Aleta turun dari lantai dua rumah Jonael pada malam hari. Sepertinya dia tertidur cukup lama setelah membantu Susan menata hidangan di meja makan. Samar-samar dia mendengar suara di ruang tamu depan, mungkin tamu Jonael sedang berpamitan.
Aleta mendekat dan melihat ada seorang laki-laki tua dan seorang wanita muda, cantik juga, batin Aleta. Wanita itu terlihat sedikit diam, mungkin dia malu. Pakaiannya tampak sederhana, oh dia tidak banyak gaya. Meski dia tidak lebih tinggi, namun wanita itu memiliki tubuh ramping seperti milik Aleta. Ah, kenapa dia membandingkan dirinya sendiri?
Saat melamun, tiba-tiba Aleta dikejutkan kedatangan Susan dari samping. Wanita paruh baya itu menyikut Aleta singkat.
“Huhh… Susan.”, keluhnya sedikit berjingkat.
“Kau baru turun sekarang? Kau tak sempat bertemu mereka, Ale.”
“Untuk apa? Jonael tidak mencariku maka itu tidak berhubungan dengan pekerjaan.”
“Iya sih…. Tapi-“
“Ehm wanita cantik itu siapa?”, tanya Aleta penasaran.
“Oh dia putri Mr. Brixton. Dia baru menyelesaikan kuliah di London dan sekarang kembali ke Jakarta.”
Aleta mengangguk mencari pemahaman.
“……. Ku dengar Ayahnya minta tolong Jonael untuk memberi posisi di Sagha Group.”, tambah Susan dengan sedikit berbisik.
“Benarkah?”
“Ehem…. Aku yakin Jonael akan mencarimu setelah ini.”
“Dia memang berjanji mengantarku pulang.”
“Juga untuk meminta usul penempatan wanita itu.”, susul Susan dengan cerdas.
Aleta menghela nafas dan menyunggingkan bibirnya, “Kau peramal amatir, Susan.”
“Kita lihat saja.”
“Tidakkah Tuan Runadi memberi saran?”
“Sepertinya dia menyerahkan pada Jonael.”
“Waahh, telingamu tajam juga.”, kagum Aleta merasa Susan mengetahui informasi secara detail.
“Itu sudah menjadi tugas sampinganku disini.”, terangnya dengan percaya diri.
Susan kemudian pergi ke arah meja makan untuk beberes. Aleta masih diam di ujung tangga. Hatinya tercubit kecil tapi dia tidak tahu karena alasan apa.
Aleta berjalan setelah dia yakin Mr. Brixton dan putrinya telah keluar rumah. Dia bertatapan dengan Runadi dan Jonael. Langkahnya berhenti tepat di hadapan mereka.
“Kau sudah bangun?”, Jonael membuka percakapan.
“Iya.”, jawab Aleta singkat.
“Ah, maaf jika Jonael merepotkanmu, Ale. Lelaki ini memang rumit.”, Runadi Sagha menginterupsi.
“Dia tidak akan peduli meski aku keberatan, Tuan. Putramu memang jahat.”, keluh Aleta dengan berani. Dia bahkan tidak peduli mendapat sorotan tajam dari Jonael.
Runadi justru tertawa mendengar kekesalan Aleta. Lucu sekali.
“Silahkan jika kau mau memarahi dia. Aku permisi ke kamar dulu. Anggap rumah sendiri, Ale.”, pungkas Runadi kemudian beranjak pergi.
Jonael menyaksikan percakapan dua orang itu dengan pasrah, ya…. dia menjadi objek yang terhina, tapi tak apa, kenyataan bahwa Aleta masih bertahan di rumahnya adalah poin terpenting.
******
Saat ini Jonael tengah mengantar Aleta pulang. Mereka berada di dalam mobil pribadi Jonael yang lama tidak terpakai.
“Pelan saja, Jo. Aku masih ingin hidup.”, keluh Aleta.
“Sorry. Aku lama tidak mengendarainya”, jelas Jonael tentang mobil Audi favoritnya ini. Saat bekerja dia menggunakan BMW X1 yang dirasa pas untuk mobilisasi harian.
“Kapan mobil ini keluar dari bengkel?”, tanya Aleta penasaran.
Mobil pribadi Jonael adalah mobil yang membuatnya kecelakaan beberapa waktu lalu.
“Baru tiga hari lalu.”
“Oh…”, hanya itu tanggapan Aleta.
Jonael memandang ke arahnya dengan lembut. Aleta tidak tahu karena dia lebih menikmati lampu kota.
“Ale… aku butuh bantuanmu.”
Aleta menoleh. Dia merasa tahu apa yang akan dikatakan Jonael selanjutnya.
“Apa?”
“Tolong carikan posisi kosong di perusahaan untuk seseorang. Dia memiliki background seni.”
Benar. Ini dia, batin Aleta.
“Seni?”
“Iya. Aku bingung.”
“Kenapa kau terima jika kau sedang tidak butuh pekerja seni?”
“Itu karena permintaan Ayah. Kau tahu, wanita yang tadi datang ke rumah, dialah orangnya. Ayahku berteman dengan Ayahnya, dan kami tidak bisa menolak.”, terang Jonael membuat Aleta sedikit lega karena dia bercerita dengan jujur.
“Ayahmu selalu baik pada orang lain.”, Aleta sedikit menerawang.
“Memang. Lalu dimana dia bisa bekerja?”
Aleta kemudian menimbang. Dia mengingat beberapa divisi dan tidak menemukan clue.
“Aku tidak tahu bagian apa yang membutuhkan dia, tapi lebih baik di awal ini kau tempatkan di marketing. Dari sana dia bisa belajar banyak hal. Hal itu juga tidak merugikan kita karena mungkin dengan bakat seninya dia bisa memunculkan ide segar untuk tim.”
Jonael mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. Benar juga.
“Oke, clear. Aku malas berpikir maka idemu aku ambil. It sounds good.”
“Terserahmu.”
Mobil berjalan membelah malam, mereka hampir sampai apartemen Aleta.
“Kau tadi sudah makan? Aku tidak memperhatikan.”, tanya Jonael.
“Sudah. Tadi sore mencicipi makanan.”
“Mencicipi? Sore?”, alis Jonael mengerucut karena terkejut. Kemudinya sedikit goyang.
“Hey, fokus menyetir.”, Aleta mengingatkan Jonael yang tidak melihat ke depan.
“Kita cari tempat makan.”, tegasnya.
“Tidak perlu. Aku tidak mood.”
“Makan, Ale. Kau tidak bisa tidur jika lapar—”
Aleta tercekat, “Dar-darimana kau tahu?”
“Apa? Memangnya aku bilang apa?”
Hanya Jonael di masa lalu yang tahu bahwa Aleta tidak bisa tidur dengan perut kosong. Aleta bukanlah orang dengan diet ketat, maka makan adalah kebutuhan utama baginya.
“Tidak. Iya… kita cari tempat makan sekitar sini.”, ucapnya mengalah.
******
Beberapa hari kemudian, putri Mr. Brixton datang ke Sagha Group untuk pengenalan kerja. Namanya Nadine. Nadine Brixton. Dia murni berdarah Indonesia, hanya saja Ayahnya Mr. Brixton adalah campuran antara Indonesia-England.
Aleta dan Jonael menyambut kedatangan Nadine di ruangan Jonael. Mereka sudah koordinasi dengan tim marketing di lantai lima.
“Kenapa dia belum datang?”, tanya Jonael memperhatikan jam dinding.
Aleta masih sibuk dengan ipad di tangannya.
“Kau tidak sabar bertemu dia, huh?”
“Bukan. Aku malas menunda pekerjaan lain hanya untuk menunggu keterlambatannya.”
“Oh….”, balas Aleta acuh.
Jonael berdiri dan mendekat ke sofa dimana Aleta berada. Dia duduk di samping wanita itu.
“Hey, aku perhatikan kau selalu melemparku pada wanita itu. Kenapa?”
Aleta mengernyitkan kening, “Aku?”
“Iya. Itu seperti kau membutuhkan penjelasan bagaimana penilaianku padanya, atau kau ingin tahu bagaimana aku menanggapi dia. Apa ini bisa disebut kau terganggu?”
“Wait. Aku apa? Terganggu? Kau gila?”
Jonael mendengus dengan menaikkan kedua alisnya.
“Sejak tadi malam, Ale. Kau pikir aku tidak memperhatikan?”, Jonael mengingatkan sedikit percakapan mereka ketika makan.
Aleta menghela nafas kasar, “Huh……..”
“Sebenarnya aku berharap begitu.”, Jonael menggoda.
“Maaf, tapi harapanmu tidak berhasil.”, terang Aleta.
“Bagaimana jika aku tertarik padanya?”, Jonael menembakkan peluru. Aleta membulatkan mata.
“Terserah. Aku tidak peduli.”, jawabnya acuh.
“Lihat aku saat kau mengatakannya.”, pinta Jonael.
Aleta bergerak malas untuk memutar tubuhnya ke samping. Dia juga meletakkan ipad pada pangkuannya sebelum bicara.
“Dengar baik-baik. Terserah kau melakukan apa. Kita tidak terikat apapun jadi kau tidak perlu meminta izin. Silahkan berkencan dengan siapapun itu.”, jelas Aleta dengan wajah serius.
Hati Jonael teremas, sedikit sakit mendengar Aleta mengatakannya dengan lantang tanpa ragu sedikitpun. Ahhh parah.
‘Cup….’
Jonael tidak tinggal diam. Egonya tidak ingin tertindas. Satu kecupan di bibir Aleta membuat wanita itu melotot.
“Jonael…..”, protesnya keras.
“Ssstt….”, ucapnya menyuruh diam. Jonael mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Aleta.
“……. ini favoritku.”, tambah Jonael ketika ibu jarinya bergerak di bibir Aleta. Wanita itu hanya mematung mendapat serangan tak terduga.
Jonael memberanikan diri untuk semakin maju dan mendekatkan wajah mereka.
“Aku akan menciummu.”, bisik Jonael membuat Aleta merinding.
Tanpa menunggu jawaban, bibir mereka sudah menyatu. Aleta terlambat untuk mengelak. Tengkuknya sudah dikungkung Jonael agar tetap tegak. Jonael memiringkan wajah dan melumat cepat bibir Aleta. Kali ini langsung panas.
Ciuman panas yang menuntut. Jonael seperti b******n yang pemaksa, namun dia tidak peduli selama Aleta masih menerima.
Benar, wanita itu bahkan tidak sadar sudah membuka mulutnya untuk dijelajahi lidah Jonael. Dengan gaya khasnya Jonael menyesap keseluruhan mulut Aleta berkali-kali. Lidah mereka saling bertaut dan saling menghisap. b******k, Aleta tidak bisa mengontrol kesadarannya. Dia terbawa rayuan lidah Jonael. Lelaki ini memiliki kharisma yang menakutkan.
Beberapa waktu mereka saling menghisap, Jonael membutuhkan oksigen. Dia menurunkan bibirnya dari wajah menuju ceruk leher wanita itu. Dia kembali menghisap disana setelah menghirup udara singkat. Bunyi decapan muncul dari hisapan Jonael. Tidak bosan dia menyesap dan menyesap kulit halus dan wangi Aleta. Sungguh aroma khas milik Aleta muncul secara alami. Ini bukan lagi karena parfum atau body lotion. Ya, memang Aleta memabukkan. Hanya Jonael yang tahu.
“Joooh…..”, desah Aleta.
Jonael tidak menjawab, dia masih sibuk dengan leher Aleta.
“Sial-an, ahh, jah-ngan menghisap disana. Itu bisa mem-bekash… ahhhh…..”, seru Aleta dengan menjambak rambut Jonael.
‘tok tok tok’, suara ketukan pintu.
Mereka berdua terkejut dan segera menjauhkan diri.
Jonael melirik Aleta sekilas, “Bereskan lipstickmu, maaf membuatnya berantakan.”, ucap Jonael lalu bergerak ke arah pintu, tak lupa dia juga mengusap-usap bibirnya, takut lipstick Aleta menempel disana.
Aleta dengan sigap berbalik untuk mencari tisu dan menghapus riasan bibirnya. Jonael b******k. Lebih b******k lagi egonya sendiri yang membiarkan itu terjadi.
Pintu terbuka setelah dirasa keduanya siap.
“Masuk.”
Tommy melangkah masuk dengan tenang, “Maaf, ada tamu yang sudah memiliki janji dengan anda. Beliau Nona Nadine Brixton.”
“Ah iya suruh dia masuk.”, jawab Jonael.
Setelah Tommy pergi, Jonael mendekat pada Aleta dan membisikkan sesuatu, “Bernafas, Aleta. Kau luar biasa.”
Aleta ingin sekali menjambak lelaki itu, tapi dia juga senang mendapat pujian. Sial.