PART 18

1224 Words
Nadine memasuki ruangan Jonael dengan ragu, gelagat wanita ini belum terlalu percaya diri. “Selamat siang….”, sapanya pelan. “Ah ya, selamat datang, Nadine. Santai saja.”, ucap Jonael mempersilahkan. Nadine duduk di sofa tamu, berhadapan dengan Jonael. Aleta berdiri di sampingnya. “Terimakasih atas kesempatannya, Jo. Ayahku mengirim salam untukmu.” “Ya… semoga aku segera bertemu Tuan Brixton. Oh- dan kenalkan ini asistenku, Aleta. Kau bisa bertanya apapun padanya, dia akan banyak membantu.” Aleta mengernyit dan menatap tajam pada Jonael tanda bertanya, apa? dia bahkan tidak diberitahu mendapat mandat ini. Mata mereka bertatap dan bercakap dalam diam. “Aleta Adnan…..”, Jonael kembali mengenalkan wanita yang terpaku itu. Aleta tersadar. “Ah- yaa, saya Aleta. Semoga kau senang bekerja disini, Nadine.” “Terimakasih untuk kalian berdua. Saya Nadine Brixton, mohon bimbingannya.” Nadine bersikap sangat ramah, dia memang memiliki usia di bawah Jonael dan Aleta. “Baiklah, kalian bisa melanjutkan perbincangan, saya permisi untuk bekerj-“ “Tetap disini, Ale.”, potong Jonael. Aleta tercekat dan kembali menunjukkan tatapan bertanya. “Maaf tapi-“ “Duduk, jelaskan bagaimana pekerjaan untuk Nadine. Itu bukan tugasku.” Sialan Jonael, dia melempar tugas padanya. Aleta mengeratkan gigi tanda kesal namun dia bisa menyembunyikannya dalam senyuman. Akhirnya Aleta mengalah dan menuruti kemauan Bosnya. Sejujurnya dia hanya canggung berhadapan dengan Jonael setelah ciuman panas mereka tadi. Bahkan tatapan Jonael tetap menusuk padanya saat Aleta memberi penjelasan pada Nadine.     ****** Aleta berjalan seorang diri di lobby, seseorang menyusulnya dari belakang. “Aleta….”, serunya setengah berlari. Aleta menoleh, “Hai, Nadine.” “Kau pulang tepat waktu?”, tanya Nadine. “Tidak mungkin. Setelah ini aku akan pergi bersama si Boss untuk satu kepentingan. Kau dan lainnya beruntung tidak berada di posisiku.” “Mengerikan. Hmm… kau teman pertamaku, Ale. Maaf jika aku terlalu pemalu dan menyusahkanmu.” “Easy, Nad. Aku juga pernah jadi anak baru… Oh lalu bagaimana hari pertamamu?” “Ahh itu masih menyenangkan, banyak yang menyambutku dengan senang.”, jawabnya riang. “Bagus. Semoga kau betah dan bisa mengambil banyak ilmu disini.” “Benar. Baiklah mungkin aku pulang duluan. Selamat bekerja untukmu, Ale.”, pamitnya. “Tunggu. Dimana rumahmu? Bukankah kau harus ke parkiran jika membawa kendaraan sendiri?”, ucap Ale heran karena Nadine justru menuju ke pintu lobby. “Rumahku tak jauh dari Blitz Tower, aku pulang dengan taxi.” “Seriously?” “Iya, kenapa?” “Itu lumayan jauh dari sini. Kau harus mengeluarkan banyak uang untuk taxi.” Nadine mendekat ke arah wajah Aleta kemudian membisikkan sesuatu, “Aku tidak bisa menyetir, itulah alasan sebenarnya.” Aleta melotot tak percaya, “Anything? Maksudmu mobil?” “Motor dan mobil. Ayahku tidak mengizinkan. Heehee.” pasrahnya. “Poor you, Nadine… ckck…. Baiklah kau bisa pulang bersamaku. Jonael tidak akan keberatan karena acara kami satu arah dengan rumahmu.” “Oh jangan, tidak perlu merepotkan seperti itu. Ada taxi.” “Ssst… aku tahu uangmu banyak, tapi tidak salah juga kau ikut kami, bukan?” Nadine menggerakkan kepala ke sekitar, “Apa kata pegawai lain jika anak baru sepertiku naik ke mobil pimpinan? Jangan bercanda.” “Tidak perlu khawatir. Sudahlah, kau ikut bersamaku dan semua aman.” Nadine memberi ekspresi pasrah karena tidak bisa menolak lagi permintaan Aleta. Tak lama kemudian, Jonael datang dengan mengendarai mobilnya sendiri. Kali ini dia tidak membawa Pak Bima. Di awal Jonael terkejut dan sempat memberi kesan aneh pada ide Aleta. Namun penjelasan wanita itu coba ia terima untuk setuju untuk Nadine bergabung.     ****** Seorang pelayan datang membawa satu koper berukuran sedang untuk Jonael. “No, ini terlalu besar.”, keluhnya. “Jona, kau akan ke Paris. Koper itu cukup.”, sela Aleta dengan mendekat pada pelayan. “Aku tidak suka. Aku hanya ingin hal yang simple. Koper kecil saja, mbak.”, pinta Jonael. Sang pelayan memberi Aleta anggukan sekilas lalu berjalan ke belakang. “Jangan samakan Paris dengan Bali. Kau harus lebih menjaga diri disana.” “Aleta Adnan, kau hanya perlu merapikan keperluanku agar muat di koper kecil. Jangan berlebihan. Sisanya bisa kubeli disana.” “Dan kau tidak memberi space untuk oleh-oleh?” “Kau sedang meminta?” “Kau mendengar aku berkata begitu?” “Di keningmu jelas tertulis ‘aku ingin hadiah’…..”, goda Jonael dengan menunjuk wajah Aleta. Wanita itu bergerak mundur satu langkah. “Lalu apa kau mendengar aku memintanya? Tidak.” Jonael mengumbar sedikit senyum mendengar alasan Aleta. Dia berjalan maju hingga tangannya mendekat dan mengelus kepala atas milik wanita itu. “Jika aku menemukan hal baik sebagai hadiahmu, akan kubawa pulang bagaimanapun caranya. Tenang saja.”, ucapnya lirih namun penuh penekanan. Aleta kembali merinding dan tersengat listrik kecil mendengar kalimat itu. Dia tidak ingin rona di pipinya terlihat oleh Jonael, Aleta berdalih pergi ke toilet dengan cepat.    ****** Hari sudah malam, Aleta masih setia menyiapkan keperluan Jonael untuk perjalanan bisnis ke Paris selama lima hari. Mulai dari keperluan pribadi hingga materi pekerjaan, semuanya bisa dia handle sendiri. Lalu dimana Jonael? Lelaki itu tengah berbincang dengan Ayahnya di ruang baca. Aleta merasa kesepian di lantai dua, di kamar besar Jonael, hingga Susan si penyelamat datang membawa satu gelas minuman hangat. “Ahhh kau penyelamatku, Susan.”, Aleta merasa lega. Susan berjalan ke arah nakas di samping ranjang dan meletakkan nampannya disana. “Apa masih banyak? Perlu kubantu?” “Tidak, terimakasih. Sudah hampir selesai. Lagipula Jonael bisa bingung jika kau yang menatanya.”, canda Aleta. “Benar. Jika itu aku, tidak peduli baju dipakai kapan, untuk apa, dan posisinya dimana, yang pasti harus masuk dalam koper.”, jelasnya dengan tawa riang. “Sesuai dugaanku.”, bangga Aleta karena bisa menebak sifat Susan. Susan berdiri dan membersihkan ranjang Jonael, “Jona sebenarnya suka kebersihan tapi dia lemah pada kerapian.” “Aku bisa melihat itu.”, jelas Aleta dengan senyum jahil. “Bedcover ini selalu berantakan. Dia sangat tidak berbakat untuk mengembalikan ke posisi semula.”, keluh Susan. Aleta tertawa sambil terus berbenah hal lainnya. “Apa itu sejak kecil?” “Iya. Dari kecil sudah berantakan, parahnya bertahan sampai sekarang.” “Hahaa… berbeda dengan urusan pekerjaan. Dia tidak suka jika ada hal yang berantakan.” Jonael tiba-tiba masuk dan menginterupsi obrolan dua wanita itu. “Apa belum selesai?” Aleta mendongak. “Sedikit lagi.” “Sudah kubilang, jangan—” “Iya, Jo. Hanya beberapa pakaian ganti dan jaket. Tidak banyak.” “Selesaikan lalu kuantar pulang.” Susan melihat keduanya dengan senyum tertahan. “Aku suka melihat cara kalian berbicara.” Keduanya menoleh ke arah Susan yang berdiri mengambil nampannya di nakas. “Ada yang salah?”, tanya Jonael. “Tidak, hanya saja – ah tidak ada, lupakan. Aku sebaiknya turun. Selamat malam Ale…”, sapa Susan kemudian berjalan cepat ke arah pintu untuk keluar. Tinggallah Aleta dan Jonael dengan saling tatap karena merasa canggung setelah mendengar Susan. “Apa?”, tanya Aleta. “Memang aku bilang apa?”, jawab Jonael. Aleta menutup koper dan berdiri dari duduknya. “Selesai. Semua materi ada di laptop. Aku akan ingatkan agenda di jam-jam pentingmu saat di Paris. Semoga jetlagmu tidak terlalu lama.” “Aku ingin kau ikut.”, ucapan singkat Jonael membuat Aleta terkejut. “….. temani aku ke Paris, Ale.” Mulut Aleta bahkan masih terbuka karena heran. “….. kau mau?”, tanya Jonael sekali lagi. Dengan pelan kepala Aleta bergerak ke kanan dan ke kiri. “Biar aku manghandle pekerjaanmu disini. Akan sedikit berkurang saat kau pulang.”, tolak Aleta secara halus. Jonael mendekat dan menarik Aleta untuk mendekat. Sekali lagi dia melangkah maju hingga tubuh mereka tak berjarak. Deru nafas Jonael menjalar ke wajah Aleta. “Aku membutuhkanmu sebenarnya.” Aleta tidak ragu menatapkan matanya pada Jonael, “Kau tidak pernah begini tentunya.” “Jangan membalasku.” Ucap Jonael. “Itu tidak akan terjadi.” “Memang kenapa? Asisten mengikuti kemana Bossnya pergi dan itu normal.” Aleta mengambil nafas sebentar. “Tapi…..” “Tapi apa? Kita masih dalam kesepakatan. Kau harus dekat denganku, bukan? Apa yang aku dapat dari perjanjian itu? Kau justru menjauh.” “Karena seharusnya kita sudah berhenti.” “Harus? Saat waktu belum habis?” “Iya.” “Kenapa denganmu? Kau membenciku, huh?” “Tidak, Jo.” “Lalu? Jelaskan.” Aleta mundur satu langkah agar tubuh mereka memiliki jarak. “Lupakan. Persiapanmu selesai. Besok pesawatmu pagi. Aku sudah menghubungi Pak Bima untuk menyesuiakan keberangkatanmu tepat waktu--” “Stop dulu. Jangan mengalihkan pembicaraan.” Aleta mulai tidak nyaman. “Kita tidak harus membahas sekarang, Jo.” “Lalu kapan? apa kita harus membahas ini saat di kantor? Saat bekerja? Saat meeting?” Aleta menghembuskan nafas kasar, “Berlebihan.” “Maka jangan menjauh, temani aku ke Paris dan aku akan menganggap kau baik-baik saja.” Aleta mencari tas kecilnya di sebuah meja dan mendekati pintu keluar. Dia mengabaikan permintaan Jonael karena baginya itu konyol. Tidak, sebenarnya dia hanya tidak ingin melakukan itu. “Maaf… aku pulang. Semoga perjalananmu menyenangkan.” Aleta pergi dan Jonael mematung di tempatnya berdiri karena secepat kilat Aleta menghilang. Wanita itu memang tak bisa ditebak. Kemarin mereka berciuman dengan intens namun hari ini terasa asing. Jonael memijit pelipisnya heran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD