Bab 2. Lili.

942 Words
[ AGUS BARON ] . . Bab 2. Lili. . . Pagi hari di halaman belakang rumah bangsawan Baron. Agus Baron sedang berlatih pedang di temani oleh kakak nya bernama Zidane Baron. Zidane lebih unggul dalam latihan, Agus tak mampu mengimbangi kemampuan kakak nya. Lili, gadis berusia 11 tahun tampak khawatir jika Agus akan mendapatkan luka memar lagi. "Huaath!" "Bagus! Sedikit lagi kau bisa mengenai ku!" "Aku pasti bisa Mengenai mu, Kak!" Agus menyerang dengan teknik yang ia buat sendiri untuk bisa mengimbangi Zidane. "Hah! Hilang?" Agus tak sadar kalau kakaknya sudah berada dibelakang dan menodongkan pedang kayu di leher.  "Kau kalah lagi." 'Kakak selalu bisa lebih unggul dari ku, haah...' Agus membatin sembari melihat gagang pedang yang ia pegang.  "Kak, aku juga ingin kuat seperti, Kak Zidane." Tatapan mata yang penuh keyakinan menatap dengan tegas ke arah mata Zidane, ia yang tiba-tiba tersenyum bangga. "Bagus, kau Adikku yang selalu bisa aku andalkan." Menepuk bahu kanan, pergi meninggalkan Agus yang Zidane lakukan seperti biasanya setiap selesai latihan. Agus menghampiri Lili yang berdiri dekat bangku taman berwarna coklat, dan masih saja cemas walaupun latihan sudah selesai.  "Lili, kamu tegang sekali, aku tidak apa-apa kali ini. Lihat tanganku juga tidak memar lagi kan?" Agus menarik kedua lengan kemeja putih miliknya, dan menunjukkan kalau tangannya tak ada bekas memar lagi. "Tuan muda, saya cemas kalau tuan terlalu memaksakan diri." "Dasar kamu ini selalu cemas seperti seorang istri." "Mmm...bukanya begitu," kata Lili dengan gugupnya. Lili selalu mendapatkan kata-kata seperti itu dari tuan mudanya.  "Saya, hanya ingin tuan selalu sehat tanpa sedikitpun ada luka memar dan lecet." "Kamu itu terlalu berlebihan. Mana roti isinya?" "Ah, iya ini saya bawa." Lili membawa keranjang berbentuk kotak berisik roti isi tomat dan daging sapi panggang. "Tuan, kenapa?" Agus melirik Lili yang bingung karena Agus tak menggigit sedikitpun roti yang ia pegang.  "Aku bosan makanannya selalu aneh." "Tuan, tidak suka?" "Iya, aku lebih suka nasi goreng buatan ku sendiri. Lagi pula siapa yang masak masakan aneh begini?" Agus terpaksa menggigit roti yang ia pegang dan menghabiskannya.  "Tuan, selalu malu-malu padahal suka." "Hehe, salah satu keisengan ku." "Keisenganku?" "Ehem! Maksudku kenakalan ku." 'Ya Tuhan, aku selalu mengikuti bahasa lama anak muda di Indonesia dulu...mungkin karena rindu,' kata batin Agus. "Lili, ayo kita pulang. Aku mau mandi." "Iya tuan." Agus dan Lili memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Mereka melewati halaman yang penuh bunga mawar putih.  "Ibu suka sekali mawar putih," kata Agus. Ia memetik setangkai bunga dan memberikan kepada Lili. "Ini untuk mu, terimakasih atas semuanya, Lili." "Iya tuan." Lili menerimanya. Dan tersenyum ketika melihat bunga itu.  'Tuan benar-benar yang paling baik,' kata batin Lili. Di dalam kediaman rumah keluarga Baron, semua pelayan sibuk menyiapkan acara perjodohan Zidane Baron dan Vivi Baronet. Agus tak menyangka kalau kakaknya akan bertunangan di usia yang sangat muda. Baronet bangsawan yang lebih rendah statusnya di banding Baron, hanya berbeda 1 tingkat. Baron dan Baronet memiliki rencana untuk bekerjasama dengan ikatan pertunangan dan akan menikahkan anak mereka ketika usia 15 tahun. Zidane dan Vivi hanya perlu menunggu setahun dan mereka pun akan menikah secara resmi.  Sedangkan Agus selaku anak kedua di usianya ke 15 tahun nanti ia akan keluar dari rumah dan menentukan jalan hidupnya sendiri. "Kalian lambat sekali kerjanya." Zidane paling tidak suka dengan pelayan yang lambat dan tak cekatan untuk mengerjakan sesuatu. Agus hanya tersenyum ketika menuju arah Zidane. "Kak, jangan terlalu keras kepada mereka." "Kamu itu terlalu memanjakan para pelayan kita." "Bukannya begitu, aku hanya kasihan saja." "Kau terlalu baik...itu kelemahan terbesar mu, Agus." "Apa iya?" Agus pamit untuk pergi ditemani oleh Lili yang selalu ada disebelah Agus. Zidane melihat ke arah Agus yang mulai menjauh dari Hadapannya. "Kau terlalu baik, Adikku." 'Aku takut suatu saat dia akan dibodohi karena kebaikannya,' kata batin Zidane. Yang Zidane takutkan hanya satu jika adiknya akan tertipu oleh seseorang suatu saat nanti. Di dunia baru ini benar-benar keras dan apapun cara akan dipakai selama itu sangat menguntungkan. Seorang bangsawan pun ada yang memiliki bisnis yang sangat menyedihkan yaitu memperjualbelikan belikan b***k yang terdiri dari anak-anak yatim piatu. Agus sudah tahu tentang semua sistem dalam dunia baru nya. Kekhawatiran Zidane tak akan pernah terjadi jika Agus suatu saat mengalami keadaan yang paling buruk. Seorang yang sudah mempelajari sistem seperti itu akan sangat paham dan waspada dari siapapun. Malam harinya acara pesta pertunangan Zidane dan Vivi di mulai. Vivi Baronet yang masih 14 tahun, ia terlihat sangat anggun dengan gaun berwarna merah.  "Pertunangan anak kecil." "Anak kecil? Maksud tuan?" Lili tak mengerti dengan gumaman Agus ketika selesai minum jus jeruk. Agus tersenyum melihat Lili yang ingin tahu maksud ucapannya.  "Aku hanya berpikir kalau Kakak ku terlalu muda untuk tunangan dan menikah tahun depan." "Saya pikir, tuan Zidane, sudah dewasa." "Iya kalau di sistem dunia ini dewasa, kalau di dunia asalku beda ceritanya." "Maksud tuan?" "Sstt...aku cuma bicara sendiri." Para tamu undangan menyambut dengan tepuk tangan sebagai ucapan selamat pertunangan Zidane dan Vivi. Vivi Baronet, gadis bersurai merah muda dengan warna mata yang senada dengan warna rambutnya benar-benar terlihat cantik.  "Dia mengagumkan pantas Kakak sangat setuju kalau tunangan dengan dia."  Lili melihat ekspresi yang tak biasa. Agus memikirkan 4 tahun kedepan bagaimana ia bisa menjalani hidup nantinya. "Apa tuan juga menyukai nona Vivi?" Agus menoleh dan tersenyum menyambut pertanyaan Lili. "Aku tidak menyukai anak-anak, kamu salah paham Lili." "Maaf, saya kira anda cemburu." "Hahahaha, mana mungkin." Lili tersenyum dan membatin, 'untunglah kalau tidak cmburu.' Gadis yang berstatus hanya sebagai pelayan dengan penampilan yang biasa saja, rambutnya berwarna cokelat senada dengan warna mata miliknya, ia melihat Agus dengan tatapan yang berbeda. Agus yang merasa diperhatikan hanya membalas dengan senyuman. "Kau melihatku seperti sedang jatuh cinta saja." "Maaf, saya tidak pernah berpikir ataupun sampai seperti itu." "Mmm...tidak apa...tak ada yang melarang apapun yang Lili pikirkan. Kalau jodoh siapa tau kita akan jadi suami istri," kata Agus. Lili hanya diam dan tertunduk malu karena tuannya mulai bercanda lagi.  'Aku tau kau suka denganku, hebat kalau aku tidak tau yang kau pikirkan Lili,' kata batin Agus penuh percaya diri. . . . . Bersambung. Note : Hahahaha, bapak-bapak usia 48 pasti peka :v 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD