Satu
Dingin.
Ilia menarik selimut dan bergelung nyaman di bawahnya. Udara di dalam ruangan membuat tubuhnya bergedik. Tumben sekali kamarnya terasa sangat dingin, pikirnya.
Matanya dibiarkan terpejam memikirkan kembali mimpinya. Mimpi semalam terasa sangat nyata. Debar jantungnya kembali. Bahkan sentuhannya sanggup membuat bulu kuduk Ilia meremang.
Sialan. Laki-laki itu seharusnya sudah hilang. Kenangan itu seharusnya sudah usang dimakan jaman.
Pikirannya melayang tak jelas arahnya, sampai kemudian hidungnya menangkap aroma harum kopi.
Haaah~~ kopi di pagi hari.
Ia tersenyum. Mencoba melupakan mimpinya semalam. Hidup sudah seharusnya senikmat kopi di pagi hari.
Tapi..
Tapi siapa yang menyeduh kopi pagi hari dikamarnya?! Dia tinggal sendirian. Tidak mungkin Esther. Esther masih di Jakarta.
Diedarkan pandangannya dari dalam selimut, kemudian berteriak mendapati bahwa ia tidak mengenakan satu helai baju pun. Telanjang total. Dan selimut siapa ini?!
Dia bahkan tak pernah ingat membeli selimut warna putih. Oh, Tuhan! Ada yang tidak beres. Ia berusaha mengingat kejadian semalam tapi gagal. Semakin dia tekuk tubuhnya di dalam selimut. Demi apapun, enyaaah.. enyahlah siapapun yang sedang minum kopi di ruangan ini!
Brian POV
Dia masih sama seperti dulu, bahkan lebih mengerikan. Sentuhannya mematikan. Ilia sanggup membuat gejolak nya membara setelah sekian lama.
Pertemuan tidak disengaja ini berawal ketika ia dan sahabatnya Fattah memenuhi undangan ulang tahun sepupunya. Brian yang awalnya menolak undangan sepupunya akhirnya berangkat juga ke Bali karena tiket sudah terlanjur dibayar. Dea, sepupunya memang memiliki kekuatan untuk meluluhkan Brian. Termasuk dengan uang dan tetek bengeknya.
Semalam, Brian melihat wajah seseorang yang dia coba lupakan. Wajah ayu perempuan berusia akhir dua puluhan itu kian menunjukkan pesona nya. Dia ada perempuan yang membuatnya pernah bertekuk lutut, perempuan yang menghilang selama hampir satu dekade.
"Bri, lu lihat dia kan?" Fattah terkesiap memandang perempuan yang masih sangat ia kenali. Perempuan yang hampir membuatnya menjadi pasien rawat jalan untuk serangan jantung dan gangguan mental. Gara-gara perempuan ini, Brian selalu ngebut di jalan dan Fattah adalah satu-satunya yang berani duduk di kursi sebelah Brian.
"Iya"
"Gue barusan tanya sepupu lu, dia kenalan temennya", Fattah tidak memberi informasi ini tanpa maksud. Dea pasti kena damprat kalau ternyata undangannya ternyata adalah usahanya mempertemukan kedua musuh bebuyutan ini. Dea adalah sepupu terdekat Brian. Keduanya sangat dekat sampai kadang kedekatan mereka membuat Fattah sedikit cemburu. Ia menyukai Dea semenjak mereka bertemu lima belas tahun silam. Fattah hanya terlalu pengecut untuk maju. Dibiarkannya perasaanya puas dengan hanya melihat Dea semakin hari semakin cantik.
"Gue ga peduli", Brian melenggang, menjauhkan pandangannya dari perempuan yang hari ini dengan sangat kurang ajar terlihat begitu cantik dengan gaun hitamnya berpotongan rendah di bagian dada. Diteguknya habis vodka yang sedari tadi ia pegang. Menit menit berikutnya, bergelas-gelas vodka masuk kerongkongan nya. Brian tidak mau berhenti. Ia berharap hari segera berganti. Hati nya masih terluka. Ia masih menginginkan nya.
***
Bibir mereka saling berpagut, semakin lama semakin panas. Lidah mereka bergeliat di dalam. Didorong nya pelan tubuh perempuan beraroma campuran jasmine dan violet itu ke tembok putih dibelakangnya. Aromanya tidak pernah berubah. Brian meraba pelan tubuh perempuan itu. Membiarkan dekapannya semakin dalam. Desahan perempuan itu membuatnya semakin membara.
Dilemparkannya tubuh perempuan itu di tempat tidur salah satu kamar di villa sewaan Dea. Matanya memandang tubuh tergolek bergaun hitam itu seakan meneliti setiap inci nya. Kemudian dia sentuh lengan kecil itu, ada lebam biru. Brian kemudian mencium lebam itu, seolah dengan begitu bisa menghilangkan nyeri nya.
Sang punya tubuh menggeliat, matanya terpejam. Alkohol sudah berbaur di dalam darahnya.
"Ck, berapa gin tonic yang kamu minum Li", Brian berbaring disisi Ilia, mulai menjamahnya. Gaun hitam itu kini sudah berada dibawah kakinya. Ilia membuka matanya, nanar menatap tubuh Brian yang sudah ada diatasnya. Menyentuh pipi Brian, sangat lembut, tersenyum. Dia pikir mimpinya begitu nyata. Kerinduannya terasa meluluhlantahkan pertahananya.
"Brian.. ",
Ilia bangkit dan memutar tubuh Brian, ia beralih diatas Brian mengambil kendali. Kalaupun ini mimpi setidaknya hasratnya harus tuntas. Brian memejam. Liuk tubuh Ilia semakin membuatnya hanya bisa mendesah. Perempuan ini adalah favoritnya. Perempuan pemegang kendali ini adalah candu nya.
Semakin cepat gerakan tubuh Ilia membuat keduanya mengerang nikmat, melepaskan hasrat yang entah terpendam berapa lama. Mereka kemudian berbaring saling memeluk sampai mereka terlelap.
***
"Mau sampai jam berapa begitu terus, Li? ", Brian yang sedari tadi memperhatikan gundukan di atas tempat tidur, tahu bahwa gundukan itu sudah mulai bernyawa. Kegiatan semalam memang sangat melelahkan. Mereka melakukannya lagi saat Ilia terbangun dan langsung mengulum senjata Brian. Ilia adalah api, dan alkohol adalah bensinnya.
Ilia membelalakan matanya. Suara ini. Kemudian dia mengintip dari atas selimut yang disingkapnya sedikit.
Ya Tuhan!
Brian!
Ia masukkan kembali kepalanya di dalam selimut. Demi apapun. Jadi semalam bukan mimpi??
Bodoh.
Bodoh.
Bodoh.
Begitu banyak pria menarik diluar sana, magnet nya hanya sanggup menarik Brian?
Bodohnya kamu, Li.
Oke, ini hanya one night stand, one night stand biasa. Seharusnya ini berakhir secara alami dan terang-terangan. Ilia meneguhkan keberaniannya. Ia menyingkap selimut putih itu kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi.
Brian duduk di samping pintu kaca besar yang menghadap kolam renan villa, terlihat sangat menikmati kecanggungan perempuan yang berjingkat kemudian berlari menuju kamar mandi.
**"
"Aku masih belum sanggup menghadapi mu Li", Brian memandang Ilia yang sedang terburu buru memakai heels nya. Ilia pernah meninggalkan luka, tapi bukannya muak dengannya, Brian malah semakin ingin merengkuh nya sebagai obat lukanya. Aneh memang, tetapi seperti itu pengaruh Ilia di hidupnya.
" Lupain, lupain kejadian apapun malam ini, kita nggak seharusnya begini, okay? Kamu, kita anggap ga pernah ketemu ", Ilia menggigit bibirnya, membayangkan kelakuannya semalam. Minuman itu emang seharusnya jangan diciptakan.Pantas saja dimasukkan golongan haram. Brian masih duduk memandangi nya. Matanya seperti laser, rasanya bisa menembus apapun dihadapannya.
" Bagian mana Li yang harus aku lupain? desahan mu atau liukan tubuhmu? Kamu tahu, kamu semakin menggairahkan Li", Brian sengaja membuat Ilia naik darah, semakin Ilia naik darah, semakin menggemaskan reaksinya. Ia menahan senyum.
" Ilia, kamu semalam tidur dirumah, kamu nggak ketemu iblis ini, and tidak melakukan apapun. Hal-hal yang lebih spesifik adalah mimpi. Oke, adalah mimpi", Komat kamit Ilia menenangkan dirinya sendiri. Ia bergerak menuju tempat duduk Brian. Dengan satu tarikan napas
Plaakk
Tamparan Ilia membuat tawa Brian pecah.
"Li! aku yang kamu serang dua kali, kalau kamu mau kuingatkan",
" Stoooop! ",
" You look so beautiful last night",
"Cukup Bri, jangan bercanda dan kekanak-kanakan, semalam hanya bagian dari kenangan buruk", Ilia mengepal tangannya. Ia takut hatinya rapuh.
" Kalau aku serius dan tidak kekanak-kanakan, apa kamu sanggup menghadapi ku? ", Brian berdiri, jarak mereka hanya sebatas tarikan nafas.
Pergi sekarang atau tidak sama sekali Li
Ilia tergagap karena Brian semakin mendekatkan bibirnya. Ilia masih menyimpan sedikit tenaga. Ia mundur kemudian keluar dari kamar villa tempat pesta Dea berlangsung semalam. Dia berhenti setelah keluar dari villa itu, berpegangan pada tiang listrik sisi jalan. Air matanya tidak tertahan. Ia tergugu, bahkan hatinya sendiri menghianatinya. Hatinya hanya berpura-pura sembuh selama ini. Brian Saktya masih ada disana. Disimpan dengan baik.
***
"Lu gila Bri", Fattah segera mendatangi Brian yang baru saja keluar kamar. Walaupun terlihat masih kusut, raut wajahnya menyiratkan bahagia -terpuaskan.
" Bukan gue yang mulai, lu tau kan? ", Brian melenggang melewati Fattah dan berjalan menuju meja makan.
" Pikiran lu ga memulai, tapi nafsu lu, lu datengin dia Bri, kalian mabuk, lo tarik Ilia ke kamar, udah jelas siapa yang mulai", Fattah masih memberondong Brian dengan berbagai pertanyaan. Brian hanya memandang wajah temannya yang resah. Ia tahu, Fattah hanya khawatir luka yang bahkan belum sembuh ini akan terbuka lagi. Selama ini ia bertahan, tapi kehadiran Ilia semalam membuat Brian sadar bahwa ia tidak bisa lari.
***
Brian Saktya bertemu Ilia Syarief tiga belas tahun silam, saat Ilia masih kelas dua SMA sedangkan Brian adalah mahasiswa semester pertama. Keduanya kemudian jatuh cinta. Ilia adalah perempuan pertama yang bisa membuat Brian berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjadi orang terakhir yang menggenggam tangan Ilia. Tidak kalah berlebihan, bagi Ilia, Brian adalah cinta sungguhannya. Gadis remaja yang selama hidupnya hanya menyukai ayahnya dan vokalis salah satu band tanah air ini telah dibutakan oleh cinta anak kuliahan. Keduanya dimabuk asmara.
Tidak terpisahkan, bahkan Brian berani membawa Ilia ke orang tuanya.
" Seperti langit Kak, kata kak Brian, bintangnya memang banyak, tapi bulannya hanya satu", Fania, adik Brian mengulang jawaban Brian ketika ditanya alasan berani membawa Ilia ke rumahnya.
Ilia bagaikan dilempar ke negeri dongeng. Saat itu ia yakin, kisahnya adalah yang paling romantis. Mau kalian bandingkan dengan kisah romantis mana pun, kisahnya adalah yang nomer satu.
Di ulang tahun Ilia, kejutan lain diberikan Brian. Pria ini memang penggemar ragam cinta ala penyair Kahlil Gibran.
"Li, selamat ulang tahun" teriak Brian di jalanan. Karena memang mereka berdua sedang berboncengan motor pulang dari nonton.
"Terimakasih", Ilia tersenyum, memandangi bahu lebar kekasihnya. Setelah setahun berpacaran, Ilia memang selalu memuja Brian.
" Ilia Syarief, aku nggak punya hal yang mau aku beri ke kamu, karena seluruhnya aku milikmu. Dan yang perlu kamu ingat, kadoku kali ini aku titipin ke Allah ", Brian melirik wajah kekasihnya dari spion.
" Iya, terimakasih atas doanya",
"Bukan, Li.. aku bilang sama Allah supaya bintang dan bulan yang ada di langit di sediakan khusus buat kamu, biar kalau kamu belajar ada yang nemenin. Banyak lagi",
" HAHAHAHAHA terus Allah jawab ga keinginan kamu?"
"Allah bilang aku gak tau diri, udah dikasih yang cantik, masih mau yang lain"
"HAHAHAHAH"
Malam itu adalah malam-malam menyenangkan mereka berdua. Tiada celah, keduanya saling mencintai.