Bienu menuju kamar Rizal di lantai dua. Dia membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Rizal sedang tidur meringkuk namun bibirnya meracau tidak jelas. Sepertinya bermimpi. Sesaat dia menatap adik iparnya itu. Masih tidak percaya dengan kondisi tubuh adiknya yang mulai kurus. Perlahan dia menyentuh dahi Rizal, dan pria itu tiba-tiba terbangun kemudian secepat kilat duduk. “Zal, ini kakak.” Ucap Bienu khawatir. “Aku tidak ingin tidur.” Gumam Rizal. “Kamu mimpi buruk?” Rizal tidak menjawab. Dia memilih diam. Hal itu adalah senjata ampuh untuk membuat Kakaknya pergi dari kamarnya. Bienu menghela napas lalu keluar kamar. Ditutupnya pelan pintu kamar Rizal dengan dahi mengernyit. Setiap tidur, adik iparnya itu selalu berteriak. Apakah Rizal bermimpi yang sama? Hal itu membuatnya penasar

