“Apakah tidak apa-apa dia dibiarkan begitu saja? Bukankah lebih baik dia di rumah sakit jiwa?”
Pertanyaan itu meluncur dari bibir Kieran. Adik dari Kala. Pria itu baru tiba dari New York. Dia pulang sebab mendengar kabar bahwa Raina sudah ditemukan dalam keadaan depresi berat. Dia dan Kala menyayangi Raina seperti adik mereka sendiri. Bahkan mereka sudah mengadopsi dan memberikan nama keluarga untuknya. Mereka menyematkan Kinsley dibelakang nama Raina. Raina Shanika Kinsley.
“Kurasa tidak apa-apa.” Sahut Kala. Dia memerhatikan Cinta yang sedang duduk bersama Raina yang ada di taman belakang rumah mereka.
“Katamu dia ditemukan mau bunuh diri?”
Kala mengangguk. “Dia ditemukan Rizal. Petinju terkenal itu.”
“Lalu pria itu merawatnya?”
Kala mengangguk lagi.
“Dan tidak ada percobaan bunuh diri lagi?”
“Katanya ada dan selalu mencari kesempatan ingin melakukannya,” Kala merasa kasihan pada Raina, “Jadi, aku meminta Cinta untuk menyingkirkan semua benda tajam di kamarnya.”
Kieran bersidekap. Alisnya berkerut. “Aku besok kembali lagi ke New York. Ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan. Tidak apa-apa aku pergi?”
Kala mengangguk mengerti, “seharusnya kamu tidak perlu datang.”
Kieran tersenyum. “Aku mengkhawatirkan Raina.”
Kemudian Raina tiba-tiba berteriak. Dia berdiri lalu berlari cepat seraya menjambak rambutnya. Teriakannya terdengar ssangat frustrasi. Kieran, Kala dan Cinta terkejut. Terlebih lagi Cinta. Dia segera berdiri dari duduknya dan mengejar Raina yang semakin kencang berlari. Wanita itu berlari mengelilingi taman belakang seraya berteriak-teriak tidak jelas.
Dalam pikirannya, semua yang dia punya terambil darinya. Semua orang yang dia harapkan pergi meninggalkannya. Suami yang dicintainya pun tidak menginginkannya. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi. Dia berlari ke sana kemari mencari benda yang bisa membuatnya menyusul orang-orang dicintainya.
***
“Halo, Death.”
Sapaan seorang wanita yang berpakaian minim berwarna merah membuat Rizal berbalik. Balaclava masih membungkus kepalanya. Dia baru saja menyelesaikan pertandingan undergroundnya. Sudah empat hari setelah keputusannya untuk tidak berurusan dengan Raina.
Rizal mengangguk pada sapaan wanita itu. Wanita yang menurut sebagian besar kaum pria sangat seksi.
Alis wanita itu berkerut melihat Rizal yang tidak semangat menyapanya. “Kenapa kamu tolak lamaranku?” tanya wanita itu.
Rizal menghela napas. “Aku belum mau menikah.” Dia menjawab terkesan sekenanya.
Wanita itu berjalan mendekat lalu berdiri berhadapan dengan Rizal. Jari lentik berkuku panjang itu menyentuh d**a bidang yang bersimbah keringat lalu bergerak turun. Matanya dengan liar menelusuri pangkal paha Rizal tanpa malu.
Rizal menggertakkan gigi, berusaha untuk tidak melemparkan wanita itu jauh darinya. Wanita itu mencondongkan tubuhnya lalu menghirup aroma tubuhnya. Dia benar-benar muak melihat kelakuan itu. Dia heran, ada wanita seagresif itu padanya dan terang-terangan menyentuhnya.
“Aku suka aroma keringatmu, Death.” Katanya lalu kembali mencondongkan wajahnya ke telinga Rizal kemudian berbisik, “Memabukkan dan menggiurkan. Kamu harus tahu.”
Rizal mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Berusaha melawan amarahnya untuk menendang wanita itu menjauh.
“Aku tetap pada pendirianku, Angella.” Katanya tajam, “aku tetap menolak lamaranmu.” Rizal berusaha untuk tidak membentak wanita yang dia panggil Angella.
Bulu mata lentik Angella menatap mata Rizal. “Kamu selalu memakai balaclava. Tubuhmu saja menggodaku, wajahmu juga kupikir pasti dapat membuatku kepayang.” Lalu tangan kanan Angella menyentuh ujung balaclava yang dipakai, hendak membukanya. Secapat kilat, Rizal menarik tangan itu. Menatap Angella tidak suka.
“Jangan macam-macam, Angella.” Geram Rizal yang malah membuat wanita itu tersenyum lebar.
“Aku suka geramanmu, Death.” Ucapnya, tangan kiri Angella menyentuh karet pinggang celana olahraga yang dipakai Rizal. Berusaha menyusupkan jari jemarinya ke dalam celana pendek yang membuat pria itu menarik tangan wanita itu lalu memuntir kedua tangannya ke belakang tubuhnya hingga merintih. Puntiran tangan Rizal begitu menyakitkan.
“Angella.” Rizal menggeram lagi, di dekatkan wajahnya di telinga lalu berbisik, “aku sudah bersabar menghadapimu. Kali ini kamu keterlaluan.”
Angella memejamkan matanya merasakan hembusan napas Rizal di telinganya.
Bagi Angella, Death adalah kematiannya. Tubuh tinggi kekar itu membuatnya tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Lalu pikiran gila melintasi kepala Angella yang membuatnya tersenyum miring.
“Aku akan berhenti menganggumu kalau kamu mau tidur denganku. Itu saja.”
Ucapan Angella membuat Rizal akhirnya menghentakkan tangan wanita itu hingga jatuh terduduk di lantai. Angella meringis menahan sakit di bokongnya. “Tidak ada yang berani menolakku, Death.” Ancamnya.
Rizal menatap marah. “Aku masih mempunyai iman!” bentaknya, “Walau aku b***t sekalipun, aku tidak akan memberikan tubuhku padamu. Ingat itu.” Lalu tangan Rizal memukul pintu hingga menyebabkan bunyi berdebam keras. Pintu itu berlubang. Matanya kembali menatap Angella. “Mulai detik ini, aku keluar dari tinju underground sialan ini. Aku tidak ingin melihatmu!”
Setelah mengatakan itu, Rizal mengambil tas punggung kemudian berlalu pergi. Tidak peduli walau dia masih bertelanjang d**a.
***
Ponsel Rizal berdering di dalam tasnya. Segera dia menarik keluar ponselnya lalu matanya menyipit melihat siapa yang meneleponnya. Kala. Kembali dia memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu menjalankan mobilnya. Dia heran, mengapa Kala masih saja menghubunginya. Padahal semuanya sudah jelas. Dia tidak ingin berurusan lagi dengan Raina. Raina sudah ada keluarganya dan itu sudah akhir dari pertolongannya pada Raina.
“Meminta Raina bersamaku, katanya?” gumamnya mengingat pertama kali Kala menghubunginya. Memintanya agar kembali menjenguk Raina, setidaknya. Tentu saja doa menolak.
“Dia kira aku tidak ada pekerjaan lain. Yang benar saja.” Dia mulai menggerutu.
Angella sudah membuatnya kesal, ditambah lagi Kala yang selalu menghubunginya. Memintanya agar dapat menjenguk karena hanya dia yang membuat Raina tenang.
“Saat kamu pergi, Raina mencarimu, Zal. Kepalanya memar. Dia membenturkan kepalanya ke teralis besi. Kami tidak bisa mengendalikannya, Zal.” Ucap Kala tiga hari lalu. Rizal mendengkus. Kala pintar sekali berbicara. Layaknya aktor film. Hampir saja Rizal terkena bujukan Kala. Hampir saja.
“Ah, s**t!” Rizal memaki lalu membawa mobilnya ke rumah sakit jiwa tempat Raina dirawat. Mau tidak mau, dia menjenguk Raina lagi.
Ponselnya berdering lagi. Rizal menarik keluar ponselnya lalu menjawab, “halo?” sapanya tanpa berniat melihat siapa yang menelepon.
“Zal!” itu suara Kala. “Syukurlah!”
Alis Rizal bertaut. “Ya, ada apa?” tanyanya lalu mengerem mobil saat lampu merah menyala.
“Raina kabur!”
“Bagaimana bisa?!” Dia membentak lalu memaki keras-keras. “Kalian ini!”
“Zal,” suara Kala terdengar gusar, “setelah kamu pergi, kami memutuskan untuk membawa Raina pulang ke rumah kami. Kami pikir dia akan sembuh dengan kasih sayang yang kami berikan. Kami pikir Raina depresi karena terkurung.”
Rizal menggertakkan giginya. Dia kesal pada pemikiran Kala. Mana ada yang seperti itu? Raina butuh penanganan. Dia marah namun entah pada siapa.
“Sekarang kalian tahu di mana Raina?”
“Tidak.” Kala semakin gusar, “aku takut dia mencoba bunuh diri. Dia kabur tadi pagi.”
Rizal berusaha menenangkan dirinya. Dia mencoba berpikir ke mana Raina akan pergi. Ada banyak tempat yang menjadi pemicu untuk melakukan aksinya lagi. Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya. Menggeram marah, dia mematikan ponselnya sepihak lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.
***
Rizal menguap lebar. Waktu sudah menunjukkan dini hari dan dia masih berputar-putar menggunakan mobilnya mencari Raina. Matanya sudah mulai perih demi melawan kantuk yang menghampiri.
“Buat susah saja kamu, Raina.” Rizal menggerutu. Untunglah dia tidak ada jadwal bertanding tinju profesional, jika ada jadwal, dipastikan dia akan kalah di ronde pertama.
Mata Rizal menyipit ketika sadar dia menuju ke mana. “Kok, aku ke sini? Ini ‘kan mau ke apartemen Diandra.”
Rizal menggeleng pelan lalu kembali menjalankan mobilnya perlahan. Siapa tahu Raina muncul di manapun. Dia menguap lagi, matanya hampir menutup ketika dia hampir menabrak seseorang yang melintas.
Dia menggeram lalu memaki, “hei, orang gila! Seenaknya saja menyebrang!” Dia masih memaki-maki tatkala dilihatnya Raina yang hendak dia tabrak. “Raina!” Rizal berteriak ketika Raina hendak kabur lagi.
Rizal membuka pintu mobilnya lalu mengejar Raina yang berlari kencang menyongsong truk yang melaju dengan kecepatan tinggi.
“RAINA!” Dia berteriak kencang, menjulurkan tangannya meraih bagian belakang baju Raina lalu menariknya, bersamaan dengan truk yang melintasi mereka berdua dengan kecepatan tinggi. Mereka berdua jatuh di aspal dengan posisi Rizal memeluk Raina. Dapat didengarnya suara Raina yang merengek meminta dilepaskan.
“Lepaskan. Aku mau mati. Aku mau mati. Aidil jahat.”
Dia benci mendengar nama yang selalu disebutkan Raina. Tanpa berkata apapun, dia menarik Raina lalu memasukkannya ke dalam mobil. Khawatir akan kabur lagi, diikatnya wanita itu di kursi belakang menggunakan tali pelindung tangan yang dia gunakan untuk bertanding lalu melilitkan di tubuh Raina, kemudian memasang seat belt. Dia hanya berharap dengan adanya ikatan ekstra itu membuat Raina tidak kabur.
“Kamu mau apa?” tanya Raina menatap Rizal. Kesadaran Raina belum mencapai puncak.
“Diam.” Rizal hampir membentak. Dia sudah lelah seharian dan Raina berulah membuatnya bertambah geram.
Raina diam.
Rizal menjalankan mobilnya. Jika sudah seperti ini, mau tidak mau dia membawa ke rumahnya. Tidak mungkin dia mengganggu Kala walau orang itu sepertinya tidak keberatan untuk diganggu.
“Aidil?”
Suara Raina membuatnya kembali geram. “Saya bukan Aidil!” Dia akhirnya membentak. Dia sudah lelah dan kurang tidur itu semakin marah. Sialan Aidil itu. Jika aku berhasil bertemu dengannya, akan kuhajar dia, Rizal mulai mengancam dalam hati.
Raina menciut. “Aidil jahat.”
Rizal menarik napas lalu membuangnya perlahan. Dia harus tetap waras demi menghadapi yang tidak waras. Dalam perjalanan pulang, dia berusaha menahan matanya agar tetap terbuka dan ternyata tidak berhasil. Dia hampir saja menabrak tiang listrik di pinggir jalan.
Ditepikan mobilnya lalu diliriknya Raina yang masih menatapnya nyalang. Rizal menghela napas menatap kembali wanita itu. “Raina, aku tidak kuat harus membawa mobil pulang. Kita tidur dulu. Tolong kerjasamanya. Jangan kabur. Aku lelah. Oke?”
Raina tidak menjawab yang membuat Rizal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Oke,” gumam Rizal. Dia memundurkan kursinya lalu memejamkan mata. Dia sangat lelah sekali dan mulai mendengkur.
Raina melihat Rizal yang tidur itu. Ditatapnya pria itu lalu matanya berkedip ketika wajah yang menurutnya adalah Aidil berubah menjadi orang lain yang menolongnya. Suara dengkuran itu begitu keras sekali. Pria itu lelah. Raina tertawa mendengar dengkuran itu.
“Bukan Aidil.” Bisiknya.
***
Suara ponsel yang berbunyi nyaring membuat Rizal terbangun tiba-tiba. Matanya menatap bingung sekitar lalu sadar ketika dia tahu berada di mana. Dia memandang kursi belakang. Rizal menghela napas lega. Raina masih ada dan sekarang dia sedang tidur. Untunglah, batinnya.
Tanpa melihat siapa yang menelepon, Rizal menjawab telepon itu, “halo?” sapamya dengan suara serak.
“Death!”
Rizal memutar matanya. Si pemilik bar meneleponnya. “Ada apa?” tanyanya malas. Dia menyalakan mobilnya, bunyi mobil menggerung membuat Raina yang sebelumnya tertidur, membuka mata lebar.
“Death, maafkan sikap putriku.”
Rizal berdecak. “Aku tidak suka kelakukan putrimu yang bar-bar.”
Terdengar suara feminin dari latar. Dia sudah tahu siapa itu. Angella.
“Death, kumohon kau kembali.” Si pemilik bar memohon.
“Tidak.” Geram Rizal.
“Akan kunaikkan upahmu.” Pemilik bar gusar.
“Aku tetap tidak mau.”
Rizal mendengar pemilik bar memaki putrinya dan mengatakan semua itu salah putrinya. “Death, kau adalah asetku. Jika kau mundur, aku akan rugi puluhan juta!”
Rizal menghela napas keras. “Oke.” Lalu terdengar kelegaan pemilik bar. “Tapi dengan satu kondisi.”
“Apapun, Death. Apapun!” pemilik bar benar-benar tidak ingin kehilangan Rizal—sang mesin pembunuh.