PART 19

1285 Words
“Melamun, Ale?”, sapa Bella mengagetkan Aleta yang sedang termenung di meja kerjanya siang itu. Bella mengambil satu kursi untuk dia tarik mendekat ke samping Aleta. Bella memperhatikan tangan temannya yang tengah memainkan satu kertas penting. Aleta hanya menoleh tanpa memberi jawaban. Dia kembali mamandang kosong pada pintu ruangan Jonael. “Aku mencium bau penyesalan. Apa kau berencana menyusul?”, tanya Bella setelah memperhatikan mimik temannya. Aleta mencelos dan menautkan alis, “Apa kau gila?” “Lalu kenapa kau memegang tiket dengan cemas? Dia sudah berangkat, bukan?” “Belum. Beberapa jam lagi.” “Dan kau membeli dua tiket sebenarnya.”, Bella menuntut penjelasan. “Hanya untuk berjaga.”, jawab Aleta singkat. Bella menarikan tangannya ke udara seperti membentuk huruf O berputar, “Atau kau berubah pikiran di tengah jalan untuk tidak memenuhi kewajibanmu sebagai asisten Bos?” Aleta mendengus dan mengusap wajahnya, “Sial. Apa aku terlihat tidak profesional?” “Tentu.”, Bella menjawab penuh percaya diri lalu menarik wajah Aleta agar menatapnya. “….kau penakut, Ale.”, pungkas Bella. “Kau tahu, Paris adalah kota kenanganku jadi aku seperti-” “Ale, kau ini membingungkan. Kau ingin dia ingat tapi kau takut jika dia ingat. Aku sebagai pendengar saja sangat pusing.”, keluh Bella dengan menyorot mata Aleta. Satu panggilan tiba-tiba masuk ke ponsel Aleta. Dengan wajah malas dia menjawab, Bella diam sejenak, “Ya, Isaac? Ada apa?” ‘Kenapa kau tidak ikut atasanmu, Ale? Aku mengharapkanmu ada di Paris.’ Aleta sedikit terkejut, “Wait, kau kesana juga?” ‘Tidak perlu terkejut. Aku sudah masuk jajaran sekelas Jonael jadi aku harus hadir di konferensi bergengsi itu. Ini kesempatan emas, bukan? Apalagi jika bisa melihatmu disana.’ Aleta mendengus lagi, entah sudah berapa kali dia susah bernafas hari ini, “Maaf tapi aku tidak menemani Bosku ke Paris.” ‘Hmmm kalau begitu, apa mungkin bisa kau menemaniku saja?’ “Aku masih waras, Isaac.”, protes Aleta. ‘Yaa siapa tahu kau suka hal unik, maka ide itu sangat menarik. Tapi yasudah, aku meminta waktu bertemu nanti setelah aku kembali ke Jakarta, bagaimana?’ “Aku tidak janji. Kita tidak ada kepentingan unt-” ‘tut….tut….tut…’ satu lagi panggilan masuk ke ponsel Aleta. “Maaf Isaac, ada telepon penting. Selamat jalan. Aku tutup. Bye.” Secara sepihak Aleta memutus panggilan mantan kekasihnya. Aleta termenung menatap layar ponsel. Ada nama Runadi Sagha disana. “Siang, Tuan Sagha.”, sapa Aleta. ‘Aleta, kau dimana? Apa kau tidak bersama Jonael?’, nada tegas keluar menekan telingan Aleta. “Ken-kenapa, Tuan? Saya di kantor.”, jawab Aleta terbata dan pelan karena jujur dia sedikit takut. ‘Dan kau biarkan Jonael pergi seorang diri?’ “Itu-iya, karena-“ ‘Aleta, tolong. Jonael belum bisa mengurus dirinya sendiri. Sekarangpun dia kena masalah dan kau tidak disana?’ “Ap-masalah apa?”, Aleta terkejut. ‘Koper Jonael hilang saat dia ke toilet dan entahlah dia hanya memberi tahu hal itu lalu ponselnya mati. Demi Tuhan, kenapa kau tega, Aleta?’ Aleta memijit kepalanya dan memejamkan mata tidak percaya pada apa yang baru dia dengar. Bella tahu keresahan Aleta, dia mengusap punggung temannya pelan. “Maaf, Tuan… tap-“ ‘Satu hal lagi. Aku tidak tahu ini berita buruk macam apa tapi mantan istriku juga ada di penerbangan yang sama dengan Jonael. Tolong, apa mungkin aku yang harus tertatih kesana menemani Jonael, huh?’ Oh God!!! Kalimat panjang Runadi menusuk hati Aleta. Dia terkejut, sedih, dan khawatir dalam satu waktu. Matanya mulai berair. Hatinya sangat panas. “Maafkan saya, Tuan.”, kemudian panggilan diputus oleh Aleta. Dia menangis di pelukan Bella. Sudah tidak terbendung dan dia tidak peduli didengar oleh pegawai lain. Aleta merasa sangat sedih.     ****** Bandara. “Aku baru saja menghubungi Aleta.”, ucap Isaac percaya diri. Saat ini dia duduk di dekat Jonael. Jonael gusar namun dia tidak ingin terpancing dulu, “Lalu kenapa?”, jawabnya santai. “Aku mengajak dia ke Paris, maaf lancang atas pegawaimu.” “Itu pantas disebut lancang saat kau menyuruhnya meninggalkan pekerjaan demi kepentingan pribadi, Tuan Baktijaya.” “Ya, aku hanya mencari peruntungan pada asistenmu, Jo. Dia sangat menarik, oh masih menarik.”, ralatnya. Jonael mengeratkan gigi dan meneguk saliva keras. Sial, ungkapan apa itu? Isaac yang b******k masih mengharapkan Aleta? “Bagaimana jika kau jauhi dia dan kerjasama kita tetap berjalan baik?”, tawar Jonael. “Apa hubungannya dengan pekerjaan? Aku hanya berbicara ringan kali ini. Easy, bro.”, ucap Isaac santai. “Tapi aku tahu dia terganggu olehmu, Isaac. Dan hal itu membuat iklim kerjaku tidak menarik.” “Benarkah? Kau tahu? Jadi maksudku kau juga tahu kalau-?” “Ya, kalian pernah dekat, bukan? Aleta bercerita.” Isaac bertepuk tangan di udara dengan senyum sangat lebar, “Waaw….waaaw… dia mengakuiku. Bagus.” “Dia mungkin bukan manusia pendendam.” “Setidaknya dia tidak lupa dan masih mau berbicara padaku. Aku berniat baik. Kali ini aku sudah berubah lebih dewasa.” “Kau tidak perlu menjelaskan dirimu padaku.” “Kukira ini perlu, mengingat sikapmu sangat antipasi padaku seperti sekarang.”, balas Isaac. Jonael menghela nafas dengan tenang, meski hatinya bergemuruh ingin berteriak ‘Jauhi wanitaku, Brengsek.’ “Aku tidak suka jika asistenku merasa tertekan. Apa bisa kau mengerti?”, Jonael menurunkan emosi. Isaac memperhatikan cara bicara Jonael dengan seksama, “Apa kau juga menyukainya?” “Jugaaa?”, sahut Jonael cepat. Isaac mengangguk. “Iya. Kurasa kau berlebihan sebagai atasan. Dan aku mengaku masih tertarik pada Aleta.”, Isaac berbicara tanpa beban. “Jaga ucapanmu.” “Kau terganggu atas apa? Apa benar kau menyukai asistenmu sendiri?” Jonael semakin geram dengan tingkah tengil Isaac. “Apa jawabanku bisa mempengaruhi sikapmu kemudian?” “Tergantung…” “Ya, aku menyukainya. Bagaimana?”, sahut Jonael dengan pasti dan cepat. “Waaaw luar biasa….” “Maka kau harus tahu cara untuk mundur. Aleta bukan lagi incaranmu.” “Maaf Jonael Sagha, tapi aku sendiri yang akan menentukan bagaimana langkahku. Aleta bukan kekasihmu. Kau hanya seseorang yang menyukainya, sama seperti banyak lelaki diluar sana.” “Aku berbeda, Isaac.” “Tidak berbeda, selama bukan Aleta yang mengatakannya.” Sial !!!! “Kau memanaskan hubungan kita.”, terang Jonael dengan meneliti tingkah Isaac yang menyebalkan. Dia berusaha tidak terpancing amarah, dia harus menjaga wibawa meski pokok pembahasan ini adalah wanita yang ia kagumi. “Tenang, Jo. Aku tahu cara bersikap profesional. Ini murni diluar pekerjaan, oke? Kita tetap berpartner. Tidak ada yang berubah.” “Aku sangat faham, Isaac. Maka perhatikan langkahmu.” “Yayaaa… kurasa kita bisa bersaing dengan sehat.” “Aku tidak bersaing dengan siapapun. Aku satu-satunya.”, balas Jonael. “Kenapa kau terlalu percaya diri?” “Aku memang seperti ini.” “Hahaaa….” Isaac tertawa di hadapan Jonael. “Simpan energimu, Isaac. Perjalanan kita sangat jauh.” “Aku hanya merasa lucu. Kau berusaha menarik Aleta yang bahkan menolak menemanimu ke Paris.” Jonael menaikkan satu alisnya ditambah senyum smirk kecil. Kau tidak tahu saja, Isaac menyebalkan, batin Jonael bangga. “Dia akan datang.” Ucap Jonael tanpa ragu, lalu membuka ponselnya. Isaac kembali tertawa dengan menggoyangkan kepalanya. “Halo, Ale?”, sapa Jonael untuk sosok di seberang telepon. Isaac berhenti tertawa dan memfokuskan pendengarannya. Jonael sengaja menekan tombol loudspeaker. ‘Kau dimana, Jo?’, suara Aleta terdengar berat dan terengah. “Hah? Aku di Bandara.”, Jonael merasa aneh karena justru Aleta yang bertanya duluan. ‘Aku tahu, bodoh. Maksudku kau di bagian apa?’ Jonael terkejut dengan u*****n itu. Gila, Isaac bahkan disana mendengarkan. “Lounge. Emm, Ale sebenarnya aku ingin kembali membuju-“ ‘Oke aku hampir sampai.’, sergah Aleta cepat. Jonael menegang seketika, begitupun Isaac. “Kau apa???? Maksudku, sebaiknya-“ ‘Iya Jonael Sagha. Aku akan kesana. Aku sudah di pintu masuk bandara.’ “Jangan bercanda, Ale.” ‘Kau yang bercanda. Bagaimana bisa lelaki dewasa kehilangan kopernya?’ “Mmmm…. Itu--“ ‘Sudahlah.’…… panggilan terputus. Jonael mematung memandang layar ponselnya. Apa itu tadi benar Aleta yang dia harapkan? Benarkah semudah itu dia setuju untuk datang? Apa strategi Jonael berhasil?    ****** Flashback on : Jonael dan Ayahnya duduk di ruang baca. Jonael berpamitan dengan wajah sedikit tertekuk. “Hubungi Ayah saat kau sampai di Paris.” “Iya. Aku pergi beberapa jam lagi.” “Mampir kantor dulu?” “Tidak.” “Dan Aleta memang tidak ikut?” “Iya.” “Kau setuju begitu saja?” “Sebenarnya aku sudah memaksa tapi dia begitu sulit.” “Asistenmu itu memang unik.” Jonael menerawang bayangan Aleta yang seharusnya bisa menemani dia di Paris. “Ya, memang. Membuatku pusing—oh apa aku bisa minta tolong satu hal?”, tiba-tiba satu ide terbersit di kepala Jonael. Sang Ayah yang penasaran hanya mengangguk tenang. “Ini mungkin terdengar klise tapi aku hanya ingin melihat reaksinya. Dia sudah pasti tidak akan menemaniku ke Paris karena dia hanya menyiapkan keberangkatanku saja tapi-….” “Apa? Kau perlu apa?”, tuntut Runadi Sagha. “Tolong Ayah hubungi Aleta dan bilang padanya bahwa mmmhh… wanita yang aku hindari berada di satu penerbangan denganku.” Runadi Sagha merasa getir saat mendengar Jonael menolak untuk menyebut nama Ibunya. Dia memilih kata ‘wanita yang aku hindari’ dan itu sangat tidak menarik bagi Runadi. “Apa harus sejauh itu?” “Hanya sentakan agar Aleta merasa bersalah.” “Apa yang kau harapkan, Jo?”, selidik Ayahnya. “Tidak ada. Aku hanya ingin menghukum bawahan yang sedikit kurang ajar.” “Benarkah?” “Iya.”, dalam hati Runadi tersenyum karena sebenarnya dia jauh lebih tahu daripada ucapan mulut Jonael yang sangat gengsi itu. “Oke, nanti aku hubungi Aleta.” “Terimakasih Ayah. Maaf jika aku sangat konyol.” “It’s ok. Aku juga pernah muda.”, kemudian mereka tertawa bersama. Flashback End.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD