Ibnu sampai di kantor tepat waktu, seperti biasa. Hari ini ia tak bisa melepas senyumnya. Bahagia sekali. Terbayang malam-malam baru dengan Raimas, bahkan sebentar lagi mereka akan menempati rumah sendiri, berpisah dari orang tua. Ia membayangkan akan ada sebuah keluasaan bersama istrinya. “Woy… senyum terus lo ya sekarang, cie… traktir gue donk, biar gue ikutan senyum.” Gaza menyapa dengan kurang ramah, mengagetkan Ibnu yang sedang membayangkan malam indah bersama sang istri. “Boleh-boleh, mumpung gue lagi bahagia. Itung-itung syukuran, nanti makan siang gue traktir mie ayam di depan kantor ya,” ucap Ibnu setuju dengan permintaan rekan kerjanya. “Yah mie ayam doang nih? Segitu aja nih nilai syukurannya?” Gaza meminta lebih. “Iya, cukup kan?” “Sama kopinyalah minimal.” “Oke-oke b

