Nyasar

1105 Words
Rangga dan Dinda berangkat jalan kaki, hal yang biasa bagi orang-orang negara maju, jalan kaki. Keduanya berjalan dengan riang, seolah tiada beban, Rangga mampu membuat Dinda berhenti overthingking tentang kehidupan baru mereka di sana. Mereka bergandengan tangan sambil mengayun-ayunkan gandengan itu, mengobrol ngalor-ngidul sambil cekikikan. Bagi yang melihat itu pasti mengira merrka sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, padahal bukan, mereka adalah pasangan muda yang sudah menikah. Pagi hari yang sibuk membuat jalanan ramai dipenuhi para pejalan kaki, Rangga mengantarkan Dinda ke tempat les sebelum akhirnya ia sendiri yang menuju kampus. "Aku ke kampus dulu ya," ujar Rangga setelah sampai di depan tempat les. "Iya, kamu hati-hati," ujar sang istri tersenyum lebar. "Iya, kamu juga," balas Rangga memeluk istrinya erat. "Kalo ada apa-apa bilang, ya." "Iya, udah sana!" ujar Lisa sambil mendorong suaminya agar tidak memeluknya terus. "Hem, assalamu'alaikum," balas Rangga menyalami Dinda sebelum perempuan itu mencium tangan suaminya dan membiarkan Rangga pergi kuliah. Kehidupan baru mereka dimulai, entah apa yang akan terjadi ke depan, tapi Dinda akan berusaha sebaik mungkin menjalaninya bersama sang suami tentunya. Sebenarnya ada banyak ketakutan yang hinggap ketika ia harus pulih dari kekadian-kejadian pahit di masa lalu. Namun, semua tidaklah berarti, toh Rangga masih sangat mencintainya dan sebaliknya. Ia mnejalani lesnya dengan baik di tempat kursus, tetapi ketika ia akan pulang Rangga baru mengabarinya kalau ia pulang sore. Rangga bilang ia tak ingin ia menunggu terlalu lama, sehingga ia menggambarkan peta dan rute bus yang bisa Dinda naiki menuju flat mereka. Ia menunggu di bus yang ada si sana, tetapi bus yang harus ia naiki sudah penuh karena kebetulan bus itu dipenuhi remaja sekolah, jadi ia tak jadi naik. Saat ia menoleh, ternyata tak hanya ia yang tak bisa naik, ada seorang pria muda yang sepeetinya seusia dengannya, ia tengah tersenyum melihat kelakuan anak-anak di dalam bus, tapi ia terlihat menikmatinya bukannya kesal. Setelah bus itu pergi, Dinda pun ikut pergi berjalan menyusuri jalanan yang diarahkan oleh Rangga. Ia mencoba untuk menghilangkan ketakutannya karena ia suka nyasar, jadi ia kadang berhenti dan kemudian berjalan lagi. Namun tanpa disadari ada orang yang mengamatinya dari tadi dan tiba-tiba menyapanya, sehingga membuat Dinda terkejut. "Hai, apakah kamu orang baru di sini?" tanya pemuda itu. Dinda tersenyum dan membuat pemuda itu terpesona sejenak. "Hai, iya betul. Apakah kamu penduduk sini?" tanya Dinda. "Tentu saja dan aku baru melihat kamu di sini. Bolehkah aku tahu namamu? Namaku Kevin, siapa namamu?" "Namaku Dinda ...." "Oh, nama yang terdengar unik tapi entah kenapa terdengar anggun dan indah." Mendengar kalimat itu Dinda merasa bahwa orang itu agak Playboy, karena dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang bisa saja membuat perempuan baper. Untunglah Dinda sendiri bukan tipe orang yang mudah baper, ia lebih melihat pemuda itu mungkin ingin memberikan kesan baik untuk pertemuan pertama. "Terima kasih, namamu juga karismatik." "Oh ya, ada yang bisa saya bantu? Aku lihat kamu dari tadi terlihat bingung," ujar pemuda itu. Dinda mengangguk, "Sebenarnya saya bingung dengan rute yang digambarkan oleh suami saya. Saya takut nyasar dan Bus yang harusnya saya naiki sudah jalan, akhirnya saya tidak bisa naik karena penuh. Apakah kamu tahu arahnya ke mana?" tanya Dinda menunjukkan rute yang diberikan Rangga di iponselnya. Kevin mengamatinya, "Ini agak jauh dari sini. Apakah kamu mau saya antarkan?" Dinda merasa agak bingung karena masalahnya Kevin itu non mahram, meski begitu ia tetap harus menjaga diri toh masih ada Google Map dan peta yang diarahkan oleh suaminya. "Oh tidak perlu karena saya tidak ingin merepotkan karena membantu saya." "Itu tidak merepotkan. Aku baru saja pulang kuliah jadi jadwalku sudah tidak ada," ujar Kevin. "Tapi kita baru bertemu ...."ujar Dinda. Kevin kemudian terkekeh , "Oke aku mengerti, kamu pasti masih memiliki banyak kewaspadaan terhadap orang asing. Itu bagus bahwa kamu tahu kejahatan bisa datang dari mana saja, jadi aku akan mengarahkan saja, bagaimana? tanya Kevin menyarankan. Dinda mengangguk, "Terima kasih, aku minta maaf karena harus menolak kebaikanmu." "Tenang, tidak usah sungkan Dinda, kita sepertinya seumuran." Dinda mengangguk. "Ya, sepertinya begitu." "Aku juga berusia 22 tahun hampir 23 tahun bulan depan dan sedang menjalani kuliah pascasarjana." Dinda mengangguk sambil tersenyum, ia tidak tahu bagaimana menanggapinya tetapi Kevin sepertinya mengerti kalau Dinda agak tidak enak bersama dengannya. Jadi ia langsung mengarahkan pada Dinda ke mana Dinda harus berjalan untuk sampai ke flatnya. Sesampainya Dinda di flatnya, ia mendapat telepon dari suaminya. "Assalamualaikum, Sayang. Gimana perjalanannya?" "Yah cukup merepotkan, kamu udah selesai?" "Maaf ya, aku harus ngelepasin kamu sendiri. Aku belum selesai, masih ada kelas nih." "Nggak apa-apa, aku tadi dibantuin sama orang sini buat ngarahin jalan ke flat kita, ternyata ada terobosan loh," ujar Dinda antusias. "Oh ya, dia orang yang tinggal di sekitar tempat kita?" "Iya, namanya Kevin. Dia kuliah pascasarjana di kampus kamu juga." "Oh ya, kok lewat halte situ?" "Aku ketinggalan Bus." "Em, ketemu orang itu di sini?" "Iya," ujar Dinda. "Nggak tahu mungkin rumahnya di sekitar sini juga tapi, karena liat aku kebingungan jadinya nyamperin aku." Rangga agak was-was dengan cerita itu, "Kamu nggak jalan sama dia kan?" "Haha, ya enggak lah. Dia kan orang asing dan tadi aku udah jujur sih sama dia ...." "Harusnya kamu nggak perlu jujur juga nggak apa-apa, dia orang asing biasa dengan kewaspadaan kita. Aku khawatir ....kayaknya aku perlu punya kendaraan juga deh buat kamu biar kamu bisa bolak-balik tanpa harus naik Bus." "Hem, aku bisa jalan kok, toh jalannya rame dan banyak orang jalan di sini. Jadi nggak terlalu capek." "ya aku tahu tapi, aku nggak mau kamu kecapea." "Dih, enggak usah lebay deh. Aku juga biasa kan jalan ...." Rangga menghina nafas, "Ya udah pokoknya nanti aku yang mikirin itu." "Oke." Dia hanya bisa setuju, dan mendengarkan apa yang dikatakan suaminya. "Ya udah ya Sayang, aku mau lanjut kelas berikutnya. Semoga kamu baik-baik aja ya di flat, tungguin aku pulang." "Aamiin. Oh ya kamu mau makan apa hari ini?" tanya Dinda. "Nggak usah deh, nanti pas aku pulang aku mau ajak kamu makan di luar dan aku udah punya banyak rekomendasi restoran halal di sekitar flat kita." Dinda tersenyum, "Oke semangat ya belajarnya ...." "Ya tentu aja Sayang, apalagi didukung sama istri tercinta pasti semangat banget." "Hem, mulai lagi gombalnya." "Loh jujur aku." "Ih, udah deh sana! Ada aja kamu idenya kalau gombalin orang." "Nggak ada ya aku gombalin orang lain. Aku cuma gombalin kamu doang ...." "Nggak tahu ya, kan? Di sana banyak cewek cantik, dan pintar-pintar, jauh lebih baik dari istri kamu yang lola ini." "Ya ampun Sayang, udah deh aku tutup ya. Nggak usah insecure kayak gitu. Aku gak melihat kekurangan kamu, kamu sempurna di mataku aku. Kamu adalah yang terbaik, jadi pokoknya nggak usah ada overthinking yang gak jelas, Oke?" Dinda setuju, "Oke deh."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD