BAB 5

1417 Words
Ketika waktu menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit, Gray dan Ollin sudah sampai di gedung apartemen laki-laki itu. Ollin sendiri yang membawa tas besar serta tas punggungnya, sementara koper perempuan itu, Gray lah yang membawakannya―kembali atas dasar paksaan mahasiswi songongnya tersebut. Tahu apa yang Ollin katakan tadi? Perempuan berusia seperempat abad itu berkata, Ya Allah Pak, bapak tega ngeliat tangan syantiek saya ini ngegeret koper terus-terusan?! Saya ini perempuan, terus bapak itu laki-laki! Seharusnya bapak tuh sadar diri, mau bawain koper saya, atau lebih baik lagi kalau bapak yang bawain barang-barang saya ini. Bapak emang nggak berperasaan ya. Belum selesai di situ saja. Setelah Gray menolak permintaan perempuan itu, dengan alasan yang kurang dapat dicerna Ollin, Ollin kembali berbicara. Mengandalkan rahasia Gray yang diketahuinya. Bapak mau saya bocorin rahasia bapak ke seluruh penghuni kampus? Katanya waktu itu, yang membuat hati Gray tergerak untuk menolong perempuan malang yang tak kunjung menyelesaikan skripsinya tersebut, ya meski akal sehatnya sudah kalang kabut tidak jelas. Gray benar-benar kesal. Gara-gara kelakuan Ollin senyum yang biasanya menghiasi wajah laki-laki itu harus absen hadir. Bagaimana dia bisa tersenyum kalau penghancur moodnya sedang berulah? Sudah sejak lama ia mengenal gadis itu, dan Ollin masih saja menyebalkan. Tapi, kalau dilihat-lihat, Ollin memang menyedihkan, jadi tidak masalah ia memberi sedikit bantuan pada gadis satu itu. Hitung-hitung untuk tabungan amalnya. Membuka pintu apartemennya, Gray mempersilakan Ollin masuk, "Masuk Al, maaf kalau apartemen saya sedikit berantakan." Ollin menuruti perkataan laki-laki itu, Ollin pun masuk. Sontak saja mata Ollin langsung memindai seluruh isi ruangan apartemen, yang dapat dijangkau matanya. Apartemen Gray sangat jauh dari ekspektasi Ollin, semula ia mengira Gray menempati sebuah apartemen mewah dengan interior super menakjubkannya. Ternyata tidak. Apartemen Gray tergolong apartemen biasa, tapi memang cukup besar, dengan interiornya yang biasa juga. Warna dinding ruangannya pun cukup monoton, hanya hitam dan putih. Tidak ada hal istimewa yang ada di ruangan itu. Suram, suram sekali suasananya. Mungkin sama dengan nasib dosennya yang juga suram, buktinya di usianya yang sudah menginjak kepala tiga dosen tampan itu masih jomlo. Eh tidak tahu juga, mungkin saja cowok yang tadi Gray peluk itu pacarnya. Tapi selain itu, untuk masalah kerapian, apartemen Gray ini bisa dikatakan sangat rapi jauh berbeda dengan kamar kosan Ollin dulu yang begitu berantakan bahkan malah mirip dengan kapal pecah. "Ini beneran apartemen bapak? Jangan-jangan ketuker lagi sama apartemen satunya," celetuk Ollin merasa tidak tahan untuk berkomentar. Gray mengerutkan keningnya, bukan tidak paham, tapi laki-laki itu merasa tersinggung dengan perkataan Ollin, "Kenapa kamu berbicara seperti itu? Saya tersinggung loh, Al. Rasanya kamu itu merendahkan saya banget." Memutar bola matanya malas, serta menjatuhkan tas besarnya, Ollin melangkahkan kakinya menuju sofa bewarna cokelat tua, lantas menghempaskan tubuhnya di sana. Tingkahnya kali ini benar-benar tidak sopan, bahkan Gray saja belum mempersilakan perempuan itu untuk duduk. "Nggak gitu Pak, sensitif banget sih? Saya kira apartemen bapak tuh mewah pakai banget. Eh ternyata biasa aja. Kan saya ngerasa gimana gitu." Helaan napas terdengar dari Gray. "Emang kamu pikir saya sekaya apa emang? Sampai beli apartemen yang supermewah segala. Daripada saya beli apartemen mewah, tapi yang menghuni cuma saya sendiri, mending saya beli apartemen biasa. Asal nyaman. Lagipula kalau ada yang lebih murah tapi nyaman, kenapa saya harus nyari yang mewah tapi terkadang buat saya tidak tenang? Saya ini berpikir realistis, saya masih memikirkan kehidupan saya ke depannya. Saya nggak mau buang-buang uang saya, saya nyari susah, sayang kalau cuma buat foya-foya." Ollin mengangguk, tidak berniat menyanggah ucapan dosennya itu. "Ya sudah, ayo saya tunjukin di mana kamar kamu," ucap Gray, lantas menjalankan kakinya ke sebuah pintu bercat putih. "Ini kamar kamu," kata Gray berikutnya setelah membuka pintu bercat putih itu. Mulut Ollin terbuka, memandang tidak percaya pada ruangan yang ada di hadapannya kini. "Bapak serius? Ini kamar saya? Nggak ada yang lebih baik lagi, emang?" Bukankah pertanyaan Ollin ini terdengar sangat menyebalkan? Siapapun yang mendengar atau malah orang yang ditanyai dengan kalimat tanya seperti itu, pasti kesal dibuatnya. Dikasih hati, malah minta jantung. Kurang baik apa Gray? Ia sudah mentraktir perempuan itu makan―meski sebenarnya Gray sama sekali tidak ikhlas―dengan harga makanan yang cukup menguras isi dompetnya. Lalu, ia harus mengangkat koper yang lumayan berat ke dalam bagasi mobilnya. Belum lagi perempuan itu meminta tinggal di satu atap yang sama dengannya, kembali dengan hati yang sama sekali tidak ikhlas, Gray terpaksa menyanggupi permintaan mahasiswinya tersebut. Meski, sama saja ia merusak citranya, karena telah tinggal di satu atap yang sama dengan makhluk berjenis kelamin wanita. Beruntungnya, apartemen yang ia miliki terletak di lantai teratas gedung, di mana dalam satu lantai hanya terdapat dua ruang apartemen. Pemilik apartemen yang merupakan tetangganya merupakan orang asing, yang rasa-rasanya tidak akan peduli dengan urusan manusia sekitarnya. "Nggak ada. Di apartemen saya ini cuma ada dua kamar, yang pertama kamar saya dan yang kedua kamar ini. Tapi, kalau kamu tidak suka dengan kamar ini kamu bisa tidur di lantai," balas Gray beberapa saat kemudian. Memang, kamar yang merupakan calon kamar Ollin itu terlihat seperti gudang. Banyak barang-barang yang berserakan di sana. Mulai dari alat-alat gym, vacum cleaner, dan sebagainya. Ranjang yang ada di ruangan itu, pun terlihat kecil, dapat ditebak juga kalau kasurnya juga tidak seempuk kasur Ollin di kosannya terdahulu. "Badan saya bisa sakit-sakit kalau tidur di lantai, Pak. Gimana sih? Saya tidur di kamar bapak aja gimana? Dan bapak yang tidur di sini?" Ollin mencoba membuat penawaran. "Tidak. Kali ini tidak Alana. Jangan mengancam saya lagi, seharusnya kamu bersyukur saya mengizinkan kamu tinggal di sini. Kalau kamu tidak mau tidur di kamar ini, ya terserah kamu," ucap Gray terdengar tegas. "Hah, ya udah deh Pak. Lebih baik saya tidur di kamar ini saja, daripada tidur di lantai." Ollin sudah malas berdebat, sehingga jawaban pasrah itulah yang bisa keluar dari mulutnya. "Bagus. Gitu dong." Gray tersenyum, kemudian kembali berbicara, "Oh ya, saya mau solat dulu, sepertinya kamu juga belum solat. Ayo, segera bersihkan tubuh kamu, kita salat bareng-bareng. Eh, enggak deh, salat sendiri-sendiri saja, makruh tahrim atau malah haram ya? Tapi, kamu muslim, 'kan?" "Loh, bapak juga salat? Saya pikir bapak―" "Bapak apa? Jangan mikir aneh-aneh lagi Al, saya capek dengar tuduhan tidak beralasan kamu itu. Lagipula tidak ada alasan saya meninggalkan kewajiban saya, saya muslim dan saya juga harus solat. Kalau kamu pikir saya ini menyimpang, dan tidak mungkin melakukan sesuatu yang lurus. Sepertinya otak kamu dulu yang harus dilurusin. Kamu tadi belum menjawab pertanyaan saya, kamu muslim kan?" Ucap Gray yang diakhiri kalimat tanya. "I-iya Pak, tapi sa-saya nggak sedang salat. Lagi kedatangan tamu," balas Ollin gugup, membuat Gray menaikkan sebelah alisnya, "Kamu nggak bohong, kan? Ingat, dosa loh kalau melalaikan kewajiban." "Eh, saya benar lagi halangan Pak. Masa nggak percaya sih? Saya ada kok buktinya, mau lihat?" Gray menggeleng cepat. Memang benar, kalau saat ini Ollin tengah kedatangan tamu bulanannya. Ollin menjawab gugup karena ia merasa bergetar mendengar penuturan Gray. Ucapan Gray itu sedikit membangkitkan sisi spiritual dirinya, yang selama ini sering mengabaikan perintah Tuhan itu. Salatnya belum teratur, apalagi ia juga sering terlambat saat melaksanakannya. "Ya sudah kalau kamu memang benar tengah berhalangan. Lagipula, kalaupun kamu berdosa bukan saya yang akan menanggungnya. Dan ya, kamu tolong bersiap-siap, setelah saya salat nanti kita akan bimbingan sebentar, biar skripsi kamu cepat selesai dan saya nggak ada tanggungan lagi, terus Pak Bukhari tidak terus-terusan nge-chat saya. Lagian kamu itu yang serius dong kalau kuliah, otak itu dipakai buat mikir jangan cuma buat ngayal," kata Gray yang kemudian membuat bola mata Ollin melotot seketika. Mendadak merasa terhina. Lagipula kenapa harus skripsi lagi, sih? Merepotkan saja. Kan lebih enak kalau bimbingan di kampus. Melihat keterdiaman Ollin, memunculkan suatu presepsi di kepala Gray. "Kenapa kamu diam? Jangan bilang latar belakang yang saya suruh untuk kamu buat kemarin sama sekali nggak kamu sentuh?" Ollin menunduk dalam. "Astaga, kamu ya!! Benar-benar nggak berotak. Pantas saja dosen-dosen mengeluh sama kamu, memang dasarnya kamu bebal, susah diatur. Mending nggak usah lulus aja kamu, Al. Seharusnya kamu itu lebih berusaha karena kampus tidak men-DO kamu. Tapi kamu? Astaga, benar-benar nggak habis pikir sama kamu!! Dasar otak udang!" Sepertinya kesabaran Gray sudah habis. Karena baru saja laki-laki itu berteriak tepat di depan wajah Ollin. Ollin merasa nyalinya langsung menciut, baru kali ini ia melihat dosennya tersebut marah seperti ini. "Ma-maaf Pak." Tanpa membalas ucapan Ollin, Gray langsung melenggang keluar dari kamar itu, dan segera masuk ke dalam kamarnya yang terletak di sebelah kamar Ollin. Berhadapan dengan Ollin akan semakin membuat kemarahannya bertambah, ia selalu gagal mengendalikan perilakunya ketika marah. Jadi, lebih baik ia menyingkir, menghindari perempuan itu sebelum sisi iblisnya keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD