“Pukulanmu itu kurang kuat!” Seorang pria berteriak lantang pada anak berusia empat belas tahun. “footwork kamu masih bisa terbaca!”
Pria itu kembali berdecak kesal pada anak muda yang sedang diajarinya. Teriakan itu sudah dia lakukan selama satu jam dan dia mulai gemas karena anak muda yang diajarinya itu tidak juga bisa mengaplikasikan apa yang diajarkannya.
“Zal! Jangan galak-galak!”
Pria yang dipanggil Zal itu hanya melirik sekilas pada orang yang menegurnya lalu mendengkus.
Anak muda yang dilatih oleh Zal itu berhenti lalu menjawab teguran pria paruh baya yang merupakan pemilik pusat latihan tinju, “saya senang, kok ... awww!” pukulan tiba-tiba dari Zal membuat anak muda itu terduduk kesakitan memegangi dagunya.
Zal kembali mendengkus. “Dalam pertandingan, kamu jangan sekali-kali mengobrol dengan pacarmu yang ada di bawah ring tinju.” Setelah mengatakan itu Zal berjalan keluar ring tinju. Dia lelah berteriak sejak tadi, “Selesai untuk hari ini. kamu boleh pulang atau tetap melatih gerak kakimu yang lemah itu.” tambahnya tanpa menatap anak muda itu.
“Aku belum punya pacar, pelatih.” Sergah anak muda itu dengan wajah memerah yang masih terduduk mengusap dagunya dengan tangan masih terbungkus sarung tinju.
Zal melepas sarung tinjunya lalu mengambil handuk yang dia letakkan di kursi, diliriknya sekilas anak murid yang diajarinya itu, “Bagus,” angguknya senang, “teruslah begitu hingga kamu dapat mengendalikan emosimu dan mengembangkan otot-otot dilenganmu itu, Ben.”
Anak muda yang dilatihnya itu mengangguk mantap. Mengikuti setiap permintaan pelatih yang sangat dia banggakan itu. Jarang ada yang mau menghadapi pelatihnya itu. Zal pelatih yang disiplin, tidak ingin anak muridnya terlambat walau satu menit, ingin semua anak muridnya tampil sempurna. Ben malah sebaliknya, sangat senang dilatih oleh Zal. Sikap tegas itu membuat Ben terpacu ingin lebih giat lagi. Zal adalah panutannya.
“Zal,” teguran pria pemilik pusat latihan tinju itu membuatnya berhenti mengusap wajahnya dengan handuk. Ben sudah turun dari ring, kini beralih pada samsak tinju yang ada di sudut lain ruangan.
“Ya?” jawabnya.
“Sudah saatnya pusat tinju ini saya berikan padamu.”
Zal mengerutkan keningnya. “Jangan. Berikan saja pada keponakanmu, Pak.”
Pria itu menggeleng. “Dia tidak tertarik. Lebih baik saya berikan padamu saja, Zal. Kalaupun saya punya anak, pasti saya berikan pada anak saya. Karena saya tidak punya anak, maka saya berikan usaha saya ini padamu. Semuanya sudah saya urus. Surat-suratnya bisa kamu minta pada kakakmu.”
Kening Zal tambah berkerut. “Kakak saya tahu?”
Pria paruh baya itu mengangguk. Rambut putih yang dipotongnya pendek itu bergoyang. Pria itu mendudukkan tubuh gempalnya di kursi. Senyum di bibir pria paruh baya itu merekah. “Ya dan kakakmu tidak mempersulit. Dia mau membantuku mengurusi semuanya bahkan gratis tanpa dipungut biaya.” Ucapnya senang.
Tangannya merogoh saku celana jeans yang dipakainya. Bunyi segerombolan anak kunci yang beradu menyapa pendengaran Zal. Dipandangnya tidak suka pada hal itu. Sebentar lagi anak kunci itu akan beralih padanya dan dia tdak menyukai itu. Dia lebih senang menjadi orang biasa saja. Dia tidak suka memimpin suatu usaha walau itu hanya sebuah sasana tinju.
“Saya menolak.” Tegasnya yang membuat bossnya itu menatap bingung Zal.
“Loh, kupikir kamu akan terima. Kenapa?”
“Saya belum berhak,” katanya menjelaskan, “ini hasil keringat bapak, dan saya tidak mau membuat usaha yang bapak bangun dari muda, pindah tangan begitu saja. Saya bukan orang yang seperti itu, Pak.” Zal mengempalkan handuk yang ada dalam tangan kanannya.
Bossnya itu memandang anak kebanggaan itu penuh harap. “Zal, terimalah. Anggap ini hadiah dari saya untuk kamu karena sudah membuat sasana saya hidup kembali.”
Zal menggeleng. “Tidak.”
Terjadi keheningan beberapa saat ketika akhirnya bossnya berkata, “oke, saya akan buat surat wasiat. Dengan begitu, kamu tidak akan berkutik jika suatu saat nanti saya mati.”
Zal mendengkus lalu berbalik pergi. “Terserah, Bapak.” Katanya.
“Hey! Mau ke mana?”
Zal menoleh sesaat lalu kembali berjalan pergi. “Makan.” Sahutnya asal. Zal tidak suka bossnya itu mengungkit kata ‘mati’. Zal tidak ingin mengingat-ingat kematian yang membuatnya begitu pedih dan merana kembali.
Zal menaiki mobil Hondanya kemudian berlalu meninggalkan sasana tempat yang selama ini membesarkan namanya. Dia merupakan petinju yang namanya sudah tidak asing lagi dalam dunia tinju. Dia merupakan petinju muda yang membuat semua orang mengelukannya. Banyak orang yang sangat ingin seperti dirinya. Muda, berprestasi dengan kehidupan yang apapun mudah didapatkan. Dia mendengkus mengingat apa yang orang-orang katakan. Mereka tidak pernah berada dalam posisinya. Bagaimana kehidupannya dahulu. Bagaimana jatuh bangunnya dia dahulu.
Zal menyalakan radio dalam mobilnya. Dia tidak ingin pikirannya melayang ke mana pun jika sendirian. Itulah sebabnya dia selalu menghabiskan waktunya di sasana daripada di rumahnya. Berusaha mengenyahkan pedih hatinya dengan memusatkan pikirannya pada hal lain. Berusaha bersikap biasa saja di mata orang lain walau sesungguhnya tidak demikian.
Radio memutar musik mancanegara. Bibir Zal ikut bersenandung mengikuti irama musik yang menghentak itu. Dia mengangguk-angguk, menikmati irama musik.
Teringat sesuatu, diraihnya ponsel yang ada di atas dasboard mobil lalu menepi di sisi jembatan. Dia sengaja meninggalkan ponselnya di dalam mobil jika sudah berada dalam sasana. Dicarinya kontak seseorang lalu menelepon.
“Iya, Zal?” sapa suara pria yang diteleponnya.
“Kak,” sapa Zal.
“Kenapa?”
Zal menghela nafas. Dia tidak bisa marah pada kakaknya. Dia sangat menghargai kakaknya. Begitu banyak hal yang sudah dilakukan kakaknya padanya yang membuat dia segan.
“Apa benar kalau kakak sudah bantu Pak Agung?”
“Iya.” Jawab kakaknya, “Kakak tidak bisa menolak, Zal. Melihat dia, Kakak ingat papi. Mirip.”
Zal ingin berdecak sebal pada kakaknya namun diurungkan.
“Zal, dia sudah tidak punya penerus. Keponakannya tidak mau mengambil, Zal. Keponakannya punya usaha sendiri. Katanya dia mau hidup tenang bersama istrinya. Itu saja.”
Zal kembali menghela nafas. “Ya.”
Hanya itu yang dia berikan atas penjelasan kakaknya.
“Zal?” panggil kakaknya lagi setelah terdiam beberapa saat.
Zal bergumam menanggapi. Zal keluar dari mobilnya lalu berdiri di sisi pintu mobil yang sudah dia tutup. Mata Zal menyipit melihat seorang perempuan duduk di pembatas jembatan. Berpikir bahwa perempuan itu akan jatuh sewaktu-waktu jika duduk di pembatas jembatan seperti itu.
“Kamu dengar apa yang kakak bilang?”
Zal gelagapan. “Apa, Kak?”
“Kapan kamu pulang mengunjungi kami? Kamu terlalu sibuk, Zal.”
Zal menunduk. Pulang ke rumah kakaknya berarti membuka kembali luka lama. Menyedihkan karena rumah kakaknya adalah hal yang membuat dia seperti itu. Namun Zal tidak pernah mengatakan itu pada kakaknya. Dia selalu beralasan bahwa dia sibuk. Seperti sekarang ini.
Dia mendongak hendak menjawab ketika bersamaan dengan terjunnya perempuan itu dari jembatan. Zal memaki, “Oh, sial, dia jatuh!”
Kakaknya berteriak dari ujung telepon menanyakan siapa yang jatuh namun tidak dijawab olehnya. Zal berlari menuju ujung jembatan masih menggenggam telepon di telinganya.
“Kak, ada yang jatuh dari jembatan. Sudah dulu, kak. Nanti aku telepon.” Lalu dia menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari kakaknya.
Zal menghentikan larinya. Berpikir betapa bodohnya jika harus menyusuri pinggir jembatan. Dilepas sepatunya lalu membuka bajunya. Dia lebih baik terjun dari jembatan. Zal mengerutkan kening ketika kepala perempuan itu timbul tenggelam. Selain bertinju, dia sering melakukan cliff diving demi menjernihkan pikirannya. Tetapi dia tidak melihat perempuan itu melakukan cliff diving. Cara perempuan itu terjun menunjukkan bahwa perempuan itu ingin mengakhiri hidupnya. Lagipula, tidak ada yang melakukan cliff diving di jembatan seperti ini.
“Please, jangan mati, please jangan mati.” Bisiknya pelan. Berharap perempuan itu dapat selamat. Lalu Zal terjun.
Zal berhasil menarik perempuan itu ke pinggir sungai. Perempuan itu tidak sadarkan diri. Dia berusaha memberikan pertolongan pertama pada perempuan yang terjun itu. Berusaha mengeluarkan air yang mungkin masuk ke dalam paru-paru perempuan itu. Tidak ada pergerakan. Perempuan itu terbujur. Zal memeriksa denyut nadinya.
“Masih hidup.” Bisiknya lega.
Zal membopong perempuan itu lalu membawanya menuju mobilnya. Zal bahkan tidak menyadari sudah banyak orang yang berkumpul di sisi jembatan. Beberapa bahkan mengabadikan pada layar ponsel mereka.
“Mas? kenapa, Mas?” tanya seorang pria menggunakan jaket hijau.
Zal menggeleng. Dia bahkan tidak tahu kenapa. Dia bahkan tidak kenal perempuan yang dibopongnya itu. Beberapa orang membantunya mengangkat perempuan malang itu menuju mobil. Mereka membantu membukakan pintu.
“Mas?” panggil seorang ibu muda yang memakai kaus hitam. Memandang Zal yang sibuk menarik sabuk pengamannya. Zal menoleh. “Di bawa ke rumah sakit, kan?” tanya ibu muda itu lagi.
Zal mengangguk. “Ya. Saya mau bawa ke rumah sakit. Kenapa?”
“Saya kenal dia. Tetangga samping rumah saya. Tolong dia ya, Mas. Saya mohon.”
Zal mengangguk lagi tanpa mengeluarkan sepatah kata. Diliriknya perempuan yang kini dibaringkan di kursi belakang. Zal berpikir bahwa seharusnya dia tidak perlu repot-repot menolong perempuan itu tadi. Tetapi hati nuraninya masih ada. Dia tidak seperti yang orang lain kira. Cuek, tidak punya hati dan perasaan. Dia masih memiliki itu semua dan dia akan mengeluarkannya pada tempat yang semestinya.
Zal menyalakan mobilnya. Membelah kerumunan orang-orang yang masih penasaran. Mengapa seorang petinju seperti Zal mau repot-repot terjun bebas dari jembatan demi menolong seorang perempuan yang mungkin sudah frustrasi menghadapi hidupnya.
***