EMPAT

3387 Words
Cita-cita menjadi Hokage yang selama ini aku harapkan akhirnya tercapai, setelah peresmianku beberapa hari yang lalu sebagai Hokage ketujuh karena Kakashi Sensei memilih untuk berhenti dari jabatannya sebagai Hokage keenam karena sesuatu hal-kalau aku tebak sih Kakashi Sensei memang ingin pesiun diumurnya yang sudah mulai menunjukkan angka menuju masa tua, kini aku benar-benar menjadi pemimpin desa. Aku menatap jubah putih dengan huruf kanji merah terukir di bagian belakang jubah ‘Nanadaime Hokage’ sebuah nama yang diamanahkan untukku. Tak ketinggalan sebuah topi merah sebagai ciri khas warna lambang desa Konoha yang mengusung arti Api. Tanpa lelah senyumanku terus tersungging dengan lebarnya, berkali-kali aku menepuk dan mencubit pipiku kalau-kalau aku hanya mimpi. Akan tetapi, rasa sakitlah yang aku rasakan. Kesimpulan yang dapat aku raih ialah aku tidaklah mimpi, ini kenyataan. Hembusan angin menerobos jendela kamarku yang terbuka lebar, udara pagi menyambutku. Sudah satu minggu aku menempati ruangan Hokage, dan sudah satu minggu pula aku bertugas memimpin desa. Aku tak pernah menyangka kalau tugas Hokage begitu banyak seperti rapat ini itulah, pertemuan rutin di desa sampai pertemuan lima kage, belum lagi banyaknya lembaran-lembaran yang mengajukan sebuah petisi dari negara lain ataupun sebuah misi yang nantinya melibatkan para shinobi konoha bertugas melaksanakan sebuah misi sesuai dengan kemampuan mereka. Aku menatap pojok kamar, sebuah meja yang awalnya sebagai tempat beberapa foto yang merekam momentku dan Hinata dengan berbagai warna bingkai yang lucu dipandang mata sekarang berubah menjadi tempat penyimpanan dokumen yang aku bawa dari ruangan hokage ke rumah-karena tak ada banyak waktu untuk mengolah mereka di dalam kantor hokage jadi aku membawanya untuk melanjutkannya di rumah. Semenjak aku menjadi Hokage, aku merasa seluruh kehidupanku berubah 180 derajat, aku lebih banyak mengontrol kemajuan desaku, daripada Istriku sendiri yang sedang hamil tua-padahal kali ini minggu-minggu terberat dalam kehidupan kami berdua terutama aku. Terkadang aku bertingkah berlebihan, jika Hinata tiba-tiba melahirkan tanpa aku disisinya, tapi aku tak kehabisan akal, aku menggunakan bayanganku untuk mengawasi Hinata kemanapun dan apapun yang dia lakukan. Suara langkah kaki membuyarkan lamunanku, aku mengalihkan perhatianku dari meja yang penuh dengan dokumen ke pintu. Hinata berjalan perlahan, ia sudah terbiasa dengan kandungannya yang sudah berusia tua dan semakin mendekati tanggal persalinan. Hinata tampak baik dan biasa saja tanpa ada rasa was-was di wajahnya-padahal disini aku merasaan diriku sendiri lah yang was-was, khawatir, dan takut menjadi satu jika membayangankan bila hari itu tiba. Asal tahu saja, sifatku yangterkadang berlebihan ini membuat Hinata menghiburku, padahal aku tahu seharusnya akulah yang menghibur dan mendukungnya. “Sarapan dulu Naruto-kun.” Ujar Hinata mengajakku untuk turun ke lantai satu untuk sarapan sembari ia meraih gantungan baju yang menggantung rapi jubah hokageku. Aku mengikuti Hinata dari belakang, tanganku meraih tubuhnya menuntunnya untuk menuruni tangga satu per satu. Hinata menggantung jubahku di tempat gantungan baju yang berdiri tegak di ruang tengah. Aku duduk dimana aku biasa menempatinya untuk menikmati setiap hidangan di meja makan. Hinata menyusulku, ia duduk tepat di depanku. “Itadakimasu…” Ujarku mulai menyantap makanan yang sudah Hinata persiapkan untukku. Aku menatap Hinata yang terdiam menatapku “Hinata tidak makan.” Tanyaku disela-sela aku mengunyah makanan. Ia mengangguk tertawa pelan “Nanti, aku masih kenyang.” “Kau tidak apa-apa?.” Tanyaku khawatir. Hinata menggeleng “Hanya terkadang perutku sedikit mulas. Tapi hanya sebentar dan hilang, terkadang muncul lagi sehari kemudian.” Jawabnya tersenyum,tangan lentiknya mengelus-elus perutnya yang membuncit. Aku merasa tubuhku membeku “Jika Hinata merasa ada yang tidak beres jangan diam saja yah, bilang padaku. Aku akan berusaha untuk selalu membantumu.” Jawabku memperingatkan. Ia mengangguk “Iyaa Naruto-kun aku paham, meski kau tidak ada disini, aku selalu di temani oleh bunshinnya Naruto-kun. Setidaknya kau bisa mengetahui apa yang terjadi padaku melewatinya kan.” Ujarnya sembari menyesapi segelas jus tomat. Aku mengangguk “Aku tetap harus melihatmu meskipun aku harus bertugas di luar rumah. Tapi kalau memang sudah waktunya melahirkan Hinata akan di temani petugas kesehatan. Bunshinku akan memanggil mereka.” Kataku dengan nada sedikit tegas. “Aku paham Naruto-kun.” Jawabnya mengangguk. Aku telah menghabiskan makananku, Hinata segera berdiri dan mengambil jubah hokageku. Ia membantuku mengenakan jubahku, tangan lentiknya mengikatkan tali jubahku. Aku menatap matanya yang teduh menatap fokus pada kegiatas yang ia lakukan. Aku meraih wajahnya dengan kedua tanganku, sediki aku mendongakan wajahnya biar sedikit sejajar dengan wajahku. Aku mencium bibirnya yang lembut, ia membalas ciumanku. Hinata menginjak kedua kakiku agar ia bisa mensejajarkan tingginya denganku, aku memindahkan tanganku kananku ke tenguknya dan tangan kiriku ke pinggangnya, menariknya lebih dekat dan erat denganku. Kakiku bergerak ke kanan dan ke kiri menirukan gerakan sepasang penari yang sedang berdangsa dengan iringan musik yang lembut. Aku melepas ciumanku “Ciuman pagi yang menggairahkan. Energiku sudah penuh. Terimakasih sudah membantuku mengisi energiku.” Rona merah muncuk dari wajahnya yang putih, ia menunduk malu. Hinata menurunkan kakinya dari kakiku, ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Aku mengambil kuda-kuda “Kage-bunshin no jutsu.” Seruku memunculkan kloning bayanganku. Kepulan asap putih muncul sejenak seiring dengan munculnya dua bunshin yang akan menemani Hinata di rumah-sebenarnya aku tak tega meninggalkannya di rumah meskipun itu dengan kedua bunshinku. Selama Hinata belum melahirkan aku akan mengerjakan tugasku sebagian di rumah, jadi lebih cepat dan hanya setengah hari aku akan berada di kantor Hokage-tapi jika itu tidak ada tambahan tugas. “Aku berangkat dulu Hinata.” Seruku berpamitan. “Tunggu.” Seru Hinata, sontak ia berjalan cepat ke dapur dan kembali lagi ke depanku sambil membawa kotak berukuran sedang terbungkus kain dengan lambang Uzumaki di tengahnya. “Kau melupakan ini.” Ujarnya menyodorkan kotak itu padaku. “Bekalku, terimakasih Hinata.” Sahutku meraih kotak itu dari tangannya. “Sama-sama, Hati-hati Naruto-kun.” Katanya dengan senyumnya yang lebar membuat wajahnya semakin manis. “Iyaaa, aku pergi dulu.” Ujarku sedikit berteriak “Kalian berdua jaga Hinata.” Teriakku lagi. Kedua bunshinku mengangguk “Kami tahu.” Jawabnya dengan nada sedikit kesal. Aku kembali mengerjakan aktivitas rutinku sebagai Hokage baru Ketujuh untuk desaku. Aku hanya berharap aku bisa membuat desaku semakin maju. ***___*** Aku duduk manis di kursi hokage bertemankan dengan tumpukan dokumen yang memuat sebuah petisi dari beberapa desa. Aku mengamati selembar demi selembar, hal ini lah yang harus aku kerjakan di setiap hari demi memajukan desaku-aku tak akan berbicara soal politik kehidupan desaku secara lebih mendalam, disini aku akan kembali fokus dengan Hinata dan kehamilannya. Aku terdiam merasakan apa yang dilakukan oleh kedua bunshinku, aku memejamkan mata secara perlahan, merasakan setiap aliran kekuatan alam di sekitarku-aku juga menyerap kekuatan alam yang ada disekitarku, tak lama kedua kelopak mataku memunculkan warna orange yang menandakan aku telah berada dalam mode sage-aku merasakan setiap aliran energi da chakra disekitarku, tetapi yang terpenting aku ingin merasakan apa yang Hinata lakukan dan bagaimana keadaan dia selama aku tidak berada disampingnya. Kali ini aku merasa terhubung dengan salah satu bunshinku-karena aku merasakan dia disamping Hinata yang sedang berjalan membawa keranjang kecil berisi buah apel merah yang terlihat begitu menggiurkan. Kloningku membawa keranjang besarnya-mungkin dia berbelanja bulanan, mengingat keranjang belanjaan begitu besar dan menggunung diatasnya. Hinata berjalan dengan santainya, tak tampak sedikitpun peluh di wajah manisnya. Ia masih bisa beraktivitas mengerjakan apa yang ingin ia kerjakan meskipun terkadang terlalu berlebihan dan membuatnya kecapaian hingga sempat dua kali Hinata harus istirahat total. Aku terkadang tidak memberinya peringatan, tapi kalau sudah sampai tahap Hinata collapse terkadang sisi emosionalku keluar tanpa sadar-pada akhirnya Hinata meminta maaf telah membuatku khawatir. Hinata seorang istri yang kadang penurut dan kadang juga sedikit bandel jika ia memiliki sebuah tujuan yang amat sangat ia inginkan-kalau sudah begitu aku tidak bisa lagi melarangnya. Hinata membuka pintu rumah, kedua bunshinku mengekor di belakangnya langsung menuju ke dapur, bunshinku satu membongkar belanjaan yang satunya lagi membersihkan bahan makanan yang masih mentah untuk di simpan di kulkas, terakhir Hinatalah yang mengatur bahan makanan itu untuk di simpan ke dalam lemari pendingin. Aku menimang-nimang apa yang kan Hinata masak untuk menu malamku hari ini, aku tak akan banyak protes-semuanya pasti sempurna jika Hinata yang melakukannya. Cahaya keemasan mulai menyerobot masuk melalui jendela ruang Hokage dimana aku sibuk bergelut adu ide dengan Shikamaru yang terkenal akan ke jeniusan sebagai tangan kananku. Ia sedikit menyangkal dengan ode konyolku, tetapi aku sedikit unggul karena aku memiliki argumen yang kuat dan mampu membuatnya berpikir meskipun berat untuk menerima. “Naruto.” Suara perempuan membuat fokusku sedikit terpecah. Aku beralih memandang ke pintu untuk melihat siapa yang datang berkunjung. “Sakura-chan.” “Sibuk?.” Aku menatap Shikamaru “Sedikit.” “Masuklah Sakura, kami sudah selesai.” Jawabnya meskipun pada kenyataan selesai masih separuhnya saja. “Ada apa Sakura-chan?.” Tanyaku memperhatikan gelagatnya yang sesikit aneh-instingku mengatakan Sakura menyembunyikan sesuatu. Sakura beranjak sampai di depan mejaku “Aku ingin meminta izin padamu.” Aku mengangkat sebelah alisku “Apa?.” Sakura menoleh kebelakang “Masuklah.” Sahutnya menyuruh seseorang untuk masuk ke dalam ruanganku. Mataku membelalak kaget, gadis berambut merah terurai kebelakang dengan kacamatanya yang selaras dengan warna rambutnya. “Karin.” Seruku bersamaan dengan Shikamaru. Karin tersenyum, Sakura kembali menatapku “Naruto, aku akan pergi dari desa dengan Karin.” Untuk kesekian kalinya mataku melebar “Hhahh, kau tak berniat untuk mencari dan menyusul Sasuke kan?.” Tanyaku kaget. Sakura mengangguk mantap, aku tidak habis fikir-apa yang dia pikirkan?, apa dia lupa sekarang dia juga mengandung buah hati Sasuke?, aku berperang dengan diriku sendiri. Shikamaru berusaha mencegah “Sakura, apa sudah kau pikirkan matang-matang apa yang telah kau katakan?.” “Tentu, aku akan menanggung segala resikonya. Aku bersama dengan Karin, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawabnya mantap. “Kau sedang hamil, kau tahu!.” Sahutku dengan nada menahan emosi-aku tahu Sakura tipe orang keras kepala. “Aku tahu.” Jawabnya “Maka dari itu aku pergi bersama Karin.” “Tapi, kalau ada apa-apa denganmu dan…” “Ada Karin, apa kau lupa Karin itu siapa dan aku juga siapa?.” Tanyanya menatapku tajam dengan nada sedikit menekan dan secara gamblang ia memotong pembicaraanku. Aku melirik Shikamaru, ia juga membalas melirikku juga-aku tak tahu apa yang harus aku katakan, meskipun aku mencoba untuk melarangnya pastilah hal yang aku lakukan tidak akan ada hasilnya, mungkin malah kantor dimana aku kerja ini akan berubah menjadi puing-puing lembut seperti debu. “Aku masih mencoba melarangmu Sakura-chan.” Kataku mengingatkan. “Aku tahu Naruto. Tapi, aku bisa menjaga diriku sendiri.” “Bukan itu maksudku.” Sakura mengangkat sebelah alisnya “Lalu?.” “Sasuke pasti akan membunuhku jika terjadi apa-apa denganmu.” Protesku ngeri membayangkan Sasuke marah. Sakura menghela nafas “Aku sudah bilang dari awal. Akan aku tanggung segala resikonya.” Serunya mengepalkan tangan kirinya dengan penuh semangat. “Tapi, kenapa tiba-tiba sekali.” Tanya Shikamaru. “Sebenarnya tidak tiba-tiba, sudah lama aku ingin mencari Sasuke, karena aku rindu padanya. Tapi, otakku mengambang membayangkan jika aku sendirian. Jika aku pergi bersama Karin, semua kekhawatiranku menghilang.” “Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu, Sakura-chan.” ***___*** Untuk kesekian kalinya aku menghela nafas panjang dan meluruskan kedua tanganku yang membawa sekantung dokumen dari kantor dan sebuah kotak makanan kosog yang terbungkus kain putih dengan lambang bulat seperti pusaran angin. Otakku teringat dengan bekal makan siangku tadi-sekotak makanan yang lengkap sampai pencuci mulut dengan penataan yang Hinata lakukan amat sangat unik-jujur aku tak tega makan bekalku, terlalu sayang dengan penataan isinya. Sesampai di depan rumah aku meletakkan dokumenku ditangan kananku ke lantai, ku ketuk pintu rumah setelah tanganku terbebas dari beban berat dokumen yang aku bawa sedari tadi. Tak menunggu lama Hinata membuka pintunya, senyuman manisnya membuat rasa lelahku menghilang seketika. Aku melayangkam ciuman lembutku ke dahi Hinata, ia memejankan matanya-sepertinya ia menikmati balasan dariku untuknya karena telah menyambut kedatanganku. Selanjutnya aku mendaratkan ciumanku ke bibirnya-lembut, dalam, panas dan sangat intens walaupun hanya memakan beberapa detik. Senyuman semakin lebar menghiasi wajah Hinata, tangannya meraih tali pengikat jubahku dan melepaskannya. Aku membungkuk sedikit untuk mengambil kantung dokumenku, aku memasuki rumah. Suara pintu tertutup menemaniku berjalan hingga ke ruang tengah, aku menghempaskan tubuhku ke sofa yang sangat empuk, aku memejamkan mata sejenak untuk menghilangkan rasa kaku pada otot tubuhku meskipun tidak semua menghilang. Hinata mengambil dan menggantung jubahku, kemudian ia letakkan pada tempat jubahku biasanya di gantung. “Aku akan mengambilkan minuman hangatmu Naruto-kun.” Sahutnya menuju ke dapur. “Yahhh, terimakasih Hinata.” Jawabku. Tak lama Hinata dan kedua bunshinku datang bersamaan, Hinata meletakkan nampan berisi segelas teh hangat dan sepiring kecil cookies coklat ke meja. “Dengan begini, tugas kami hari ini selesai.” Ucap kedua bunshin kloninganku-sekejap mereka berdua menghilang. “Terimakasih sudah membantuku.” Balasku tak sempat mereka dengar karena keburu menghilang. Hinata duduk dan meraih dokumen serta kotak makan disampingku ke meja disebelahnya, Hinata menggeser tubuhnya padaku. Aku bangkit dan mencium perutnya, tak ketinggalan tanganku mengelus-ngelus lembut perutnya yang membesar. Aku tak merasakan respon bayiku di dalam kandungan Hinata yang begitu membabi buta seperti minggu-minggu kemarin, kali ini respon yang di buat jagoanku hanya sedikit kadang tidak ada tendangan meskipun aku mencium dan mengelusnya dengan waktu yang lama. Sempat aku khawatir kenapa kelincahan si bayiku ini berkurang di dalam kandungan, hingga akhirnya aku tanya pada Sakura dan Hinata-jawaban mereka berdua kompak, si bayi sudah mulai beranjak turun, kepala bayinya sudah berada tepat diatas pintu atas panggul dan bersiap untuk menghadapi perjalanan panjang demi menghadap dunia baru di luar tubuh Hinata. “Dia tersenyum, sambil mengemut jemarinya Naruto-kun.” Kata Hinata sumringah. Aku menatap Hinata yang melihat perutnya dengan mata Byakugannya. “Benarkah?.” Seruku takjub untuk kesekian kali, kembali aku mencium perut Hinata-tak sabar menunggu jagoan kecilku lahir. “Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Naruto-kun.” Katanya meraih tanganku kemudia ia berdiri dengan susah payah-tanganku meraih Hinata untuk membantunya, aku meraih tubuhnya untuk bersandar dibahuku, kami berjalan perlahan menuju kamar di lantai dua. “Mau aku gendong.” Usulku setelah berhenti di depan tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua. “Mau banget.” Jawabnya manja dengan kedua tangannya mulai bergelayutdi tengkukku. Aku mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ala brigdal, satu persatu tangga aku lampuan hingga sampailah kami di depan pintu sebuah kamar yang masih kosong, tangan Hinata membantu membukakan pintu. Aku terdiam mematung melihat sebuah kamar yang sudah berubah menjadi kamar bayi, Hinata menyulap ruang yang masih kosong itu dengan bantuan kedua bunshinku, aku juga terlibat tapi hanya sebatas mengamati mereka bertiga bekerja dan berkreasi. “Waaooww~~ bagus sekali Hinata.” Ujarku kagum. Aku melangkah memasuki sebuah ruangan dengan warna biru sejuk seperti suasana langit pantai dengan matahari pagi yang mulai menyembul memperlihatkan sinar keemasannya. Banyak interior lucu berwarna-warni tertempel di setiap sudut dinding birunya, lampu tergantung di dinding dengan sinar berkelipnya memancarkan ribuan warna pelangi akibat pantulan cahaya dari sebuah bohlam lampu. Di sudut kanan dekat dengan jendela berbingkai kayu bercat coklat ditambah dengan gorden biru bermotif cantik tapi tetap menonjolkan sisi-sisi maskulin terikat rapi di sisi kiri dan kanan jendela berdiri tegak tempat tidur bayi berukuran sedang dengan warna menyerupai ruangan dimana aku berdiri sekarang, di bagian atasnya-aku menebak itu bagian kepala jika si bayi tidur, terdapat dua buah tiang melengkung membentuk lingkaran diatasnya. Juntaian ratusan benang terangkai apik membungkus kerangka tiang mulai dari lingkaran puncak tiang sampai menutupi keseluruhnya. Aku menurunkan tubuh Hinata dengan mata masih terfokus dengan ruangan yang sudah dipersiapkan dan disulap menjadi kamar bayi. “Bagaimana menurutmu.” “Hebat!! Keren!! Aku suka. Pasti kau yang mendesainnya kan, Hinata?.” Tanyaku mulai meraba setiap perabotan yang ada dikamar ini. Hinata mengangguk “Tapi Naruto-kun juga terlibat, meskipun hanya berupa bayangan.” Kata Hinata. Aku terkekeh pelan “Maaf, hanya itu yang dapat aku lakukan.” Hinata memegang kedua pipiku dengan tangannya yang lentik “Tenang saja, meskipun hanya kloning bayangannya Naruto-kun aku sudah merasa kalau kau ada disisiku di setiap waktu Naruto-kun.” Ujarnya menenangkanku. Aku tersenyum dan menciumnya sekilas-aku tak tahu kapan terakhir kali aku bisa bersama Hinata di sepanjang malam, terakhir kali aku bercita dengannya, dan terakhir kali aku membuatkannya makanan di malam hari jika ia mulai lapar bahkan ngidam Narutomaki. Aku meraih pinggangnya dan menariknya jatuh semakin dekat dalam permainan yang aku mulai. Perut besarnya memunculkan jarak antara aku dan dia-hal sepele seperti itu tidak akan menggangguku yang sudah terbakar antara nafsu dan gairah. “Na.. Naruto-kun.” Panggil Hinata susah payah, ia mendorong tubuhku dengan kedua tangannya untuk mencegah suasana yang panas ini berlanjut. Aku menatapnya dengan tatapan tak mengerti bercampur dengan ketidaksabaran “Ada apa Hinata?.” Tanyaku berbisik di telinganya, aku merasakan tubuhnya bergetar dibawah pelukanku. “Mandi dulu.” Titahnya. Dengan bibir terpaut menjadi satu dan aku memanyunkannya semakin mayun ke depan, aku melepaskan pelukanku dan berbalik mulai beranjak meninggalkan kamar menuju ke kamar mandi. “Naruto-kun…” Panggilnya menarik tanganku, mencegah kakiku yang mulai berjalan menjauhinya. Aku diam menunggu, wajah Hinata memerah ia menunduk menahan malu, dengan nada rendahnya ia berbisik padaku “Naruto-kun tak mau mengajakku ke sana bersama kah?.” Tanya Hinata dengan tatapan menggodanya. Aku tersingkap kaget “Mau mandi bersamaku?.” Tanyaku menelan ludah. Ia mengangguk “Kalau mau.” Ujarnya padaku. Ngeblank-itulah yang aku rasakan setelah mendengar jawaban Hinata, tanpa menunggu lagi aku meraih tangan kirinya dan menariknya bersamaku menuju kamar mandi. ***___*** Lelaki mana yang bisa merasakan kenikmatan sepertiku?, seorang istri setia meskipun hamil tua tetap menanti kedatangan suaminya pulang kerja, tak hanya menanti saja tapi ia tak segan-segan mempersiapkan apapun yang terbaik untukku. Setiap hari aku merasa dimanjakan olehnya-tak ada rasa lelah yang tertinggal dalam tubuhku meskipun secapai apapun aku menunaikan tugasku sebagai hokage. Sebuah scrub hijau berlumuran busa putih yang melimpah hingga melumer menutupi jemari Hinata yang sedari tadi sibuk menggosok punggungku dengan sedikit tekanan tapi tidak menyakitkan, aku bisa merasakan rileksnya otot- otot tubuhku dibawah jemari tangan Hinata. Busa putih menutupi sekujur tubuhku, aku membelakangi Hinata-ingin rasanya aku menghadapnya, tapi apa daya aku hanya bisa menikmati lekuk tubuhnya melalui cermin yang ada di depanku, mengingat punggungku sedang digosok olehnya. Perut besar Hinata sebagian terekspos melalui cermin, putih pucat halus tentu saja. Dengan kulit putihnya aku bisa melihat dengan jelas garis berwarna kemerahan yang menghiasi perut besarnya-Striae itulah kata yang keluar dari mulut Sakura-chan, lengkapnya Striae Gravidarum. Striae sangat sering ditemukan pada wanita hamil dan munculnya mulai pertengahan kehamilan. Aku sempat kaget kalau sampai saat ini, belum ada cara untuk mencegah striae. Seperti krim, minyak atau losion, tidak akan bisa mencegah timbulnya striae. Pada wanita hamil hal ini sebetulnya hal yang lumrah dan tidak bisa dihindarkan, namun ada cara untuk mengurangi rimbulnya yakni mempertahankan kenaikan berat badan yang tidak berlebih dan berolahraga-berkat otak Sakura-chan setidaknya aku bisa sedikit lebih maju dan tahu soal kesehatan. Semburat merah muncul dari balik wajah manis Hinata yang menyadari mataku terus menatapnya sedari tadi. Hinata meraih gayung dan mengambil air hangat dari bathtub, ia membilas tubuhku. “Giliranku.” Ujarku padanya, aku sedikit menelan ludah untuk mempertahankan akal sehatku. Aku berbalik dan Hinata di depanku sekarang, rambut hitam keunguan sedikit lepek karena tersiram air, wajahnya mengalir sebulir air dari pelipis hingga keujung dagu siap menetes meninggalkan wajah manis Hinata. “Ja.. Jangan menatapku dengan mata seperti itu Naruto-kun.” Ujar Hinata sontak ia membungkukkan badannya-aku berfikir ia pasti malu, semua terlihat jelas dari wajahnya yang sudah berubah seperti lobster rebus. Hinata membalikkan badan dengan segera, menjauhi tatapanku padanya. Aku terkekeh melihat tingkahnya, tanganku meraih scrub dan menuangkan sabun cair diatasnya. Pelan-pelan aku menggosok tubuhnya sama seperti yang ia lakukan padaku, punggungnya yang putih dan tegap memperjelas otot-otot Hinata yang sedikit terlihat rapuh namun menipu jika ia sudah serius dan marah, tengkuk Hinata sedikit membuat otakku sedikit nakal. “Hyaaaaaaaa……” Teriaknya terkejut, ia memegangi tengkuknya dan menatap jengkel padaku. Aku mematung menatapnya “Upss, Maaf.” Kataku kikuk. Sepasang mata sayu menatapku dengan ekspresi antara menahan rasa jengkel dan terkejutnya membuat d**a kiriku semakin berdegup keras, aku memejamkan mata dengan kedua alisku saling berpaut-apalah aku sudah tak peduli, biarlah gairah yang ada di dalam tubuhku mengalir mengeluarkan ekspresi yang tertahan. “Hinata…” Ucapku meraih dan mendekap erat tubuh Hinata,pengalamanku pertama kali dikamar mandi bersama Hinata membuatku bersemangat-pasti bisa ditebak semangat dalam hal apa. Hinata memegang kran air dan tanpa sengaja ia menekannya, guyuran air dari shower yang terletak di dinding samping bathtub mengguyur punggung kami berdua. Gemericik suara air saling sahut-menyahut seperti memiliki keinginan untuk mengalahkan desahan yang Hinata timbulkan. Kedua telingaku kini tak bisa menangkap jelas suara lain selain suara desahan yang ditimbulkan oleh istriku tercinta. “Aauuwww….” Jeritnya tiba-tiba. Aku terkesiap “Maaf, aku terlalu kasar.” Ujarku menyesal. Hinata menggeleng “Perutku sakit!” Ujarnya memegang perut dengan ekspresi menahan rasa sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD