Masih Suami Istri, Kan?

1035 Words
Rangga masih menatap istrinya dengan penuh kerinduan, ia benar-benar merindukan Dinda dengan segala waktu yang ia punya. Bahkan ia tak menyadari ada Mbah Putri yang duduk di samping Dinda sementara Dinda berhadapan dengannya. Sopir yang tadi dibawa orang depan dipersilahkan untuk pulang karena Rangga akan menginap di sana. Ia akan menghubunginya lagi saat ia akan berangkat ke Jogja. "Jadi gimana kabar kamu, Rangga?" tanya Mbah Putri dengan senyum yang tulus seperti biasanya. "Em ... alhamdulillah Mbah Putri, saya baik-baik saja," ujarnya sopan. "Mohon maaf ya. Mbah Putri nggak jukukin kamu pas kamu koma, Mbah nggak tahu kalau kamu kecelakaan dan kami benar-benar tidak tahu kabar kalian di sana. Mbah cuma kaget pas tiba-tiba Dinda pulang dan itu tanpa kamu, lalu ia membawa berita yang buruk tentang kamu. Mbah cukup prihatin dengan gimana perjalanan pernikahan kalian yang baru 1 tahun lebih ini. Mbah harap, kalian berdua lekas menyelesaikan masalah kalian. Jadi tidak menggantung dan tidak ada yang dipaksakan." Rangga mengangguk paham, ia memainkan tangannya sendiri sambil mendengarkan. Ia dan Dinda sama-sama menunduk mendengarkan Mbah Putri memberi mereka wejangan. Lalu Mbah Putri beralih ke arah Dinda, ia juga menunduk dengan gugup, mungkin masih shock dengan kedatangan Rangga. "Mbah Putri juga mohon sama Dinda buat terbuka sama Rangga. Beri dia kesempatan untuk jelasin masalah kalian dari sudut pandangnya, sehingga kalian bisa berdamai dan kembali seperti semula." Dinda mengangguk mendengar itu, ia dan Rangga saling tatap sejenak sebelum akhirnya Mbah Putri kembali bersuara. "Sekarang kita makan dulu, bentar lagi Mbah Kakung selesai dari kamar mandi," ujar Mbah Putri. Dan seperti kata Mbah Putri, Mbah Kakung keluar dari kamar mandi dan bergabung bersama mereka untuk makan siang. Ia pun terlihat tidak menunjukkan masalah atas kehadiran Rangga. Padahal Rangga cukup takut jika keluarga Dinda akan marah padanya karena kejadian itu, tapi faktanya mereka bersikap terbuka dan objektif, sehingga tidak menyalahkannya hanya karena cucunya adalah di pihak Dinda yang tersakiti. Mereka memahami situasinya dan melihat dari banyak sudut pandang sehingga ia pun mempersilahkan keduanya yang sudah menjadi suami istri untuk senantiasa saling percaya dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Mbah Kakung meski hanya lulusan SD dan seorang petani, ia memiliki sikap yang beum tentu dimiliki oleh Professor. Ia membagikan pengalamannya sebagai pria atau pemimpin dalam rumah tangganya sehingga ia bisa membahagiakan sang istri. "Membahagiakan istri itu gak terpatok dengan seberapa banyak kamu punya duit terus membelanjakan istrimu, Rangga. Justru percuma kamu membelanjakan istrimu banyak barang, tapi kamu malah gak menghargainya. Memang seseklai perlu diajak jalan-jalan. Seminggu sekali atau sebulan dua kali, kalau sibuk banget tiap bulan setidaknya harus ada waktu jalan-jalan. Kalau pun kalau gak punya uang, pergi ke alun-alun kota, jajan cemilan, poto-poto, beres." Mbah Kakung berkelakar dan hal itu yang ditangkap oleh Rangga, mungkin ia membalut nasihat dengan candaan, tetapi itu berguna untuknya. Setelah makan mereka terus bercakap-cakap, hingga Mbah Putri menegur agar Mbah Kakung jangan mengajak Rangga bicara terus, ia butuh istirahat. Tapi Mbah Kakung belum puas mengajak Rangga bicara, Rangga pun tipe orang yang pintar menempatkan diri bahkan pada seorang kakek-kakek. "Rangga udah benar-benar baikan, kan sekarang?" tanya Mbah Kakung. "Iya Mbah, saya udah baik-baik saja alhamdulillah ...." Mbah Kakung mendapat tatapan tajam dari Mbah Putri dan membuatnya tertawa sebelum akhirnya mempersilahkan Rangga istirahat. "Kalau gitu sebaiknya kamu istirahat dulu ya. Soalnya habis dari Jakarta kan, udah gitu jalanannya juga susah. Pasti kamu pegel-pegel karena nggak biasa," ujar Mbah Kakung sambil bercanda. Rangga pun mengangguk mendengar itu, kemudian Mbah Kakung mengisyaratkan Dinda yang dari tadi merenung sendiri untuk mengajak suaminya masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya Mbah Kakung ingin mereka berdua benar-benar memiliki ruang pribadi untuk saling bicara. Dinda pun tidak mengatakan apa-apa dan mengangguk. Lalu ia mengisyaratkan Rangga dengan tatapannya untuk masuk ke dalam kamar yang ada di dekat ruang tamu. Rangga dengan senang mengangguk kemudian pamit pada Mbah Kakung dan Mbah Putri. ••• Di dalam kamar itu, terlihat sangat sederhana. Kamar yang ber cat hijau muda dengan sentuhan hijau tua yang cukup estetik. Dinda memang suka mendekorasi kamar, sehingga ia selalu menghadirkan kesan yang cantik di manapun ia berada. Ketika ia berdiri di sana, ia menatap Dinda yang masih diam. Rangga sendiri dengan canggung mengatakan tasnya juga kopernya di dekat lemari tempat yang memiliki space yang cukup untuk menaruh barang-barangnya. Akhirnya Dinda berbalik dan menatap Rangga, hal itu membuat Rangga agak tegang karena ia takut bahwa Dinda juga marah padanya. Namun ia salah, hal yang ia bayangkan tidak terjadi, karena Dinda langsung menutup pintu dengan rapat dan menguncinya. Rangga sudah berpikir kalau Dinda akan memukulnya. Tapi bukan itu yang dilakukan Dinda, setelah mengunci pintu ia menghambur ke arah Rangga dan memeluknya dengan erat. Ia berkata dengan tangis yang sedari tadi ia tahan. "Maaf ... maafin aku ya. Aku egois karena ninggalin kamu." Rangga langsung menangis saat itu juga, ia membalas pelukan istrinya dengan erat. "Nggak apa-apa, aku juga minta maaf karena nggak berdaya waktu itu dan buat kamu terluka sendiri. Harusnya aku di sisimu." Dinda menggeleng, "Kamu nggak berdaya tanpa pilihan. Kamu waktu itu lagi koma, jadi kamu gak bisa melakukan apa-apa." Pada akhirnya mereka berdua kemudian membangun kembali cemisteri yang hilang dalam sebulan yang lalu, cemistri mereka pun terpangkas karena kejadian yang tidak bisa mereka pilih atau kendalikan sendiri. Faktanya mereka tidak bisa mengerti situasi itu sebagai sesuatu yang mereka butuhkan. Dalam pandangan keduanya, mungkin keduanya juga sudah belajar bahwa situasi tidak bisa selalu mereka kendalikan. Maka tidak ada yang berhak marah atau dimarahi, mereka sama-sama tidak bisa memilih dan hanya sekedar berusaha berjuang bersama. "Jadi sekarang kita masih suami istri, kan?" tanya Rangga. Dinda mendongak dan melihat wajah tampan suaminya, ia mengangguk dan tersenyum manis. Rangga kembali memeluk Dinda dengan erat, hingga Rangga pun kemudian mandi dan istirahat sejenak. Lalu Dinda menemaninya untuk tidur siang sejenak. Mereka berpelukan seperti koala karena saking rindunya satu sama lain. Sungguh, saat-saat itu sangat berharga bagi keduanya. Setelah mereka tidur beberapa jam, Rangga bangun terlebih dahulu ia sangat senang karena ketika ia bangun, ia bisa melihat Dinda istri tercinta yang dia rindukan sebulan yang lalu. Bahkan mungkin sudah sebulan lebih mereka terpisah. Rangga mengentuk pipi Dinda, menciumnya beberapa kali dan mengelus rambutnya yang indah, dimana itu selalu tertutup hijab lebar yang selalu menghiasi kepalanya. Wanitanya yang paling ia cintai. “I love you so much ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD