Tanganku digenggam erat olehnya, aku bisa merasakan bahwa rasa sakitnya datang lagi. Suzune menyentuh perut Hinata tepat dibagian pusarnya yang terlihat menonjol, kilatan kulit Hinata terlihat jelas di perutnya yang besar, lama Suzune menyentuh perut Hinata dan ia menarik tangannya lagi setelah rasa sakit yang Hinata rasakan telah hilang, susah payah Hinata menarik nafas panjang.
Hinata kembali ke memposisikan dirinya miring ke kiri setelah ia diminta untuk berbarin terlentang sebentar hanya untuk mengecek denyut jantung janin yang ada dalam kandungannya. Aku mencium puncak kepala Hinata, rambut hitam keunguannya terlihat berantakan, aku menggunakan jemariku untuk merapikan rambutnya. Untuk kesekian kali Hinata mengambil nafas panjang.
“Kontraksinya susah bagus dan teratur, aku yakin bayinya akan segera lahir mengingat Hinata sudah buka 5 cm.” Jelas Suzune.
“Syukurlah, aku akan menemaninya disini.”
“Tentu, kau boleh mendampingi Hinata sampai bayinya lahir. Tak ada larangan untuk keluarga menemani ibu bersalin.” Ucapnya tersenyum “Aku akan menemui nona Tsunade.” Ujarnya mulai meninggalkan ruangan bersalin dimana Hinata berjuang untuk melahirkan anak pertama kami.
Aku kembali fokus pada Hinata, jemari tangannya ada dalam genggaman erat kedua tanganku, sesekali aku menciumnya dan berharap kedua manusia yang aku sayangi di depanku sekarang bisa selamat.
Aku teringat dimana saat aku dan Hinata saling bercinta sesaat sebelum Hinata merasakan sakit perutnya lebih besar dibandingkan hari-hari yang lalu hanya terasa sedikit sakit kemudian menghilang. Aku benar-benar kelabakan saat itu, aku merasakan perasaan didalam diriku antara takut, khawatir terjadi apa-apa pada keduanya, dan bingung semua bercampur menjadi satu. Otakku tertuju pada Sakura-chan, dialah satu-satunya wanita ninja medis terbaik di Konoha yang selalu membantuku jika Hinata mengalami masalah kehamilannya. Tapi sekarang, Sakura-chan memilih meninggalkan Konoha karena keinginannya mencari suaminya Sasuke-padahal Sakura-chan sudah hamil hampir 9 bulan. Cepat-cepat aku segera membawa Hinata ke rumah sakit Konoha dan Suzune lah yang menangani Hinata dibawah pengawasan nenek Tsunade tentunya.
“Mau minum Hinata?.” Tawarku padanya, ia mengangguk. Aku meraih gelas panjang berisi penuh air gula hangat untuk mengumpulkan energi dalan tubuh Hinata guna persalinan nanti.
Hinata menyesapi minuman itu perlahan melewati lubang sedotan panjang. Bibirnya melepaskan ujung sedotan jikaia merasa sudah cukup untuk minum.
“Naruto-kun, aku lapar.” Ujarnya padaku.
Segera aku mengambil kotak makanan yang sudah dipersiapkan oleh bayangan kloninganku, jadi aku sedikit terbantu karenanya. Aku menyuapi Hinata perlahan, wanita manis yang terbaring tidur dengan posisi miring kekiri itu menikmati makanannya sedikit demi sedikit. Tampak sekali peluh dari wajahnya, Hinata tahu bahwa ia masih memasuki tahapan awal untuk melahirkan anak di dalam kandungannya.
Setengah porsi makanan dalam piring porselen telah habis Hinata santap, ia memintaku untuk membantunya bangun dari tempat ia berbaring. Perlahan Hinata berjalan kearah jendela dan kedua matanya tertuju pada gelapnya langit malam dengan taburan berbagai kilauan permata yang mengelilingi induknya yaitu bulan.
“Naruto-kun.” Panggilnya, aku segera mendekat padanya.
Hinata segera mengayunkan kedua tangannya ke tengukku, ia bersandar pada tubuhku sebagai penompangnya. Wajah manisnya tenggelam diatas dadaku-betapa romantisnya posisi ini, andai keluarga Hinata datang pasti aku lah yang malu.
“Naruto-kun, tolong masase punggungku sampai ke pinggang!.” Sahutnya padaku, aku menuruti apa kemauannya. Kedua tanganku melakukan masase pada daerah punggung hingga ke pinggang Hinata-aku melakukannya berulang-ulang untuk membuatnya merasa lebih ringan dan setidaknya bisa mengurangi sedikit beban sakitnya.
Untuk kesekian kalinya Hinata menarik nafas panjang berulang-ulang-terasa sekali hangatnya hembusan nafas Hinata pada lengan kananku saking kerasnya ia menarik nafas dan mengeluarkannya. Tangan kiriku beralih mengelus perutnya, aku merasakan perut Hinata mengeras seperti dinding disaat ia merasakan sakit, lama kelamaan perutnya kembali melembek dan tidak terasa keras lagi disaat Hinata sudah tidak merasakan sakit-Suzune san mengatakan padaku bahwa hal yang dialami Hinata saat ini dinamakan kontraksi.
Dercit suara pintu terbuka perlahan, tampak wanita bertubuh seksi dengan rambut panjang terikat menjadi dua dan dibiarkan menjuntai kebelakang, tanda Sozo Saisei menjadi ciri khas wanita yang terlihat santai namun menakutkan dan jangan salah sangka meskipun tubuhnya muda dan seksi sebenarnya tubuh tua renta lah yang tersembunyi apik dibaliknya merupakan tubuh aslinya.
Senyumannya membuyarkan keheningan yang kami ciptakan di ruangan ini.
“Bagaimana perasaanmu Hinata?.” Tanya Tsunade.
Suzune menutup pintunya kembali setelah mereka berdua sudah berada di dalamnya.
“Baik, hanya sering sakit dan rasanya ingin ngejan-ngejan terus.” Jawab Hinata.
“Jangan ngejan dulu. Jika sakit tarik nafas panjang dari hidung keluarkan lewat mulut.”
“Sakutnya datang lagi, Naruto-kun.” Jerit Hinata, kedua lengannya mempererat pelukan padaku, rasa sesak tak bisa bernafas menyerangku. Kedua tanganku tak henti-hentinya memasase punggung sampai ke pinggangnya.
“Kontraksi lagi.” Ujar Tsunade.
“Kontraksinya kapan akan berhenti Nenek?.” Tanyaku penasaran.
“Nanti setelah bayinya lahir pasti sakitnya juga akan hilang.” Jawab Tsunade membenarkan ikatan rambut Hinata yang memugar dan berantakan.
“Celana dalamku sempat ada bercak kecoklatan tadi.” Ujar Hinata.
Tsunade tersenyum “Itu tak apa-apa, dalam bahasa medisnya disebut bloody show karena lendir ini bercampur darah. Itu terjadi karena pada saat menjelang persalinan terjadi pelunakan, pelebaran, dan penipisan mulut rahim. Menjelang persalinan terlihat lendir bercampur darah yang ada di leher rahim tersebut akan keluar sebagai akibat terpisahnya membran selaput yang mengelilingi janin dan cairan ketuban mulai memisah dari dinding rahim.”
“Apa hal itu juga berhubungan dengan rasa mules yang dirasakan oleh Hinata, Nek?.”
Tsunade mengangguk “Iyaa, karena adanya kontraksi maka terjadilah pelunakan, penipisan dan pelebaran pada mulut rahim yang biasanya disebut sebagai pembukaan. Biasanya pada Ibu hamil dengan kehamilan pertama, terjadinya pembukaan ini disertai nyeri perut. Sedangkan pada kehamilan anak kedua dan selanjutnya, pembukaan biasanya tanpa diiringi nyeri. Rasa nyeri terjadi karena adanya tekanan panggul saat kepala janin turun ke area tulang panggul sebagai akibat melunaknya rahim. Untuk memastikan telah terjadi pembukaan, tenaga medis biasanya akan melakukan pemeriksaan dalam atau vaginal touche.”
Lengan Hinata memeluk erat tubuhku lagi “Ugghh…”
Aku kembali mengelus punggung hingga ke pinggangnya, sekali-sekali aku mengelus perutnya “Tarik nafas panjang lewat hidung Hinata, keluarkan lewat mulut.” Kataku memberikan motivasi. Wajah Hinata memerah, peluh di wajahnya menggambarkan bahwa energinya benar-benar terkuras, aku mengambil handuk kecilku dan mengusapkannya pada dahi hinata hingga ke dagu.
Pelukan Hinata melonggar-menandakan bahwa rasa sakit yang ia rasakan sudah berkurang.
“Hinata, silahkan kembali tidur, aku akan memeriksa sudah berapa bukaannya.” Ujar Suzune pada Hinata.
Hinata beralih menjauh dariku, ia kembali perlahan ke tempat tidur. Aku mmbantunya hingga ia berbaring pada bed berlapis kain putih dengan pelindung kain plastik diatasnya untuk mencegah darah Hinata merembes ke bed nantinya.
Suzue segera mengambil handscoone dan melumasinya dengan VCO, ia segera melakukan pemeriksaan dalam.
“Buka 7.” Ujar Suzune “Ketubannya utuh dan menonjol sekali.” Imbuhnya sembari mengeluarkan kedua jari telunjuk dan tengahnya dari dalam jalan lahir Hinata.
“Akankan ketubannya pecah jika terlalu menonjol?.” Tanyaku khawatir.
Tsunade sedikit berfikir “Bisa saja pecah. Pecahnya ketuban merupakan tanda selanjutnya, didalam selaput ketuban atau korioamnion yang membungkus janin, terdapat cairan ketuban sebagai bantalan bagi janin agar terlindungi, bisa bergerak bebas dan terhindar dari trauma luar.Terkadang ibu tidak sadar saat sudah mengeluarkan cairan ketuban dan terkadang menganggap bahwa yang keluar adalah air seninya. Cairan ketuban umumnya berwarna bening, tidak berbau, dan akan terus keluar sampai ibu akan melahirkan. Keluarnya cairan ketuban dari jalan lahir ini bisa terjadi secara normal namun bisa juga karena ibu hamil mengalami trauma, infeksi, atau bagian ketuban yang tipis atau locus minoris berlubang dan pecah.Setelah ketuban pecah ibu akan mengalami kontraksi atau nyeri yang lebih intensif.
Terjadinya pecah ketuban merupakan tanda terhubungnya dengan dunia luar dan membuka potensi kuman serta bakteri untuk masuk kedalam rahim. Karena itulah harus segera dilakukan penanganan dan dalam waktu kurang dari 24 jam bayi harus lahir apabila belum lahir dalam waktu kurang dari 24 jam maka dilakukan penanganan selanjutnya misalnya operasi yang disebut sebagai operasi sesar.” Jelas Tsunade panjang lebar.
Hinata menggeram lagi, ia merintih tertahan menahan rasa sakitnya.
“Tarik nafas seperti tadi Hinata.” Titah Tsunade “Kau pasti bisa, sudah buka 7, tinggal sedikit lagi. Bersabarlah dan tetap semangat.” Ujar Tsunade mencoba memberikan semangat.
“Kalau bisa makan dan yang banyak, untuk persiapan tenaga mengejan nantinya.”
Hinata mengangguk “Iyaa.” Jawabnya pendek, ia kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut untuk kesekian kalinya. Rasa sakit yang dialami Hinata semakim sering timbul dan semakin lama frekuensi sakitnya.
“Miring kiri Hinata, agar bayinya cepat turun dan cepat lahir.” Titah Suzune.
Hinata menggeser dan mengangkat tubuhnya sedikit untuk meraih posisi miring yang ia rasakan paling nyaman. Di sela-sela ia membenahi posisinya kontraksi perutnya timbul kembali. Aku sigap segera meraih pinggang Hinata dan memasasenya dengan sedikit menekannya. Tubuh Hinata yang awalnya kaku jadi terasa lemas dibawah tanganku.
“Kaki kiriku kram.” Ujar Hinata tak lama kemudian “Tak bolehkah aku pindah posisi?.” Tanyanya pelan.
“Boleh, tentu boleh. Miring kanan ataupun jalan-jalan silahkan saja Hinata, asalkan kau masih kuat dengan pembukaan yang sudah semakin melebar.” Jawab Tsunade.
“Memangnya sudah menjadi keharusankah miring ke kiri?.” Tanyaku penasaran-biasanya aku membanjiri Sakura banyak pertanyaan, karena dia sedang berkelana bersama Sasuke makanya pelampiasanku ke Nenek Tsunade dan Suzune-san.
Tsunade duduk bersilakan kaki dengan posisi yang tumben sekali anggun untuk ukuran wanita seperti dirinya, dengan tatapannya yang santai tapi serius nenek Tsunade kembali bersiap untuk menjelaskan “Bagi yang sudah pernah melahirkan pervaginam atau normal pasti pernah mengalaminya, yaitu saat menunggu pembukaan lengkap disuruh tidur miring kiri istilah lainnya left lateral position, oleh tenaga medis yang mengawasi proses persalinan. Naruto, kau sudah pernah baca postingan di Internet tentang gerakan atau jurus bayi dalam proses persalinan?, hal ini berhubungan dengan hal tersebut. Yaitu gerakan kepala bayi saat didasar panggul atau internal rotation. Sebetulnya nggak selalu harus miring kiri, bisa juga miring kanan.” Jelas nenek Tsunade rinci.
“Kok bisa begitu?.” Tanyaku menunggu, Hinata terfokus dengan teknik relaksasi yang ia lakukan sedari tadi ketika kontraksi timbul menyerangnya.
Nenek Tsunade kembali menjelaskan “Iyaa, itu tergantung dengan posisi ubun2 kecilnya atau pada letak belakang kepala bayinya di kiri atau kanan. Kalau letak muka tergantung dimana dagunya dan seterusnya.” Jelas nenek tsunade.
“Bagaimana bisa tahu letak penunjuknya?.” Tanya Hinata sedikit mengangkat tubuhnya untuk memperbaiki posisi tidurnya yang ia rasa tak nyaman.
“Tentunya dengan pemeriksaan dalam yang istilahnya tadi Vaginal Toucher atau Vaginal Tuse yang benar, maka posisi bagian2 penunjuk ini bisa diketahui.” Ujar nenek Tsunade tersenyum “Guna posisi miring ini agar internal rotasi ini bisa berlangsung lebih cepat dan sempurna. Makanya Hinata, kau harus patuh mengikuti arahan tenaga medis kalau disuruh miring kesalah satu posisi. Banyak ibu bersalin yang karena rasa sakit persalinannya jadi nggak peduli jika disuruh untuk tidur miring. Dan apa akibatnya? Putaran paksi dalam atau internal rotasi tidak berlangsung sempurna dan cepat atau malah salah putar, selanjutnya terjadilah kemacetan pada persalinannya nanti.” Imbuhnya memyelesaikan penjelasan.
Aku memangut-mangutkan kepala pertanda bahwa aku sudah memahaminya.
“Naruto-kun ada sesuatu yang keluar.” Kata Hinata merasakan ada yang keluar dari jalan lahirnya.
Suzune segera menghampiri Hinata, ia segera menyingkap kain linen yang menutupi tubuh bagian bawah Hinata yang terlapisi oleh lapisan Underpad hijau.
Segumpulan cairan berwarna kuning jernih mengalir dari dalam organ vital Hinata, cairan itu terus merembes keluar tanpa henti.
Suzune segera mengambil handscoone dan melumasinya dengan VCO, dua jemari tangannya dengan lincah melakukan pemeriksaan dalam.
“Ketubannya sudah pecah, selaput ketubannya sudah tak ada dan porsionya sudah tidak teraba Nona Tsunade, Ubun-ubin kecil berada di jam 12.” Ujar Suzune meraba jalan lahir Hinata.
“Yukkk, Hinata siap-siap untuk melahirkan bayi di dalam kandunganmu sekarang.” Ajak Tsunade sembari mendekatkan peralatan persalinan ke tempat tidur Hinata.
Jantungku semakin berdegup kencang karena melihat perjuangan Hinata melahirkan anak pertama kami, aku menggenggam erat bahunya karena aku berperan untuk membantu memposisikan Hinata untuk meneran, lengan kananku terasa hangat dan basah karena peluh Hinata yang semakin membanjiri wajahnya, rambutnya yang pendek menjadi klemis karena basah terkena keringatnya. Sesekali aku memberinya air manis yang hangat di sela-sela ia berjuang untuk meneran.
Satu kontraksi Hinata berusaha meneran sebanyak tiga kali dan tak lama suara melengking tinggi khas seorang bayipun memecahkan ketegangan di ruang bersalin tempat Hinata melahirkan buah cinta kami.
Sesosok manusia kecil yang penuh dengan cairam lendir dan lumuran lemak putih berada di gendongan Suzune, tangannya cekatan untuk membersihkan tubuh bayi kecilku. Aku menatapnya, aliran hangat jatuh dari kelopak mataku hingga mengalir membasahi kedua pipiku-aku bangga sekali, aku telah menjadi ayah. Aku tahu apa yang dirasakan oleh ayahku yang dikenal sebagai hokage keempat ketika aku lahir di dunia ini-Inikah rasanya menjadi seorang ayah? Untuk pertama kalinya di dalam hidupku dan untuk selamanya.
Suzune menyerahkan bayi kecil yang sudah bersih dan terbungkus rapi di dalam kehangatan kain lembut berwarna lavender. Bibir mungil berwarna merah muda berulang kali menguap dan berusaha mencair sesuatu-aku menangkap isyarat bahwa bayiku lapar.
Aku mengelus rambutnya yang sangat mirip denganku dan untuk pertama kalinya sepasang mata jernih berwarna biru saphire sama seperti mataku dan ayahku menatapku dalam sekilas kemudian kembali terpenjam untuk tidur.
Aku menciumnya dengan rasa sayang “Selamat datang di dunia buah hati tercintaku, Boruto.” Kataku berbisik di telinganya, untuk kesekian kali air mataku membasahi kain yang membungkus tubuh Boruto.
“Aku telah menjadi seorang Ayah, Hinata.” Ujarku senang.
Hinata tersenyum ditengah-tengah peluhnya, ia masih terlihat sangat kecapaian.
“Keluargaku akan semakin berwarna sekarang.” Sahutku mencium buah hati kecilku dan disambut dengan lengkingan keras suara Boruto menangis.