Bab 10 Aku Tidak Gila

2262 Words
“Aku tidak mau putrimu mendekatiku walau dalam jarak satu meter. Jika itu tetap dia lakukan, aku tidak akan segan-segan untuk benar-benar keluar dari underground.” Rizal benar-benar mengancam pemilik bar. “Oke. Aku setuju.” Pemilik bar setuju. Rizal tidak pernah main-main pada ancamannya. Dia dan tinju sudah menjadi kesatuan. Jika dalam tinju professional dia dapat mengendalikan emosinya, jika dalam tinju ilegal, dia tidak akan bisa mengendalikan emosinya. Dalam tinju ilegal, dia tidak dikenal siapapun jadi dia tidak perlu memusingkan urusan reputasinya yang hancur. Itulah mengapa semua orang memanggilnya Death. Dia dapat menghabisi lawannya tanpa kenal ampun. Rizal mengerutkan kening teringat Ben. Dia sudah lama tidak melihat anak itu. Apakah anak itu sehat atau koma akibat pukulannya? Entah dasar apa yang membuat Ben melakukan itu. Jika itu demi menarik perhatian lawan jenis, menurutnya, Ben salah besar. Rizal memasukkan ponselnya ke saku celananya lalu menoleh. Dilihatnya Raina menatapnya nyalang. Kedua tangan itu masih terikat. “Hari ini kamu ikut aku,” kata Rizal membuka percakapan, “Besok, akan kukembalikan kamu ke rumah sakit itu. Oke?” Ucapannya jelas tidak ditanggapi Raina namun begitu, wanita itu diam, tidak memberontak. “Aku tidak mau kamu tinggal sendirian di rumahku besok,” katanya lagi, “Aku besok ada pekerjaan seharian.” Entah mengapa dia ingin memberitahu mengenai alasannya besok mengembalikan Raina ke rumah sakit. Menurutnya, wanita itu wajib mengetahuinya. Rizal menghela napas. Diulurkan tangannya menyentuh lutut Raina lalu mengusapnya perlahan sebelum ditarik kembali tangannya itu dengan cepat. “Sekarang, tolong kerjasamanya. Oke? Jadilah anak baik. Jangan kabur ataupun berteriak-teriak ingin mengakhiri hidup. Bisa?” Raina tidak menjawab namun matanya tetap memandang Rizal tanpa kedip. Merasa bodoh karena tidak ada jawaban, Rizal memilih untuk berbalik lalu menjalankan mobilnya. *** Rizal mengeluarkan Raina dari dalam mobil lalu membopongnya masuk ke dalam rumah. Tatapan itu tetap sama seperti sebelumnya. Kosong. Di dalam rumah, seorang pembantu sudah menunggu. “Mas.” Sapa pembantu pada Rizal. Rizal mengangguk. “Bi, tolong siapkan air hangat di baskom.” pintanya. Pembantunya mengangguk. Rizal membawa Raina ke salah satu kamar tamu lalu menidurkan di kasur berukuran besar. Perlahan dia membuka ikatan di tangan Raina. Tatapan pria itu terpaku pada pergelangan tangan yang memerah. Sepertinya Raina berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan itu namun gagal. Perlahan dia mengusap pergelangan tangan Raina lalu menghela napas pelan. Dia tidak tahu harus melakukan apa pada seorang yang terganggu kejiwaannya. Raina bisa saja melakukan apapun yang memicunya untuk bunuh diri lagi. Ditatapnya Raina. “Tolong, hari ini kamu jadi anak baik. Ya? Kalau kamu baik, aku tidak akan memasukkanmu ke rumah sakit jiwa.” Mendengar itu, mata Raina bergerak menatapnya. “Aku tidak gila.” Bisik kemudian. Rizal mengangguk. Dia menyembunyikan senyumnya. Raina sudah mau berbicara padanya adalah suatu kemajuan. “Ya. Tentu saja. kamu sehat.” Tukasnya. Pandangan itu kembali kosong yang membuatnya merasa kasihan dan hal itu mengingatkannya pada Kanya. Ketukan di pintu membuat Rizal mengalihkan pandangannya. Pembantunya berdiri dengan baskom berisi air hangat. “Ini taruh di mana, mas?” Rizal menunjuk lantai samping kakinya. “Di sini saja, Bi.” Pembantunya menurut. Diletakkan baskom air hangat itu di lantai. “Bi, bisa carikan pakaian saya yang muat ukuran dia?” tanyanya menunjuk Raina. Pembantunya mengangguk. “Nanti taruh saja di atas tempat tidur saya, Bi. Biar saya yang ambil.” Pembantunya mengangguk lagi. “Iya, mas,” kemudian berlalu pergi tanpa menanyakan lebih lanjut mengapa Rizal meminta itu semua. Itulah yang Rizal suka dari pembantunya. Tidak banyak ingin tahu mengenai kehidupannya. Terkadang dia meminta pembantunya untuk menginap di rumah ketika dirinya harus pergi ke luar kota demi pekerjaan. Rizal meremas kain yang ada dalam baskom lalu mengusapnya pada lengan Raina. Dia sudah terbiasa melakukan itu pada Kanya dahulu. Tidak ada sedikitpun rangsangan yang timbul ketika dia memandikan Kanya yang depresi. Melihat Raina, dia dapat melihat Kanya. Kondisi mereka berdua yang mirip membuatnya tidak ingin Raina berakhir seperti Kanya. Rizal membersihkan kaki Raina yang diam tidak bergerak. Sepertinya perempuan itu paham apa yang diminta sebelumnya. Ketika dia hendak membuka kaus yang dipakai Raina, ditatapnya wanita itu. “Apakah kamu nyaman kalau aku buka pakaianmu?” tanyanya. Raina menatap dia lama tanpa mengatakan apapun. Tatapan itu membuatnya paham bahwa Raina sepertinya takut. “Aku akan panggilkan pembantuku untuk membersihkan sisanya. Kuminta kamu jangan bersikap kasar padanya. Mengerti?” Raina diam. Kemudian matanya berkedip sekali tanpa Rizal sadari. “Bi!” Rizal berteriak memanggil pembantunya. Dalam sekejap, pembantunya sudah berada di sampingnya. “Iya, mas?” tanya pembantunya. Ditangan pembantunya ada beberapa pakaian lama milik yang sudah tidak muat lagi. Rizal berdiri. “Tolong bersihkan badannya, ya. Tadi saya sudah membersihkan wajah, tangan dan kakinya.” lalu dia memberikan kain basah pada pembantunya. “Saya mau sarapan dulu.” “Iya, mas.” Rizal berlalu dari kamar itu menuju dapur. Pembantunya sudah menyiapkan sarapannya berupa nasi goreng dengan telur ceplok. Dia menarik kursi lalu duduk menikmati sarapannya. Ponselnya berdering dari saku celana yang dipakai. Ditarik keluar ponsel tersebut. Ternyata Kala yang meneleponnya. “Zal.” Sambut Kala. “Raina ada di rumahku.” Jawabnya tanpa basa-basi. Dia tidak suka bertetek bengek pada orang lain. “Oh, syukurlah. Di mana kamu temukan dia?” Rizal nampak berpikir sejenak lalu mengangkat bahu. Dia lupa. “Aku tidak ingat tepatnya di mana. Lokasinya lumayan jauh dan waktunya sudah hampir pagi.” “Oh.” Kala menyahut, “Maaf ya, Zal, aku sudah merepotkanmu.” Rizal mengangguk, “ya.” Jawabnya pelan seraya mengunyah nasi gorengnya. “Apakah aku boleh merepotkanmu lagi?” tanya Kala kemudian yang membuat dia izal memutar matanya. “Apa?” tanyanya sedikit sebal. Dia tidak bisa lepas dari Raina rupanya. “Aku dan istriku akan pulang ke New York untuk mencari rumah sakit yang bagus untuk Raina, apakah tidak apa-apa jika aku menitipkan Raina padamu selama satu minggu ini?” Rizal mendesis sebal. Itu artinya dia tidak bisa melakukan pekerjaannya dan dia harus menjagai Raina dua puluh empat jam dalam tujuh hari. “Tidak bisakah kamu bawa saja dia?” tanpa disadarinya, dia sudah menggeram kesal. Dia tidak suka ada orang lain di rumahnya seelain pembantunya. “Oh, kamu tidak bisa, ya?” nada kecewa Kala membuat Rizal menghentikan sarapannya lalu memejamkan mata sesaat. Dia tidak pernah ingin mengecewakan orang-orang baik seperti Kala ataupun kakaknya. “Bukan begitu,” Rizal berusaha untuk menenangkan pikirannya, “kamu tahu sendiri apa pekerjaanku, dan aku tidak bisa dua puluh empat jam mengawasinya, Kala.” “Aku akan menyewakan perawat untuk menjagai Raina.” Kala menjawab cepat, “dan aku akan membayar upahnya. Kamu tidak perlu khawatir. Oke?” “Terserah padamu kalau begitu.” Akhirnya Rizal mengalah. Dia sadar, sejak dahulu dia selalu mengalah dan sekarang pun dia lagi-lagi mengalah. “Terima kasih, Zal. Kamu baik sekali. Suatu saat nanti, aku akan membalas semua kebaikan yang sudah kamu berikan pada Raina. Kasihan dia. Hidup seorang diri, Zal. Tidak punya siapapun lagi. Dia anak panti asuhan sejak kecil. Sebelumnya dia anak yang periang. Tidak pernah sedih. Ini merupakan guncangan hebat baginya. Kupikir Aidil akan bersikap layaknya seorang pria pada wanita, tetapi ternyata tidak.” Rizal menelan nasi goreng yang dia kunyah perlahan. Nasi goreng itu kini sudah tidak berselera lagi baginya saat mendengar penuturan Kala mengenai Raina. Dia tahu bagaimana rasanya hidup seorang diri. Dia merasa iba pada wanita itu. Wanita yang kini tinggal satu atap dengannya. “Sepertinya aku perlu bertemu dengan Aidil.” Tukas Rizal geram. Kala mengembuskan napas lelah dari ujung telepon. “Percayalah, akupun sepertimu, Zal. Tetapi aku sudah kecewa padanya dan tidak ingin melihat wajahnya. Jika kondisiku sepertimu yang sehat, aku akan memukulnya sampai mati.” “Aku akan melakukannya untukmu jika aku bertemu dengan orang itu.” Janji Rizal pada Kala.”Akan kubuat dia mati perlahan.” Dia menggertakkan giginya. Kini dia diliputi kemarahan. Lagi-lagi bayangan Kanya yang memandangnya dengan tatapan tidak kenal itu membuat Rizal marah. Entah marah pada siapa. “Tenangkan dirimu, Zal.” Kala dapat merasakan Rizal yang kesal. Napasnya naik turun begitu cepat. “Kita berdua menyayangi Raina. Tolong jangan berbuat gegabah.” Tangan kiri Rizal mengepal di atas meja. Dia ingin memukul sesuatu. “Oke.” Rizal menghela napas. “Aku perlu pelampiasan.” Lalu menutup telepon sepihak. Rizal tidak menghabiskan sarapannya. Sebaliknya, dia ke halaman belakang rumahnya. Dibuka kausnya lalu melompat ke dalam kolam renang. Dia berenang bolak-balik tanpa lelah. Dia butuh relaksasi dan berenang adalah hal yang dapat membuatnya relaks. Setelah berenang bolak-balik tanpa henti, dia menepi. Alisnya bertaut mengingat Kala yang akan menyewakan perawat untuk mengurus Raina. Rizal tidak suka ada orang lain lagi di rumahnya selain pembantunya yang biasa datang. Sepertinya dia harus mengatakan pada Kala agar tidak perlu menyewakan perawat. Dia akan meminta pembantunya untuk tinggal di rumahnya sekaligus merawat Raina. Seminggu adalah waktu yang cepat. Rizal mengangkat dirinya keluar dari kolam renang. Diraih handuk yang memang sengaja di letakkan di kursi lalu dipakainya melilit pinggang. Rizal berjalan menuju kamar yang di tempati Raina. Pembantunya sudah selesai memandikan Raina. Wanita itu kini duduk di atas tempat tidur, duduk membelakangi pembantunya yang bernama Bi Asih, sementara Bi Asih menyisir rambut Raina. “Rambut Non bagus. Lebih bagus lagi kalau Non keramas. Nanti sore sebelum bibi pulang, mau ya bibi keramasi?” Itulah ucapan Bi Asih pada Raina yang membuat Rizal tanpa sadar tersenyum. Raina hari ini bersikap baik padanya serta menurut dan itu adalah kemajuan besar. “Bi?” Rizal memanggil Bi Asih. Bi Asih menoleh seraya menjawab, “Ya, Mas?” “Bisa kita bicara sebentar, Bi?” Bi Asih mengangguk. Dia menepuk bahu Raina lalu berbisik, “Saya tinggal dulu, ya, Non.” Raina tidak menjawab namun tidak pula mengangguk. “Iya, mas?” tanya Bi Asih ketika mereka sudah di luar kamar. Rizal bersidekap. “Bi, mau tidak kalau bibi tinggal di sini dan membantu saya merawat Raina selama satu minggu?” Alis Bi Asih bertaut bingung. “Raina?” tanyanya tidak mengerti. Rizal tertawa pelan. Dia lupa mengenalkan Raina pada Bi Asih. “Nama perempuan di dalam sana itu Raina. Dia sedang mengalami depresi berat dan butuh perawatan ekstra. Bagaimana Bi?” Bi Asih mengangguk, “Maaf mas kalau saya lancang, tetapi ke mana keluarganya, Mas?” Rizal menggigit bibir bawahnya. Dia sadar bahwa dia tidak tahu apapun mengenai Raina sebelumnya jika Kala tidak memberitahunya tadi. “Dia sendirian, Bi. Saya temukan dia mencoba bunuh diri. Suaminya entah kabur ke mana.” Bi Asih mengangguk. “Kapan saya mulai merawat Non Raina?” “Kalau bisa mulai hari ini, Bi. Karena besok saya ada pekerjaan dan tidak akan pulang sampai besoknya lagi.” “Iya, mas.” Rizal manggut-manggut lalu menguap. “Oke, Bi. Saya mau tidur lagi. Saya kurang tidur karena cari-cari Raina yang kabur.” Lalu dia berbalik pergi namun teringat sesuatu, dia kembali berbalik memanggil Bi Asih yang hendak masuk ke dalam kamar Raina, “Bi, jangan lupa kunci pintu-pintu ya. Sembunyikan semua benda tajam. Jangan sampai Raina mau bunuh diri lagi. Saya sudah gagalkan aksi dia beberapa kali. Jangan sampai bibi lengah.” Bi Asih mengangguk lalu memerhatikan majikannya yang menguap seraya menaiki anak tangga menuju lantai dua. Selama dia bekerja bersama Rizal, majikannya itu tidak pernah rewel sekalipun. Apapun yang dihidangkan olehnya, selalu dia makan. Rizal pun tidak pernah membawa orang ke rumahnya. Ketika dia datang pagi hari untuk membersihkan rumah majikannya, Bi Asih tidak pernah melihat adanya tanda-tanda majikannya itu membawa pulang wanita. Rumahnya selalu rapi seperti terakhir Bi Asih meninggalkannya sore hari. Ini adalah pertama kalinya Bi Asih melihat majikannya itu membawa pulang orang ke rumah dan begitu konsentrasi. Bi Asih berharap ini adalah awal yang baik bagi majikannya yang sudah begitu lama sendirian. Entah sudah berapa lama majikannya itu memilih untuk tidak menjalin ikatan. *** Rizal membuka matanya tiba-tiba ketika mendengar teriakan Bi Asih yang meminta Raina untuk turun. Apapun yang dilakukan Raina, membuat Rizal bergerak cepat, bangkit dari kasurnya lalu berlari keluar dari kamarnya. “Bi!” teriak Rizal seraya berlari menuruni anak tangga. “Mas, tolong, mas!” teriak Bi Asih dari arah dapur. Rizal segera berlari menuju dapur dan matanya membelalak melihat Raina yang sudah duduk di atas lemari gantung yang berisi piring. “Raina! Apa yang kamu lakukan di situ? Turun!” Teriakan itu membuat Raina menatap sumber suara. Rizal berdiri menatapnya dengan tatapa khawatir. Rizal khawatir lemari gantung itu tidak kuat menahan beban. Pikiran buruk itu membuatnya panik. “Raina!” Bentaknya. Matanya melotot memandang Raina. Memeringatkan wanita itu yang hendak berdiri. “Diam! Kamu dengar? Diam! Atau aku akan mengembalikan kamu dan aku tidak akan mau melihatmu lagi!” Ancaman itu ternyata membuat Raina diam tidak berkutik. Rizal heran, bagaimana caranya wanita itu bisa naik ke atas lemari itu. Ditatapnya Bi Asih bingung. “Bagaimana caranya dia naik ke atas situ, Bi?” tanya Rizal masih heran. Bi Asih menggeleng. “Tadi saya tinggalkan Non Raina yang sedang melihat-lihat rumah, Mas. Saya pikir dia tidak akan berulah karena tadi sebelum mas naik, dia masih nurut saya beri tahu. Dia masih mau duduk untuk makan siang juga. Saya kira dia—” “Sudah, Bi. Tidak apa-apa.” Rizal memotong perkataan takut Bi Asih padanya. Rizal kembali menatap Raina lalu berjalan mendekat dan berdiri tepat di bawah Raina. Tangan Rizal terangkat. “Ayo, Raina, turun, ya?” Raina menggeleng. “Kamu jahat. Semua jahat.” Rizal menghela napas. Raina takut padanya, itu yang membuatnya menurut. Jika dia tidak ada, Raina kembali berulah. Semakin lama, Raina seperti anak kecil. “Raina, ayo. Turun. Aku tidak marah padamu. Ayo, Raina.” Rizal kembali meminta untuk turun. Dia tidak ingin Raina mengalami sesuatu yang buruk yang membuat Kala kecewa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD