Rangga merasa agak gugup saat sudah sampai rumah yang dituju, ia menelpon Candra agar ia bisa dibimbing ketika di sana. Ia belum berani keluar dari mobil ketika Pak Bayu sudah lebih dulu turun dan mengeluarkan kopernya.
“Can!" panggilnya.
“Apaan dah, udah sampe lu?” tanya Candra.
“Iya, tapi gue gugup, sumpah.”
“Kek kriminal aja lo sampe gugup bergitu. Gak papa masuk aja, Nenek dan Kakek gue baek orangnya.”
“Tau gue, tapi kan gue posisi udah divorce secara paksa.”
“Enggaklah, gue yakin dia megerti.”
“Serius lo?”
“Iya, udah sana gak usah gugup. Gue mau ngecek Cafe nih, masih dijalan malah ditelpon.”
Lalu terputuslah sambungan itu, jelas Rangga geram dengan perlakuan Candra yang seenaknya. “Dasar, adik ipar sialan!”umpatnya menatap ponselnya.
Ia menatap sekeliling, di depan rumah terdapat rimbunan pepohonan, tidak ada gerbang dan rumahnya bersih dengan rumput hijau di depan rumah yang membuat rumah itu tampan rapih. DItambah dengan bunga-bunga yang tumbuh di eperan dan di pot-pot yang sepertinya dirawat dengans angat baik sehingga warnanya cerah.
Tak lama seseorang keluar dari rumah, seorang nenek berdaster dengan motif batik ungu gelap dengan berhijab dan wajahnya agak familiar. Rangga kemudian membuka pintu mobil dan keluar sambil membawa tas ranselnya. Nenek itu terlihat terkejut sementara Rangga jadi tambah gugup, ia langsung mendekati nenek itu yang ternyata Mbah Putri, kemudian mengucapkan salam sembari menyalaminnya sambil membungkuk.
“Assalamu'alaikum Mbah Putri," sapanya sopan dengan senyum manisnya.
Mbah Putri langsung terharu, “Wa'alaikumsalam, Rangga?” tanyanya sambil menyalami dan membiarkan Rangga mencium tangannya.
Ia mengelus pundak Rangga dan mengamatinya, sudah lama sekali tidak bertemu, terakhir bertemu adalah di pernikahan Rangga dan Dinda. Ia segera mengajak Rangga ke dalam, sebab beberapa tetangga yang kebetulan ada di sana atau sekedar lewat sudah kepo melihat pemuda datang dengan sopir dan mobil mewah ke keluarga Dinda itu.
“Yuk masuk dulu, itu Bapak sopirnya diajak!” uujarnya mendahului.
Rangga mengangguk, “Iya, Mbah Putri. Ayok Pak Bayu!”
Pak Bayu mengangguk dan segera menyusul dengan dua koper di tangan kanan dan kirinya, ia sungguh tak bisa memungkiri kalau ia lelah menyopir dari pusat kota ke desa yang merupakan ujung dari gunung di Kebumen.
+++
Di dalam rumah tidak ada tanda-tanda Dinda di sana, Mbah Putri menyiapkan minuman dan meminta Rangga menunggu. Mbah Putri menyiapkan cemilan dan apapun yang ia punya, sampai-sampai ia langsung pergi ke warung untuk membeli beberapa makanan untuk tamu itu.
Rangga tinggal berdua dengan Pak Bayu di sana, ia mengamati isi rumah yang sudah bertembok tetapi masih sangat tradisional dengan desain yang sebenarnya tidak terlalu efektif tapi nyaman karena rapih dan dihias dengan baik. Di sana ada foto keluarga, ia juga melihat Dinda di salah satusosok di sana, kemudian berdiri untuk memperjelas penglihatannya.
Hingga ia terkejut ketika sayup-sayup mendengar suara seseorang yang paling ia rindukan, “Assalamu'alaikum, Mbah Putri!”
Rangga langsung berbalik ketika sosok yang baru masuk itu juga terpaku menatapnya, tak memperdulikan Pak Bayu dan keadaan lain, Rangga langsung mendekat dan memeluk istrinya dengan penuh kerinduan. Ia sampai memeluk Dinda dengan sangat erat sampai wajah shock Dinda tenggelam di dadanya.
“Wa'alaikumsalam Sayang, aku kangen banget sama kamu. Maafin aku, aku gak berdaya.”
Dinda masih shock dan tak bisa merespon, hingga Mbah Putri pulang drai warung membawa plastik hitam dan melihat adegan itu. Sementara ia melihat Pak Bayu yang hanya tersenyum, ia maklum dengan kondisi majikan sementaranya itu yang sudah lama tak bertemu istrinya.
“Eh, sekarang mending lepas dulu yah, kita makan dulu. Duh, kangen-kangenannya nanti ya,” ujar Mbah Putri membuat Rangga malu dan langsung melepas pelukan mereka.
Dinda juga masih linglung, ia langsung pergi ke dapur dan membiarkan Rangga duduk lagi. Dinda membantu Mbah Putri untuk menyiapkan makan siang, sebelum mereka makan siang bersama.
“Kaget ya, suaminya dateng?” tanya Mbah Putri dengan senyum menggoda.
Dinda tersipu malu, “Apaan sih Mbah, orang kita udah pisah.”
Mbah Utri yang awalnya sedang memindahkan nasi ke keranang nasi berukuran kecil pun langsung berhenti, ia menatap cucunya dengan senyum lembut.
“Dinda, dari cerita kamu tuh udah jelas bahwa perceraian kalian hanya i atas kertas tanpa pertlsetujuan dari kalian berdua, lihat si Rangga juga kerjar kamu sampe sini. Tadi aja dia peluk kamu, keliatan banget kalau dia kangen banget sama kamu.”
Dinda menghela napas, ia tak tau harus bagaimana. Intinya adalah, ia tak melihat semua itu dengan baik karena masih kasih hati pada kenyataan itu.
Mbah Putri jadi gemas pada cucu kesayangannya itu, “Kamu tau syarat sahnya perceraian gak?”
Tentu saja Dinda tau, ia sudah belajar dan sering ikut kelas pra nikah dulu.
Melihat keterdiaman Dinda, Mbah Putri mengeluarkan androidnya dan mengetik di google sambil menjauhkan layarnya karena jika terlalu dekat tulisannya tidak jelas, maklum matanya setua usianya.
“Nih, baca…. ”
Dinda menurut saja, Mbah Putri mengetik di Google syarat sah perceraian. Maka keluarlah artikel dengan jelas bahwa pernikahan haruslah ada niatan dari laki-lakinya, juga dalam keadaan laki-laki itu sadar.
“Posisi udah jelas, Rangga waktu itu koma, terus dipaksa sama Ibunya Rangga. Kalian belum cerai, kecuali kalo Rangganya menceraikan kamu sekarang, itu jadi sah.”
Dinda hanya diam mendengarkan, tangannya juga masih sibuk memindahkan sop ke mangkuk sayur. Kelebihan wanita adalah bisa mengerjakan banyak hal di waktu bersamaan.
“Coba deh, Din, kalo kamu nganggep ini perceraian, kamu posisi dalam Islam masih jadi istri Rangga. Kamu pergi tanpa pamit, tanpa ridho suami, kamu jauhin dia sampe dia ngejar kamu ke sini. Kira-kira kamu berdosa, gak?”
Dinda mengangguk, “Kamu kan udah ngaji, Din. Mbok yo paham tentang hal ini.”
Mbah Putri memang secerewet itu, tapi Dinda mengerti itu demi kebaikannya dan ia tidak tersinggung ataupun marah karena nasihatnya yang memang tepat dan sesuai.
“Bayangin lagi deh kalo kamu menganggap kalian cerai, abis itu kamu sama dia pisah. Dia gak ridho tuh buat ngelepas kamu padahal dia gak pernah mengucapkan kata cerai, gimana…. ”
Yap itu jadi fatal, aplaagi kalau nanti Dinda menikah dengan yang lain padahal perceraiannya dengan Rangga hanya di atas kertas. Berarti dia memiliki dua suami dalam waktu bersamaan.
Hukum Islam memang ‘senjlimet’ itu, tapi jika ditelusuri memang benar, setidaknya kalau Dinda ingin lepas, ia harus menyelesaikan pernikahan dulu dengan Rangga, jadi kalaupun ia akan menikah dengan yang lain, ia tak membawa masalah dari pasangan sebelumnya.
“Paham sekarang?” tana Mbah Putri.
Dinda mengangguk dan ia telah memahami itu, mungkin ia bertindak sesuai nafsu jadi gegabah dan tidak terarah sesuai wahyu.