Mau tidak mau Rizal mengangguk. Anggukan itu memberikan semangat pada remaja tersebut. Dia segera mengeluarkan ponselnya. “Boleh foto, Mas?” Sebenarnya Rizal tidak ingin difoto. Dia tidak ingin orang-orang mengetahui di mana dia tinggal namun nasi sudah menjadi bubur. Seharusnya dia berdiam diri saja di kamar dan dengan begitu, tidak ada orang yang aka mengenalinya. Akhirnya mau tidak mau dia mengangguk. Remaja itu tersenyum senang kemudian mendekat diarakan kamera depan padanya. Rizal memasang senyum terpaksanya. “Terima kasih, Mas.” Remaja laki-laki itu girang bukan main lalu dimasukkannya kembali ponselnya ke saku celana panjangnya. Ditatapnya Rizal penuh pemujaan, “Saya fans mas Rizal. Fans garis keras.” Katanya senang. Rizal tersenyum. “Saya punya fanbase khusus. Dan kami sem

