Bab 8 Teralis Besi

2372 Words
Rizal mendengkus, jadi Aidil adalah suami Raina. Seharusnya seorang pria yang mencintai wanitanya, tidak akan menyakiti hati wanitanya apalagi hingga membuat wanitanya depresi. Aidil tidak mencintai Raina. Rizal tahu itu. Entah bagaimana caranya mereka bisa menikah jika hanya saling menyakiti. Rizal tidak habis pikir. Rizal menghela napas pelan. “Terserah. Tetapi Anda bisa tanyakan sendiri pada dokter yang merawatnya.” Rizal tidak ingin berdebat. Kemudian, dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana jeans hitam yang dipakainya. “Saya rasa sudah cukup sampai di sini saja. Saya serahkan Raina pada kalian.” Kala mengangguk sedangkan Cinta tersenyum. Wanita berkerudung itu menggerakkan tangannya mengisyaratkan kata ‘terima kasih’. Rizal mengangguk lalu berbalik pergi. “Rizal?” panggilan Kala yang membuatnya berbalik. “Terima kasih sudah baik hati menolong Raina hingga sejauh ini.” Rizal hanya mengangguk. “Sukses dengan karir yang kamu jalani,” tambah Kala, “Semoga kita bertemu lagi dilain kesempatan.” Rizal kembali mengangguk lalu berbalik pergi. Dia berharap Raina akan baik-baik saja dan berharap segera pulih dan melupakan masa lalunya. Semoga saja. Ketika Rizal sudah pergi, mata Raina tiba-tiba menatap nyalang sekitar lalu mata itu tertumbuk pada Cinta dan Kala. “Ke mana dia?” gumamnya. Gumaman itu terdengar oleh Kala dan Cinta. Mereka berdua saling berpandangan. Entah siapa yang dicarinya. Lalu, wanita itu berlari menuju pintu. Digenggamnya pintu berteralis besi itu kemudian digerakkan sekuat tenaga. “Ke mana dia pergi?!” teriakan itu begitu kuat dan begitu frustrasi. Matanya melotot dengan gigi gemerutuk. Pintu teralis bergerak menggila dibawah cengkeraman kuat tangan Raina. “Rai, tenang, Rai.” Kala berusaha membujuk. Dia tidak gentar melihat Raina yang tiba-tiba beringas. Namun sayang, bujukan Kala tidak mempan. Raina seolah tidak mengenal Kala. Cinta maju, diulurkan tangannya menyentuh punggung tangan wanita itu kemudian mengusapnya lembut. Usapan itu membuat mata Raina menatap Cinta, lalu senyum mengembang. “Kak Cinta?” Cinta tersenyum mengangguk. Air matanya jatuh mengetahui betapa kasihannya wanita yang ada di dalam teralis besi itu. “Dia kenal kamu, Ta.” Bisik kala haru, “Dia kenal kamu.” Ucap Kala lagi yang membuat Cinta mengangguk. Mata Raina menyorotkan pengharapan saat melihat Cinta. Dia menggenggam tangan Cinta lalu meremaskan pelan, “Kak Cinta, mau lihat anakku, ‘kan?” begitu banyak pengharapan. Bibir Cinta bergetar menahan isakan. Raina yang malang, batin Cinta. “Ya ‘kan, Kak?” pengharapan itu semakin besar, “Kakak datang mau lihat anakku, ‘kan?” kini semakin mendesak ingin Cinta mengiyakan pertanyaannya.. Tatapan penuh harap yang membuat Cinta akhirnya mengangguk. Raina menyentuh perutnya dengan sebelah tangannya lalu mengusapnya. “Masih di sini.” ucapnya lalu dia tertawa terbahak. “Kalau aku sehat, anakku kembali lagi. Katanya begitu.” Tambahnya. Dia teringat seseorang mengatakan itu padanya. Pengharapan itu begitu nyata adanya dan dia tidak ingin sia-sia. Alis Cinta naik. Cinta berusaha bertanya yang anehnya Raina paham. Wanita itu mengangguk semangat. “Kata orang itu, anakku pasti kembali lagi.” “Orang itu?” tanya Kala pelan. Bingung ke mana arah pembicaraan Raina. Cinta menunjuk Rizal menghilang tadi lalu Kala paham. “Oh, maksudnya Rizal?” tanya Kala. Cinta mengangguk. Raina menangis. Kilasan memori kembali menghantuinya. Begitu memilukan dan menakutkan. Air matanya berlinangan. “Aidil jahat. Aidil jahat. Aku mau mati saja!” lalu Raina membenturkan kepalanya ke teralis besi itu hingga membuat Cinta dan Kala terkejut. “Raina, tenang.” Kala panik. Begitu juga Cinta. Cinta mengulurkan tangannya berusaha menahan kepala itu agar tidak membenturkan dengan sengaja ke teralis besi, namun Raina lebih kuat. Dia tetap bisa membenturkan kepalanya. “Mati!” Raina berteriak masih membenturkan kepalanya. Kini, kepalanya memar. “Mati, mati, mati!” Panik, Cinta menatap Kala. “Dok ... ter.” Katanya. Kala seakan tersadar, kemudian mengangguk. Menggulirkan kursi rodanya seraya berteriak memanggil dokter. “Na!” Cinta berusaha memanggil Raina dengan suaranya. Dia berusaha berbicara pada orang yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Dia menangis melihat betapa permasalahan tidak sanggup dihadapi oleh Raina hingga jiwanya terganggu. Dia tidak pernah ingin adiknya seperti itu. Dia ingin yang terbaik. Ingin melihat canda dan tawa, bukannya keputus asaan dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Raina yang cantik, lulusan universitas ternama negeri dengan gelar pujian itu kini hanya bisa meneriakan kata ‘mati’ berulang kali. Hal itu membuat air mata Cinta mengalir deras. Raina terus membenturkan kepalanya pada teralis besi. Dia berharap kematian segera menghampirinya. Suami yang dicintainya telah mengkhianati dan menyakitinya bahkan membuat anak yang diinginkannya pun ikut pergi. Raina yang berteriak semakin membenturkan kepalanya pada teralis besi membuat Cinta menangis. Dia takut jika nyawa Raina melayang akibat tindakannya sendiri. Dokter dan beberapa perawat datang. Mereka berusaha menghalau Raina agar tidak menyakiti diri. Kekuatan wanita itu bisa seribu kali lebih kuat jika sudah datang depresinya. Setelah dokter memberikan penenang, Raina mulai lemas dan mampu diangkat hanya dengan seorang perawat pria saja. Cinta dapat melihat jelas kening Raina mengalami memar. Setelah selesai memeriksa, dokter tersebut menatap Kala dan Cinta bergantian. “Kalian saudaranya?” tanya dokter. Kala mengangguk. “Bisa kita bicara?” “Iya, dok.” Angguk Kala lagi. Cinta menyempatkan diri menghampiri Raina lalu mengusap kepalanya. Kasihan kamu. Seakan tidak ada hari esok untukmu. Padahal masih ada hari esok yang pasti membuatmu sembuh. Cinta mengikuti Kala dan dokter ke sebuah ruangan kerja. Dokter itu duduk di kursi kerjanya lalu memandang kedua pasangan suami istri tersebut bergantian. “Pasien mengalami depresi yang berat.” Ucap Dokter. Cinta menutup bibirnya dengan tangan kanan. Cinta pernah berada dalam posisi itu. Dia paham bagaimana dahulu melawan depresinya. Diperkosa oleh perampok hingga hamil dan akhirnya melahirkan tanpa adanya suami. “Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok?” tanya Kala. Tatapan itu begitu serius. Pria itu sangat menyayangi Raina. “Jangan sampai pasien bertemu dengan pemicu depresinya,” ucap dokter, “atau membicarakan apapun mengenai hal yang membuatnya seperti itu. Kasih sayang keluarga sangat penting bagi pasien. Saya sudah melihatnya ketika mas Rizal bersama pasien.” Kala mengangguk. Berdoa semoga Aidil tidak datang menemui Raina. Mungkin untuk beberapa bulan ke depan, dia tidak ingin menemui Aidil. Dia kecewa pada orang yang sudah membuat Raina seperti itu. “Dok,” panggil Kala. Dokter mendongak dari kertas yang dibacanya. Sebuah pemikiran aneh terlintas di kepala Kala. “Apakah bagus jika Raina bersama Rizal?” Dokter mengangguk lalu tersenyum. “Saya rasa itu bagus. Mas Rizal bisa membuat Raina terkendali dan yang saya lihat, mas Rizal sepertinya menyayangi pasien.” Cinta tersenyum mendengar itu. Begitu juga Kala. Mereka berdua berharap Rizal dapat dibujuk agar mau membantu Raina lagi. *** “Apakah boleh kami membawa Raina pulang, Dok?” tanya Kala keesokan harinya pada dokter yang merawat. Dokter menatap Kala, nampak berpikir. Sejurus kemudian mengangguk. “Jika pasien belum ada perubahan, bawa kembali ke sini.” Kala mengangguk. Senyumnya mengembang. Dia akan membawa Raina ke rumahnya. Mungkin dengan begitu, Raina akan kembali kesadarannya dan tidak depresi lagi. Kala dibantu Cinta keluar dari ruang dokter lalu menuju ke ruang perawatan. Dalam perjalanan ke sana, Cinta berhenti mendorong kursi roda Kala yang membuatnya menoleh. “Ada apa, sayang?” tanya Kala. Dengan bahasa isyaratnya, Cinta bertanya pada suaminya, apakah perlu kita konsultasi dengan psikiaterku dahulu? Alis Kala bertaut. Melihat kondisi Cinta dan Raina terdapat beberapa perbedaan. Cinta masih mengenali beberapa orang, sedangkan Raina tidak. Cinta hanya takut kepada pria akan tetapi masih ingat siapa saja yang datang mengunjungi sedangkan Raina tidak. “Akan kupikirkan,” gumam Kala, “Sepertinya kondisi Raina berbeda denganmu, Ta. Raina lebih parah.” Cinta mengangguk lalu mendorong kembali kursi roda Kala. Sesampainya mereka di ruang perawatan Raina, perempuan itu sedang mengelilingi ruangannya seolah mencari sesuatu. Gumaman tidak jelas terucap dari bibirnya. “Raina,” Kala memanggil pelan. Berusaha membuat Raina berhenti berjalan mengelilingi ruangannya. Raina tidak menggubris. Dia tetap mengelilingi ruangannya yang membuat Cinta mengetukkan teralis besi itu dengan jemari tangan kirinya. Bunyi cincin yang melingkari jari beradu dengan besi membuat Raina menoleh. “Ke mana dia?” Raina bertanya entah kepada siapa. Lalu dia berdiri berhadapan dengan Cinta. Dahinya masih memar. Tangan Cinta terjulur mengusap kening Raina. Berusaha menyalurkan rasa sayangnya. Cinta sudah anggap Raina sebagai adiknya sendiri terlepas dari apa yang dirasakan wanita itu dahulu pada suaminya. “Siapa, Raina?” tanya Kala. Mata Raina menatap sekitar, mencari seseorang. Dia tidak memedulikan pertanyaan Kala atau belaian sayang Cinta. “Ke mana dia?” bisik Raina lagi. Alis Cinta bertaut lalu memandang Kala. Jari Cinta membentuk kalimat, apakah dia mencari Rizal? Kala menatap Raina serius. “Kamu mencari Rizal? Atau Aidil?” Ketika mendengar nama Aidil, Raina menggeleng lalu menutupi telinganya. Dia tidak ingin mendengar nama itu. Nama itu baginya sungguh mengerikan. Sangat mengerikan. Melihat itu, Cinta memelototi Kala. Kala mengangkat kedua tangannya. “Maaf, Ta. Aku lupa.” Ucapnya malu. Cinta memutar matanya. Kala kembali memerhatikan Raina yang kini duduk menekuk kakinya dengan tatapan kosong, lalu Kala berkata, “Raina, kamu mau ya pulang. Ke rumah kami. Ya?” Raina tetap diam. Kala tidak kehabisan akal. Dia berkata lagi, “nanti Rizal pasti datang. Setiap hari. Oke?” Mata Raina melirik Kala. “Aku tidak bohong.” Ucap Kala. Dia akan menelepon Rizal jika Raina berhasil dibujuk untuk pulang. Kala menggulirkan kursi rodanya, berusaha mendekat. Tangan Kala terjulur lalu mengusap kepala Raina.  “Aku akan telepon Rizal. Kamu tahu kan Rizal? Dia yang tolong kamu. Pria yang badannya tinggi besar itu.” Jelas Kala lagi. Aidil berbadan tinggi kurus sedangkan Rizal berbadan tinggi besar. Dengan berbedanya kedua postur tubuh mereka, Kala berharap Raina dapat paham. Alis Raina berkerut yang membuat Kala tersenyum. Dialihkan pandangannya pada Cinta. Cinta ikut tersenyum senang lalu berkata dalam bahasa isyaratnya, sepertinya dia tahu Rizal. Tetapi tidak tahu nama pria itu. Kala mengangguk senang. Semoga saja apa yang dikatakan istrinya adalah benar adanya. *** “Pemenangnya adalah Death!” pembawa acara malam itu terlalu antusias atas kemenangan yang diraih oleh petinju favoritnya. Dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya, Rizal turun dari atas ring tinju. Orang-orang menepuk bahunya dengan senang sebab taruhan mereka menang. Bagi mereka, Death tidak pernah terkalahkan. Bagi mereka, Death adalah juara bertahan. “Death!” seorang wanita berpakaian hitam seksi dengan rambut dipotong pendek terang-terangan memeluknya dan mencium pipinya. Rizal yang rikuh hanya memeluk pinggangnya. “Bagaimana kalau habiskan malam denganku?” tawar wanita itu. Rizal menggeleng, “saya sudah ada kencan.” Katanya lalu pergi meninggalkan wanita itu begitu saja. Dia tidak ingin menghabiskan malam dengan siapa pun. Dia tidak ingin tidur satu ranjang dengan wanita yang tidak dia kenal dan dia suka. Untuk saat ini, dia tidak menyukai wanita mana pun. Dia masuk ke dalam ruangan tertutup lalu duduk di kursi. Tanpa melepaskan balaclavanya, dia mengeluarkan air botol mineral dari dalam tas punggung yang dibawanya lalu meneguknya hingga habis. Ponselnya berdering dari tas membuatnya segera menarik keluar benda tersebut. Alisnya berkerut melihat siapa yang menghubunginya. Kala. “Ya? Halo?” sapanya. “Rizal? Apa aku menganggu?” Rizal menggeleng seraya meletakkan botol mineral yang sudah kosong itu di sisinya, “Tidak,” jawabnya kemudian, “Ada yang bisa kubantu?” “Ini mengenai Raina.” Alis Rizal berkerut. “Ada apa dengannya?” dia sungguh tidak ingin berurusan dengan Raina. Dia tidak ingin terpikirkan lagi Kanya. “Saat kamu pergi, Raina mencarimu, Zal.” Kala berkata, “Kepalanya memar. Dia membenturkan kepalanya ke teralis besi. Kami tidak bisa mengendalikannya, Zal.” “Lalu?” Rizal meraih handuk dari dalam tasnya lalu mengusapkan ke bahu kirinya yang berkeringat. Dia sebenarnya mengerti namun dia bertanya pula. “Bisakah kamu bersama Raina?” Alis Rizal naik mendengar permintaan itu. Permintaan itu terdengar aneh di telinganya. Seperti pinangan. “Tidak.” Rizal menjawab singkat. Dia tidak mau berurusan dengan wanita gila itu lagi. “Kalau begitu, setidaknya kamu setiap hari datang mengunjungi Raina. Bisa?” Rizal menghela napas. “Tidak.” Jawabnya singkat. “Maaf?” “Tidak. Aku tidak bisa.” “Kenapa?” “Aku sibuk.” Klik. Rizal tidak ingin menjawab pertanyaan Kala lagi. Sebaliknya, dia menutup telepon itu lalu mematikan ponselnya. Dia yakin, Kala pasti meneleponnya lagi. Sementara itu, Kala memerhatikan ponselnya terkejut. Dia tidak menyangka jawaban Rizal begitu ketus dan terkesan tidak mau diganggu. Sebuah usapan lembut membuat Kala mengalihkan pandangannya. Istrinya menatapnya prihatin. “Dia tidak mau.” Gumam Kala pada istrinya yang ditanggapi dengan senyuman. “Apakah aku harus terus gigih memintanya?” Istrinya Kala mengangguk. Kala meletakkan ponselnya di meja lalu menghela napas pelan, “tiga hari lagi akan kutelepon dia.” Kembali pada Rizal, Pintu menjeblak terbuka dan seorang pria masuk ke dalam ruangan itu ketika Rizal memasukkan ponselnya ke tasnya kembali. “Death!” Rizal berdiri, “mana bayaranku?” tanyanya mengulurkan tangan. Semakin cepat dia menerima bayarannya, semakin cepat dia pergi. “Ah!” pria pemilik bar tertawa kemudian, “kenapa kau ingin sekali cepat pergi? Tidak ingin menghabiskan malam dengan beberapa wanita seksi dan alkohol?” Rizal bersidekap menampilkan otot-otot lengannya yang kuat. “Tidak.” Alis pemilik bar berkerut mendengar jawaban itu. “Kau selalu menolak wanita seksi, itu wajar. Tetapi kau menolak minuman? Bukankah kau senang minum?” Rizal memutar matanya. Sejak kapan dia senang minum? Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dia mabuk berat hingga tidak sadarkan diri. Bahkan saat patah hatinya ketika tahu Diandra memilih Galih pun, dia tidak ingin mabuk berat. Dia tidak ingin orang lain mendapat akibat dari patah hatinya. “Aku suka minum air putih.” Kata Rizal kemudian. Pemilik bar tertawa pada ucapan itu. “Bagaimana kalau kau bertanding satu putaran lagi?” Alis Rizal naik. “Ada yang menantangmu.” Pemilik bar mengangkat bahu. Rizal berdecak, “aku hanya bertanding satu kali putaran. Aku tidak menerima dua putaran pertandingan.” “Baiklah.” Pemilik bar mendengkus lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal dari balik saku jas yang dipakainya, “padahal orang ini memberikan imbalan besar sekali.” Gerutunya. “Aku tidak peduli.” Gumam Rizal kemudian merebut uang dari tangan pemilik bar kemudian menjejalkannya ke saku celana pendek yang dipakainya. “Kau tidak ingin tahu siapa yang menantangmu?” Rizal menggeleng seraya mengangkat tasnya. “Aku tidak peduli.” Katanya kemudian berjalan pergi. Pemilik bar menggeleng melihat kepergian Rizal yang dia kenal dengan panggilan Death. “Jika kau bukan jagoanku, akan kuterima tantangan orang itu. Dia ingin kau kalah bahkan mati di atas ring tinju. Beruntung kau menolaknya.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD