Bab 11 Permintaan

2283 Words
Tangan Rizal masih terangkat. Siap-siap untuk menyambut Raina yang akan turun namun tidak ada pergerakan. Dia sepertinya betah duduk di atas lemari. Bi Asih melihat betapa majikannya itu sabar menghadapi Raina. Bi Asih belum pernah melihat majikannya sesabar itu. jika ada masalah, majikannya itu akan berteriak meluapkan kekesalannya. Namun kali ini tidak. “Raina, tatap aku. Apakah aku jahat padamu?” tanya Rizal berusaha meyakinkan. Raina menurut. Dia menatap Rizal dan tanpa aba-aba, dia melompat yang membuat Bi Asih memekik nyaring dan Rizal melotot, tidak siap menangkap gerakan tiba-tiba itu. Dengan gerakan cepat, Rizal menangkap Raina namun sayang, dia salah melangkah yang berakibat wanita itu mendarat tepat di atas tubuhnya, tepat di perutnya. “Oh, s**t!” Rizal memaki merasakan sakit di perutnya yang anehnya Raina malah tertawa. Tawa yang sangat lepas. Dia menatap Raina lalu menyembunyikan senyumnya. “Oke, kamu tertawa padaku yang kesakitan. Bagus sekali.” Gerutunya main-main yang malah membuat Raina semakin tertawa geli. “Kamu lucu.” Gelak Raina yang masih duduk di atas perutnya. “Mas, tidak apa-apa?” kali ini Bi Asih yang merasa khawatir pada majikannya. Rizal menggeleng. Dia masih telentang di lantai. Berusaha meredam sakit pada perutnya akibat ditimpa oleh Raina. Walau tubuh itu kecil, tetapi berat juga. “Raina, ayo berdiri, perut mas Rizal sakit.” Bi Asih meminta Raina untuk bangkit namun wanita itu malah menggeleng. “Tidak.” Geramnya kemudian. Rizal memberi kode Bi Asih untuk tidak mengatakan apapun lagi. “Tidak apa-apa, Bi. Biar saya saja.” Dia menyeimbangkan tubuhnya dengan memegang pinggang Raina lalu duduk masih dengan wanita itu berada dipangkuannya kini. Ditatapnya Raina, “kamu sudah makan?” tanyanya berusaha membuat tidak mengamuk lagi. Raina mengangguk. Menurut Rizal sepertinya kondisi Raina sedikit membaik. Apakah benar yang dikatakan Kala bahwa wanita itu senang bersama dengannya? Rizal menghela napas. bingung harus mengatakan apa lagi tanpa harus membuat Raina mengamuk. “Apa kamu senang bersamaku?” tanya Rizal. Pertanyaan konyol. Raina mengangguk lagi. “Oke, kalau kamu senang bersamaku, maukah kamu tidak melakukan hal bodoh tadi?” Raina menggeleng. “Kenapa?” Raina menunjuk keluar jendela. “Aidil.” Bisiknya. Alis Rizal terangkat. Aidil katanya? “Maksudmu? Ada Aidil?” Raina masih menunjuk jendela. “Aidil.” Penasaran, Rizal berusaha menurunkan Raina namun sepertinya wanita itu senang menempel padannya. Akhirnya mau tidak mau, dia menggendongnya lalu berjalan mendekati jendela. Dilihatnya tidak ada siapapun. Tatapan Rizal beralih pada Bi Asih. “Bi, tadi ada yang datang?” Bi Asih nampak berpikir sejenak. “Tidak ada, mas. Mungkin Non Raina berhalusinasi, mas.” Rizal mengangguk setuju pada pemikiran Bi Asih. ‘Oke,” bisiknya di telinga Raina, “bagaimana kalau kamu kembali tidur? Aku mau keluar rumah. Bisakah kamu baik-baik dengan Bi Asih selama aku pergi?” Rizal merasakan gelengan kepala Raina yang membuatnya berdecak. “Ayolah, Raina. Aku tidak akan lama.” Rizal perlu ke sasana sore ini untuk melatih Ben. Itupun jika anak itu akan menampakkan batang hidungnya. Rizal membawa Raina menuju kamar tamu dengan Bi Asih mengikuti dari belakang, khawatir jika Raina akan mengamuk lagi dan membahayakan nyawa majikannya. “Akan kubawakan makanan. Kamu suka apa?” Rizal seolah berbicara pada keponakannya yang merajuk. Dia jadi teringat dua keponakannya di Semarang. Sudah lama dia tidak menelepon mereka. Dia mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur. Dia mengusap punggung Raina berulang. Berusaha agar dapat tidur kembali. “Kuharap kamu dapat bersikap baik kali ini. oke?” Rizal masih membujuk Raina kemudian menarik paksa agar terlepas darinya. Setelah terlepas, Rizal segera keluar dari kamar tersebut lalu keluar dari rumah. Tidak dipedulikannya teriakan wanita itu dari dalam kamar yang terkunci. *** “Zal!” teriak pak Agung ketika Rizal menutup pintu mobilnya. Rizal mengangguk menjawab sapaan pak Agung. “Apakah benar?” tanyanya yang membuat bingung. “Apanya?” Pak Agung melempar ponselnya yang ditangkap cekatan oleh Rizal. ‘Lihat saja.” Ucap Pak Agung. Rizal melihat ponsel tersebut lalu tatapannya tertuju pada barisan kalimat yang membuatnya geram. Bisa jadi tadi Aidil memang benar-benar mendatangi rumahnya. Mungkin itulah yang membuat Raina kembali ketakutan. Rizal membawa wanita pulang ke rumahnya. Seperti ini rupa wajah cantik yang mungkin sudah mengisi hatinya. Rizal menghampiri Pak Agung lalu memberikan ponsel itu. Dia menghela napas sedangkan Pak Agung menatapnya heran. “Biarkanlah.” Ucapnya akhirnya. “Apa benar?” Rizal mengangkat bahu yang membuat Pak Agung menepuk punggungnya. Pak Agung senang sekali. Rizal yang telah dianggapnya seperti anak sendiri akhirnya dapat membuka dirinya. “Aku senang.” Ucap Pak Agung, “akhirnya anak kesayanganku punya pacar.” Mata Rizal mendelik namun tidak mengatakan apa pun. Dia tidak ingin harapan pak Agung pupus ketika tahu hal yang sebenarnya. “Kapan kamu kenalkan padaku?” “Kapan-kapan.” Sahutnya asal. Pak Agung tertawa. “Tidak perlu malu, Zal.” Rizal mendengkus. “Aku tidak malu hanya saja ....” tidak diteruskannya ucapannya. Sekali lagi dia tidak ingin Pak Agung bersedih. Cukuplah baginya bahwa dirinya yang bersedih, tidak perlu ditambahkan orang lain yang ikut merasakan kesedihannya pula. “Ah, sudahlah.” Decaknya, “Ben sudah datang?” tanya Rizal. Mencoba mengalihkan pikiran Pak Agung. Pak Agung mengangguk. “Anak itu sedang membantuku membersihkan sasana,” Pak Agung sejenak berpikir lalu berjalan masuk ke dalam sasana diikuti Rizal, “sepertinya kita butuh karyawan lagi untuk membersihkan sasana.” Alis Rizal berkerut. “Memangnya karyawan yang lama ke mana?”  Dia teringat seorang karyawan wanita yang tinggi semampai dengan rambut dikuncir kuda. “Mengundurkan diri. Mau menikah katanya. Calon suaminya tidak mau dia bekerja lagi.” Jawab Pak Agung. Rizal mengangguk. Kemudian Pak Agung memberikan padanya segerombolan anak kunci. “Pegang ini.” Bingung, Rizal menerima kunci itu. “Aku mau piknik keliling dunia bersama istriku. Selama aku pergi, jaga sasana ini.” Rizal mengangguk. “Hanya sampai bapak kembali lagi. Setelah bapak datang lagi, sasana ini tetap milik bapak.” Pak Agung tertawa. Sudah mengira apa yang akan dikatakan Rizal padanya. “Baiklah.” Katanya masih tertawa. Rizal melihat Ben sedang membersihkan lantai sasana, sementara Pak Agung masuk ke dalam ruangannya. Dia menghampiri Ben. Ditepuknya bahu Ben perlahan yang malah membuat anak itu terlonjak. Sepertinya Ben sedang melamun. Rizal tersenyum tipis. Diulurkan tangannya lalu menarik alat pembersih lantai dari tangan Ben. Pipi kanan anak itu masih memar walau sedikit. “Kamu lanjutkan latihanmu.” Kata Rizal. Dia tidak ingin menanyakan mengapa pipi Ben memar. Dia sudah tahu mengapa hal itu terjadi. Ben mengangguk pada perintah Rizal. “Bagaimana kabarmu hari ini, pelatih?” tanyanya pada Rizal. Yang ditanya hanya mengangkat bahu. “Berarti harimu buruk.” Tambah Ben. Rizal yang mendengar itu hanya mengangkat alisnya namun tidak mengatakan apa pun. Mungkin Ben benar. Harinya sedikit buruk. Mencoba menghilangkan penat yang tiba-tiba datang tanpa diundang, dia menuju lemari penyimpanan barangnya. Dipakainya sarung tinjunya. Dia butuh pengalih pemikirannya hari ini. Raina sudah cukup membuatnya tertekan. Dia tidak ingin tertekan kembali pada pemberitaan yang tadi disampaikan Pak Agung padanya. Rizal menuju salah satu samsak tinju lalu memukul samsak itu. Ben yang melihat Rizal bersikap seperti itu hanya mengangkat bahu. Dia mengikuti apa yang Rizal lakukan pada samsak tinju yang lain. *** “Anak-anak!” Pak Agung berteriak pada Rizal dan Ben yang sedang latihan berdua di atas ring. Rizal dan Ben menghentikan latihan mereka. Dikedua tangan Pak Agung terdapat makanan cepat saji dari sebuah restoran ayam. “Makan malam!” Ben mengangkat alisnya lalu memandang Rizal yang masih memitingnya. “Sejak kapan Pak Agung keluar dari ruangannya?” Rizal nampak berpikir namun pitingannya pada Ben tidak mengendur. “Entahlah. Mungkin sejak tadi.” “Anak-anak!” teriak Pak Agung lagi ketika dilihatnya kedua orang itu masih dalam posisi mengunci. Rizal melepaskan pitingannya lalu keluar dari ring diikuti Ben yang mengekorinya dari belakang. Ben kagum pada Rizal. Pelatihnya itu selalu fokus. Tidak sekali pun dia melihat pelatihnya itu tak terkendali. Semua yang ada pada pelatihnya adalah sempurna. Ben ingin sekali seperti Rizal. Ben yakin, hidup pelatihnya sangatlah bahagia. Pak Agung mengajak mereka makan malam bertiga. Sejenak bercakap-cakap dan meminta Rizal untuk mengurusi sementara sasana itu. Ben tersenyum. Ben tahu maksud ucapan Pak Agung hanya saja Rizal yang kurang paham. Pak Agung ingin sasana itu diurus oleh Rizal. Dengan alasan pergi keliling dunia, Rizal menerimanya tanpa kecurigaan. Usul keliling dunia adalah usul Ben pada Pak Agung. “Belum pulang, pelatih?” sapa Ben ketika dilihatnya Rizal yang baru saja selesai mandi. Rizal menggeleng. Ben sudah rapi dan siap untuk pulang. “Kamu mau pulang?” Ben mengangguk. “Apa ada yang harus kukerjakan, pelatih?” “Tidak ada. Pulang saja.” Ben mengangkat bahu. “Oke. Aku pulang dahulu, ya, pelatih. Sampai jumpa besok.” Ucap Ben kemudian melambaikan tangannya pada Rizal. Rizal tersenyum mengangguk. “Ya.” Jawabnya singkat. Pak Agung sudah pulang setelah selesai makan malam. Katanya beliau ingin merapikan pakaian yang akan dibawanya untuk bepergian dalam jangka waktu lama. Rizal menarik napas. Dia berjalan menuju ruangan Pak Agung yang terletak di sudut sasana. Dibukanya perlahan ruangan itu. Ruangan Pak Agung tidak terlalu besar. Dalam ruangan itu hanya ada satu buah meja dan kursi kerja dengan satu set sofa untuk menerima tamu. Terdapat satu buah lemari pendingin makanan dan minuman berukuran sedang dan lemari untuk menempatkan berkas-berkas. Ruangan Pak Agung tidak pernah kotor karena sang pemilik sangat apik. Selalu mengorganisir ruangannya agar terlihat nyaman ditempati walau pun kecil. Rizal memandang ruangan itu. Dia tidak pernah ingin menempati ruangan itu. Ruangan itu bukan miliknya. Kring .... Kring ... Kring .... Dering telepon yang berada dalam saku celananya membuyarkan lamunannya. Rizal mengangkat teleponnya. Nomor tidak dikenal. “Halo?” sapanya. “Zal!” Dahi Rizal berkerut. “Ya, saya sendiri. Ini siapa?” “Aku. Kala.” “Oh.” Rizal melihat lagi ponselnya untuk memastikan kode nomor telepon yang dipakai. Nomor luar negeri. “Ada apa?” tanyanya kemudian. “Bagaimana kabar Raina?” Rizal mengangkat bahu. “Dia baik-baik saja.” Jawabnya, “bagaimana dengan dokternya?” “Apakah kamu masih sanggup mengurusi Raina lebih lama lagi? Aku sedang mencari dokter yang bagus di sini. Psikiater yang mengobati Cinta ternyata sudah meninggal dunia karena kecelakaan mobil.” Rizal menghela napas pelan. Dia tidak mengerti dengan orang-orang sekitarnya. Pak Agung dan Kala. Kenapa mereka senang sekali menitipkan sesuatu padanya? apakah dia dapat dipercaya? Rizal ingin berteriak namun tak kuasa. “Hanya kamu yang kupercaya, Zal.” Kala seolah mengerti apa yang Rizal pikirkan. “Aku tidak tahu pada siapa lagi Raina kutitipkan. Anggaplah dia adikmu, Zal. Hanya padamu dia menurut.” “Ya.” Jawab Rizal pelan. “Zal?” panggil Kala. “Ya?” Ada jeda lama dan akhirnya Kala bertanya penuh kehati-hatian, “apakah Raina membuatmu terbebani? Jika, ya, kamu bisa bawa dia ke rumah sakit jiwa.” “Bukan.” Jawab Rizal cepat. Dia tidak bermaksud seperti itu. “Apakah kamu ada masalah?” “Tidak ada.” Jawab Rizal cepat. Kala menarik napas panjang. “Baiklah kalau begitu. Jika ada yang ingin kamu ceritakan, aku siap mendengarkan.” “Ya.” Hanya itu yang dia berikan pada Kala. “Oke, Zal. Selamat malam.” “Malam.” Setelah telepon ditutup, teleponnya berdering lagi. Kali ini Diandra yang meneleponnya. Rizal menelan ludah. Bimbang ingin menerima panggilan itu atau tidak. Dipandanginya ponselnya itu hingga dering berhenti, kemudian berdering lagi. Rizal menghela napas dan akhirnya dia menyerah. “Halo?” “Rizal! Apa kamu baik-baik saja?” “Ya, Di. Maaf. Aku sibuk.” Rizal mengusap tengkuknya. Dia lelah harus berbohong terus menerus pada Diandra. “Zal, aku di depan tempat latihan tinjumu. Di depan sasana.” Ucapan itu membuat Rizal terkejut. “Apa?” Suara tawa Diandra terdengar riang. “Iya. Keluar cepat.” Buru-buru Rizal menutup ruangan kerja Pak Agung. Dengan langkah lebar, dia menuju pintu keluar. “Kamu ada di depan?” tanya Rizal memastikan. jantungnya berdegup kencang. Sudah sangat lama dia tidak bertemu Diandra. “Iya. Aku di depan sasanamu. Aku datang sendiri.” Ucapan terakhir Diandra itu membuat Rizal menggeram. “Apa?” Diandra tertawa lagi dari ujung telepon. Suara tawa itu terdengar jelas ketika Rizal membuka pintu sasana. Diandra berdiri di depan pintu sasana. Jantungnya berdetak. Diandra berdiri di hadapannya. Tubuhnya Diandra lebih berisi. Terakhir bertemu Diandra ketika dia memutuskan untuk kembali ke Inggris tepat sehari setelah Diandra menikah kembali dengan Galih. Beberapa tahun silam. “Hai, Zal.” Sapa Diandra. Rizal tersenyum. “Hai.” Dia tiba-tiba kikuk berhadapan dengan Diandra. “Kamu sendiri?” tanyanya kemudian matanya beralih pada mobil mewah berwarna putih yang berada di area parkir sasana. “Iya. Aku kangen.” Mata Rizal beralih menatap Diandra. Mata yang dulu pernah memesonanya. Dahulu, menurutnya mata itu sangat indah. Rizal tersenyum. Dia membuka pintu sasana lebih lebar. Dia mempersilahkan Diandra masuk. “Aku bawa makanan.” Ucap Diandra. Di tangannya terdapat satu kotak pizza. Rizal membawa Diandra ke ruangan Pak Agung. “Duduklah.” Ucapnya mengajak Diandra duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Diandra memandang Rizal yang mengambil satu potong pizza kemudian memakannya, Diandra tersenyum melihat betapa diamnya pria itu. “Kamu berubah banyak.” Ucapnya pelan. Rizal menghentikan kunyahannya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Kembali dia mengunyah pizzanya tanpa berniat menjawab pertanyaan Diandra. “Galih memberikan salamnya untukmu.” Kata Diandra lagi, membuka percakapan. Rizal menatap Diandra. “Apa kabar Galih?” tanyanya. Dia tidak pernah mengerti bagaimana Galih bisa berdamai dengannya setelah apa yang pernah dia utarakan pada Diandra dulu. Galih selalu membiarkan Diandra meneleponnya, dan kali ini dia tidak mengerti mengapa Diandra mau repot-repot datang mengunjunginya di sasana. “Baik. Dia sedang sibuk. Seperti biasa.” “Kenapa tiba-tiba kamu datang ke sini?” tanya Rizal. Tidak mungkin malam-malam Diandra datang hanya mengatakan bahwa merindukannya. Tidak. Diandra tidak senekat itu. Pasti ada permintaan lain. “Aku ingin bertemu Kanya.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD