Malam ini..
Adam tidak ingin berpisah denganku. Dia menginap di rumahku karena yakin aku berbohong padanya. Dengan seenaknya, dia mendahuluiku untuk tidur di atas ranjangku pula. Aku sampai ingin tidur di teras saja. Dia tidak mau memberikanku privasi sedikit. Sekedar membuka pesan dari Sera saja sulit bagiku.
Dia merampas ponselku saat aku duduk di pinggiran ranjang. Lalu dengan teliti memeriksa setiap pesan yang dikirimkan padaku. Sejauh ini aku hanya mengobrol dengan teman-teman di kelas saja. Jadi kurasa percakapannya aman.
"Kamu masih tidak mau jujur padaku?" Tanya pacarku itu sambil merebahkan punggungnya di tumpukan bantalku. Dia hanya menyisakan satu bantal untukku.
"Jujur apa sih?" Tanyaku balik. Aku mulai naik ke atas ranjang, mencari posisi tidur yang bagus, lalu menyelimuti diriku. Sebaiknya aku melarikan diri dari pertanyaannya.
Aku memunggunginya.
"Siapa Fabian itu?" Selidiknya makin jadi.
"Temen," jawabku tegas.
"Teman ya.. mantan kamu ada berapa sih?"
"Adam.." panggilku meliriknya tajam, "jangan lakukan apa-apa loh. Dia itu teman biasa.. dia seperti Sera bagiku. Kamu kenal, Sera'kan? Serafina, dia teman sekelasku.. nah, pandanganku kepada Fabian itu seperti itu. Paham?"
"Kok dari jurusan lain?"
"Dia pindahan. Dulu ikut orangtuanya ke Jakarta, sekarang entahlah kembali kemari."
"Terus?"
"Terus apalagi? Aku hanya tahu itu."
Kudengar dia mendengus.
"Ya, dulu dia kakak kelasku sewaktu SMA. Dia sering ikut lomba-lomba matematika dan sains, jadi kurasa itu sebabnya passion-nya ada di FKIP."
Kukira dulu dia akan mendalami ilmu sains yang lebih kompleks...
"Kamu ingat banget ya?" Tanya Adam malah menjadi bumerang bagiku.
Dijawab salah, tidak dijawab salah. Dijawab katanya terlalu akrab, tidak dijawab nanti dibilang pembohong. Aku tidak menyangka sikap pacarku sampai seperti ini. Makin lama makin jadi.
"Iya begitulah.. intinya aku sudah jujur padamu' kan?" Jawabku singkat.
Maaf.. aku mana mungkin bilang kalau dia mantanku..
"Baik, aku percaya sekarang," bisiknya di telingaku.
"Tentu saja karena aku tidak bohong."
Dia menegaskan ucapannya kembali, "Percaya sekarang maksudku..."
"Adam?" Aku menoleh untuk melihat wajahnya yang cemberut itu. Dia sudah meletakkan kaca matanya. Aku sangat menyukai matanya. Aku senang dia memakai kaca mata, gadis lain tidak akan memandangnya sampai ke dalam. Dia memiliki wajah babyface yang membuatnya tampak seperti malaikat tidak berdosa.
"Iya?" Sahutnya lembut.
Kubelai pipinya sembari berkata, "Jangan cemburuan, tidak baik. Aku pacarmu sekarang. Jadi tidak mungkin aku menyukai orang lain. Sekalipun aku dekat, bukan berarti aku suka."
"Maafkan aku, aku.." katanya mulai seperti Adam yang biasa. Dia mencium keningku sekali. Lalu memandangiku terus menerus. "Semakin kesini, aku semakin mencintaimu, aku.. aku sudah tidak ingin mati lagi, tapi aku juga takut.."
Aku memotong ucapannya yang gemetar itu, "Adam, tolong jangan berlebihan."
"Aku sungguh-sungguh. Terima kasih sudah membawaku hidup kembali, kalau saat itu kamu tidak datang, ya.. aku mungkin sudah bersama kakekku. Aku akan berusaha menikmati hidup ini sesuai permintaanmu saat itu.."
Menikmati dengan bagaimana maksudnya ini.. ucapannya selalu bermakna ganda..
"Aku kehilangan kakekku karena orang tidak bertanggung jawab menabraknya."
"Hei, pelakunya sudah ditangkap, jangan dibicarakan lagi.."
"Ya.. aku tahu. Bukan hanya Tuhan, seseorang bisa kapanpun mengambil orang tercinta kita, Eve. Rasanya itu sakit saat tidak memiliki siapapun..."
Oke.. jika sudah mengenang begini.. dia pasti terbawa suasana sedih kembali..
"Adam?" Panggilku sehalus mungkin.
Matanya mulai berair. Untuk pertama kalinya aku melihat seorang laki-laki seperti ingin menangis. Dia serius mengatakan semua itu dari hatinya.
"Selama ini, apapun yang kumiliki selalu hilang, Siapapun yang kucintai selalu pergi. Tidak ada yang menginginkanku. Tidak ada," tambahnya.
"Jangan diungkit terus.."
Dia menghembuskan napas panjang saat memandangku, "Lalu kamu datang, Hawa, tulang rusukku. Aku mulai percaya kamu diciptakan untuk menemaniku. Hanya untukku. Kita hanya berdua di dunia ini. Aku tidak peduli orang lain. Kita hanya berdua."
Aku tertawa, "Astaga, pacarku gombal.."
Juga sedikit mengerikan..
Dia menjadi malu mendengarnya, "Ma-maksudku itu kalau aku bahagia kamu datang kepadaku."
"Ah, pacarku malu.." kataku sambil melingkarkan tanganku pada lehernya, lalu kucium pipi kanannya, "Aku mencintaimu."
Dia mulai mencium bibirku tanpa malu-malu lagi. Dulu dia sangat canggung melakukannya. Tapi beberapa hari belakangan sudah mulai terbiasa. Mungkin aku tidak sengaja membuatnya menjadi lebih agresif.
Aku mendorongnya lembut, "Jangan main cium begini dong.. hayo kamu belum membalas cintaku barusan.."
"I love you too.." sahutnya tersenyum.
"Bisakah kita tidur sekarang?"
Dia masih berpikir sejenak, "Mmm..."
"Kenapa?"
"Ya, aku..."
"Iya?"
"Bisakah.. bisakah.."
"Bisakah apa?"
"Eve, kamu suka banget godain aku?"
"Suka dong, kan pacarku."
"Malam ini jadi.."
"Tidak bisa," balasku cepat. Aku membalikkan tubuhku lagi. Kututupi diriku dengan selimut sampai kepala.
Aku suka menggodanya..
Dia membuka selimutku dengan paksa. Kemudian langsung melepaskan pakaian yang melekat pada dirinya. Tatapan matanya tampak menjelajahi tubuhku yang tersembunyi ini. "Setidaknya berikan aku obat tidur.."
"Apa sih.."
Dia mencium leherku, "Aku.. kan tidak tenang kalau tidur denganmu sebelum melakukannya."
"Masa sih?"
"Eve.."
"Hmm?"
"Melihatmu saja sudah membuatku horny.."
"Akhir-akhir ini pacarku suka berkata jorok ya."
"Apanya?" Herannya menyeringai, "ya.. apanya yang jorok.. tidak'kan.."
Dia tertawa sembari mencium dahiku. Lalu berbisik dengan suara pelan, "Tidak salah."
Ah, dia memandangku dengan licik kembali.
Aku terkadang sama sekali tidak mengenal kekasihku sendiri. Dia terkadang bersikap sangat polos, tetapi kemudian memandangiku dengan licik kembali seolah sosok polos itu hilang. Tetapi, kejadian perubahan sikap itu cepat sekali sampai aku kadang bingung. Tetapi, semua yang dia lakukan padaku selalu baik dan lembut.
Segala perlakuannya padaku terasa sangat lembut, aku selalu menikmatinya. Sentuhannya di tubuhku, sentuhan bibirnya saat bertemu bibirku. Semua dipenuhi cinta.
Iya, terkadang juga aku tidak mengenal sosok orang yang sedang mengeluarkan hasratnya padaku ini. Adam adalah orang yang sangat mahir dan liar dalam hal seperti ini. Percintaan kami selalu berakhir dengan kehangatan yang sama dan penuh cinta.
Entah mengapa sebenarnya ini membuatku agak syok awalnya. Bagaimana pun, orang seperti Adam yang kelihatannya pendiam di luar, dan cenderung menjadi bahan hinaan karena terlalu kaku begini, ternyata benar-benar sangat nakal saat bersama kekasihnya.
Dia berlebihan dan selalu bisa membuat suasana menjadi panas. Rasanya aku ingin sekali menyelidiki tentang percintaannya yang terdahulu. Tetapi, dia mengaku bahwa aku adalah orang yang pertama kali untuknya dan tidur dengannya.
Aku selalu percaya padanya. Ada sesuatu di ucapannya yang membuatku selalu percaya dan terbius oleh pesonanya. Saat Adam terdiam, dia seperti orang yang rapuh dan butuh perlindungan, tetapi saat sudah berbicara, aku lah orang yang seperti harus menuruti segala keinginannya.
Seperti sekarang, aku harus merelakan tubuhku.
===========================