Cekikan Raina bertambah kuat. Jalan napasnya hampir tertutup. “Aku … aku bukan Aidil.” Bisiknya lagi diantara napasnya yang tersendat-sendat. Raina akan membunuhnya.
“Kamu Aidil!” teriak Raina. Mata Raina menyiratkan begitu banyak frustrasi.
Teriakan Raina membuat beberapa perawat masuk. Rizal memberikan kode pada mereka agar tidak mendekat. “Jangan …,” Ucapnya masih dicekik, “jangan ….”
Mata Rizal kembali menatap wanita yang masih menindihnya. “Raina ...” napasnya tersendat. Dia menggenggam pergelangan tangan wanita itu berusaha merenggangkan cekikannya. Sedikit pasokan udaranya kembali.
“Tatap aku,” kata Rizal lagi. Ditatapnya Raina yang melotot menatapnya dengan gigi gemerutuk, “apakah aku seperti Aidil? Lihat aku baik-baik, Raina. Apakah wajahku mirip Aidil?” dia berusaha berbicara santai pada Raina walau kemungkinannya tipis. Bisa saja wanita itu kembali berusaha mencekiknya.
Dan benar saja, Raina menggeram lagi lalu kembali mencekiknya. Titik hitam mulai bermunculan dalam pandangannya. Dia ikut menggeram, berusaha melepaskan kedua tangan Rina dengan cara menggenggam kedua pergelangan tangan Raina, bermaksud menenangkan wanita itu. Para perawat mulai khawatir, seorang satpam sudah tidak sabar ingin menarik wanita depresi itu menjauh.
“Tatap … aku.” Kata Rizal lagi tanpa memedulikan kegaduhan sekitarnya.
Perkataan itu membuat Raina menatap Rizal lama. Diturutinya ucapan itu. Wajah wajah Aidil yang penuh dendam berubah menjadi wajah pria yang menolongnya bunuh diri. Serta merta dia mengendurkan cekikannya lalu menangis meraung-raung.
Rizal menghirup udara banyak-banyak lalu batuk. Cekikan Raina tidak main-main rupanya. Lalu dia berusaha bangkit duduk dengan wanita itu masih berada di atasnya, masih menangis seraya mengucapkan kalimat yang tidak jelas. Perlahan, Rizal memeluknya. Berusaha menyalurkan energi positifnya.
“Jangan tolong aku. Aku mau mati. Aku mau mati. Aku mau ikut anakku. Aku mau ikut ibu bapakku. Jangan tolong aku.”
Tangisan Raina yang memilukan membuat Rizal teringat Kanya. Dipeluknya Raina erat-erat lalu memejamkan matanya. Berharap wanita dalam pelukannya adalah Kanya. Berharap Kanya masih hidup hingga saat ini.
***
Alis Rizal berkerut memandang Raina yang sudah mulai tenang saat diperiksa dokter. Pandangan wanita itu kosong menatap langit-langit kamar.
Bagi Raina, dia merasakan seluruh tubuhnya lemas, tidak mampu bergerak. Sudah tidak ada lagi tenaganya untuk bergerak. Kesedihan memenuhi seluruh hatinya. Pedih dan perih sebab apa yang dia inginkan tidak dapat dia rengkuh. Perlahan tangannya bergerak-gerak membayangkan sebuah tangan menggenggamnya. Menguatkannya namun nyatanya tidak ada.
“Apakah Anda sudah mencari keluarganya, Mas Rizal?” tanya dokter setelah selesai memeriksa.
Samar Raina mendengar dokter berkata pada seseorang, kemudian dia mengedipkan matanya perlahan. Dia bahkan tidak mampu untuk melihat siapa yang berada bersamanya saat ini.
Rizal menggeleng menanggapi ucapan dokter, “Saya tidak tahu harus mencari ke mana.” Jawabnya. Lalu sebuah pemikiran melintasi kepalanya, “apakah saya harus menghubungi kantor polisi, Dok?”
Dokter tersenyum. “Bisa. Nanti mereka pasti membantu Anda mencari kerabatnya.”
Rizal mengangguk pelan. Dokter tersenyum pada jawaban itu lalu menepuk bahunya sekali dan pergi. Masih memandang Raina yang matanya menatap kosong langit kamar, tangan Rizal merogoh saku celananya. Mencari ponselnya. Ditatap ponsel itu lalu mencari nomor telepon kakaknya. Kakaknya pasti bisa membantunya kali ini.
“Iya, Zal?” suara yang mengangkat telepon itu bukan Bienu—kakak iparnya. Melainkan Farid, sahabat Bienu.
“Pak, ada Kak Bienu?” tanya Rizal.
“Oh, kakakmu ada di ruang rapat. Ponselnya tertinggal di ruangannya. Kenapa?”
Rizal menggigit bibir bawahnya lalu berpikir. Setelah perseteruan kecilnya dengan kakaknya kemarin, sepertinya dia berpikir ulang untuk meminta bantuan kakaknya.
“Pak, boleh saya minta tolong?” tanyanya. Mungkin Pak Farid bisa membantunya.
Farid tertawa. “Biasanya kamu melakukan apapun sendiri,” katanya masih tertawa, “sepertinya kali ini kamu tidak bisa berpikir jernih. Ada apa?”
Rizal mendengkus. Dia seharusnya sudah mengetahui bahwa Farid akan berkata seperti itu. Mengesampingkan egonya untuk menutup telepon, dia mengatur napasnya.
“Pak,” ucapnya pelan, “Bapak bisa bantu saya kali ini?” tanyanya lagi.
“Iya ... iya,” jawab Farid mengendalikan tawanya. Terdengar kekehannya yang geli.
Rizal memutar matanya. Farid dan sikap santainya itu membuat dia kesal. Tidak pernah sekalipun orang itu bersikap serius. Mungkin itulah yang membuat Nissa—Kakak Rizal—senang jika bersama pria itu dan anehnya, Bienu tidak mempermasalahkannya. Seperti Galih yang tidak peduli jika Diandra berjam-jam meneleponnya. Mungkin Bienu dan Galih tahu bahwa pasangan mereka masing-masing tidak akan berpindah kelain hati, bahwa mereka yakin, Diandra maupun Nissa hanya untuk mereka.
Rizal menghela napas sebal. Semuanya mengingatkannya pada Diandra. Sebal ketika mengingat Bienu malah menambahkan bumbu bahwa kisah cinta Rizal mirip Farid, bedanya Farid bersaing dengan sahabatnya sendiri, dan menyebalkannya, Nissa tetap memilih Bienu walau kakak iparnya itu pernah menyerahkan Nissa pada Farid. “Mirip Diandra,” katanya.
Rizal geram.
“Kenapa kamu, Zal?” pertanyaan Farid membuatnya mengusap wajahnya gemas.
“Pak, bisa carikan keluarga seseorang?”
Rizal bisa membayangkan alis Farid terangkat.
“Loh, kamu ‘kan terkenal, Zal, gunakan itu.” Benar ‘kan, orang yang pernah menjadi bosnya itu malah menggampangkan semuanya. Tidak semudah itu.
Rizal menggertakkan giginya. Dia tidak ingin melakukan itu. Dia tidak ingin Raina atau dirinya dikejar-kejar wartawan.
“Baiklah kalau Pak Farid sibuk,” dia berdecak, “aku akan minta bantuan orang lain.”
Farid tertawa. “Kamu kenapa, Zal? Kenapa kamu sering sekali marah-marah?”
Rizal menghela napas ketika dilihatnya Raina sudah tidur. Dia berbalik pergi, keluar dari ruangan itu kemudian berjalan menjauh.
“Tidak ada.” Jawab Rizal.
Farid menghela napas. Dan itu sudah mengindikasikan sesuatu bagi Rizal. Sepertinya mantan bosnya dahulu itu sudah menyerah untuk mengorek informasi darinya. “Baiklah. Sebutkan namanya dan kirim fotonya.”
Rizal mengumpat lalu berbalik kembali ke ruang di mana Raina ditempatkan. Dia tidak punya foto Raina sama sekali.
“Kenapa mesti ada foto, Pak? Ribet.” Katanya. Dia memerhatikan Raina yang tidur telentang lalu memiringkan kepala. Wanita itu begitu kasihan saat tidur begitu.
Farid berdecak, “kamu mau saya bantu atau tidak? Foto itu penting.”
Dia memutar matanya, “Baik,” dia mengangguk samar, “saya kirim foto dan namanya nanti. Terima kasih, pak, bantuannya.”
***
“Bagaimana?” tanya seorang pria yang duduk di kursi roda pada seorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerjanya. Pria di kursi roda tersebut memiliki satu sisi wajah yang mengerut rusak.
“Maaf, Pak, belum ada tanda-tanda ditemukannya Nona Raina.” Pria itu melaporkan pada atasannya. Dilepaskan topi yang dipakainya kemudian menunduk.
“Rumahnya sepi?” tanya pria yang duduk di kursi roda.
“Sepi, Pak Kala.”
“Oke. Terima kasih.” Jawab pria yang dipanggil Kala. Dilambaikan tangannya meminta orang itu pergi.
Kala memejamkan matanya lalu menghela napas frustrasi. Dia tidak dapat menemukan keberadaan Raina di manapun dan itu membuatnya bingung harus mencari ke mana lagi. Sudah beberapa minggu dia tidak bisa menghubungi Raina maupun Aidil. Biasanya adik angkatnya itu tidak pernah absen meneleponnya setiap hari. Adalah sesuatu yang janggal jika tidak ada telepon dari wanita cerewet itu.
Seorang wanita berkerudung cokelat masuk ke dalam ruangannya dan menatap Kala prihatin.
Merasa diperhatikan, Kala membuka matanya lalu tersenyum. “Jangan khawatir, Cinta. Aku baik-baik saja.” Katanya.
Wanita yang dipanggilnya Cinta itu tersenyum lalu menghampiri Kala—suaminya.
“Aku belum menemukan Raina.” Kata Kala lagi.
Cinta menghampiri suaminya lalu duduk di pangkuannya. Diusap bagian wajah yang rusak itu perlahan. perlahan dia menggerakkan tangannya membentuk rangkaian huruf yang menjadi kata.
Kuyakin Raina baik-baik saja.
Kala tersenyum kemudian mencium pipi istrinya. “Ya. Semoga saja.”
Raina kuat.
Kala mengangguk setuju.
Merasa tidak ada yang dikerjakan lagi, Cinta meraih remote televisi lalu menyalakannya. Layar menampilkan sebuah berita mengenai pencarian orang hilang.
“Nah!” kali ini presenter berita menyilahkan seorang pria untuk mendekat, “silakan, Pak, apa yang hendak disampaikan?”
Seorang pria memakai jas kerja dengan membawa sebuah foto berukuran besar menarik perhatian Cinta maupun Kala.
“Raina?” Kala tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
***
Tatapan Raina kosong. Seakan tidak ada lagi hari esok. Dunianya sudah berbeda sekarang. Semua cobaan datang silih berganti yang membuat dia tidak mampu menahannya. Tiba-tiba bibirnya tersenyum lalu sejurus kemudian dia menangis. Kesedihan menggelayutinya. Tidak dapat dielakkan lagi betapa menderitanya dia.
“Mati.” Bisiknya, “mati, mati, mati.”
Berulang kali dia mengatakan itu. Dia berharap tidak ada yang mencegahnya untuk bunuh diri. Baginya, kehidupannya sudah habis. Semua cita-cita dan keinginannya lenyap tidak bersisa. Tidak ada lagi yang dia inginkan selain menyusul anak dan kedua orang tuanya. Dia sudah tidak punya siapa-siapa di dunianya.
Tanpa dia ketahui, ada tiga orang yang memerhatikan gerak-geriknya dari luar pintu berteralis. Seorang pria duduk di kursi roda dengan sebelah wajah rusak, seorang wanita memakai kerudung lebar berdiri di belakangnya seraya memegang dorongan kursi rodanya, lalu seorang lagi adalah Rizal.
“Sudah berapa lama dia seperti itu, Mas?” tanya pria dengan wajah rusak.
Pria itu bernama Kala saat memperkenalkan dirinya pada Rizal tadi ketika mereka tiba di rumah sakit itu. Wanita berkerudung lebar itu bernama Cinta. Wanita cantik itu meremas pelan bahu Kala, menandakan bahwa dia pun khawatir.
“Kurang lebih sudah satu bulan.” Jawab Rizal.
Mereka menyaksikan Raina dari balik pintu berteralis. Wanita itu dipindahkan lagi dari ruangan sebelumnya karena sudah beberapa kali membahayakan perawat maupun Rizal.
Cinta dan Kala datang setelah tiga hari Farid mencoba mencari melalui televisi.
“Saya tidak menyangka Raina akan seperti itu.” Bisik Kala lagi.
Rizal melihat wanita yang Kala kenalkan bernama Cinta itu lalu berjongkok di samping Kala yang memakai kursi roda. Cinta berbicara pada Kala dengan bahasa isyarat yang membuat Rizal mengerutkan keningnya. Bisa dia lihat istri Kala menangis. Kala tersenyum melihat Cinta yang sepertinya ketakutan.
“Aku tidak akan marah padamu, Ta.” Jawab Kala.
Apapun yang dikatakan Cinta, sepertinya Kala sudah paham. Rizal jadi penasaran, apa yang membuat Cinta takut dan bersalah.
“Raina tidak bisa menahan masalah yang menyerangnya.” Ucap Kala lagi. Kemudian dia mendongak menatap Rizal, “oiya, saya kakak angkatnya Raina.”
Rizal mengalihkan pandangannya pada Raina yang masih telentang dengan tatapan kosong. “Raina saya temukan terjun dari jembatan suatu malam.”
“Bagaimana kondisinya waktu itu?” tanya Kala.
Bibir Rizal menipis mengingat pertama kali dia menolong Raina. “Kacau. Benar-benar parah. Seluruh tubuhnya lebam. Ada luka di area vitalnya.” Jawabnya kemudian.
Cinta terkejut mendengar penuturan itu.
Alis Rizal berkerut tidak suka saat mengingat itu. “Dia sepertinya mengalami kekerasan sek-sual,” infonya, “Raina sering menyebut nama Aidil dan menginginkan dia mati.” Dia teringat wanita itu yang mencekiknya beberapa hari lalu.
“Dia mengira saya adalah Aidil dan mencekik saya,” katanya lagi, “Apapun yang dilakukan pria itu, Raina sepertinya sangat membencinya.” Tambahnya.
“Saya tidak percaya.” Kala menggeleng. “Aidil adalah suami Raina dan dia baik. Saya tidak percaya.” Kakak angkatnya Raina itu masih tidak yakin dengan apa yang didengarnya.
***