Dinda merasa tegang karena baru pertama kali ini ia manaiki pesawat, ia tak pernah setegang ini sebelumnya. Ia selalu berpikir bahwa apakah ia akan jatuh?
Namun ternyata Rangga peka juga, ia melihat istrinya yang mulai pucat dan berkeringat dingin.
"Sayang, kenapa?" tanya Rangga mengambil tisu kemudian mengelap keringat dingin yang ada di pelipis sang istri.
Dinda menggeleng, "Selalu begini kalau naik pesawat."
Rangga kemudian merangkul istrinya dan mengecup keningnya, "It's oke, aku di sini. Kamu aman sama aku ...."
Perlakuan itu cukup membuat Dinda benar-benar merasa aman, hingga kemudian ia tidur dalam pelukan suaminya.
Setelah bangun, Dinda melihat Rangga yang sibuk membaca dokumen berbahasa Inggris. Ia jadi ingat kalau ia tak terlalu bisa berbahasa Inggris. Ia cemas juga, sementara itu perlahan ia melihat ke arah jendela dan melihat awan di sore hari.
Ketika itu Rangga merasa pergerakan Dinda dan mengusap lengannya, "Bangun?" tanyanya lembut.
Dinda mengangguk dan bersandar nyaman di pundak sang suami, "Indah banget awannya."
"Iya, kamu udah pernah naik pesawat kan?"
"Udah tapi belum pernah merasakan seaman ini."
"Aman?"
Dinda mengangguk lesu, "Dulu ... aku punya Paman yang sayang banget sama aku dan kedua adekku. Dia masih muda dan baru jadi Pilot, suatu hari dia ke luar negeri tetapi pesawatnya bermasalah dan meledak di udara."
"Oh Sayang, aku turut berduka cita," ujar Rangga mencium kening Dinda.
"Aku deket banget sama dia, sampai itu jadi traumaku."
Mendengar cerita itu Rangga mengerti seberapa takut istrinya untuk naik pesawat, "Maaf ya, jadi buat kamu ingat trauma lagi."
"Gak papa, kadang trauma memang harus dilawan dengan membiasakan diri untuk menghadapi, bukan menghindari."
Rangga lagi-lagi dibuat jatuh cinta pada istrinya, di saat ia merasa takut, ia masih mencoba jadi positif vibes.
"Semangat Sayang, aku akan selalu dukung kamu."
Dinda mengangguk, "Makasih."
"Everything for you."
"Sweet," gumam Dinda sebelum mencium pipi suami berondonhnya itu.
Rangga tertawa geli, kapan lagi Dinda bertindak duluan, biasanya harus dipancing dulu. Ia kemudian membalas mencium pioinya dan memeluknya erat.
Ia benar-benar tersiksa ketika tidak menemukan Dinda selama beberapa minggu kemarin. Merasa Rangga terlalu menekan, Dinda bertanya padanya, "Sesek ih, kenapa?"
Rangga tertawa, "Enggak papa Sayang, cuma kangen banget sama kamu."
Jawaban itu membuat Dinda kembali tertawa, "Why? Kita udah ketemu sejak kemarin, masa masih kangen."
"Belum cukup, aku gak bisa gak liat kamu barang semenit pun."
Dinda terkikik, "Halah, gombal."
Rangga mencubit pipi istrinya manja, "Serius, dih."
"Enggak, pasti kamu nanti kalo di sana ngelirik cewek lain," gumam Dinda khawatir.
Tentu Rangga merasa itu tak mungkin, tapi pikiran wanita itu berbeda.
"Entah bagaimana Sayang, tapi aku akan berusaha untuk tidak merasakan hal yang tidak seharusnya. Bagiku kamu cukup," jawab suaminya tenang.
"Tadi aja belum apa-apa udah diliatin banyak cewek, bahkan banyak sekelas pramugari juga gitu," ujar Dinda merengut.
Sementara Rangga tertawa kecil, "Jadi sedari tadi kamu ngamatin orang-orang yang liatin aku?"
"Iyalah, terang-terangan banget gimana aku gak risih."
"Aku juga risih tau, kamu aja risih apalagi aku. Intinya walaupun banyak yang liatin aku, tapi aku cuma liatin kamu kok."
Dinda tersipu tapi membuang muka, tapi terlambat karena Rangga sudah melihatnya.
"Jangan insecure gitu dong Sayang, kan kamu yang aku halalin, artinya kamu lebih segalanya dari pada mereka yang suka sama aku. Bener kan?"
Dinda mengaangguk, "Ya udah, tapi kalo sainganku bule, aku gak bisa nahan diri untum gak insecure."
Hal itu membuat Rangga tertawa lagi, "Ya ampun, ya gak mungkin lah. Mereka gak ada apa-apanya sama Dinda-ku ini. Kamu yang paling segalanya, jadi please jangan merasa kamu gak berharga, oke?"
"Seriusan, deh aku tiba-tiba punya perasaan seperti itu."
Rangga menghela napas, "Dari pada ngomongin ini, lebih baik kita ngomongin yang lain yuk! Bahasa Inggrismu," ujarnya pelan.
Dinda jadi ingat, "Iya, bahasa inggrisku parah. Ajarin dong ...."
"Tentu Sayangku, apa sih yang enggak buat kamu."
Di balik itu semua, ada seseorang yang terus menguntit mereka dengan kemarahan karena harus menelan fakta bahwa Rangga sudah menikah dan ia sangat mencintai istrinya itu. Itu membuatnya frustasi dan memilih mengikuti mereka untuk memastikannya.
Ia masih tidak percaya kalau Rangga lebih menyukai seorang perempuan yang tidak ada apa-apanya itu. Ia tak tau kalau Rangga memang tidak mencari apa-apa dari Dinda, tetapi menciptakan apa-apa dengan bersamanya.
•••
Sampai di Inggris tepatnya di Oxford, Rangga dan Dinda cukup lelah padahal hanya duduk saja. Rangga tau Dinda lebih lelah darinya, jadi ia merangkul istrinya dan mencium keningnya agar lebih tenang.
"Sabar ya Sayang, flatku dekat kok dari bandara."
"Deket kampus juga?"
"Hem, deket banget 5 menit sampe."
"Oke oke, dari sini ke flat kamu?"
"Sejam hehe ...."
Dinda memutar bola matanya malas, "Terus kita naik apa?"
"Naik kapal selam," celetuk Rangga membuat Dinda mendelik. "Naik bus lah Sayang, masa iya mau naik kapal selam."
"Lah kamu yang ngomong tadi," jawab Dinda gemas.
"Canda, ih Sayang.... "
Oke Dinda lupa kalau ia menikah dengan bocah prik macam Rangga, jadi ia perlu sabar.
"Ya udah yok kita cari bisnya."
"Tuh," tunjuk Rangga setelah melihat ke luar.
Dinda melihat bis sudah bertengger di sana menunggu para penumpang masuk, sementara itu Rangga membantu membawa satu tas punggung Dinda membuatnya membawa dua tas ransel atau punggung dan membawa satu koper. Sementara Dinda hanya membawa satu koper.
Rangga langsung meminta bantuan untuk memasukan barang-barangnya ke bis dan menaiki bis dengan Dinda. Keduanya merasa salibg memiliki lagi sekarang, ia sangat mencintai keadaan itu.
Lalu Rangga mengambil fotonya dengan Dinda di bis dan mengirimkannya ke Candra agar ia lega, sebab ia menanyakannya sedari kemarin tetapi belum ia balas karena saking senangnya bertemh Dinda sampai lupa pada ponselnya.
Rangga || Nih, gue udah di Oxford sama bini gue :*
Candra || Jijik emot lu anjir!
Candra || Btw, bini lo Kakak gue!
Rangga || Santai kali Bro, marah mulu dari kemaren :(
Candra || Gimana gue gak marah, lu ngeselin banget, gue khawatir ama Kak Dinda, malah lu sibuk mesra-mersaan ama dia. Wah minta ditempeleng lu ya!
Rangga || Maafkan daku Yang Mulia Brother, aku terlalu senang sampai lupa punya HP ;)
Candra || Dah bodo amat gue, noh anak-anak nanyain. Buka grup cepet!
Rangga tertawa, ia puas juga membuat Candra mencak-mencak gitu. Biasanya ia santai tapi semenjak ia nekat menikahi Dinda memang ia jadi emosian padanya. Sentimen sekali.
GRUP ORANG GANTENG
Bagas || @ranggajelek wah mentang-mentang udah ketemu bini, lupa ama kita
Kris || Iya tuh, dasar tidak tau thank you!
Ares || Biasa, orang kalo udah mapan gitu, suka lupa ama yang dukung :(
Candra || Kita lihat aja apa respon dia
Wisnu || Ada apa nih?
Wisnu || Weh, Rangga udah sampe Oxford lo?
Bagas || @wisnukalkulator iya noh, sampe lupa punya temen
Rangga || Oy! Gue baru buka HP elah kek gak tau gue aja. Alhamdulillah nih gue udah sampe Oxford lagi mau ke flat. Gue sampe Kebumen kemarin sore, paginya berangkat. Gue buron you know
Bagas || Iya sih, tapi masa gak ngangkat telpon
Rangga || Gak buka hp, kan hp gue di silent
Kris || Alasan
Rangga || @krisna Dih kompor ngebul satu ini T_T
Candra || Nah lo, dikroyok lo @ranggarong
Bagas || Btw, spill cewek Inggris dong @ranggajelek
Rangga || ogah anjir, gue udah punya bini, bisa marah dia :O
Ares || Iya yang punya bini bilek :F
Mereka terus bercakap-cakap sampai Rangga menyadari kalau Dinda tidur lagi, ia terkekeh dan menyandarkan kepala istrinya ke pundaknya dan mencium keningnya dengan sayang.
Lagi-lagi keduanya tidak menyadari kalau ada seseorang yang terus mengamati mereka sampai mereka sampai di flat dan mereka masih tidak menyadari itu.