Bab 3. Pandangan Orang

927 Words
Bab 3. Pandangan Orang . . . . Banyak yang berbisik-bisik di acara pesta. Mereka membisikan nama seorang bocah yang ada dalam pesta, bocah usia 11 tahun, anak kedua keluarga Baron yang memiliki fisik berbeda dari kedua orang tua nya dan kakaknya. 'Lihat dia itu rambut dan matanya berwarna hitam. Apa mungkin dia akan jadi Raja iblis?' Untunglah kedua orangtuanya Agus tak mempedulikan rumor dan legenda tentang anak yang memiliki rambut dan mata hitam kelak akan menjadi Raja Iblis. "Lili, kamu kenapa?" "Selalu saja begini...tuan muda selalu dipandang seperti itu." "Biarkan saja, mereka punya penilaiannya sendiri dalam menilai orang lain..." "Tapi tuan mud-." "Kita nikmati pestanya saja ya." Bangsawan yang menghadiri pesta hanya sampai bangsawan kelas menengah kebawah. Bangsawan yang berkedudukan di atas menengah tak mungkin mau hadir dalam acara pesta bangsawan bawah seperti Baron.  Kedudukan dan nama besar sangat penting di dunia ini. Anak seorang bangsawan saja tak akan mau hadir jika hanya pesta bangsawa yang lebih rendah. Hidangan menu dalam pesta pertunangan kali ini sangat berbeda dengan yang lain. Agus sengaja membuat nasi goreng dan sate ayam menjadi menu utama. Agus ingin sekali masakannya akan dinikmati orang dari luar lingkungan Baron. "Wah, sate ini rasanya sangat berbeda dari biasanya!" "Benar sekali, aku jadi ingin bertemu siapa koki nya!" "Mmmn...nasi goreng ini enak, aku jadi ketagihan." Agus tersenyum puas karena banyak yang suka dengan masakannya. Lili ikut tersenyum karena Agus terlihat senang karena masakannya disukai para pengunjung pesta. "Tuan William, saya kagum dengan koki anda. Apakah saya boleh bertemu dengan koki anda?" "Koki? Sebenarnya yang memasak ini semua adalah anak kedua ku." "Apa? Apa anda serius kalau tuan muda Agus memasak masakan seenak ini?" tanya seseorang bangsawan kelas bawah bernama Alex Baronet. Agus yang berdiri bersama Lili, Agus menjadi sorotan semua pengunjung pesta. Anak kedua Baron memasak sudah bisa dibilang aneh? Apalagi masakannya sangat nikmat. "Zidane, apa benar adikmu yang memasak ini semua?" "Ya, dia dari umur 6 tahun sudah membuat nasi goreng." Vivi Baronet tunangan Zidane Baron. Vivi sampai dibuat malu jika ia harus jujur karena tidak bisa masak. Masakan sudah diurus oleh para pelayan.  "Selain masakan ini tidak pernah kulihat, ternyata yang membuatnya adik Zidane." Zidane tak terlalu peduli Vivi bisa masak atau tidak karena semua sudah ada yang mengurus nya lagi pula masakan hanya bisa dimakan. Banyak yang mengerumuni Agus untuk bertanya apa saja bumbu dan cara memasak menu yang aneh itu. Agus hanya tersenyum garing ketika ada yang bilang kalau masakannya masakan aneh. Di dunia baru ini masakan mereka sangat tak enak untuk dimakan, roti saja sangat keras. Daging panggang pun hanya berasa asin namun jadi menu utama keluarga bangsawan, Agus menilai kalau di dunia baru nya tak memiliki pengetahuan menggunakan bumbu yang benar untuk memasak. "Saya sangat senang kalau hadirin sekalian menyukai masakan saya. Sebenarnya masih ada menu lagi sebagai penutup." "Sungguh!" "Anak ini ternyata punya bakat yang luar biasa." "Aku penasaran apa menu penutupnya!" William dan Elisa senang karena anak kedua mereka bisa diterima walau duluan nya selalu dicap sebagai anak iblis. Zidane melihat adiknya sendiri dengan tatapan tegas. Memiliki adik dengan hobi memasak bukan bertarung untuk bertahan hidup di masa depan sangatlah menyebalkan. Zidane sebenarnya lebih memikirkan kehidupan Agus di masa mendatang. Di usia 15 tahun nanti Agus akan keluar dari lingkungan Baron, ia akan berpetualang mencari kehidupannya sendiri. Zidane tak pernah mengerti bagaimana bisa aturan bangsawan begitu kejam dan lebih mengutamakan anak pertama. 'Adikku tak mungkin meracuni ku untuk merebut posisi. Dia punya pola pikir berbeda dari yang lain. Dia tersenyum senang apapun yang terjadi. Andai saja semua peraturan ini tidak ada.' "Es buah?!" beo para pengunjung pesta. "Saya menyebutnya seperti itu tampilan semua bisa membuat para hadirin suka...mengenai rasanya anda bisa mencicipinya. Kedua orangtuanya Agus sekaligus kakaknya terkejut karena menu ini belum mereka ketahui. "Es buah?!" Zidane penasaran dengan rasa minuman yang ia lihat, ternyata sihir es bisa dimanfaatkan sebagai minum untuk penghilang dahaga di musim panas. 'Banyak sekali potongan buahnya, airnya juga manis, segar sekali,' Zidane membatin untuk menilai yang ia minum. Kali ini ia harus menarik Kata-katanya kalau masakan hanya bisa untuk dimakan namun berbeda dengan es buah ini. 'Sial, segar sekali.' Dalam es buat hanya ada potongan semangka, nanas, melon dan pepaya semua dipotong menyerupai dadu kecil. Agus menggunakan s**u dan madu untuk meningkatkan rasa manisnya. William dan Elisa, sekaligus para pengunjung di pesta bisa melihat masa depan Agus sebagai anak kedua akan dapat gelar nya sendiri jika bakatnya bisa diakui sang Raja. Setelah acara pesta selesai tak lama kemudian kabar itu sampai di telinga bangsawan teratas, Duke. Bangsawan Duke adalah bangsawan teratas kepercayaan sang Raja, Duke juga berkesempatan kalau keturunan mereka bisa menjadi Raja dan Ratu di masa depan. Walaupun hanya masakan dan minuman namun itu adalah sesuatu yang menguntungkan para bangsawan bisa memanfaat nya sebagai terobosan baru di hidangan menu kelas atas dengan harga yang tinggi. "Aduh, banyak sekali permintaan nya." "Sebaiknya kamu tidak memberitahu resepnya." "Kenapa Kak?" Di kamar Agus, Zidane menjelaskan apa yang akan terjadi jika resep itu sampai diketahui orang lain? Zidane ingin resep itu jadi rahasia keluarga karena lumayan menguntungkan dan mengangkat nama keluarga bangsawan mereka. Agus mengerti maksud dari Zidane yang tak ingin es buah yang ia suka sampai diketahui rahasianya, masalah nasi goreng dan sate, Zidane tidak peduli. "Sebenarnya es masih banyak jenisnya, Kak, masih ada es kelapa muda, es kopi, es rujak, es krim." "Apa! Cepat buatkan aku!" "Astaga! Sampai kaget!" Agus tak menyangka kalau kakaknya yang selalu bersikap tenang langsung berubah ketika membahas es. Ternyata Zidane lebih suka minuman segar dan dingin. Masalah utamanya adalah bahan yang dibutuhkan. Zidane mencatat bahan apa saja yang ia perlukan. "Kulkas?" "Kita butuh itu, kak." Zidane tak mengerti apa itu kulkas ketika Agus menjelaskan semakin Zidane tak mengerti karena penjelasan Agus diluar nalar manusia biasa. "Tapi kita bisa pakai penyihir kelas bawah untuk membekukannya." "Mmm...jadi begitu." Zidane mencoba memahami jalan pikir adiknya yang rumit. . . . . Bersambung Note : Waduh, jadi masak-masakan, hahahaha....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD