Rizal berdiri di ambang pintu menyaksikan dokter dan perawat yang berusaha menenangkan Raina yang masih meronta. Tidak beberapa lama kemudian, wanita itu melemah. Obat penenang berhasil membuat tertidur kembali.
Pagi-pagi sekali tadi, Rizal datang kembali ke rumah sakit. Dia ingin mengetahui kondisi Raina. Dia dapat melihat sendiri bahwa wanita itu terganggu pikirannya.
“Pasien mengalami gangguan kejiwaan.”
Suara dokter membuyarkan lamunannya.
“Bagaimana bisa, Dok?” tanya Rizal.
“Dia mempunyai tekanan yang bertubi-tubi. Pikirannya tidak bisa menerima kenyataan, membuat dia seperti itu. Saran saya, sebaiknya Raina di bawa ke rumah sakit khusus yang menangani gangguan kejiwaan.”
Alis Rizal berkerut. “Dokter ‘kan ahli masalah seperti ini, apa tidak bisa dokter saja?”
Dokter menggeleng. “Mas, rumah sakit ini tidak didesain untuk pasien dengan gangguan jiwa seperti itu. Mas harus membawa ke rumah sakit yang mampu menangani seperti ini. Mumpung belum terlanjur, Mas.”
“Apakah memang harus seperti itu, Dok?”
Dokter mengangguk. “Ya, Mas.”
Tangan Rizal terkepal. Dia bimbang antara ingin menolong atau meninggalkannya begitu saja. Lagi-lagi dia tidak bisa mengabaikan begitu saja. Menghela napas, akhirnya dia mengangguk.
“Ya, saya akan bawa dia ke rumah sakit yang dokter katakan tadi.”
***
“Kamu menyukai dia, Zal?” tanya Bienu serius. Ditatap adik iparnya itu dengan pandangan menyelidik.
Rizal menggeleng. “Tidak.” Jawab kemudian.
Bienu menghela napas lalu menyandarkan punggungnya di kursi kerja kantornya. Baginya, Rizal berbeda kali ini. “Kalaupun kamu menyukainya, tidak masalah bagi kakak, Zal. Kamu patut bahagia.” Dia harus memberikan dukungan pada adiknya itu.
Rizal bersedekap memandang tajam kakaknya. “Saya datang ke tempat Kakak untuk menanyakan kabar kak Nissa, bukannya dapat ceramah.”
Bienu tersenyum mendengar jawaban ketus Rizal. Dia sudah mengira akan dibalas dengan perkataan seperti itu.
“Lagipula, saya hanya menolong Raina.”
Bienu tersenyum lebar. “Jadi namanya Raina? Namanya bagus.” Pancingannya berhasil. Rizal mau berbicara lebih banyak dengannya. Dia senang.
Rizal mendengkus namun tidak menanggapi ucapan kakak iparnya. Dia datang menemui kakak iparnya setelah mendengar kabar bahwa datang dari Semarang ke Jakarta untuk melihat perkembangan rumah sakit peninggalan orang tuanya.
“Kamu masih bertinju, Zal?” tanya kakak iparnya.
Rizal mengangguk.
“Kudengar, kamu juga ikut tinju underground.”
Bahu Rizal menegang. Dia tidak pernah menceritakan pada siapapun mengenai profesi terlarang itu, tetapi kakaknya tahu. Rizal berusaha untuk tidak memutar matanya. Dia hampir lupa bahwa kakak iparnya mempunyai mata-mata di mana pun.
“Zal—”
“Jangan katakan apa pun pada kak Nissa atau mas Sendi.” Potong Rizal geram. Dia tidak pernah ingin kakak kandungnya kecewa. Tinju professional saja telah membuat Nissa ketar-ketir. Apalagi tinju terlarang. Dia khawatir kedua kakak kandungnya akan jantungan.
Bienu menggeleng. “Saya tidak akan katakan apapun, Zal. Saya hanya mau katakan padamu kalau hal itu berbahaya. Tinju underground itu tidak ada aturannya.”
Rizal tahu bahwa Bienu akan mengatakan itu. Ditatapnya kakak iparnya lalu berkata pelan, “saya tahu. Tapi saya selalu menang.”
“Untuk apa?” tanya Bienu serius.
“Bukan untuk apa pun.” Jawab Rizal. Dia tidak berani mengatakan ‘bukan urusan kakak.’ Dia tidak ingin Bienu kecewa atau sedih.
Bienu mencondongkan tubuhnya. Ditatapnya Rizal dalam. “Zal, jika ini berkaitan dengan masa lalumu, tolong lepaskan. Ikhlaskan yang sudah terjadi.”
Rizal menelan ludah lalu bangkit. Dia tidak suka diingatkan mengenai masa lalunya. “Saya mau pulang dulu, Kak.” Katanya pelan.
Bienu ikut berdiri. Ditatapnya adik iparnya penuh harap. “Zal, kamu bisa melepaskan Diandra. Kenapa kamu tidak bisa melepaskan Kanya?” baginya, dua wanita itu sama saja. Sama-sama menyakiti Rizal dengan cara yang sama walau metodenya berbeda.
Kedua tangan Rizal semakin terkepal di sisi tubuhnya. Dia menghela napas dalam-dalam lalu menjawab, “Diandra masih hidup tetapi Kanya tidak. Itu bedanya.”
Lalu, Rizal berbalik pergi. Jika sudah seperti itu, dia memilih untuk melampiaskan amarahnya, dan dia sudah tahu ke mana akan pergi.
***
Bug! Bug! Bug!
Bunyi itu terdengar berulang kali. Rizal memukul samsak di hadapannya sekuat tenaga. Berusaha meluapkan amarahnya.
Bug! Bug! Bug!
Tanpa menggunakan sarung tinju, Rizal memukul samsak itu. Dia benar-benar ingin meluapkan semua kekesalannya. Meluapkan kerinduannya yang begitu besar pada Kanya. Wanita itu datang ketika hatinya sedang hancur, menjadi penerangnya namun menjadi kegelapannya. Walau Kanya sudah bersikap jahat padanya namun dia masih mencintainya. Hingga saat ini.
Bug! Bug! Bug!
Rasa cintanya pada Kanya ternyata tidak dapat tergapai lagi. Kedua kalinya dia sakit hati ketika mendengar wanita tercintanya itu dinikahkan oleh anak dari majikan ibunya. Lalu kesedihannya bertambah ketika wanita dambaannya itu memilih mengakhiri hidupnya di depan matanya sendiri dan dalam dekapannya. Kanya depresi dan akhirnya pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Bug! Bug! Bug!
Rizal berteriak seraya memukuli samsak tinju itu. Kedua tangannya terluka namun dia tidak peduli. Itulah mengapa dia tidak ingin melihat Raina bunuh diri. Cukup Kanya yang mengakhiri hidupnya di depan matanya sendiri. Cukup.
Namun dia tahu tidak dapat menentang takdir yang sudah digariskan. Kanya dan Raina memiliki jiwa yang rapuh. Kanya melakukan itu karena ada kesempatan dan dia tidak ingin Raina melakukan hal yang sama seperti itu.
“Kanya!” teriaknya meluapkan semua rasa yang ada dalam dadanya. Rizal memukul kembali samsak itu sekuat tenaga hingga samsak itu jatuh berdebam. Tali penyangga samsak itu putus.
“Suara apa itu?” pertanyaan Pak Agung yang baru saja datang membuat Rizal menghentikan aksinya. Dadanya bergemuruh berusaha melawan amarah yang masih bergejolak. “Ah, samsaknya putus, ya, Zal? Memang sudah seharusnya diganti. Sudah lama, pasti karatan. Saya akan suruh orang untuk memperbaiki.”
Ocehan Pak Agung tak lantas membuat Rizal tenang. Dengan tubuh bersimbah peluh, dia berjalan melewati Pak Agung tanpa menyambutnya lalu keluar dari sasana. Pria paruh baya itu menatap kepergian Rizal seraya menggeleng.
“Anak itu masih tidak bisa menahan emosinya,” gumamnya prihatin, “sedikit saja tersulut, api akan berkobar menghanguskan tubuhnya, dan jika terus seperti itu, dia akan kalah dalam pertandingan apa pun.” Tambahnya lagi.
***
Rizal membawa mobilnya ke sebuah pemakaman umum. Dia sedang duduk termenung menatap batu nisan yang bertuliskan Kanya Prameswari.
“Kanya, Sayang.” bisiknya, “aku datang. Sudah lama aku tidak datang mengunjungimu. Sangat lama sekali semenjak terakhir kali kamu meninggalkanku.”
Bibirnya bergetar. Dia berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. Tangannya bergerak membersihkan rumput yang memanjang menutupi tanah makam.
“Aku akan bersihkan tempatmu. Sepertinya tidak banyak yang mengunjungimu, ya?”
Rizal tahu, seharusnya dia tidak berkata seperti itu. Seharusnya dia mendoakan Kanya agar gadisnya itu tenang.
“Dua ribu lima belas kamu meninggalkanku, Kanya. Sudah berapa tahun sekarang, Sayang? aku bahkan tidak bisa berhitung.” Ucapnya seraya membersihkan makam Kanya.
“Kamu tahu, aku sekarang menjadi petinju. Olahraga yang kamu gemari. Aku mewujudkan cita-citamu,” bisiknya. Nada pilu jelas terdengar nyata, “aku menikmatinya, Sayang. Sangat menikmati menjadi petinju. Karenamu, aku menemukan apa yang kuinginkan.”
Rizal mengusap batu nisan. Matanya memerah menahan air mata yang akan tumpah. “Aku masih bertahan, Sayang, hingga saat ini. Aku bertahan untuk tidak mencari penggantimu, Kanya.” Lalu dia tertawa pelan, “aku memang konyol, tetapi itulah keinginanku. Aku akan meruntuhkan tembok pertahananku jika ada wanita yang bisa menyamai tingkahmu. Sungguh. Aku janji padamu. Walau aku yakin, tidak ada wanita seperti itu di dunia ini. Karena wanita seperti itu hanya ada padamu.”
Kemudian, dipejamkan matanya. Teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Kanya di sebuah universitas di London. Kanya yang cerewet membuatnya harus menahan diri untuk tidak mengusir gadis itu pergi.
Lalu, ponsel Rizal bergetar dari saku celana yang dipakainya. Perlahan dia merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponselnya. Telepon dari rumah sakit.
“Halo?” sapanya.
“Mas, pasien sudah kami pindahkan.”
***
Raina duduk di atas tempat tidur. Dia berada di tempat yang berbeda lagi sekarang. Dia melihat jendela kamarnya yang dipagari besi dan tidak ingin melakukan apapun. Diusap perutnya lalu berbisik, “Anakku, Sayang.”
Berbagai kejadian buruk yang menimpanya membuat jiwanya rapuh, tidak dapat menampung kejadian bertubi-tubi yang menghantam hingga membuatnya goyah.
Pintu terbuka, seorang perawat wanita masuk. “Pagi, Raina.” Sapa perawat itu, riang.
Raina diam. Dia tidak ingin menanggapi ucapan itu.
“Waktunya sarapan, ‘kan.” Ucap perawat itu lagi. Dia sudah terbiasa meladeni orang-orang seperti Raina.
Perawat itu tersenyum saat melihat pasiennya menggeleng. Sudah tahu pasti itu jawaban Raina. “Kamu harus makan. Supaya sehat.”
Kepala Raina tegak mendengar itu. Ditatapnya perawat yang membawa mangkuk berisi bubur penuh harap. “Kalau aku sehat, anakku pasti hidup lagi, ‘kan?” tanyanya. Ada nada harapan yang tercipta dari suaranya.
Perawat itu tersenyum namun tidak mengangguk. Merasa bersalah jika dia mengatakan yang sesungguhnya pada pasiennya.
“Ya, ‘kan, suster?” tanya Raina lagi. Memastikan sebab perawat tidak mengangguk. Dia ingin kepastian, “aku pasti bertemu anakku, ‘kan, suster? Ya ‘kan?”
Desakan itu membuat perawat mau tidak mau mengangguk pelan. “Ya. Makanya Raina makan dulu, ya?”
Bibir Raina mencebik. Ada keinginan lain dari dalam dirinya. “Saya tidak mau disuapi kamu.” Rajuknya.
Perawat tersenyum. Didekatinya Raina seraya berkata, “lalu Raina mau disuapi siapa?”
Pertanyaan itu membuat matanya menatap berkeliling, mencari seseorang yang diharapkannya. “Suami saya.” Jelasnya, “Saya mau suami saya yang suapi saya.” Dia mulai merengek. Dia ingin Aidilnya. Dia ingin suaminya menyuapinya.
Alis perawat itu terangkat. “Raina sudah memiliki suami, ya?” tanya perawat itu pelan. Tangannya yang menggenggam sendok berisi bubur perlahan terulur, tertuju pada bibir Raina.
Raina mengangguk. “Tapi jahat.” Bisiknya, “tapi aku cinta, Suster. Dia jahat tapi aku cinta.”
Perawat itu tersenyum. “Ayo, buka mulutnya.”
Raina menatap tidak suka perawat itu kemudian menyentak sendok tersebut hingga terlempar. “Kan aku sudah bilang, aku mau suamiku yang suapi! Suster, aku mau Aidil! Aku mau Aidil!”
Seseorang menepuk bahu perawat. Ketika menoleh, seorang pria tinggi besar menatapnya datar. Pria itu adalah orang yang membawa Raina ke rumah sakit itu.
“Mas Rizal.” Sapa perawat.
“Biar saya coba, Mba.”
Mangkuk bubur berpindah tangan. Perawat itu mengambil sendok yang dilemparkan Raina, membersihkannya lalu memberikannya pada Rizal.
“Saya permisi, Mas.” Ucap perawat.
Rizal mengangguk.
Setelah perawat pergi, dia menatap Raina yang sedang memandang suasana di luar jendela kamar.
“Raina?” sapa Rizal. Raina diam tidak menjawab. “Kamu lapar?” tanyanya lagi.
Wanita itu diam.
Rizal berjalan mendekati Raina lalu duduk di sampingnya. “Bagaimana kabarnya kandunganmu, Raina?” tanya Rizal pelan. Berharap kali ini dia tidak salah berkata seperti sebelumnya.
Mendengar itu, mata Raina bergerak menatap Rizal. “Anakku pasti hidup lagi ‘kan, kalau aku sehat?”
Rizal mengerutkan keningnya lalu mengangguk. “Ya.” Jawabnya pelan. Hanya sekedar membuat senang hati, tidak masalah ‘kan?
Raina membuka mulutnya lebar-lebar. Sebuah pertanda baik bukan?
Akhirnya dia menyuapi Raina. Perempuan itu tidak banyak bicara dan dia tidak ingin menabuh genderang depresi Raina dengan salah bicara lagi.
Setelah selesai menyuapi Raina, Rizal bangkit berdiri. Sudah waktunya bertanding. Pertandingan tinju profesionalnya akan tayang secara langsung di televisi lokal dalam tiga jam lagi.
Melihat Rizal yang hendak pergi, Raina menarik kaus yang dipakai pria itu hingga membuatnya berhenti. Ditatapnya Raina bingung.
“Kenapa, Raina?” tanya Rizal pelan.
“Aku ikut.” Rajuk Raina. Di matanya, Rizal adalah Aidil.
“Jangan, Raina.” Jawab Rizal berusaha melepaskan cengkeram tangan Raina pada kausnya.
Bibir Raina mencebik. “Aidil jahat.”
Alis Rizal terangkat. “Aidil?” bisiknya. Apakah nama itu yang membuat Raina depresi?
Seketika mata Raina bergerak liar lalu tatapannya tertuju pada Rizal. “Aidil, kamu yang sudah buat anakku pergi!”
Tanpa bisa ditangkis oleh Rizal, tangan Raina bergerak cepat, mencekik lehernya. Mata wanita itu penuh dendam kesumat. Cekikan orang yang depresi lebih kuat daripada cekikan orang biasa. Pria itu berusaha melepaskan tangan Raina yang terus mencekiknya.
“Aidil, aku ingin kamu mati!” teriak Raina. Kemudian matanya melotot, terdengar geraman frustrasinya. Dia mendorong Rizal hingga pria itu jatuh. Tidak ingin pria itu yang dimatanya adalah Aidil menghajarnya, dia menindihnya dan terus mencekiknya.
“Mati kamu!” teriak Raina lalu tertawa senang.
“Raina ….” bisik Rizal.
Dia berusaha berkata namun gagal. Dipanggilnya nama Raina lagi, berusaha menyadarkan wanita itu yang semakin erat mencekik. Napasnya tersengal. Matanya berkedip berusaha mengenyahkan titik hitam yang meliputi pandangan matanya.
***