Rangga Kabur

1218 Words
Hari demi hari telah berlalu dan Rangga sudah bisa melakukan hari-harinya dengan normal, seperti biasa secara fisik. Hanya saja batin dan pikirannya terkurung oleh fakta bahwa ia tidak boleh melakukan hal yang ia suka sendiri. Akan tetapi ia sudah memiliki rencana untuk kabur sekalian membawa sang istri untuk pergi ke Oxford bersamanya. Lalu setelah itu, ia akan benar-benar bisa lepas dari keluarganya jika akhirnya pernikahannya dan Dinda tidak tercatat oleh catatan sipil. Tetapi ia akan memulai kehidupannya lagi bersama Oxford. Rencana kaburnya ia susun bersama keempat sahabatnya. Bagas yang paling semangat menyusun rencana itu, di hari keberangkatan Rangga, ia harus pergi ke bandara seperti halnya yang direncanakan. Akan tetapi ia sebenarnya akan berangkat ke stasiun menuju ke Kebumen untuk menjemput istrinya terlebih dahulu. Untunglah Kepala Sekolah telah memberinya akses untuk mengganti jadwal penerbangan dan sang ayah sepertinya tidak terlalu peduli tentang itu karena kebetulan ada kendala di kantor sehingga ia tidak bisa memantau bagaimana Rangga atau masalah apa yang ditimbulkan oleh Rangga, sehingga ia tidak tahu kalau Rajgga memiliki rencana di belakangnya. Sementara Clarissa sedang ada perjalanan ke luar negeri, ia pun sudah merasa kalau Rangga aman, sehingga ia santai meninggalkan rumahnya. Hal itu menguntungkan Rangga dan membuatnya merasa ia tak perlu rencana itu. Bryle juga siap membantu. ••• Dinda masih menikmati kesehariannya di desa, ia merasa mulai tenang ketika sudah merasakan kedamaian desa yang tidak sesibuk kota. Ia merasa benar-benar hidup dengan baik. Meski ia pulang kampung, ia tak akan lupa bagaimana tugasnya untuk mengurus cafe dan ruko. Candra mengeluh karena ternyata lelah sekali menjalani pekerjasn yang dikerjakan kakaknya, tetapi pemuda itu lama-lama belajar di bawah bimbingan Dinda untuk senantiasa tetap teguh meski banyak hal yang membuatnya tak nyaman. "Gimana kabarnya Candra, masih suka ngeluh?" tanya Tante Reni. Dinda menoleh dengan senyum manisya, "Sekarang udah enggak, udah kerasan kali dia." "Hem, iyalah masa mau ngeluh terus." Dinda mengangguk sambil memotong kangkubg yang akan ia masak dengan tempe nanti. "Kamu sama Rangga masih belum ada komunikasi?" tanya Tante Reni lagi. "Belum dan Rangga juga belum menghubungi aku, jadi aku juga nggak mau menghubungi dia walaupun Candra udah kasih nomornya sama aku." "Hem, tapi kalau misalnya suatu hari Rangga ke sini, kamu mau nemenin seperti kata Candra kalo dia mau jemput kamu ke sini?" "Iya, mau nggak mau pasti nanti Mbah Kakung sama Mbah putri maksa aku kan buat ketemu diameski kaumungkin belum siap." "Tapi kamu gak bener-bener cerai sama dia, kan?" "Ya tergantung nanti dia gimana, kalau misalnya dia mau cerai sama aku demi karirnya, ya udah kita cerai aja." "Kamu gak sedih?" Dinda terdiam mendengar itu, setelah semua yang ia dan Rangga lalui. Setelah sampai di titik ini ia merasa seperti hubungannya dan Rangga seperti mimpi, dimana hanya bisa dikenang tanpa bisa dirasakan lagi di dunia nyata. "Mungkin aku akan coba buat ikhlas meski di awal bakal sedih." Tante Reni jadi ikut sedih mendengar jawaban Dinda, ia menatap keponakannya dengan tatapan prihatin dengan masalah yang tengah dihadapinya. Dinda anak yang baik, tapi ia harus menghadapi kesulitan sebesar itu. "Kamu jangan gitu dong, itu bukan sesuatu yang mudah seperti apa yang kamu katakan. Kamu bisa usahakan dulu ...." "Aku ngerti kok, tapi tergantung Rangga nanti, aku gak mau berjuang sendiri." "Tante yakin dia gak bakal biarin kamu berjuang sendiri." Dinda mengangguk, antara ragu dan senang dengan kemungkinan itu. Akan tetapi ia paham betul, setiap manusia pasti akan menemui yang namanya pilihan pahit yang tak bisa dilupakan seumur hidup. Mungkin Dinda sedang mengalami hal itu. ••• Bryle mengirim uang ke rekening baru Rangga dan membelikan tiket atas nama sopirnya untuk kemudian ditukar identitas. Bryle juga sudah minta bantuan temannya yang merupakan bos yang memiliki investasi terbesar di KAI. Tentu saja Bryle melakukan itu karena rasa sayangnya pada kedua adik dan adik iparnya itu. Ia tak ingin mereka berdua menderita karena perpisahan yang dipaksa. Kini, Rangga juga bersiap untuk kabur, ia sudah siap dengan koper-kopernya, dimana semu penghuni rumah hanya tau kalau ia akan ke bandara menuju Oxford. Rangga diantar sampai ke bandara oleh sopirnya, maka ketika waktu keberangkatan sudah tiba, ia pamit pada sopirnya dan bersembunyi di balik tembok sembari mengawasi sopirnya yang mulai berbalik dan pergi. Rangga tau kalau Pak Hendri ditugaskan untuk mengawasinya sampai ke bandara, tapi sepertinya ia lalai dalam tugasnya dan tidak mnegawasinya sampai ia masuk ke dalam pesawat. Rangga tersenyum lebar ketika melihat Pak Hendri keluar bandara, ia segera keluar dari tempat persembunyian, membawa kopernya untuk pergi ke pintu keluar lain untuk bertemu dengan Ares yang sudah siap menjemputnya bersama Kris. Ares segera melampaikan tangan ketika melihat Rangga keluar dengan menyeret kopernya sambil berlari. Kris sudah siap mengangkat koper ke bagasi, Ares juga memposisikan diri sebagai sopir. Seperti formasi yang sudah mereka buat, Kris memasukan barang Rangga ke bagasi dan ikut masuk ke dalam mobil setelah Rangga. "Gue bukan sopir njur!" "Jalan, cepet!" sentak Kris saat Ares protes karena kedua temannya duduk di paling belakang. "Maafin gue panik langsung masuk ke sini," ujar Rangga terengah-engah karena habis berlarian. "It's oke, yang penting rencana kita lancar," jawab Ares. "Tadi protes ...." cibir Kris yang siabaikan oleh Ares. Mereka menuju ke stasiun, di sana sudah ada Bagas dan Candra yang menunggu kedatangan mereka. Candra juga menitipkan kopermilik Dinda yang sekiranya nanti akan langsung dibawa ke Inggris. Saat Rangga, Kris dan Ares sudah terlihat, Candra dan Bagas tersenyum lega. Mereka langsung menyambut Rangga, mereka mengantar kepergian Rangga yang nantinya ia akan menuju Oxford lewat bandara Yogyakarta agar tidak ketahuan keluarga Rangga. "Nih, gue titip barang Mbak Dinda, jaga baik-baik Kakak gue. Kalo lo nyakitin dia, gue pastiin lo gak akan ngerasain kenikmatan surga dunia seuur hidup!" ancamnya sambil memberikan koper milik Dinda pada Rangga. Rangga, Bagas, Kris dan Ares langsung merasa ngilu dengan ancaman Candra, memang protektif adik ipar Rangga satu itu. "Btw, bukannya kemarin gue liat Kak Dinda dateng di Wisudanya Andi?" tanya Kris memancing. Rangga menatap Candra, "Liat dimana?" "Di status WA Candra," ujar Kris santai. Rangga menatap tajam Candra yang membuang muka, "Lo privasi nomor gue biar gak bisa liat status WA, lo?" "Gue cuma ...." ucapan Candra terpotong ketika suara pemberitahuan pemberangkatan. Bagas akhirnya menengahi mereka dan mengajak mereka untuk berpisah secara baik-baik. Alhasil mereka menurut dan mulai meninggalkan pesan-pesan terakhir. Lalu Candra meneruskan ucapannya yang terpotong tadi setelah Rangga sudah masuk ke area penumpang untuk masuk ke kereta. "Gue cuma nurutin kata-kata Mbak Mei, dia belum siap ketemu lo waktu itu!" Rangga yang kini sudah ada di mbang pintu kereta pun mengacungkan jempol dengan senyuman maklum, ia mengerti, pasti sulit bagi Dinda bertemu dengannya setelah diusir oleh ibunya. Ia kemudian melambaikan tangan ke arah keempat sahabatnya, tersenyum meninggalkan keempatnya yang sudah menemani hari-harinya selama di SMA. Keempat sahabat Rangga pun ikut melambaikan tangan, mengantar kepergian Rangga dengan senyuman dan Bagas tak kuasa menahan tangisnya. Ia sedih melihat kepergian Rangga, belum lama Wisnu yang pergi, sekarang Rangga. Akhirnya setelah masa SMA selesai, sahabat belum tentu bisa bersama. Entah karena tidak ingin atau tidak bisa, mereka punya kesibukan sendiri-sendiri yang tak dimengerti orang lain. Satu hal yang kita perlukan untuk tau, jangan sedih ketika mereka pergi dan mengabaikan kita setelah menemukan circle baru. Simpan saja mereka sebagai kenangan baik kita, kalau suatu hari bertemu, baru mulai menyapa lagi tetapi jangan baper atas pencapaiannya. Dia teman kita dan akan selalu menjadi seperti itu yang tak bisa selalu harus di sisi kita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD