First Night in Oxford Uwu :*

1086 Words
Dinda menghela napas lega, akhirnya ia selesai beres-beres. Untung saja nenek dan kakeknya membawakan ia mie instan sekardus, jadi hari ini mereka tidak perlu repot belanja dulu dan Rangga bisa memasak. Sebab Rangga tak bisa melipat bajud engan rapih dan membuat pakaiannya berantakan, jadi Dinda yang maju membereskannya. Kini Rangga membawa mie instan di mangkuk sayur dari dapur, ia juga sudah memasak nasi. Untungnya ia sudah bisa memasak nasi juga meski bentuknya masih lembek. “Lembek banget nasinya,” komentar Dinda meringis. Rangga nyengir kuda, “Maaf Sayang, aku gak tau takerannya. Tadi pakai jari eh keknya jariku kepanjanga.” Hal itu membuat Dinda tertawa ngakak, “Bisa-bisanya ….” Mereka pun makan mie instan smabil mengobrol ria, Rangga juga memberikan sedikit pelajaran bahasa inggris di tengah-tengah acara makan itu. Rencananya Dinda akan ikut les bahasa inggris di tempat khursus yang mana merupakan kenalan Bryle juga, jadi ia mendapatkan diskon untuk ikut khursus itu. “Nanti kita jalan-jalan, yuk!" “Ayuk!” jawab Dinda semangat. "Suapin dong hehe ...." ujar Rangga manja. Meski heran, Dinda tetap melakukan apa yang diminta Rangga. Padahal mereka hanya berpisah sbulan tapi rasanya sudah seperti seabad. Maklum, keduanya saling mencintai, saling menguatkan dan dewasa bersama. Namun Rangga juga menyuapi Dinda, itu mungkin adegan yang cukup sederhana tetapi nilainya romantis dan manis untuk ilihat dan berbahaya bagi para jomblo. Setelah mereka makan, mereka mencuci piring tetapi Dinda bertanya tentang bagaimana keadaan Rangga saat mereka berpisah. "Bagaimana keadaanmu ketika aku pergi?" Rangga menatap istrinya denga sedih, "Kacau balau dan aku sampe lupa bernapas." "Heh, kok masih hidup?" kesal Dinda. "Ya lagian aku sedih banget ketika aku bangun kamu gak ada, udah gitu dengan status kita yang cerai gimana aku gak hancur." Dinda menghela napas, "Ya aku juga bingung mau gimana, aku takut dengan kondisi hubungna kita dan aku merasa sendiri." "Aku tau, aku gak nyalahin kamu cuma ... keadaan yang memaksa kita. Tapi kabar baiknya, Mami gak ikut kejar aku sebagaimana Papi masih ngotot agar aku pisah sama kamu." Tentu itu kabar yang mengejutkan, "Kok bisa?" "Bisa dong, aku kasih jampi-jampi ....." "Serius!" ujar Dinda gemas. "Iya iya, jadi yah panjang ceritanya, kita jalan-jalan dulu aja." Dinda pun menuruti apa kata Rangga, mungkin Rangga belum ingin membhasnya, masih terbawa perasaan. ••• Setelah makan, mereka pun jalan-jalan di taman yang ada di sekitar flat tempat mereka tinggal, akan tetapi sebelum itu, ketika mereka baru keluar dari gedung seorang pria menyapa mereka. "Hai, kalian anak baru di sini ya?" Rangga langsung mengiyakan, orang itu menyalami Rangga dan Rangga menerima salamannya. "Nama saya Rangga dan ini istri saya Dinda," ujarnya membuat orang itu terkejut. "Oh, wow! Kau sudah memiliki istri?" tanyanya antara kagum dan kaget. "Iya ...." ujar Rangga malu-malu. "Em, aku terkejut karena kau terlihat masih muda. Apakah kau mahasiswa S2?" tanyanya belum yakin. "Bukan, saya mahasiswa S1 dan saya memang menikah muda." "Wow, itu sangat luar biasa. Kebanyakan orang menikah pada usia 30-an di sini, aku sendiri juga seperti itu." Rangga mengangguk, "Saya mengerti, sistem kehidupan kita memang membuat kita ada di posisi seperti itu, jadi saya memakluminya." "Dan apakah istrimu juga kuliah di sini?" tanya orang itu cukup kepo. Namun, Rangga mengamati orang ini seperti orang penting di sekitar sana sehingga punya nyali untuk mengorek urusan orang lain. "Tidak, saya sebenarnya memang membawa istri saya berkuliah di sini." "Owh, so sweet! Kebanyakan memang orang asing yang sudah menikah dan tinggal di sini membawa keluarganya, tapi kamu masih muda dan pemikiranmu dewasa untuk membawa serta istrimu. Kau sangat baik sekali ...." Rangga malu garuk-garuk kepala, "Ya begitulah. Oh iya, perkenalkan aku James dan aku tinggal di sini bersama istri dan anakku, aku juga pengurus gedung bersama istriku. Kalian bisa memanggilku ketika ada masalah." Rangga dan Dinda hanya manggut-manggut saja, "Oh ya, ini kartu namaku ...." ujar James. Rangga pun menerima kartu nama itu, "Baik, terima kasih Mister James." "Tidak usah menggunakan Mister, saya terlihat sangat tua sekali kalau dipanggil Mister." Hal itu membuat Dinda dan Rangga saling pandang dengan senyum bingung, padahal Mister James itu sudah beruban tapi ya seperti orang yang memiliki jiwa muda dan terlampau santai, jadi Rangga tidak menolak untuk memanggilnya seperti yang diinginkan. Di Inggris tidak seperti di Amerika, tapi tak jauh beda dengan kebebasannya. "Oh ya, kalian seperti ingin keluar. Di sebelah kiri ada taman yang cukup indah untuk kalian bersantai," ujar James merekomendasikan. "Oke, terima kasih James. Kami akan ke sana. Sampai nanti!" James mengangguk dan melambaikan tangan dengan ceria, Rangga pun menggandeng tangan Dinda untuk pergi ke tempat yang James rekomendasikan. Keduanya cukup lega, karena baru pertama kali keluar lihat saja sudah mendapati orang baik seperti James. Semoga apapun yang terjadi di kemudian hari, mereka akan menemui banyak orang baik di sana, sehingga mereka merasa memiliki keluarga ketika mereka harus berjauhan dengan keluarga di Indonesia. Di taman, Rangga dan Dinda mendapati banyak orang yang sedang berjalan-jalan dan menikmati udara segar di sana. Mereka pun membeli kebab yang dijual di sana. Syukurlah kebab itu dijual oleh seorang muslim yang dengan jelas menampilkan tulisan halal di sana, sehingga Dinda dan Rangga tidak ragu untuk membelinya. Saat Rangga endapat kebabnya, ia menghampiri Dinda di duduk di sampingnya. "Sayang, ternyata itu penjual kebabnya orang Malaysia." Dinda terkejut, "Masya Allah, kok bisa kebetulan ya." "Hehe, mungkin ini namanya jodoh Sayang, mungkin kita berjodoh sama dia dan menemui kawan muslim yang tinggal di sini. Semakin banyak link, semakin mudah kita menjalani kehidupan yang jauh dari tanah air." "Iya juga ya. By the way ini kebabnya enak juga ya ...." "Iya, ini rasanya kayak kebab dari negeri asalnya. Dia itu Malaysia keturunan Turki, jadi kayak dia punya resep asli gitu." "Oh pantesan enak banget." Rangga senang melihat Dinda yang awalnya ragu-ragu ketika diajak ke Inggris menjadi santai. Memang sesuatu jika belum dijalani akan menjadi jauh. Mereka menikmati kebab itu sambil mengamati orang-orang di sekitar mereka. "Rame juga ya ...." "Iya sayang ...." "Oh ya, besok aku langsung ada bimbingan dosen, jadi aku langsung ke kampus. Tapi sebelum itu aku nganter kamu ke tempat les. Kamu udah janjian kan sama Miss Martha?" tanya Rangga. Dinda mengangguk sampai ada saus dari kebab yang menempel di sudut bibirnya, "Udah, tapi ....." "Why?" tanya Rangga sambil menghapus suas di sudut bibir istrinya lalu menjilatnya. Hal itu membuat Dinda malu, tapi ia tidak masalah karena sudah biasa Rangga melakukan tindakan-tindakan itu. "Sebenarnya aku takut banget kalau ilang, aku kan tukang nyasar." "Hahaha! Jujur banget sih ...." Dinda langsung cemberut, tapi Rangga langusng mencium pipinya dan menghiburnya. "Nggak, besok pulangnya aku jemput deh." "Oke, makasih," ujar Dinda tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD