BAB 4

1435 Words
Ollin mengulas seutas senyum pada wajahnya, tatapan mata perempuan itu sepenuhnya tertuju pada Gray, yang tampaknya masih shock dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Aldi sudah pergi, Gray sendiri yang menyuruh Aldi pulang terlebih dahulu tanpa ia antar. Untung saja Aldi tidak keberatan, laki-laki itu tampaknya tidak sekhawatir Gray. Lagipula untuk apa dirinya khawatir? Tidak ada yang salah dengan dirinya. Setidaknya begitulah yang terpikirkan oleh laki-laki yang berteman dekat dengan dosen mata kuliah ilmu telekomunikasi tersebut. Mata Ollin semakin berbinar melihat beberapa hidangan makanan yang baru diantar oleh pelayan cafe. Banyak jenis makanan yang perempuan itu pesan, mulai menu pembuka, kemudian menu utama, dan terakhir menu penutup yang berjumlah dua jenis. Yaitu ; cupcake coklat dengan toping strowberry di atasnya, juga puding pelangi yang warna-warnanya dibuat dari bahan-bahan alami. Seperti warna jingga yang dihasilkan dari sari wortel, hijau dari daun bayam. Memang tidak semua warna dalam pelangi ada di puding itu, namun karena memang warnanya yang beraneka ragam, puding itu dinamakan puding pelangi. Sebenarnya Ollin tidak terlalu menyukai makanan manis, karena baginya ia sendiri sudah terlalu manis. Pamali kalau manisnya berlebihan, bisa-bisa diabetes, kasihan dengan keturunannya nanti yang bakal menuruni gen si orang tua. Maksudnya, anak yang terlahir dari orang tua yang memiliki riwayat terkena diabetes, memiliki kemungkinan besar terkena diabetes juga. Makanya, jika tidak ingin terkena diabetes, tapi suka yang manis-manis, kini sudah ada solusinya, cukup menatap Ollin selama sepuluh menit perharinya, dijamin kalian tidak akan sembuh. Ollin tidak sekuat itu mempengaruhi keinginan kalian untuk tidak memakan makanan bercita rasa manis. Ollin bukan pahlawan super. Hei! Itu bukan solusi! "Kamu yakin bisa menghabiskan seluruh makanan ini, Al?" Tanya Gray dengan nada takjub, saat melihat Ollin bersiap menyantap hidangan pertamanya. Ollin menaikkan kedua alisnya, sebenarnya kalau ia bisa menaikkan satu alisnya, barangkali yang bakal tertulis di narasi adalah ; Ollin menaikkan satu alisnya. Namun kenyataan menyatakan Ollin tidak bisa melakukan gerakan itu. "Kalau saya nggak bisa, saya nggak bakal mesen sebanyak ini, Pak! Gimana sih? Bapak keberatan gitu, kalau saya ngehabisin uang bapak?" Sentak Ollin dengan tatapannya yang berubah tajam pada Gray. Keberanian Ollin terhadap Gray semakin besar ketika ia mengetahui rahasia dosennya itu. Gray tidak bisa berbuat apa-apa, ia sudah kepalang basah, percuma membuat dalih macam apapun untuk membela dirinya. Meski apa yang dituduhkan Ollin padanya juga tidak tentu benar. Hampir tiga tahun menjadi dosen dan kerap bertatap muka dengan Ollin, Gray cukup tahu bagaimama peringai mahasiswinya itu. Keras kepala, terkadang sombong, seenaknya sendiri, tidak punya etika dan masih banyak lagi keburukan Ollin yang tersimpan di memori ingatannya. Pendirian Ollin juga termasuk sangat kuat, sehingga tidak mungkin ia bisa mempengaruhi mahasiswinya itu dalam waktu yang relatif cepat. Ia masih baru menjadi dosen―cukup baru karena masih tiga tahun ia berprofesi sebagai dosen―tapi kenapa ia harus dihadapkan dengan mahasiswi macam Ollin ini? Awal mulanya Gray tidak percaya kalau ada jenis mahasiswi seperti Ollin, yang cukup berani yang malah bisa dikatakan tidak sopan, saat berhadapan dengan dosennya sendiri. Untung saja kebanyakan dosen di fakultas yang Ollin geluti bidangnya itu, memiliki sikap humoris dengan pemikiran terbuka sehingga tidak gampang tersinggung dengan kata-kata nyablak perempuan tersebut―Ollin. Ingin rasanya Gray menyerah, dan kembali menjadi guru SMA saja. Tapi, menjadi dosen bukankah sudah menjadi impiannya? Sia-sia dong, kerja kerasnya selama ini untuk menjadi dosen, hanya karena ia ingin menyerah gara-gara sikap mahasiswinya itu? "Tentu saja saya keberatan Alana, kamu ini bukan siapa-siapa saya, pacar bukan, istri bukan, selingkuhan? Apalagi! Jelaslah, saya keberatan uang saya habis untuk kamu. Gini-gini saya juga cinta loh sama uang saya." Dengan nada kesal Gray membalas ucapan Ollin tadi, mendengar gerutuan sang dosen Ollin hanya mengandalkan cengirannya. Memang gara-gara Ollin memergoki Gray tengah berpelukan dengan Aldi, perempuan itu segera memanfaatkan keadaan. Ollin mulai melancarkan aksinya memeras sang dosen. Lagipula cukup menguntungkan, ia tidak perlu bersusah payah mengeluarkan uangnya. Sehingga jumlah uangnya tetap utuh. "Anggap saja latihan buat nanti bapak ngehadepin istri bap―eh, bapak kan gay? Emang bapak mau nikah? Paling mentok barangkali pacaran, tapi sama yang berbatang. Duh, gimana tuh nyebutnya, ah 'pacar berbatang' bapak, iya latihan ngehadepin 'pacar berbatang' bapak nantinya." Ollin membuat tanda petik setiap menyebutkan kata pacar berbatang. Gray memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak. Mahasiswinya ini, benar-benar sukses membuat tensi darahnya naik. Ingin rasanya Gray menarik bibir perempuan itu, dan menguncirnya agar tidak berbicara lagi. "Ngomong-ngomong, bapak tadi bilang selingkuhan ya? Emang kalau bapak normal terus nikah atau pacaran sama perempuan, bapak bakal selingkuh gitu? Ckck, bapak tega ya jadi laki-laki." Ollin menggelengkan kepalanya beberapa kali, membuat Gray terlihat semakin kesal dengan perempuan itu. "Bukan urusan kamu, cepat kamu makan semua makanan itu. Atau, saya tinggal nih? Dan kamu sendiri yang bayar semuanya?" "Eh, iya, iya Pak. Jangan gitu dong, masa saya sendiri yang bayarnya? Saya tekor dong. Bapak juga sih yang salah, dari tadi kan saya udah mau makan. Eh, tiba-tiba aja bapak ngomong ke saya. Saya kan jadi gegana, mengabaikan bapak juga nantinya bakal bikin bapak marah. Saya itu bagai buah silamakama, Pak," ucap Ollin mengemukakan protesnya. Perempuan itu tidak terima disalahkan. Dan selamanya ia tidak mau disalahkan. "Simalakama Alana." "Nah, itu maksud saya. Saya itu udah kaya buah simalakama, maju kena, mundur juga kena. Serba salah pokoknya." "Makanya jangan bikin saya kesal, dong!" Memutar bola matanya, Ollin pun segera melahap makanan yang ada di hadapannya. Cara makannya pun terlihat sangat buruk, dapat ditegaskan sekali lagi, bahwa Ollin memang tidak bisa menjaga image di depan laki-laki. "Kamu selalu makan dengan cara seperti itu?" Tanya Gray dengan nada mencemooh, yang kembali menghentikan acara makan Ollin. Bahkan perempuan itu sempat mendengus kesal. Katanya suruh makan cepet, kenapa diganggu mulu sih! Pikirnya detik itu. "Cara seperti apa emang? Saya ngerasa biasa-biasa aja." "Seperti laki-laki, bahkan lebih parah. Lihat tuh, baru beberapa suapan saja mulut kamu sudah belepotan. Kamu nggak takut banyak laki-laki yang jijik sama tingkah laku kamu ini?" Seraya mengambil serbet dan mengelap area sekitar mulut Ollin, Gray berbicara. Keduanya sepertinya sama-sama tidak sadar dengan peristiwa yang hanya berlangsung sepersekian detik itu. "Cara makan yang masih sopan aja, saya ditinggalin Pak. Biarin ah, mana tahu dengan begini saya bakal ketemu sama laki-laki yang mencintai saya apa adanya, bukan ada apanya." Gray mengangguk, kali ini merasa setuju dengan ucapan mahasiswinya itu. "Ih, saya kesel loh sama bapak. Katanya suruh makan cepet, tapi bapak ngajak saya ngobrol terus. Gini nih, orang-orang kesepian. Kurang kerjaan banget ganggu orang yang lagi makan!" Tanpa sadar, dua sudut bibir Gray melengkung membentuk seutas senyum tatkala mendengar ucapan Ollin itu. **** Belum hilang kekesalan Gray beberapa menit lalu, laki-laki itu harus kembali menahan kesal karena tingkah sesuka hati perempuan yang dipanggilnya Alana tersebut. Bagaimana tidak? Setelah mahasiswinya itu menguras hampir seluruh isi dompetnya dengan berbagai macam makanan yang perempuan itu pesan. Sekarang, dengan tampang sok polosnya perempuan itu meminta untuk tinggal di apartemennya. Hei, apakah mahasiswinya itu tidak sadar kalau ia laki-laki dewasa?! "Boleh ya, Pak ya? Please Pak, saya nggak ada tempat tinggal nih. Bapak tega ngebiarin perempuan secantik saya tinggal di emperan toko? Saya baru diusir dari kosan, dan saya nggak ada uang buat nyari tempat kosan yang baru." Ollin menatap Gray dengan tatapan memelasnya. "Teman kamu?" "Riana itu tinggal di rumah Omnya. Kan enggak enak Pak, kalau saya ikutan numpang di sana." Gray menghela napasnya mendengar jawaban Ollin. "Pak, saya boleh tinggal di apartemen Bapak kan? Harus boleh, kalau tidak boleh, saya akan membocorkan rahasia Bapak," ucap Ollin kembali berbicara. "Kamu gila, ya? Saya tidak seperti yang kamu kira!" Gray sangat membenci kata-kata yang terlontar dari mulut Ollin. Bisa-bisanya perempuan itu mengira dirinya gay. "Halah, ngaku aja Pak. Pokoknya saya tinggal di apartemen Bapak!" "Saya ini laki-laki dewasa loh, dan kamu itu perempuan. Kamu nggak takut kalau saya apa-apain kamu?" Berupa ancaman, Gray membalas ucapan Ollin, berharap perempuan yang tengah menjajaki tingkat akhir kuliahnya itu, menyerah untuk tidak tinggal bersamanya. Gray lebih khawatir dengan pandangan orang lain terhadapnya. Ia tidak mau dicap tidak baik karena tinggal bersama mahasiswinya sendiri. Reputasi yang selama ini dibangunnya dengan citra baik, terancam hancur seketika. "Kenapa saya takut? Bapak kan, gay." "Ya Tuhan, sudah berapa kali saya bilang, saya bukan gay Alana! Saya normal, dengar itu baik-baik!" "Ih, bapak masih mengelak saja. Buktinya udah banyak Pak." "Tap―" "Nggak ada tapi-tapian, lagipula kalau kita tinggal seatap, bapak bisa ngebimbing skripsi saya dengan lebih leluasa. Dan skripsi saya pun cepat selesai, tinggal dikasih ke pembimbing skripsi saya yang asli, bapak juga bisa melatih saya untuk menghadapi sidang. Semakin cepat saya lulus, semakin cepat saya keluar dari tempat tinggal bapak. Dan bapak dapat keuntungan lain, rahasia bapak nggak terbongkar," kata Ollin yang langsung memotong ucapan Gray. Gray kembali mendesah untuk yang kesekian kalinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD