Bryle tidak bisa menahan dirinya untuk terus mengabarkan pada adiknya bahwa ia harus segera berangkat ke Oxford secepatnya.
"Ga, lu udah gak aman lagi. Lu bisa gak loby Dinda buat bilang ke Kakek Neneknya biar lu sama dia bisa langsung ke Oxford besok pagi?"
Rangga terkejut, "Kenapa, Kak?"
"Lu udah gak aman, kalo lo gak berangkat besok pagi, gue gak tau harus gimana ... gue udah gak bisa nolong lo berdua karena suami gue udah diancem sama Papi."
Sepertinya jantung Rangga mencelos, ia tak tau harus mengatakan apa selain persetujuan. Ia langsung saja pergi untuk mengabarkan pada Dinda untuk segera berangkat ke Oxford besok pagi.
Tentu Dinda juga bingung bagaimana mengabarkan itu pada kakek dan neneknya, tetapi ia segera mengatakan kalau ia akan mencoba. Kemudian malam harinya mereka bicara berempat di ruang tamu.
"Mbah Putri dan Mbah Kakung, maaf yah Mbah kalau Dinda izin pamit karena harus ikut Rangga kuliah di Inggris."
"Inggris, luar negeri, Din?" tanya Mbah Kakung.
Dinda mengangguk tersenyum kecut, "Iya, Mbah. Rangga ke sini menjemput Dinda untuk ikut ke Inggris."
Mbah Putri dan Mbah Kakung terlihat merenung sejenak, sementara di bawah meja tangan kanan Dinda bergenggaman dengan tangan kiri Rangga yang cemas menunggu keputusan keduanya.
Hingga ketegangan itu pecah ketika Mbah Kakung menghela napas sebelum mengatakan keputusannya.
"Kalau itu sih kami gak bisa melakukan apa-apa, sejak kamu nikah sama Rangga itu artinya kamu adalah haknya dan Rangga adalah hakmu. Mbah Kakung hanya sebagai orang tua yang keputusannya gak lebih paten dari suamimu, Nduk."
Dinda terharu dengan jawaban itu, Rangga pun tersenyum senang. Sementara Mbah Putri tertawa melihat mereka, begitupun Mbah Kakung juga begitu.
"Kalian itu udah lama nikah masih aja lucu berdua, wong Mbah ki yo memang sebagai orang tua, tapi kalian sudah membangun rumah tangga yang artinya sudah siap melakukan semuanya sendiri termasuk mengambil keputusan," ujar Mbah Putri.
"Mereka masih muda Mbah, kita hanya perlu ngasih nasihat," ujar Mbah Kakung.
Mbah Putri terkekeh, "Iyalah, kita cuma berharap, ke depannya jangan mengambil keputusan ketika kalian masih dalam keadaan emosi."
Dinda dan Rangga mengangguk patuh, "Iya Mbah," jawab Dinda.
"Rangga juga meskipun kamu masih muda banget, tolong ya ... belajar jadi kepala keluarga yang bijak. Kalau ada konflik bicarakan baik-baik, tapi kadang kalau wanita lagi emosi, memang baiknya jangan dilayanin, diamin sampai emosinya reda, baru bicara baik-baik."
Rangga terkekeh, "Iya Mbah, terima kasih wejangannya."
Mbah Kakung tersenyum melirik cucunya yang tersipu malu mengembunyikan wajahnya di pundak Rangga. Melihat itu Mbah Putri jadi tambah gemas, pasangan muda memang bikin pasangan tua merasa gemas. Apalagi kalau mereka masih ceroboh mengambil keputusan, ingin rasanya menimpuk pakai kenari.
Mereka melanjutkan ngeteh-ngeteh, sementara Dinda dan Mbah Putri menyiapkan apa yang akan dibawa besok pagi ke Oxford. Tentu Mbah Putri menyiapkan banyak hal dan snegaja membeli cemilan untuk mereka.
"Gak perlu sebanyak ini kali, Mbah."
"Ya gak papa, nanti kalau kamu udah jauh, mana bisa Mbah kasih kamu banyak makanan."
Dinda terharu dan jadi sedih harus meninggalkan nenek dan kakeknya lagi, bahkan dalam waktu yang lama nantinya.
•••
Esok pagi yang cukup cerah, Rangga dan Dinda sudah siap untuk berangkat ke Inggris. Mereka sudah sampai di Jogja setelah berangkat jam setengah 5 lebih setelah salat subuh tadi pagi.
Mbah Kakung dan Mbah Putri sengaja ikut ke Jogja untuk mengantar keduanya, lalu Pak Bayu yang nanti mengantar mereka kembali ke Kebumen. Kebumen adalah kota kecil dan tingkat ekonomi yang belum maju, sehingga tidak ada bandara dan mereka harus ke Jogja untuk naik pesawat.
Dinda memeluk keduanya orang tua kedua untuknya itu, ia sempat menangis karena itu. Sementara Rangga jadi agak bersalah karena membawa Dinda pergi dari keduanya, tetapi ia juga menginginkan Dinda.
"Jaga diri di negeri orang ya, Nduk," ujar Mbah Putri mengelus pipi Dinda lembut.
Dinda sambil menangis mengangguk, "Nggih Mbah, makasih."
"Sama-sama Sayang, patuhi suamimu kecuali hal yang buruk, ingatkan dia kalau salah jalan tapi bukan mneggurui."
Dinda mengangguk, lalu ia memluk Mbah Putri lagi. Sementara Rangga dan Mbah Kakung juga sedang berbincang untuk waktu terakhir mereka bertemu sebelum mereka berangkat jam 9.
"Jaga Dinda ya, dia istri yang baik, dulu dia banyak yang lamar tapi belum mau. Taunya jodohnya berondong hehe ...."
Rangga terkekeh mendengar itu, "Iya, Mbah. Saya akan terus memperbaiki diri untuk jadi suami terbaik untuknya."
Mbah Kakung mengangguk, "Mbah gak akan nuntut kamu banyak hal. Rumah tangga memang gak selamanya bahagia, tapi pegang teguh rasa percaya dan jaga komunikasi yang baik agar meminimalisir konflik."
Rangga mengangguk paham, "Terima kasih Mbah, saya akan berusaha."
"Kalau di sana kalian harus susah dulu, hadapi dengan tetap ada di jalur yang baik. Jangan sampai keluar batas yang sudah Allah atur. Gantungkan semuanya pada Allah, setidaknya kalian gak akan pernah kecewa setelahnya."
Hal iyu membuat Rangga lega, bahkan Mbah Kakung sudah mengerti jika mereka akan susah tidak menuntutnya menjadi laki-laki sukses, tetapi Mbah Kakung melihat dari proses dan usahanya untuk rumah tangganya dan Dinda.
Lalu Mbah Kakung memeluknya sebelum bergantian memeluk Dinda. Dinda sendiri merasa berat karena Mbah Kakung memiliki sakit jantung, ia tidak ingin membuatnya jauh darinyaagar bisa menjaganya, tetapi apa boleh buat, kini ia harus berkelana dulu mencari pengalaman hidup untuk menjadi kuat.
Ia menantang dirinya untuk mendapatakan ombak terkuat agar tetap menjadi manusia waras di tengah dunia yang gila.
Setelah bercakap-cakap, panggilan untuk penumpang pesawat yang ditumpangi Rangga dan Dinda pun mengarahkan mereka untuk segera menuju pesawat.
Keduanya pun mengucap salam sebelum berbalik dan berangkat menuju tempat yang jauh di sana. Rangga sendiri merasa berat, tetapi ia segera menggandeng tangan istrinya dan tersenyum lembut sebagai penguat.
"Kita hadapi bersama, siap?"
Dinda mengangguk sambil mengambil sikap hormat, "Siap, Captain!"
Rangga yang gemas langsung mencium pipinya tak tau tempat, sungguh membagongkan. Dinda langsung menabok lengan suaminya, tetapi mereka kemudian berjalan cepat ke dalam pesawat.
Mereka menaiki kabin kelas II, sebenarnya Rangga tidak masalah kalau dibelikan tiket kelas ekonomi, tapi Brylee tentu tidak tega dan membelikannya yang kelas II. Sebenernya bisa saja ia membelikan keas I, tapi takut menambah kecurigaan dan perjuangan mereka akan sia-sia kabur dari sepasang Utama.
Ayah dan Ibu Rangga sudah marah-marah dan mencarinya, entah apa yang terjadi, tapi mereka tau kalau Rangga ada di Kebumen. Hal itu membuat Bryle cemas kalau-kalau mereka tau Rangga sedang menuju Inggris dan membatalkannya dengan cara apapun.