Bab 3 Ingatan

1960 Words
“Ben? Kamu sudah pulang?” tanya Zal pada Ben dalam sambungan telepon. “Belum pelatih.” Jawab Ben riang, “kenapa? Apa porsi latihan saya ditambah?” “Bukan.” Sergah Zal, “bisa saya minta tolong, Ben?” “Ya.” Jawab Ben senang. Zal memutar matanya. Ben sangat senang sekali padanya yang malah membuatnya jengah. Anak itu seakan menganggap Zal idola. Sesungguhnya dia tidak suka itu namun bagaimana lagi. Ben masih sangat muda. Masih mencari jati diri untuk diikuti. “Tolong kamu naik ojek ke jembatan dekat sasana. Kamu tahu, kan?” “Iya, pelatih. Saya tahu. Terus?” “Tadi saya lihat ada motor matic di sana. Bisa kamu bawa ke sasana, Ben?” “Iya, pelatih. Itu saja?” Ben sepertinya senang sekali diperintah. “Iya. Itu saja. Beritahu saya kalau motornya masih di sana ya, Ben.” Jawab Zal. “Oke.” Sahut Ben lalu menutup telepon. Itulah salah satu yang dia suka dari Ben. Anak itu tidak pernah ingin tahu apapun yang diperintahkan. Jika dia menyuruh Ben, anak itu akan mengangguk tanpa bertanya untuk apa dan mengapa. Zal duduk menunggu dokter yang memeriksa perempuan itu selesai. Berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada perempuan itu dan berdoa semoga motor yang tadi ada di jembatan itu masih ada. Belum ada yang mencurinya. Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Ben. Zal membukanya lalu membacanya. Mengatakan bahwa motor yang dimaksud tidak ada di sana. Zal menelepon Ben. Dering pertama, Ben langsung mengangkat telepon darinya. “Pelatih, motornya hilang.” Zal berdecak. “Pasti sudah dicuri orang.” Jawabnya pelan. “Kuncinya masih menggantung di motornya, pelatih?” Zal mendengkus. “Mana saya tahu, Ben.” Ben bergumam. “Zaman sekarang banyak cara bawa motor nganggur begitu, pelatih. Tutorialnya banyak di internet.” Tukasnya kemudian. “Ya sudah. Terima kasih, Ben. Kamu boleh pulang.” Lalu Zal menutup teleponnya, malas ditanya lebih lanjut oleh Ben. Dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Dokter itu memandang yang sedang memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya. “Apa anda suaminya?” tanya dokter itu pada Zal. Zal menggeleng. “Bukan, Dok. Tadi dia terjun dari jembatan.”  Jawabnya. “Saya ingin bicara dengan keluarganya sebetulnya.” Ucap dokter. Zal mengangguk menanggapi ucapan dokter itu. Dia mencoba mengerti walau sesungguhnya penasaran, apa penyebab perempuan itu nekat bunuh diri. “kondisi tubuhnya begitu buruk. Banyak memar dan dia mengalami kekerasan seksual hingga mengalami pendarahan. Hal itu membuat janin yang ada dalam kandungannya gugur, tidak dapat kami selamatkan. Hal itu dapat berpengaruh dalam proses kehamilan selanjutnya. Kondiri rahimnya lemah. Saran saya, jangan katakan apapun pada dia sebelum kondisi fisiknya pulih.” Setelah mengatakan itu, dokter pamit. Zal kembali duduk. Dia tidak berniat untuk menjenguk perempuan yang ditolongnya itu. Keningnya berkerut mengingat ucapan dokter tadi. Orang mana yang tega melakukan itu pada perempuan? Bahkan Zal tidak berani menyakiti perempuan walau seujung kukunya sekalipun. Dia menggeleng pelan lalu berdecak heran. Sungguh, orang yang melakukan itu tidak mempunyai hati nurani. Zal bangkit menuju loket pembayaran untuk membayar biaya yang harus dia keluarkan untuk perawatan perempuan itu selama di rumah sakit dan dia tidak akan menjenguk. Sudah cukup pertolongannya bagi perempuan itu. *** Raina mengerang. Seluruh tubuhnya sakit. Raina mengernyit dengan mata masih terpejam. Kemudian perlahan dia membuka matanya. Ruangan serba putih menyapa matanya. Ketika dia hendak mengangkat tangannya, dirasakannya sakit. Tangan kanannya sedikit bengkak dengan jarum infus menempel di sana. Raina kembali memejamkan matanya ketika didengarnya pintu terbuka lalu tertutup kembali. Raina memegang kepalanya yang sakit ketika orang itu memeriksa perban yang membalut kepalanya. “Anda sudah bangun, Mba.” sapaan itu membuat Raina membuka mata. Seorang wanita berpakaian biru dengan gradasi putih berdiri di hadapannya seraya tersenyum. “Saya di mana, Mba?” tanya Raina serak. “Anda di rumah sakit, Mba.” Penjelasan itu membuat Raina mengernyit. “Rumah sakit?” gumamnya. Dia bingung kenapa dia sudah ada di rumah sakit. Yang dia ingat, dia berada di rumahnya. Menunggui suaminya pulang. Dia tidak ingat mengapa bisa berakhir di rumah sakit hanya dengan duduk saja di rumah. “Iya,” jawab perawat itu pada Raina. “Kenapa saya bisa di sini, Mba?” Perawat itu menatapnya lama sebelum menjawab, “Mba tidak ingat?” Raina menggeleng. “Sudah berapa lama saya di sini, Mba?” Perawat itu mengecek sesuatu di papan jalan yang dipegangnya. “Dari catatannya, Mba sudah hampir dua minggu di sini.” Mata Raina membelalak. Dua minggu? Tidak mungkin. Dua minggu dia di rumah sakit? Lalu bagaimana dengan biaya rumah sakitnya? Dia tidak punya uang sebesar itu. Tidak mungkin dia meminta pada suaminya. Ketika ingat pria itu, dia takut suaminya akan memarahinya karena tidak ada kabar. Raina berusaha duduk yang membuat perawat itu membantunya. “Saya mau pulang, Mba.” Ucap Raina panik, “biayanya pasti mahal.” Dia tidak sanggup jika harus membayar biaya rumah sakit. “Mba ... Mba ....” Perawat itu panik ketika Raina hendak menarik paksa selang infus yang ada di tangannya. “Tenang, Mba. semua biaya sudah lunas.” Raina menghentikan aksinya mendengar itu. “Lunas?” bisik Raina. “Suami saya yang lunasi?” Perawat itu menggeleng. “Bukan, Mba.” “Lalu siapa, Mba?” tanya Raina. Jika bukan suaminya, lalu siapa lagi? Apakah adda keluarga dari suaminya yang membayar? Apakah Kala yang membayar? Pikiran terakhir itu dia tepis. Kala tidak melakukan itu jika tidak ada alasannya. Perawat itu nampak berpikir sejenak. “Saya lupa, Mba. Nanti saya tanya bagian administrasi. Orang itu pula yang bawa Mba ke sini. Mba ingat siapa nama Mba?” Raina mengangguk. “Raina. Nama saya Raina.” Perawat itu mengangguk. “Suami saya apakah jenguk saya, Mba?” Perawat itu menggeleng. “Tidak ada yang datang jenguk, Mba, selama dirawat di sini. kami tidak bisa hubungi sanak keluarga mba Raina karena Mba tidak bawa identitas.” Raina mengernyit. Bingung dengan penuturan perawat itu. Bagaimana bisa dia tidak membawa identitas? Dia tidak pernah lupa membawa identitas diri jika dia pergi meninggalkan rumah. Dompet selalu di bawanya jika pergi walau hanya ke warung sekalipun. “Apa Mba ingat terakhir kali sedang ada di mana?” Raina menatap bingung perawat itu. “Saya ingatnya kalau saya ada di rumah. Menunggu suami saya yang dua hari tidak pulang. Hanya itu.” Perawat itu menatap Raina kemudian menghela nafas. “Akan saya panggilkan dokter, ya, Mba.” lalu perawat itu berbalik pergi dengan jalan tergesa-gesa. Dokter datang tidak lama kemudian. Memeriksa Raina tanpa mengatakan apapun padanya yang sedang kebingungan. Dokter itu membisikkan sesuatu pada perawat yang tadi lalu perawat itu pergi. “Dok, saya kenapa?” “Ibu, bisa hubungi suami Ibu?” Raina mengernyit. Dia tidak ingat nomor telepon suaminya. Dia bahkan lupa menaruh di mana ponselnya. Raina menggeleng. Tercetak jelas kecewa di wajah Raina karena tidak dapat menghubungi suaminya. Dokter tersenyum. “Tidak apa-apa, Bu. Lambat laun ingatan Ibu akan pulih. Yang terpenting sekarang, banyaklah beristirahat.” Raina mengangguk lalu pandangannya menerawang, mencoba mengingat apakah ada sesuatu yang dia lupakan. Namun tidak ada yang dapat dia ingat dan bagaimana dia bisa berada di rumah sakit. “Jangan terlalu dipaksakan, Bu.” Dokter itu berkata lagi, “saya permisi dulu. Nanti saya akan datang lagi periksa.” *** Zal membuka pintu rumahnya dengan kunci yang dia punya. Dia membeli rumah mewah minimalis di daerah Menteng, Jakarta dan tinggal seorang diri. Dia memiliki seorang pembantu yang dia bayar untuk mengurusi rumahnya. Pembantunya itu datang pagi hari pukul enam dan pulang pukul lima sore. Zal melemparkan kunci itu ke meja di ruang tamu lalu merebahkan dirinya di sofa. Pikirannya kembali pada perempuan yang dia tinggalkan di rumah sakit itu. Berpikir apakah perempuan itu akan bunuh diri lagi setelah tahu bahwa dirinya keguguran. Zal duduk tegak lalu tangannya menjangkau botol mineral yang sudah disiapkan pembantunya di meja. Dia menenggak habis air dalam botol itu. Dalam kesendiriannya seperti ini, dia teringat kembali pada seseorang. Ponselnya bergetar dalam saku celananya. Dia sadar, ponselnya tidak mati saat dibawanya terjun bebas dari jembatan. Dia tertawa pelan. Ada harga, ada rupa. Semakin mahal suatu barang, semakin tinggi kualitasnya. Zal menarik keluar ponselnya. Nama yang terpampang di layar ponselnya membuat tersenyum lebar. Senyum yang hanya dia berikan pada orang yang meneleponnya kali ini. “Halo?” sapanya. “Rizal, apa kabar?” sapa suara wanita di seberang telepon. Dia ersenyum. “Aku baik. Bagaimana kabarmu?” tanyanya kembali. Hanya wanita itu yang memanggilnya dengan lengkap. Rizal. “Aku baik. Kapan kamu mampir? Sudah lama kamu ....” Ucapan itu tidak diteruskan yang membuat dia tersenyum. “Hey, aku sibuk jadi belum sempat mampir.” “Jadi kamu sibuk betulan?” tanya wanita itu lagi. “Iya. Kamu tahu ‘kan, aku sekarang ini jadi apa?” Terdengar tawa riang yang membuatnya tidak melepaskan senyumnya. Tawa yang selalu membuatnya lupa pada masalahnya sendiri. “Kamu masih sama seperti dulu. Lucu.” Dia tertawa pelan menanggapi ucapan itu. “Semenjak kamu pulang dari Inggris, aku belum bertemu kamu lagi. Sudah berapa tahun. Kamu tidak kangen aku, ya?” Dia dapat membayangkan wanita itu cemberut. Dia memang tidak ingin bertemu lagi. Bertemu dengan wanita itu hanya menambah luka yang sudah mengering. Membuka sebagian luka yang sudah dia tutup lama. Cukup dengan bertelepon, dia dapat menguasai hatinya. Jika bertemu, dia khawatir hatinya akan runtuh lagi seperti dulu. Dia takut mengkhianati janjinya pada seseorang. “Aku heran ....,” bisik wanita itu padanya, “kenapa kamu banting stir jadi petinju? Aku masih heran sampai sekarang.” Disandarkan punggungnya. “Aku juga heran.” Senyum bermain di bibirnya. Dia senang menggoda orang yang meneleponnya itu. “Rizal, aku serius.” Wanita itu merajuk. Dia tertawa lagi. bersama dengan wanita ini, dia tidak masalah jika harus bertelepon berjam-jam lamanya. Dia senang mendengar suara yang lembut itu.“Aku juga. Aku serius.” Ucapnya kemudian. Lalu terdengar hela nafas wanita itu. “Jangan terlalu forsir dirimu, ya. Jaga kesehatanmu. Tolong, ya. Jaga diri kamu baik-baik.” pinta wanita itu padanya. Dia hanya bergumam menanggapi ucapan itu. Dia sudah tahu ke mana ucapan itu bermuara nantinya. “Aku tahu ....,” bisik wanita itu lagi ketika tidak ada tanggapan, “aku bukan siapa-siapamu setelah apa yang aku lakukan padamu.” Rizal menelan ludah lalu memejamkan mata. Disandarkan punggungnya di sofa dalam-dalam. Inilah yang dia tidak suka. Selalu menyalahkan diri sendiri dan inilah yang membuat dia tidak ingin bertemu lagi. Dia tidak ingin datang lalu ditanggapi dengan air mata penyesalan. “Aku ....,” “Sudahlah.” Selanya. Dia tidak ingin mendengar permintaan maaf itu lagi, “Itu sudah lama berlalu. Perasaanku padamu sudah berbeda. Aku sudah punya yang lain. Ingat?” “Oiya, bagaimana kabarnya dia?” tanya wanita itu riang, “sudah lama aku tidak mendengar kamu membicarakan dia lagi. Aku juga sudah lama tidak mendengar suara dia lagi.” Digigit bibir bawahnya kuat-kuat. Berusaha untuk menahan segala perasaan yang memuncak. Dia tidak ingin wanita yang meneleponnya itu khawatir setengah mati. Dia tidak ingin wanita itu bertambah sedih dan memikirkan dengan siapa lagi dia dapat mengurus diri dengan baik. “Dia ... baik.” Bisiknya pad akhirnya. Dia memilih untuk berbohong. Terdengar jeda lama sebelum akhirnya wanita itu bertanya, “apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?” wanita itu begitu peka sekali. Dia menjambak rambutnya. Sulit menyimpan rahasia sendirian jika sudah berhadapan dengan wanita yang meneleponnya itu. Tetapi itu harus dia lakukan demi kebaikan. Dia lebih suka menyimpan semuanya sendirian sekarang. “Tidak ada.” Jawabnya akhirnya. “Eh, suamiku mau bicara sama kamu, Zal.” Ucap wanita itu tiba-tiba. Dia bersyukur wanita itu tidak bertanya lagi. Dia hanya bergumam lalu terdengar ponsel bergemeresak berpindah tangan. Terdengar bisik-bisik yang tidak kentara oleh telinganya. “Apa kabarmu, Rizal?” Pria itu menyapanya dengan suara tegas seperti  biasa. “Galih.” Sapanya. “Ya,” jawab pria itu, “kamu bagaimana kabarnya, Rizal?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD