Seraya meracik masakannya, ternyata Ollin masih sempat meracau rival yang berstatus sebagai dosen---pengganti---pembimbingnya tersebut. Ollin melakukannya untuk mengganggu konsentrasi Gray, meski perempuan itu sangat yakin bahwa dirinya lah yang akan memenangkan adu kelihaian memasak abal-abal tersebut. Apa yang Ollin lakukan, membuat Gray beberapa kali menggeram kesal. Bahkan, sudah tidak terhitung seberapa banyak ia mengomeli perempuan itu.
"Al, jangan ganggu saya dong. Kamu curang ternyata." Ollin terkikik mendengar protesan dari Gray, tanpa mengurangi rasa sopan santunnya yang kian menipis itu, Ollin kembali menyombongkan diri, "Duh Pak, kalau bapak benar-benar ahli, seharusnya bapak nggak merasa terganggu sama yang saya lakuin."
Menghela napas, lantas mengedikkan bahunya tidak acuh Gray lebih memilih meneruskan acara memasaknya. Kalau ia tidak ingin kalah, maka hal yang perlu ia lakukan adalah mengabaikan Ollin yang bermaksud merusak konsentrasi memasaknya itu. Gray cukup tahu bagaimana kualitas masakan Ollin, yang ia akui hampir setara dengan rasa masakan chef restoran berbintang tiga di luaran sana. Meski hanya mencapai level tiga, tapi bagi lidah Gray masakan Ollin benar-benar enak. Rasa pedas dari sambel terong yang Ollin buat membuatnya ketagihan, belum lagi opor ayam, tumis kangkung, capcai yang juga perempuan itu buat sukses membuat perutnya tidak kunjung kenyang, meski sudah menghabiskan empat piring seperti yang Ollin katakan sebelumnya.
"Serah kamu deh, Al." Setelah mendengar gumaman tidak jelas itu, Ollin hanya mengangguk dan kembali melanjutkan masakannya.
Lama terdiam, Ollin kembali bersuara, kali ini menyuarakan hal yang begitu membuatnya penasaran sejak kemarin malam. "Pak, saya mau tanya. Boleh?" Tanya perempuan itu, menghentikan gerakan Gray yang hendak menuangkan saos pastanya ke atas mie pasta yang telah ia buat.
"Tanya apa? Seputar skripsi kamu? Penilitian kamu? Atau, seputar sidang kamu nanti? Kamu tanyain aja sama Pak Bukhari, kan beliau yang bertanggung jawab penuh atas kamu," kata Gray. Belum sampai Ollin menjawab, laki-laki itu kembali berbicara, "Tapi menurut saya, kalau seputar sidang, lebih baik nanti saja, soalnya sekarang ini aja kamu masih stuck di awal. Bab pertama sama sekali belum jadi kan? Bisa aja kalau kamu tanyanya sekarang, kamu malah lupa." Laki-laki memberi tatapan seriusnya pada Ollin.
Menggelengkan kepalanya, lantas Ollin pun bersuara, "Bukan itu Pak. Saya lagi penasaran banget, kemarin malam itu bapak kenapa? Kok tiba-tiba ngumpat segala, bukan bapak banget loh itu. Biasanya bapak kan kalem, sok baik, sok alim, sok―"
"Sebentar-sebentar, apa maksud kamu dengan kata 'sok' itu?" Tanya Gray seraya memberi tanda petik dengan menggerakkan satu tangannya yang memegang sendok―karena tangan satunya lagi, tangan kiri Gray, tengah memegang alat penggorengan―saat mengatakan kata sok.
"Jadi, selama ini kamu berpikir apa yang saya lakukan hanya sebatas akting supaya orang lain menilai saya baik, gitu?" Gray kembali melayangkan pertanyaan pada Ollin, nada suaranya terdengar sangat sinis. Dia benar-benar merasa tersinggung dengan ucapan Ollin. Mulai detik itu, Gray merasa kebenciannya terhadap Ollin bertambah kadarnya.
"Bapak masih sensitif saja, bukan gitu maksud saya. Jangan kayak cewek yang lagi kedatangan tamu, deh. Marah-marah mulu, ya udah saya ralat ucapan saya. Bapak nggak sok-sokan, bapak ngelakuin itu karena memang seperti itulah bapak."
"Nah, gitu dong. Jangan membuat saya merasa gimana-gimana gitu. Saya akui, emang saya cukup sensitif, apalagi dengan hal-hal yang berbau penistaan terhadap nama baik saya. By the way, apa yang mau kamu tanyakan ke saya?" Dalam hati Ollin mencibir perkataan Gray yang terdengar begitu berlebihan. Ada ya ternyata laki-laki seperti itu. Ish, Ollin jijik tahu!
"Gini Pak, saya mau nanya. Kemarin itu kelakuan bapak kan rada aneh, setelah bapak ngomong shat-s**t, dan celana depan bapak yang ngegembung gede, lalu tiba-tiba bapak pergi begitu saja. Apa kemarin itu bapak kebelet pipis, terus nggak tahan, terus gara-gara saya gelitikin, eh air seni bapak keluar. Gitu ya Pak? Saya beneran penasaran, apakah bapak kencing di celana apa enggak. Kalau iya. Maap-maap nih Pak. Kagak sengaja bikin Bapak kencing di celana." Tubuh Gray seketika menegang. Matanya membola menatap Ollin.
"Alana kamu!" Ujar Gray seperti membentak, membuat Ollin spontan mengelus dadanya.
"Eh, eh, bapak jangan marah. Saya cuma mau tahu, bapak kencing di celana apa enggak. Saya janji nggak bakal bocorin berita memalukan itu ke seluruh kampus. Lagian niat saya kan cuma mau minta maaf. Bapak jangan sensitif dong. Tenang, calm down Mr. Lecturer. Calm down," ucap Ollin yang menangkap gelagat aneh Gray sebagai tindakan karena laki-laki itu merasa tersinggung dengan ucapannya.
Sejurus kemudian terdengar helaan napas penuh kelegaan dari bibir laki-laki bernama Gray Asean Yanuardi tersebut, kemudian seulas senyum terbit di sana. Mendengar ucapan mahasiswinya barusan, Gray jadi memiliki ide. Ia tidak perlu menjawab jujur apa penyebab celananya menggembung kemarin malam. Kalau ia menjawab dengan jujur, ia pastikan ia tidak akan memiliki muka di depan mahasiswi sombongnya itu. Meski konsekuensi lain yang diterimanya bakal mengarah ke hal yang positif. Yakni, Ollin tidak lagi menuduhnya pecinta sesama jenis.
"Ah, saya nggak yakin sama kamu. Kalau saya jawab jujur, pasti kamu bakal sebarin berita ini ke anak-anak kampus. Reputasi saya sebagai dosen yang penuh wibawa, yang ramah, charming, loveable, manis, pasti jatuh seketika. Saya nggak mau ambil resiko." Gray kembali menuangkan saus pastanya, gerakannya begitu hati-hati saat menuangkan saus itu. Tidak mau mengambil resiko hasil masakannya kacau.
Sebenarnya, acara adu kelihaian memasak Ollin dan Gray itu, tidak berjalan begitu lancar. Karena ternyata Gray sudah kehabisan bahan makanan di kulkasnya, sementara jika ia ingin membeli bahan makanan baru, itu tidak mungkin. Mini market terdekat terletak hampir satu kilo dari gedung apartemen Gray, yang saat ini juga dihuni Ollin tersebut. Gray tidak mau membuang-buang bahan bakar mobilnya demi memfasilitasi adu kelihaian memasak itu. Lagipula perutnya masih kenyang, tidak masalah jika malam ini ia tidak makan. Untuk esok harinya, ia bisa sarapan di kantin kampus. Sebenarnya, di sekitaran gedung apartemennya, barangkali berjarak sekitar seratus meteran, tengah dibangun mini market baru, yang diperkirakan proyek itu akan rampung sekitar dua atau tiga bulan lagi. Masih cukup lama memang, apalagi kalau terjadi kendala.
Karena Gray hanya memiliki dua bungkus pasta, pada akhirnya keduanya sama-sama memutuskan untuk adu kelihaian membuat saus pasta. Siapa saus pastanya paling enak, maka dialah pemenangnya. Ollin dan Gray sepakat menjadikan bule yang tinggal di depan unit apartemenya, sebagai juri dari lomba tak resmi itu. Gray sudah hampir selesai dengan masakannya, sementara Ollin masih menunggu hingga pastanya matang. Masalah saus, perempuan itu sudah lebih dulu membuat sausnya. Dan Ollin menjamin rasa sausnya lebih enak ketimbang buatan Gray.
"Secara tidak langsung bapak mengakui kalau bapak ngompol. Oh My God! Saya nggak percaya bapak ngompol, bapak udah gede loh padahal, tua malah, tapi masih kayak bayi aja. Heran saya Pak," kata gadis itu setelah terdiam beberapa saat sebelum dirinya tertawa terpingkal-pingkal ketika membayangkan celana Gray yang basah, karena laki-laki tersebut mengompol. "Malu-maluin isi celana bapak! Ya Allah, Ollin nggak kuat, perut Ollin sakit! Pak Gray ngompol Ya Allah." Perempuan bernama Ollin itu memegangi perutnya yang barangkali keram karena terlalu banyak tertawa.
"Nggak usah ngeledek saya, Alana. Saya nggak bilang kalau saya ngompol, lebih baik kamu perhatiin itu masakan kamu. Jangan sampai terlalu matang, kalau nggak mau kalah," ucap Gray dengan bibirnya yang mengerucut beberapa senti, Gray memang bersikap seperti itu.
Meski otaknya cerdas, tapi terkadang Gray terlihat seperti sosok i***t. Wajahnya yang berekspresi datar, berbanding terbalik dengan sifat asli laki-laki itu yang ramah, humoris, dan penuh tawa. Maka dari itu Gray tidak suka jika dirinya dicap berkepribadian dingin, datar atau sejenisnya, karena kedua sifat itu identik sekali dengan orang sombong. Gray mana sombong? Tidak ya, Gray itu baik hati dan tidak sombong, yang kebaikannya terkenal sampai penjuru kampus. Catat itu. Gray dosen terbaik, tertampan juga.
"Aih, imutnya Pak Dosen double face ini, datar-datar imut, pengen nyubit." Ungkapan Ollin itu tidak hanya sebatas ungkapan saja, karena sebelum perempuan itu berbicara tangannya sudah terlebih dahulu mampir di kedua belah pipi Gray. Sedikit berjinjit, karena tinggi Ollin yang hanya sebatas d**a dosen tampan itu.
Double face yang dimaksud Ollin bukan bermuka dua yang baik tapi aslinya jahat, tapi di sini laki-laki itu memiliki dua muka di mana terkadang terlihat dingin, namun terkadang juga terlihat imut. Seperti sekarang ini.
"Kamu nyebelin juga ternyata!" Gray menjitak kening Ollin, yang lantas membuat Ollin mengaduh. "Eh, main jitak jitak aja si bapak. Udah ah, saya mau nirisin pasta saya. Udah mau mateng. Bapak urusin sendiri pasta bapak," ketus Ollin kemudian, karena tiba-tiba saja ia merasa jantungnya bertalu hebat kala melihat Gray. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dibanding beberapa menit yang lalu. Ia merasa gelisah, Ollin merasa gembok yang mengunci hatinya mulai rusak, sehingga pintu hatinya sudah siap terbuka. Please, Ollin tidak mulai menyukai dosennya itu kan?
****
Ollin tersenyum puas mendengar ucapan si bule, yang mengatakan bahwa pastanya lebih enak ketimbang pasta buatan sang dosen.
"Thank you, Mr. Robert. I'm so glad to hear that."
"You're welcome Mrs. Gray. I really like your sauce. It's really tasty. Mr. Gray, you're so lucky marry with her." Baik Ollin maupun Gray, keduanya sama-sama tersipu mendengar ucapan dari Robert, bule berstatus duda yang menetap di Indonesia masih baru-baru ini. Sedari tadi laki-laki berparas khas orang Amerika itu menganggap Gray dan Ollin adalah sepasang suami istri. Baik Gray maupun Ollin, mereka merasa tidak enak untuk menyanggah tuduhan itu.
"Thank you. Mister," ucap Gray disertai seulas senyum paksa. Kemudian, mereka kembali bercakap-cakap, hanya basa-basi belaka sebenarnya. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit, mereka mengakhiri percakapan itu. Sudah sejak pukul delapan tepat tadi, mereka di sana. Berarti sudah sekitar tiga puluh menit pula mereka berbincang, mulai sebelum si bule menyicipi hasil masak Ollin dan Gray, sampai penilaian hasil masaknya. Gray dan Ollin pun akhirnya berpamitan.
"Semoga kalian segera dikarunia anak." Begitu kata si bule dengan bahasa Indonesianya yang sedikit tersedat, sebelum Gray dan Ollin menghilang di balik pintu apartemen milik dosen tampan tersebut.
"Al, kok saya malah mengamini do'a bule tadi ya? Saya keceplosan. Masa?"
"Bapak gimana sih? Jangan diamini dong, kan kita nggak ada ikatan apa-apa," ketus Ollin, yang sebenarnya ia juga mengamini do'a si bule bernama Robert itu.