Gray merasa perasaannya tak tenang, ia tidak tahu apa yang membuat perasaannya resah seperti sekarang. Yang pasti, ia merasa sudah melupakan sesuatu. Ia membaringkan tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya yang tampak temaram lantaran lampunya yang tidak dinyalakan. Otaknya berusaha mengingat-ingat apa yang hari itu telah ia lupakan.
"Astaga, aku inget sekarang. Tadi aku udah ngomong kasar sama Alana. Dia pasti sakit hati. Haduh Gray, kenapa mulutmu nggak pernah kamu jaga baik-baik, sih?" Monolognya merutuki dirinya sendiri.
"Kalau udah gini kan jadi malu mau minta maafnya." Ia mendesah kesal.
"Mana nanti itu anak kegeeran lagi. Gimana ya?" Gray mengacak kesal rambutnya yang kali ini tampak berantakan, tidak sama seperti biasanya yang klimis dan rapi.
"Tapi kalau nggak minta maaf, malah bahaya. Apa aku minta maaf aja ya? Itu anak di mana? Jangan-jangan di kamarnya?" Gray kemudian beranjak dari pembaringannya. Lantas melangkahkan kaki keluar dari kamar itu.
Gray langsung menuju kamar Ollin, mengetuk pintu kamar itu beberapa kali namun tak mendapat sahutan. Gray lantas mencoba membuka pintunya, dan ketika ia melongokkan kepalanya ke dalam, ia sama sekali tidak mendapati Ollin di dalamnya.
"Kok nggak ada ya?" Tanya dosen tampan itu pada dirinya sendiri.
"Jangan-jangan karena tersinggung, dia pergi? Ya bagus aja kalau dia pergi, aku malah nggak kerepotan. Tapi, kenapa rasanya masih nggak tenang?" Gumamnya bingung.
Mendengar suara panci jatuh dari arah dapur, Gray seketika melangkahkan kakinya ke sana. Matanya mengernyit menatap Ollin.
"Ngapain kamu?" Tanyanya. Ollin terkejut, mengambil pancinya lalu berbalik arah menghadap Gray.
"Eh Bapak? Ini loh, saya mau masak." Gray menaikkan satu alisnya.
"Seriously? Kamu masak? Saya takut kamu buat apartemen saya kebakaran, saya nggak percaya kamu bisa masak," kata Gray mencemooh. Ollin mencebikkan bibirnya.
Seraya menggelung rambut sepanjang punggungnya, Ollin menatap Gray dengan pandangan tak bersahabatnya, "Ya sudah kalau bapak nggak percaya. Saya nggak butuh kepercayaan dari Bapak, emang Bapak siapa saya? Nggak usah ngerasa sok penting deh," ketus Ollin dengan mimik mencibirnya.
Gray tertawa mendengar ucapan Ollin itu, "Rupanya kamu bisa marah juga, ya Al? Saya belum pernah ngelihat kamu marah sih. Paling mentok, ya kamu ngambek. Kamu kalau marah lucu, ya? Hidung kamu kembang kempis, mana warnanya merah lagi. Mata kamu melotot, udah mau keluar aja dari tempatnya. Pipi kamu juga, langsung menggelembung gede kayak bakpao gini. Ya Tuhan, saya gemes tahu nggak?" Di sela-sela tawanya, Gray berjalan mendekat, menyempatkan tangannya untuk mampir di pipi Ollin dan mencubit dengan gemas bagian wajah Ollin itu.
Mata Ollin yang semula sudah melotot makin melotot, ia tidak menyangka dengan perlakuan dosennya itu. Wajah Gray tampak bahagia karena berhasil meledek Ollin. Wajar saja, selama ini selalu Ollin lah yang berhasil meledeknya, dan sekarang giliran ia yang berhasil. Gray baru tahu bagaimana rasanya berhasil meledek seseorang, ternyata ada kepuasan tersendiri.
Pantas saja banyak orang yang suka meledek orang lain. Ternyata meledek bisa memunculkan rasa sebahagia ini. Batin Gray masih dengan euphoria keberhasilannya.
"Ish, Pak! Jangan cubit-cubit dong, nih saya juga bisa cubit-cubit bapak." Ollin langsung melayangkan cubitannya pada perut Gray. Namun bukannya merasa sakit, laki-laki itu malah tertawa, "Kamu mau nyubit apa gelitikin saya, sih? Yang ada geli, bukan sakit Alana," ucap Gray beserta tawanya yang makin kencang. Perut Gray memang keras, maklum saja laki-laki itu sering melatih otot perutnya agar terbentuk. Dan hasilnya, tadaaa! Perut Gray terlihat seperti roti sobek yang menggoda untuk digigit, untung area itu masih tertutup dengan kaos polo Gray. Kalau tidak? Entahlah apa yang akan terjadi.
Ollin mendengkus, berinisiatif merubah gerakan mencubitnya menjadi mengelus. Siapa tahu dengan mengelus, rasa geli yang dihasilkan lebih kuat ketimbang saat ia mencubit tadi. Dengan begitu, Gray merasa semakin tersiksa. Ngomong-ngomong, posisi tangan Gray masih berada di pipi Ollin, laki-laki itu tidak berniat melepaskannya. Semakin Ollin mengeraskan usahanya, makan semakin ia yang akan mengeraskan cubitannya pada pipi Ollin. Jadi, bisa dibayangkan bukan, bagaimana posisi mereka saat ini?
"Shit." Gray tiba-tiba saja mengumpat, laki-laki itu langsung melepaskan cubitannya dan melenggang pergi ke kamarnya, meninggalkan Ollin yang kebingungan. Perasaan yang ia lakukan tadi tidak begitu menyakitkan, ia hanya mengelus perut Gray yang lumayan keras lantaran kerap berolah raga itu. Tidak ada yang aneh sepenglihatannya. Kecuali bagian depan celana Gray―lebih tepatnya area terlarang laki-laki itu―yang terlihat menggembung. Dan wajah laki-laki itu yang tampak pias.
"Emangnya itu tadi kenapa coba?"
Mengedikkan bahunya tidak acuh, lalu berkata, "Mungkin kebelet pipis, orang celananya gembung gitu. Udah nggak tahan kali ya? Atau udah pipis?Apalagi gue tadi udah gelitikin dia. Kalau masalah gembung yang di novel kayaknya enggak mungkin deh. Kan gay? Lagian, gimana ceritanya bisa gembung? Ah, mendingan gue masak aja deh, kasihan sama anak-anak gue, udah pada demo."
Tanpa memikirkan lagi kejadian celana depan Gray yang menggembung. Ollin segera menyiapkan peralatan masak-memasak milik Gray. Memasak merupakan keahlian Ollin yang sampai sekarang ini masih bertahan. Hampir tidak ada orang yang mengetahui kalau Ollin pandai memasak, bahkan Riana yang notabene-nya saja sahabat Ollin, tidak mengetahui kalau sahabatnya tersebut bisa memasak.
Sementara itu, Gray berjalan menggerutu, niat hati meminta maaf, malah mendapat kesialan. Hah, sepertinya ia tidak perlu meminta maaf pada Ollin, gadis itu tampaknya baik-baik saja dan tidak memikirkan kata-katanya tadi siang.
***
Malam yang lalu, sudah berganti menjadi malam yang sekarang. Ollin tampak senyam-senyum sendiri sedari tadi, apalagi ketika melihat ekpresi wajah Gray yang berbeda seratus delapan puluh derajat ketimbang dirinya. Sedari tadi, laki-laki itu memang cemberut, entahlah apa yang membuat Gray secemberut sekarang ini. Dan Gray benar-benar tidak meminta maaf pada Ollin.
Oh, tidak salah lagi. Pasti gara-gara Ollin yang meledek habis-habisan dosennya itu. "Pak, masakan saya nggak enak banget ya, Pak? Tapi kok bapak nambah ya?" Kalimat seperti ini sudah belasan kali Ollin lontarkan. Bahkan perempuan itu tidak ingat tempat, di kampus pun Ollin masih sempat-sempatnya mengejek Gray. Perempuan itu benar-benar sudah kehilangan akalnya, tingkahnya semakin menjadi saja. Untung Gray orang yang sabar.
"Itu karena saya lapar." Jawaban seperti ini pula, sudah belasan kali Gray lontarkan, namun Ollin selalu berhasil men-skak mat dosen pembimbingnya itu. "Loh, bapak beneran laper? Kayak nggak makan beberapa hari aja, sampai habis empat piring. Nggak takut roti sobeknya hilang, Pak?"
Kalau Ollin sudah berkata seperti itu, ia sudah tidak bisa menjawabnya. Ya karena kata 'empat piring' itulah, yang membuat Gray meringis seketika. Ia sendiri tidak sadar jika telah menghabiskan empat piring nasi dengan lauk buatan Ollin. Apalagi porsi makannya itu bisa dikatakan cukup besar. Bahkan, setelah menghabiskan empat piring ia masih berniat nambah lagi, perutnya serasa tidak kunjung kenyang. Kalau tidak mendapat ledekan super yang langsung mengenai ulu hatinya, bisa dipastikan kalau roti sobeknya akan menghilang saat itu juga.
"Baru gitu aja kamu sudah sombong Al. Palingan masih enakan masakan saya." Laki-laki itu mencibir.
"Mau bukti Pak, masakan siapa yang lebih enak? Saya yakin loh, masakan saya yang terenak. Nanti jurinya biar si bule tetangga bapak itu."
"Ceritanya kamu nantangin, nih?"
"Terserah bapak nganggapnya gimana. Nanti, kalau bapak yang menang, bapak bisa meminta apa pun ke saya. Tapi, kalau saya yang menang, saya yang bakal minta apa pun ke Bapak. Gimana?" Gray tampak menganggukkan kepalanya beberapa kali mendengar ucapan Ollin. Sebelum laki-laki itu memutuskan untuk menerima tantangan itu, "Oke. Kita adu keahlian. Siapa yang masakannya paling lezat, dialah pemenangnya."
Kedua manusia yang berstatus mahasisiwi dan dosen itu saling berjabat tangan. Senyum meremehkan antara satu sama lainnya, tercetak jelas di wajah Ollin maupun Gray.