Meskipun ia sudah menikah dengan dinda lebih dari setahun ini, ia belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Kebumen. Sekarang Rangga tengah menapaki tanah Kebumen untuk yang pertama kali seumur hidup. Sebuah daerah yang tidak pernah ia bayangkan akan ia kenal di dalam hidup ini.
Akan tetapi, ia sudah sangat berterima kasih pada Kebumen, karena adanya daerah tersebut lahirlah seorang perempuan yang sangat ia cintai bernama Adinda Humaira. Ia adalah cinta pertama dan akan menjadi cinta terakhirnya. Ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ia sangat mencintai Dinda. Ia sangat ingin Dinda terus ada di sampingnya meski kini ia sedang dalam keadaan diuji dipisahkan dan dinaungi oleh rasa rindu.
Ia langsung memakai kacamata hitamnya ketika sampai di Stasiun Kebumen, karena banyak orang yang memperhatikannya bak artis. Bahkan ada juga yang sampai memotretnya dan videonya. Itu agak norak, tapi kata Dinda, Kebumen adalah daerah yang kecil. Jadi mungkin akan sangat jarang ditemukan orang-orang yang berpenampilan luar biasa seperti Rangga. Ia cukup mengerti dan mulai memberikan pengertian dan bersabar sejenak sampai ia keluar dari Stasiun.
Setelah ia keluar dari stasiun dengan tatapan mendamba para gadis, ia disambut oleh seseorang yang sudah disiapkan oleh Brylle. Pak Bayu namanya, usianya sekitar 57an, ia terlihat sangat sopan dan manis, kebaikan yang dimiliki oleh orang Jawa Tengah. Namun, hal tidak baiknya, mereka seringkali membicarakan seseorang di belakang alih-alih langsung melabrak.
Rangga balik tersenyum sopan padanya, ia mendekat dan menyalaminya yang berdiri di samping mobil.
"Asslaamu'alaikum, saya Rangga, Pak."
"Wa'alaikumsalam, iya Mas, saya ditugaskan Mbak Brylle. Silahkan Mas, bisa langsung naik. Saya akan mengantarkan Mas langsung ke tempat tujuan."
Rangga mengangguk, "Baik Pak, kalau boleh tahu nama Bapak siapa ya?"
"Oh iya Mas, lupa hehehe. Nama saya Bayu, Mas Rangga bisa memanggil saya dengan sebutan Pak Bayu."
"Oke Pak Bayu, saya mohon antarkan saya langsung ke tempat tujuan ya."
"Iya Mas."
Rangga langsung naik disusul Pak Bayu yang sudah bisa menaikan barang-barang Rangga. Setelah masuk, Pak Bayu kembali berkata.
"Tapi tempatnya agak jauh, karena memang di gujung. Di ujung dan di pedesaan. Katanya sih jalanannya susah, jadi mohon maaf kalau nanti goncangan di mobil cukup kencang ya Mas, tapi Mas Rangga tidak usah khawatir karena ini mobil yang rodanya cukup besar sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh goncangan apapun."
"Baik, saya mengerti."
Tempat tujuan mereka tak lain adalah rumah nenek dan kakek Dinda yang ada di pegunungan. Di perjalanan, mereka mengalami guncangan yang seperti disampaikan oleh Pak Bayu tadi. Akan tetapi di sana Rangga cukup menikmati udaranya. Apalagi pemandangan yang sangat menyejukkan, ia tidak perlu AC karena suhunya sudah dingin. Ia tinggal membuka kaca mobil untuk merasakan kesejukan itu.
Sesekali ia memotret pemandangan di sana yang memang masih sangat asri. Terlebih tempat tinggal Dinda atau rumah kakek dan neneknya ada di gunung, di pemukiman paling tinggi yang ada di daerah itu. Kalau tidak salah, namanya Desa Karangtengah, Kecamatan Poncowarno. Di situlah tempat tinggal nenek dan kakek Dinda, di mana Dinda sekarang ada di sana juga. Titik yang membuat seorang Rangga akhirnya berpetualang sendirian tanpa teman-temannya, untuk menjemput sang pujaan hati.
"Pemandangannya bagus banget ya, Pak."
"Oh kalau daerah sini iya Mas, ada lagi yang memang sudah jadi pariwisata itu, terdekat sini ada Jembangan."
"Jembangan?" tanya Rangga bingung.
"Iya Mas, namanya Jembangan, diambil dari nama desa. Di sana ada danau yang besar, dimana terhubung dengan bendungan Pejengkolan. Di Jembangan ini ada fasilitas wisatanya juga, ada bebek-bebekannya juga."
"Haha namanya unik yah ...."
"Terus apa lagi, Pak?" tanyanya.
Rangga tertarik untuk mengunjunginya mumpung ada di sana, ia ingin mengajak Dinda untuk jalan-jalan. Mungkin ia akan mengajukan pengunduran penerbangan lagi, semoga kakaknya mau bekerjasama.
"Ada banyak pohon pinusnya, itu ada di PI namanya, atau Pentulu Indah. Nah di situ udah banyak fasilitas untuk berwisata Mas. Kalau Mas tertarik bisa ke sana, tapi masih banyak lagi. Kalau saya suka lupa apa aja wisatanya, hanya saja memang untuk perawatan masih kurang sehingga fasiltasnya tidak selengkap di kota besar."
"Oh gitu makasih ya Pak sudah direkomendasikan. Memang Bapak orang mana?"
"Kalau saya orang Kebumen kota, Pak, tapi karena memang saya sopir jadi kemana-mana tau lahsedikit-seidikit."
"Oh ... Bapak sopir? Sopir gimana maksudnya Pak?"
"Saya sopir dari temennya Mbak Brylee, jadi kebetulan Bos saya kenal sama Mbak Brylee dan Mbak Brylee itu minta tolong sama Bos saya, akhirnya saya yang ditugaskan untuk menjemput Mas Rangga dan selama Mas Rangga di sini, saya kerja sama Mas Rangga sampai Mas Rangga besok ke Jogja untuk penerbangan ke Oxford."
"Pak Bayu sampai tahu ya, tujuan saya?"
"Iya Mas, ini juga kata Mbak Brylee yang bilang, demi keselamatannya Mas Rangga gitu katanya."
"Ih, oke ... terima kasih Pak Bayu. Saya juga nggak tahu kalau nggak Pak Bayu yang jemput saya, nanti saya dibohongin sama orang."
"Iya sih Mas, kalau misal orang baru bisa kena penipua, tapi di sini nggak kayak di Jakarta kok Mas, masih aman. Hanya saja kalau misal Mas kan terlihat kayak bule, biasanya mereka matok tarifnya lebih gede dari orang biasa."
"Oh gitu ya ... paham-paham, sebenarnya masalahnya sederhana tapi mungkin itu menjadi masalah untuk beberapa orang," tanggap Rangga seadanya.
Mereka lebih memasuki desa dan semakin dekat ke tempat tujuan. Mereka mengalami goncangan yang lebih keras lagi dari yang sebelumnya. Hal itu membuat Rangga tidak tahan untuk bertanya.
Rangga melihat jalanan rusak luar biasa, hal itu cukup mengganggunya dan bertanya-tanya, kenapa orang-orang tidak protes dengan kondisi jalanan yang seperti itu.
"Ini gimana sih Pak, kok bisa jalanannya kayak gini banget ya, emang gak dibenerin?"
"Sebenarnya masalahnya simpel Mas, ini karena memang jalannya itu di tanah pertanian, kalau tanah pertanian itu kan lebih lembab, kalau kena hujan aspalnya selesai, apalagi ya kadang ada yang tanah jalan Mas."
"Maksudnya tanah jalan itu gimana?"
"Tanah jalan itu maksudnya bergeser Mas, jadi orang-orang sini bilangnya tanah jalan gitu."
"Tapi di aspal bisa kan ya kalau di aspal ya?"
"Cepet rusak, jadi setidaknya ya di beton gitu, tapi ya gimana lagi di desa apa adanya Mas. Apalagi daerah kami termasuk daerah yang termiskin di Jawa Tengah."
Rangga terperangan ia benar-benar belum pernah menggali tentang banyak daerah di Indonesia. Ia malah lebih sering berkunjung ke luar negeri daripada di negerinya sendiri dengan problematika yang terjadi. Makanya ia terlihat sangat kampungan ketika ke kampung. Memang aneh sih, kalau ia mengaku orang Indonesia malah tidak tau apa-apa tentang negeri sendiri.
Akhirnya mereka sampai ke Dukuh di mana lokasi tempat kakek dan nenek Dinda berada.
"Loh, ini jalannya udah bagus," ujar Rangga.
"Kalau menurut saya sih karena ini memang tempat permukiman, Mas. Jadi bukan tempat pertanian sehingga tanahnya lebih bisa diatasi untuk aspal biasa."
"Oh gitu, ini udah deket ya Pak?"
"Iya Mas. Ini sekitar sekilo lagi," ujar Pak Bayu melihat Google Map yang ada di dashboard mobil.
Baru masuk pedukuan udaranya semakin dingin, terasa di kulit Rangga. Padahal ia sudah memakai pakaian hangat, memakai jaket dan pakaian panjang.