Keesokan harinya..
Aku pulang dan menemukan surat berbentuk hati di teras rumah. Aneh. Tidak semua temanku mengetahui tempat tinggalku. Siapapun orang isengnya pasti tahu tentangku.
Isinya semakin mencurigakan:
Dear My Lovely Evelina
Masih ingat tidak dengan siapa kamu jatuh cinta untuk yang pertama kali?
Masih ingat tidak dengan siapa kamu bermesraan untuk yang pertama kali?
Masih ingat tidak dengan siapa kamu berciuman untuk yang pertama kali?
Itu denganku, Sayang..
Masih ingat dong..
Ini aku, udah paham belum? Siapa aku?
Your Secret Admirer
FAB
Gawat, orang ini teman SMA-ku, maksudku, dia mantan pacarku. Dulu sekali. Padahal aku berpikir ini ulah iseng. Ternyata kemarin nama : IAN, dan sekarang FAB.
FABIAN!
Mantan sialan itu kuliah di kampusku.
Tapi sejak kapan? Dan kenapa dia menerorku dengan pesan cinta? Untuk apa?
Kalau sampai Adam tahu tentang ini, dia akan marah. Terutama karena aku berbohong kalau tidak pernah berciuman dengan cowok sebelumnya.
Aku segera meremas kertas itu dan membuangnya keluar jendela. Kuperhatikan sekitar rumahku. Aku memastikan kalau pintuku terkunci dengan rapat. Kalau sampai dia menerorku sampai rumah artinya dia memang berniat mengacaukan hidupku lagi.
Kukira dalam sehari aku akan dikirimi satu surat cinta. Tapi nyatanya saat kembali masuk kuliah, ada surat lagi yang ditujukan kepadaku. Tidak ada satupun temanku yang melihat ada orang yang masuk kemari. Tahu-tahu surat ini sudah tergeletak di atas meja.
Dia memang berniat perang denganku!
Bunyi suratnya pun berkata demikian:
Dear My Lovely Evelina
Ketemuan yuk
Sudah lama tidak ketemu ❤
Udah empat tahun' kan ya?
Masa tidak kangen denganku?
Dulu'kan cinta mati padaku,
Kalau benar-benar kangen, coba deh datang ke taman depan gedung FKIP setelah selesai jam kuliah kamu.
Aku menunggu loh..
Fabian ❤ Evelina
Tidak ada gunanya aku berlama-lama menatap surat sialan ini. Aku segera membuangnya kembali ke tempat sampah. Kurasa aku harus menemuinya untuk menyelesaikan ini. Dia mungkin belum tahu aku punya pacar. Dia harus berhenti bertingkah aneh kepada pacar orang.
Atau pacarnya akan marah..
Aku tidak boleh membiarkan Adam melakukam kekerasan kembali. Urusannya dengan Danilo juga pasti belum berakhir. Aku tidak mau dia terkena masalah.
"Serius amat, Lin?" Tanya Sera mulai menyelidik padaku.
"Tidak."
Dia sepertinya ikut membaca tadi karena bertanya, "Siapa sih itu?"
"Teman SMA," jawabku cepat.
"Kok banyak tanda hatinya?"
"Ya.. begitu.."
Dia menyeringai padaku, "Dia bilang secret Admirer, bahasanya juga kangen-kangenan gitu.."
"Sera, tolonglah.." pintaku menahan diri, lalu kualihkan pembicaraan, "Hei, menurutmu apa ada mahasiswa FKIP pindahan?"
"Entahlah, kalau FKIP bukan wilayah ku.." katanya berpikir keras, kemudian memanggil temanku yang lain, Elrik, cowok gendut yang jarang berkomunikasi dengan kami. Dia dengan santainya bertanya, "Rik, ada mahasiswa pindahan tidak di FKIP?"
Kulihat Elrik tertegun sejenak. Sebelum akhirnya mengangguk, "Ada tiga seingatku, dari bulan lalu sampai kemarin itu.."
Aku memotong, "Fabian? Namanya Fabian?"
"Mana kutahu kalau nama.."
"Mereka semester berapa?"
"Dua itu semester tiga, satu semester lima."
Pasti! Mahasiswa semester lima itu Fabian! Dia kakak kelasku, harusnya, jika berkuliah sejak lulus SMA, artinya sekarang tingkatannya sama dengan Adam!
"Terima kasih informasinya!" Kataku tersenyum.
Elrik tidak membalasku. Dia kembali menghadap ke papan tulis untuk mencatat tugas hari ini.
"Hayo.. CLBK atau selingkuhan ini?" Goda Sera lirih.
"Apa sih! Enggak lah," kesalku.
Dia malah menahan tawa. Lalu berbisik, "Tidak masalah, rahasia kita, tidak akan kubocorkan pada siapapun."
Aku menghela napas panjang, "Sera, aku ini tipe setia.."
"Yang penting jangan bucin pada pacarmu deh, aku kesel liatnya, dia kayaknya NERD garis keras.."
"Tapi'kan dia ganteng.." sahutku bernada ketus.
"Oke oke.. terserah kamu, pacar-pacar kamu juga.."
Intinya sekarang aku hanya menyukai Adam.. kuharap kami selalu bersama Sampai menikah nanti..
Aku menemui Fabian di taman depan gedung FKIP dengan semangat menggebu-gebu ingin mengumpat. Walaupun tidak jadi karena dia ternyata dikelilingi banyak teman-temannya. Mendadak nyaliku menciut, malu, dan sadar kalau aku orang asing di kawasan keguruan ini.
Dulu Fabian memiliki kulit kecoklatan, tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek, tidak terlalu gendut, tidak atletis juga, tidak kurus. Intinya dia itu biasa. Tapi yang membuatku pernah menyukainya karena dia manis. Sekarang yang kulihat adalah sosok upgrade-nya. Untuk sesaat aku mengakui penampilannya sangat berubah. Kulitnya sekarang putih, tubuhnya juga mulai terbentuk.
Setelah teman-temannya diusir, dia menggodaku, "Malam, Cantik, lagi sendirian ya?"
"Kenapa kamu ada disini?"
"Duduklah dulu.." ajaknya menuding kursi taman yang dibuat melingkari sebuah pohon. Karena hanya ada satu lampu disini, suasananya sedikit remang. Tidak banyak mahasiswa yang ada di gedung FKIP.
Kadang aku heran, ini kampus apa sarang hantu?
"Maaf ya, neror kamu jadinya kemarin.." katanya mulai terdengar normal. Dia sepertinya hanya bercanda beberapa hari belakangan.
"Iya.. tapi kok disini.. maksudku.."
"Aku mahasiswa transfer, jurusan Matematika," selanya tidak mau lama-lama, "setelah tahu kamu sekarang kuliah disini, jadi sekalian kusapa, maaf."
Aku menyelidik raut wajahnya, "Lain kali, jangan umbar-umbar rahasia! Sampai stalk ke rumah, ngeri tahu!"
Kelihatannya dia memang hanya bercanda. Baiklah, dia bercanda.. kuanggap seperti itu..
"Iya iya.." sahutnya menahan tawa, "jadi kangen ya, dulu rumah kita tetanggaan, tapi karena aku pindah, jadi putus kita.. aku tinggal di perumahan dekat situ loh, kalau mau main sih.."
"Kita putus itu karena kamu selingkuh," kataku meralat ocehannya yang sok langsung akrab ini.
Dia pacarnya banyak.. dulu...
"Aduh, sudah lama sekali, kamu masih ingat.. namanya juga SMA. Semuanya juga begitu, Lin. Sudah, kita baikan'kan ya?" Ucapnya memberikan uluran tangan.
Aku menyambutnya sesaat. "Terserah, kalau niatmu tidak mengangguku."
Sakit hati? Sudah kulupakan, tapi aku tetap ingin memanggilnya sialan, pacar pertama yang berakhir menyakitkan akan selalu terkenang...
"Gimana, gimana? Rekomendasi tempat nongkrong dong.." dia kembali akrab denganku.
Oke, walaupun aku sudah tidak merasakan suka padanya. Tapi wajahnya ini masih menjengkelkan bagiku. Iya! Dia ini sok akrab denganku layaknya hubungan kami dulu hanya teman.
"Ini'kan kotamu juga, kamu sejak SD Sudah disini'kan? Jangan sok beberapa tahun berada di Jakarta, terus pulang jadi amnesia.." kataku ketus.
"Lah, mungkin ada kafe yang oke gitu.."
Sifatnya ternyata masih sama.. masa bodoh pada semua hal..
Tanpa kusadari ternyata Adam sudah berada di sekitarku. Kelasnya sudah selesai. Dia cepat sekali menemukan keberadaanku. Dengan santainya dia langsung menyambar lenganku, "Kamu kenapa disini?"
Raut wajahnya menjadi cemberut, cemas, bahkan aku merasa pernapasannya menjadi berat. Dia tidak suka melihatku dengan siapapun yang jenis kelaminnya "LAKI-LAKI". Aku tahu ini sedikit menyebalkan. Namun aku tidak mau membuatnya semakin depresi.
Aku segera mengajaknya pergi.
"Ini siapa, Eve?" Adam dengan berani menunjuk Fabian. Sejak aku mengenalnya, dia baru kali ini peduli dengan identitas orang lain.
Fabian yang memang supel langsung mengulurkan tangan pada Adam, "Oh, kenalkan, aku Fabian, panggil saja..."
"Fabel," potongku.
"Itu julukan kesayangan masa kecil, tolonglah, Lin.."
Adam melirikku tajam.
Astaga, aku kelepasan sok akrab..
"Adam, ini teman SMA-ku, Fabian.." kataku untuk meredam kecemburuannya. Aku lantas menunjuk mantan pacarku dengan jari tengah. "Dia, menyebalkan saat SMA, jadi ya ingat saja.."
"Oh.." Fabian tampak memahami posisiku. Dia mengangguk saja pada Adam lalu menambahkan, "ya, aku temannya, salam kenal, kau pacarnya ya.."
Adam tidak mau bicara lagi. Dia hanya menyeretku pergi dari sini. Aku bisa jelas melihat kalau di balik kaca matanya itu, tatapannya membara karena tidak suka.
"Hatiku sakit, Eve, kalian berbohong padaku'kan..." Bisiknya memegangi dadanya. Lalu menatapku dengan tajam.
Aku menghela napas panjang, "Hentikan."
"Siapa dia, Eve?" Dia semakin mencurigaiku.
"Teman SMA."
"Kamu tidak bohong'kan..." Suaranya mulai terdengar tidak wajar. Walaupun lirih sekali, aku bisa merasakan tekanannya. Dia tengah mengancamku.
"Aku tidak bohong,"
Maaf, aku bohong. Aku takut kamu melakukan tindakan kriminal lagi, Adam..
===========================