Bab 4 Trauma

1656 Words
Raina masih di rumah sakit. Dokter masih melarangnya untuk pulang hingga kesehatannya pulih seperti sedia kala. Ditatapnya jendela kamar inap. Dia di tempatkan di kamar VIP. Dahinya mengernyit tidak suka. Entah siapa pun yang membayar biaya perawatannya hingga sembuh merupakan orang yang senang sekali menghambur-hamburkan uang. Raina tidak berhasil menanyakan perawat mengenai siapa yang membayar biaya perawatannya selama di rumah sakit. Orang yang menolongnya tersebut tidak ingin siapapun mengetahui termasuk Raina. Kemarin, perawat mengatakan bahwa orang yang membiayainya itu akan datang menjenguk keadaannya. Hal tersebut membuatnya berusaha terjaga sepanjang hari, berharap orang yang membiayai perawatannya datang. Namun sia-sia. Orang itu tidak datang hingga senja datang. Menyerah, akhirnya dia memilih untuk tidur. Ketika pagi dia terjaga, rangkaian bunga mawar sudah bertengger di meja samping tempat tidurnya. Dia berpikir bahwa orang itu datang ketika hari sudah malam. Tetapi, apakah malam hari masih ada jam besuk? Bagaimana bisa orang itu datang seenaknya sendiri? Jika rumah sakit ini miliknya, itu memungkinkan. Dihela napasnya sebal pada pemikiran aneh yang selalu muncul selama beberapa minggu ini. Matanya beralih menatap bunga mawar yang sudah diletakkan oleh perawat di dalam jambangan berisi air. Sudah hampir tiga minggu dia masih di rumah sakit itu dan tidak tahu apa penyebab sampai di tempat itu. Merasa tidak ada yang harus dilakukan sendirian, dia menyalakan televisi menggunakan remote control yang sejak tadi digenggam, berharap remote itu adalah ponsel sebab dia ingin menelepon suaminya. Raina masih heran, mengapa suaminya tidak mencarinya? Dia membayangnya bagaimana ekspresi Aidil ketika ia tidak ada di rumah selama beberapa minggu. Apakah suaminya itu akan cemas? Atau malah suaminya itu akan marah seperti sebelumnya ketika Raina hanya pergi ke supermarket hanya untuk belanja. Mata Raina tertuju pada televisi, namun pikirannya mengelana memikirkan suaminya. Aidil memang temperamental namun Raina tetap mencintainya dan menghargainya sebagai suaminya. Sejak awal pernikahan mereka, pria itu tidak pernah mencintainya. Sikap yang dingin membuat Raina berusaha bertahan. Dalam segala hal, Aidil selalu temperamental dan dia tidak segan-segan menunjukkan rasa tidak sukanya di depan orang tua Aidil—mertuanya. Lain lagi dengan apa yang Kala katakan padanya. Bahwa Aidil sangat baik dan mau mengingatkan apapun. Berusaha membuat Kala menjadi orang yang berubah. Menurut Kala, Aidil adalah teman yang baik dan mau berbagi. Mengingat itu membuat Raina mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia mengatakan pada Kala bahwa semua yang dikatakan pria yang  pernah membuatnya tergila-gila itu salah. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia berharap Aidil seperti apa yang Kala katakan. Ingin sekali dia berharap bahwa Aidil dapat menjadi temannya dalam susah maupun senang, tetapi semua itu jauh dari apa yang diharapkan. Air matanya jatuh mengingat semuanya. Dia mengusap pipinya lalu menghela napas. Matanya kembali fokus pada layar televisi yang ada di hadapannya. Televisi itu menayangkan sebuah pertandingan tinju. Dua orang pria saling berhadapan. Satu pria bertubuh tinggi kekar dan satunya lagi bertubuh kecil namun berisi. Raina mengernyit ketika pria bertubuh tinggi kekar menghajar dagu pria bertubuh kecil. Pria bertubuh kecil itu sempoyongan. Kamera menyorot pria bertubuh tinggi kekar yang sedang menyunggingkan senyum angkuh. Raina tidak pernah menonton televisi sebelumnya, khususnya pertandingan tinju. Kesehariannya dihabiskan dengan merapikan dapur dan rumah. Aidil tidak memperbolehkannya menonton televisi. Sebelum menikah dengan Aidil pun, Raina tidak mempunyai televisi di rumah kontrakannya. Televisi merupakan barang mewah menurutnya yang tidak sanggup dia punyai. Ponselnya pun tidak seperti kebanyakan orang. Ponselnya adalah ponsel keluaran lama, bukan ponsel layat sentuh seperti kebanyakan orang. Dia selalu menolak ketika Kala ataupun Kieran memberinya ponsel. Kedua kakak angkatnya itu telah berjasa banyak dan dia tidak ingin merepotkan lagi. Pertandingan tinju yang ditontonnya ternyata sudah mencapai penghujung acara dengan kemenangan diraih oleh pria bertubuh kekar. Kamera menyoroti wajah pemenang yang bersimbah keringat. Ada luka robek di pelipis kanan pria itu. Raina menelengkan kepalanya kesatu sisi. Dia seperti pernah memimpikan pria itu sebelumnya. Dalam mimpinya, pria itu seolah menariknya keluar dari air keruh lalu membisikkan kata, “tolong jangan mati. Tolong hidup lagi.” Raina memejamkan matanya erat-erat. Kepalanya sakit mengingat mimpi yang seakan nyata itu. Membayangkan tangan kekar pria itu menarik tangannya lalu membawanya keluar dari air. Dia dapat membayangkan dalam ingatannya bahwa wajah pria itu begitu dekat dengan wajahnya. Wajah pria itu begitu cemas. Kilasan itu terjadi berulang kali hingga membuatnya menjerit sekuat tenaga. Dia terus menjerit berusaha mengenyahkan bayangan-bayangan pria itu dari dalam ingatannya. Tatapan pria itu padanya sungguh sangat menyiksanya. “Mba? Mba? Mba Raina?” Dua orang perawat datang berusaha menenangkan Raina yang semakin menjadi dan tidak mau mendengarkan panggilan itu, malah dia menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya.   Salah satu perawat bertubuh sedikit gemuk menatap temannya, “panggilkan dokter.” Katanya yang segera diangguki. Dokter tiba tidak lama kemudian. Menyuntikkan sesuatu pada lengan Raina hingga membuat perempuan itu lemas. Matanya mengerjap lalu berbisik, “Aidil.” Berharap suaminya akan datang membawanya pulang. *** “Death! ... Death! ... Death!” Sorak sorai suara itu menggema di ruang bawah tanah sebuah bar. Orang yang dipanggil Death memperbaiki balaclava yang dipakainya kemudian memakai pelindung tangan. “Oke! Kali ini kita sambut juara bertahan kita—Death!” sambut pria menggunakan microphone. Pria menggunakan microphone itu menghampiri Death. Death menyunggingkan senyum dari balik balaclava yang dipakainya. “Apakah kamu siap menghadapi siapapun lawanmu kini?” Death mengangguk mantap. Orang sekitar berteriak nyaring melihat tanggapan Death. Pria pembawa acara itu kembali memusatkan tatapannya pada penonton. “Baiklah, siapkan taruhan kalian. Karena kali ini, lawan Death tidak main-main.” Death memutar matanya dari balik balaclava yang membuat penonton tertawa. Pembawa acara itu menatap Death sekilas lalu ikut tertawa walau pelan. “Baiklah,” sambung pembawa acara itu. “Kita panggil pendatang baru kali ini. Masih muda. Ben!” Pria bertubuh kurus naik ke atas ring. Mata Death melebar. Lalu dia memaki pelan, “s**t!” Ben berdiri mantap di atas ring. Pembawa acara itu menuju Ben lalu menyorongkan michrophone dekat bibirnya, “Apa motivasimu kali ini?” tanyanya. Ben menatap Death, “tidak ada,” teriakan penonton bergemuruh, “saya hanya ingin Death kalah malam ini. Saya dengar dia tidak terkalahkan.” Sambung Ben. Death menatap Ben tidak suka. Pembawa acara itu mengangguk. “Apa kamu yakin akan menang?” Ben mengangkat bahu. “Semoga.” Jawabnya. Kembali penonton bergemuruh. “Oke.” Pembawa acara itu menenangkan penonton yang mulai kisruh. Mata pembawa acara itu menatap Ben, “tidak ada peraturan khusus di dalam pertandingan ini. Hanya tidak boleh memukul area vital. Selebihnya tidak masalah.” Ben mengangguk lalu bunyi lonceng menggema dibarengi gemuruh penonton bersorak sorai. Death berdiri menatap Ben yang kini bersiap akan menghajarnya. Alis Death berkerut membayangkan Ben yang akan runtuh dengan sekali pukulan. Anak muda itu membuat Death gemas. Ben tidak tahu bahayanya pertandingan tinju ilegal. Ben maju kemudian melayangkan pukulan ke pipi kiri Death yang membuatnya keluar dari lamunannya. Death menggeram melayangkan tinjunya ke bahu Ben yang membuat anak itu terhuyung jatuh. Pukul itu hanya separuh dari kekuatannya, atau malah hanya seperempatnya dan Ben sudah jatuh. Ketika anak itu hendak bangkit, Death memiting kedua tangan Ben ke belakang tubuh anak itu lalu menggeram. Didekatkan wajahnya di telinga Ben lalu berbisik, “Stop, Ben, atau kamu mati.” Akhirnya dia berbicara. Dia tidak pernah mengeluarkan suaranya ketika di atas ring tinju terlarang. Wajah Ben menegang. Dia mengingat suara itu di mana saja. Suara itu tidak asing di telinganya. Ditatapnya kaget Death. “Pelatih?” bisiknya. Bersamaan dengan itu, Death memukul wajah Ben hingga anak itu merosot tidak sadarkan diri. Dia mendengkus menatap Ben yang pingsan. Lagi-lagi dia tidak mengeluarkan keseluruhan kekuatannya namun anak itu sudah pingsan. Gemuruh bahagia penonton membuat Death mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Dia tersenyum dari balik balaclavanya kemudian turun dari ring. Tepukan tangan, atau pelukan singkat dari penggemar tidak lantas membuatnya berhenti. Dia terus menuju ruangan yang khusus disiapkan untuknya. Sesampainya di ruangan, dia membuka balaclavanya. Seseorang mengetuk pintu lalu terdengar pintu terbuka ketika Death memakai kembali balaclavanya terburu-buru. Dia tidak ingin orang-orang melihat jelas siapa dirinya sesungguhnya. Dia hanya ingin menjadikan wajahnya rahasia bagi semua orang. “Death!” pemilik bar merentangkan tangannya lebar-lebar ketika melihat Death berdiri memunggunginya. “Kau selalu membuatku terkesan!” serunya lagi. Death hanya mengangguk. “Bagaimana tawaranku, Death?” tanya pemilik bar itu. Death menghela napas lalu berbalik. dia bersedekap menatap pemilik bar. “Tawaran yang mana?” tanyanya. Pemilik bar itu menutup pintu ruangan. Tangannya terulur memberikan setumpuk uang pada Death yang diterimanya, namun tangan pemilik bar tidak lantas memberikan begitu saja uang itu. Mata pemilik bar menatap Death penuh harap, “menikahi putriku.” Tatap Death mengeras. “Maaf. Saya menolak.” Tangan pemilik bar mencengkeram tangan Death, walau begitu, tidak membuatnya meringis. Dia tidak merasakan sakit pada cengkeraman tangan pemilik bar. “Kau akan mendapatkan semua hartaku, Death. Semuanya. Apa kau tidak mau?” Death mendengkus. “Tidak.” Lalu dirampasnya uang itu dari tangan pemilik bar, hingga membuat beberapa lembar uang puluhan ribu beterbangan. Pemilik bar menyunggingkan senyum. “Itulah yang membuat putriku tergila-gila padamu, Death. Kau low profile.” Death berdecak. “Saya tetap menolak.” Ulangnya. Pemilik bar mengangguk. “Akan kusampaikan pada putriku bahwa pinangannya ditolak olehmu, Death. Semoga itu tidak membuatnya menggila karena dia tidak bisa menerima kata ‘tidak’ dalam hidupnya. Dia terlalu dimanjakan oleh kami, orang tuanya.” Lalu setelah mengatakan itu, pemilik bar berbalik pergi. Meninggalkannya sendirian. Dia duduk di kursi yang sudah disediakan lalu membuka balaclavanya. Ditatapnya benda yang ada digenggamannya itu. Menikah sangat jauh dari pandangannya. Setelah apa yang dia lihat sendiri dalam hidupnya, dia memilih untuk tidak membuka hatinya lagi. Dia tidak ingin hatinya terluka untuk kesekian kalinya. Dia melakukan berbagai kegiatan agar terhindar dari berbagai bayangan yang membuatnya terluka termasuk tinju ilegal. Dia sangat menikmati adrenalin yang tercipta ketika berhadapan dengan penantangnya tanpa perlu adanya aturan-aturan. Kring! Kring! Kring! Ponselnya berdering dari tas punggung yang dia letakkan di sampingnya. Dia membuka tas punggung itu lalu menarik keluar ponselnya. Alisnya berkerut melihat siapa yang mengontaknya. “Apa saya berbicara dengan mas Rizal?” tanya suara itu. “Saya dari rumah sakit. Ada yang ingin kami sampaikan.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD