nama baik saya seketika hancur gara-gara kamu. Untung aja nggak ada yang tahu tentang lomba abal-abal kita ini, bisa berabe kalau orang lain tahu, nama baik saya dipertaruhkan!" Ollin memutar bola matanya malas, mendengar ucapan dari dosennya itu.
Dosen satunya itu sepertinya begitu mengagung-agungkan reputasi baiknya. Benar-benar dosen aneh, dan ... tidak waras. Kesal juga Ollin mendengar ucapan bapak dosen yang terhormat tersebut. "Bapak ini. Cuma lomba gitu aja galaunya kayak baru diputusin sama Selena Gomez. Kayak perempuan aja bapak, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit kesel, malu sama terong bapak," kata Ollin dengan frontalnya. Bahkan Gray saja sampai bergidik ngeri mendengar ucapan Ollin.
"Kamu ya, kalau ngomong nggak bisa disaring. Terong, terong, tahu apa kamu tentang terong saya? Jadi perempuan kok lambenya turah? Jangan-jangan kamu lagi admin dari akun gaje tapi super bermaanfaat itu?!" Kata Gray dengan lirikan matanya yang terlihat tajam.
"Saya tahu banyak Pak Gray. Terong bapak pasti sering tarung sama terong laki-laki lain. Main pedang-pedangan gitu. Barangkali." Ollin bergidik ngeri, yang ada dibayangannya adalah dua buah sayur terong, yang masing-masing dipegang oleh Gray dan teman laki-lakinya waktu itu, ah yang namanya Aldi kalau tidak salah. Dan dua terong itu digunakan untuk berperang, perang ala perang pedang lebih tepatnya. Tapi, sebenarnya bukan itu yang Ollin maksud―IYKWIM―If You Know What I Mean.
"Wah, saya untung besar kalau jadi adminnya lambe turah, sayangnya saya bukan admin itu akun yang followers-nya bejibun. Tapi, kalau akun lambe seksi, nah itu baru akun saya. Di sana saya nge-post gambar laki-laki seksi Pak, mulai yang pakai jas, tuxido, singlet, kaos oblong, bahkan yang cuma pakai boxer saja juga ada―"
"Stop Alana, nggak usah diterusin ucapan kamu itu!"
Meski Gray sudah bertitah, Ollin tetap melanjutkan ucapannya, "... Roti sobeknya pada kelihatan loh Pak. Pokoknya itu akun saya isi sama foto-foto cowok seksoy yang saat ini lagi terkenal, artis Indonesia, Thailand, Korea, Filipina, Amerika, Inggris, semuanya ada. Nggak cuma foto, berita terkini dari mereka juga ada. Saya jamin bapak pasti suka, gagah-gagah soalnya. Tapi jujur ya Pak, saya nggak tahu mereka bakal suka sama bapak apa enggak, dari berita teraktual yang saya dapat, nggak ada berita yang menyebut mereka pecinta sesama jenis. Eh iya, follow akun ig saya yang itu ya Pak, biar followers-nya bisa ngalahin followers lambe turah."
"Astaga Alana Nadheranjani! Berhenti bicara seperti itu. Kamu bikin saya tambah marah! Nggak perlu ngepromosiin akun i********: kamu!! Saya bukan gay Alana! Dan saya nggak suka laki-laki seksi. Berhenti ngomong gitu. Kepala saya mendadak panas gara-gara denger omongan kamu. Besok saja kita bahas hadiah untuk kamu, saya mau istirahat dulu." Setelah berbicara seperti itu, Gray langsung melenggang pergi ke dalam kamarnya, meninggalkan Ollin yang hanya bisa melongo. Gray sepertinya memang benar-benar marah, hanya karena kalah dari lomba tidak resmi saja laki-laki itu merasa harga dirinya hancur. Benar-benar laki-laki aneh. Untung Ollin sabar, kalau tidak? Sudah bisa dipastikan besok pagi banyak benjolan yang dapat ditemukan di dahi laki-laki itu, lantaran timpukan maut Ollin.
"Si Bapak pinter banget bohongnya, pasti itu cepet-cepet ke kamar mau nge-stalk akun i********: gue. Pasti itu. Yakin dah gue," kata Ollin seraya mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Lantas, perempuan itu pun akhirnya berjalan memasuki kamarnya sendiri.
****
Pagi-pagi sekali Ollin sudah sampai di kampusnya. Ini kali pertama Ollin datang pagi, bukan tanpa alasan. Ollin datang pagi lantaran menumpang pada mobil Gray. Bukan hanya itu saja alasan Ollin, Ollin datang pagi karena perempuan itu juga berniat membeli makanan yang bisa ia santap di pagi yang lumayan cerah ini. Tujuan pertama Ollin, setelah keluar dari mobil Gray ialah kantin. Ia membutuhkan sarapan yang dapat ia gunakan sebagai sumber energi untuknya beraktivitas dari pagi ini sampai siang nanti. Perihal hadiah untuknya, Ollin belum membahas dengan Gray lagi. Perempuan itu cukup tahu kalau Gray masih marah.
"Pagi mantan, lama-lama makin cakep aja." Tiba-tiba saja terdengar suara aneh. Suara dari makhluk astral―mantan Ollin―yang sangat Ollin hindari kehadirannya.
Ollin berusaha menulikan indra pendengarannya dari yang namanya suara si mantan. Dan perempuan itu juga mempercepat langkah kakinya. Pasalnya, saat ini perempuan yang usianya sudah mencapai seperempat abad itu, baru menyadari kalau dirinya tengah dibuntuti oleh mantan pacarnya terdahulu.
"Ollin, kenapa diam aja sih? Eh, atau jangan-jangan sekarang kamu congekan ya? Ih, mantan, kok sekarang kamu jadi jorok gitu sih? Nanti susah loh, dapat cowoknya. Nggak takut apa jadi perawan tua?" Keenan masih mengekori langkah Ollin. Sebenarnya Ollin sudah cukup kesal dengan ucapan laki-laki itu yang menyebutnya congekan. Sejorok apapun Ollin, kalau sudah berhubungan dengan alat indra, maka sebisa mungkin Ollin menjaganya. Ollin mendengkus lirih, berusaha tidak memedulikan laki-laki itu. Lagipula ia sudah terbiasa dengan ledekan laki-laki itu selama dua tahun ini, sekarang pun ia pasti juga bisa.
"Kok diem aja. Oh aku tahu. Jangan-jangan kamu udah..." Laki-laki itu tampak sengaja menggantung ucapannya. Lantas, dengan tiba-tiba Keenan berjalan mendahului Ollin, dan berdiri tepat di depan perempuan itu. "Udah nggak perawan, ya?" Suara itu begitu pelan, tapi sukses mengejutkan Ollin.
Mengejutkan Ollin lantaran mantan brengseknya itu menatap ia dengan pandangan merendahkan. Detik itu juga, Ollin merasa harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya. Ya kali Ollin sudah tidka perawan. Dekat dengan laki-laki saja tidak. Itu laki-laki, sudah dulu hatinya tidak dijaga, selingkuh seenak-hatinya, mentang-mentang jadi incaran senior jenius, sekarang mulutnya dibiarkan bicara tanpa disaring. Tidak tahu apa kalau kata-katanya itu menyakiti hati Ollin?
"Please, deh. Kalau lo mau ngerecokin gue, jangan sekarang. Gue lagi sibuk. Lagian lo kenapa sih, ganggu gue mulu? Belum move on, lo ya? Sono gih, lo cepet-cepet move on, nggak usah gangguin gue. Gue muak lihat muka lo itu. Oh ya, satu lagi. Gue bukan cewek murahan, jadi jangan ngira kalau gue bakal nyerahin tubuh gue ke laki-laki. Apalagi laki-laki b******k kayak lo! Gue. Masih. Perawan. Gue. Bukan. Cabe. Cabean. Ingat. itu. baik-baik! Dasar Terong Bekas!" Ollin berkata ketus. Dan menekankan beberapa kata terakhir yang ia ucapkan.
Menggeser tubuhnya satu langkah ke samping kiri, Ollin pun kembali melanjutkan jalannya. Kali ini ia berjalan dengan langkah cepat hampir berlari. Lama-lama berhadapan dengan Keenan membuatnya kenyang. Kenyang karena makan hati.
Keenan yang mendengar itu tak lantas merasa tersinggung. Ia justru merasa semakin tertantang untuk mendapatkan Ollin lagi. Ia sempat menyesal menghianati Ollin dulu, namun penyesalan tidak akan membuahkan hasil untuknya.