Khawatir

1323 Words

Sepasang suami istri ini memasuki rumah kedua orang tuanya yang sedang menyambut kedatangan mereka. Raimas datang dengan cemberut menyalami kedua orang tuanya. “Kenapa?” bisik ibu. Ibnu hanya mengendikkan sebelah bahunya, “Biasa,” dengan bisikan yang sama halusnya. Dan dibalas dengan senyum hangat dari ayah. “Aku susulin langsung Rai ya bu,” “Sudah pada makan?” “Sudah.” Ibnu berlari kecil mengejar sang istri yang sudah memasuki kamar. Belum sampai pada daun pintu, sang istri sudah keluar lagi. “Rai, masih marah? Mau kemana?” “Kamar mandi.” Ibnu bernapas lega mendengar balasan sang istri. Ia kira akan pisah kamar mala mini. Lalu ia melanjutkan tujuannya, kamar pengantin. Ya pengantin kesiangan, kalau kata Azka. Sama seperti di ruang pribadinya, pertama-tama ia memasuki ruang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD