PART 20

1354 Words
Lounge Bandara. Jonael menatap kehadiran Aleta dari jauh. Dia masih di ambang percaya dan tidak percaya. Wanita ini benar-benar datang mengantar kepergiannya. Saat berjalan Aleta terlihat mengedarkan pandangan ke kanan-kiri, ke beberapa sudut ruangan, dan berkali-kali. Jonael tidak faham dan hanya menunggu hingga wanita yang ia rindukan sampai ke dekatnya. Aleta memasang wajah datar saat dia sudah menggapai meja Jonael. Mata mereka saling bertatap dengan penuh tanda tanya. Isaac hanya diam melihat pemandangan itu. “Kau serius datang….”, ungkapan heran Jonael akhirnya keluar. “Semua karena-“, kata-kata Aleta berhenti saat dia menemukan Isaac tengah menatap mereka dengan serius. “Oh, Hai Aleta. Senang kau disini.”, sapa Isaac dengan senyum yang baru muncul. Jonael tidak suka melihatnya. “Ya, Isaac. Tapi aku ingin bicara berdua dengan atasanku. Kami permisi sebentar.”, jawab Aleta yang kembali menatap wajah bingung Jonael. “…… kita bicara.”, ulangnya dengan berjalan menjauh. Jonael berdiri dan mengikuti kemana Aleta pergi. Satu meja di sisi lain berada di balik dinding yang kini tidak memperlihatkan sosok Isaac. Mereka tidak duduk dan hanya berdiri disana. “Akhirnya Aleta Adnan bersedia mengantarku. Kau masuk kesini dengan kartu member?”, Jonael membuka percakapan. Aleta menghela nafas ringan, “Kau baik-baik saja?”, dia menurunkan tensi bicara menjadi lembut. Suara itu sangat tenang masuk ke telinga Jonael. Wanita ini, ahh. “Aku kenapa?”, tanya Jonael tidak bersalah. “Ayahmu bilang--?” Jonael seperti mendapat kesadarannya dalam sepersekian detik kemudian memotong perkataan Aleta. “Ahh, iya. Ak-aku tidak melihatnya.”, ucapnya terbata demi berbohong. “Dia tidak di Lounge ini?”, ungkap Aleta kembali memperhatikan sekitar. “Iya, mungkin. Apa bisa kita tidak membahas itu?” “Maaf membuat tak nyaman tapi aku hanya memastikan keadaanmu.” Sekali lagi, bunga bermekaran di hati Jonael. Sangat merekah. Desiran hangat merayap di hatinya. Jonael tersenyum. “Terimakasih kau sudah datang, Ale. Setidaknya aku hmmm—senang ada yang mengantar sampai keberangkatan.” Aleta mengangkat alis karena dia belum mengatakan niatan sebenarnya. “Dan apa benar kau kehilangan kopermu?”, tanya Aleta penasaran. Jonael mengangguk, “Benar. Aku bahkan tidak percaya itu terjadi.” “Sudah membuat laporan?” “Sudah. Tapi kau tentu tahu aku tidak bisa menunggu. Jadwal di Paris tidak bisa ditunda.” “Yaa…. benar….”, ucap Aleta lemah. “Tidak masalah, Ale, kau bisa mengurusnya selagi aku di Paris, bukan?” “Tidak bisa, Jo.” “Kenapa?” “Mmmhh… karena- itu karena- kita akan menggelandang bersama disana.”, Aleta menjelaskan dengan terpotong-potong. Jonael mengernyitkan dahi tak faham. “Kau bilang apa??? Disana?” “Di Paris.”, terang Aleta dengan wajah tegas namun tersirat malu. Bola mata Jonael hampir keluar karena terkejut. Sangat terkejut hingga dia menggoyang kedua bahu Aleta. “Jangan tarik ucapanmu, Ale.”, pinta Jonael dengan wajah serius dan tegang. Aleta mengangguk tenang. “Kau akan pergi denganku? Tap- tapi bagaimana dengan penerbangan dan-“ “Aku membeli dua tiket.”, potong Aleta membuat Jonael kembali tercekat. “Kau serius??? Jantungku hampir lepas.”, Jonael menarik satu tangan Aleta ke dadanya. “Kau mengacaukan persiapanku dan aku tidak ingin disalahkan lebih lanjut. Lebih dari itu aku khawatir saat-- ya sudahlah, aku sudah memutuskan untuk ikut.” “Tapi kenapa kau harus menolak di awal dan-“ “Bisa kita lewati alasannya dan bersiap berangkat?” “Iya.”, jawabnya pendek. Dia tidak ingin Aleta berubah pikiran. “Bagus. Satu hal yang perlu kau tahu, aku tidak membawa barang apapun kecuali passport dan tas kerja. File pekerjaanmu sudah aku backup di e-drive.” Jonael menahan tawa sambil menurunkan tangan Aleta yang tadi ia genggam di dadanya. Dia tidak melepas tautan itu. “Tenang saja, laptopku aman. Hanya koper yang hilang. Aku tak masalah tak memiliki baju ganti.” “Selamat karena sekarang bukan hanya kau. Aku juga. Mungkin aku sudah gila.”, keluhnya merasa bodoh. Jonael secara mendadak menarik Aleta untuk dia peluk. Lelaki ini merasa senang. “Jika kegilaanmu bisa membahagiakanku, maka jangan pernah jadi waras, Ale.”, goda Jonael dalam pelukannya. Aleta sedikit meronta untuk dilepas, dia merasa risih karena sedang di tempat umum. Aleta bergeleng pasrah. “Kau harus menanggung kebutuhanku disana.”, tuntut Aleta. “Perintah diterima.”, jawab Jonael dengan senyuman.    ***** Isaac merasa aneh ketika saat ini Aleta berjalan di samping Jonael untuk masuk ke badan pesawat. Aleta yang tadi jelas-jelas menolak ikut kini berubah pikiran. Isaac merasa sedikit kesal mengingat dia baru saja beradu argumen dengan Jonael. Apa dia kalah? Tidak semudah itu. Isaac Baktijaya pantang menyerah. Aleta berjalan dengan tenang tanpa mengindahkan kehadiran Isaac di belakang. Dia tak memiliki banyak kata basa-basi untuk dibahas. Jonael pun tak sungkan memunculkan wajah kemenangan pada rekan bisnis sekaligus saingan asmaranya itu. Mereka sudah sampai di kursi masing-masing. Area business class begitu mempesona bagi Aleta. Dia selalu suka bepergian dengan fasilitas ini, berbeda hal dengan dua lelaki yang menganggapnya biasa saja. Aleta duduk di samping Jonael sedangkan Isaac berada jauh di belakang mereka. Jonael kembali tersenyum miring melihat keadaan itu. “Ale, dimana kau memesan hotelku?”, tanya Jonael setelah memposisikan dirinya dengan baik. Dia membuka penyekat kursi antara dirinya dan Aleta. “Kenapa?”, tanya Aleta acuh sambil mensetting ponsel. “Aku tidak ingin satu hotel dengan Isaac. Bisa kau atur itu?” “Tidak bisa karena aku tidak tahu dimana dia akan tinggal.” “Ahh, yaa…”, Jonael merasa bodoh dengan permintaannya. “Aku akan memesan kamar setelah kita sampai di Paris. Jangan sampai kau merengek membuat perintah konyol hanya karena Isaac.” Jonael tercekat dan baru ingat. “Kau hanya memesan satu untukku?” “Iya. Kau kira aku punya banyak waktu?” “Ohh… ya terserah saja kau mau memesan kamar apa, asal masih satu hotel denganku. Kau bebas dengan kartu kredit kantor.” “Tidak perlu diingatkan. Aku pasti merampok uangmu.” “Uang kantor.”, terang Jonael. “Kantormu.”, balas Aleta tak mau kalah. Jonael mengerlingkan mata jengah lalu menyerahkan satu kartu pada Aleta. Pesawat mulai lepas landas setelah perdebatan mereka selesai. Aleta kembali mengedarkan pandangan ke berbagai arah hingga beberapa orang merasa terganggu. Jonael yang melihat itu segera menarik lengan atas Aleta dan mendudukkannya agar tenang. “Kau mencari Isaac?”, tuntut Jonael dengan alis berkerut. “Haasssh… bukan. Aku mencari mmmh—ibumu.” Jonael kemudian melepas genggamannya di lengan Aleta dan kembali bersandar di kursinya. Pandangannya lurus menatap monitor dengan satu film yang tengah diputar. “Kau tidak ingin aku membahas itu?”, tanya Aleta. “Tidak perlu. Dia tidak disini.” “Kau tahu dia di kelas berbeda?” “Tidak.” “Lalu apa yang kau tahu hingga melarangku khawatir? Ayahmu bisa marah jika aku tidak menjagamu-“ Jonael menoleh dengan cepat, “Kau benar-benar kemari karena Ayahku, huh? Asal kau tahu, wanita itu tidak ada di penerbangan ini. Aku meminta Ayah berbohong padamu.” Aleta menahan nafas sejenak karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Kau apa?”, kejar Aleta. “Sorry, tapi hanya itu caranya. Aku membutuhkanmu.” Aleta kini tahu benar apa yang dimaksud Jonael. Ya, dia sudah tertipu, terlambat,  pesawat sudah berangkat. Dia sangat kesal dan tidak bisa berkata-kata. Dia memilih diam lalu memalingkan pandangan ke arah lain. Dia tidak sudi menatap Jonael. “Ale, kau dengar aku minta maaf, bukan? Kau yang coba menghindar dari kewajiban tapi aku yang memohon. Lalu kau sekarang marah?” Aleta tidak menjawab. Dia menekan tombol penutup sekat dan segera memasang headphone agar tidak bisa mendengar kalimat Jonael lagi. Lelaki itu menghela nafas berat melihat kelakuan asistennya. Aleta memang tidak bisa ditebak. Bahkan tingkah marahnya sulit sekali dia ikuti.    ***** Sesampainya di Paris, hari kembali pagi. Ada waktu beberapa jam untuk istirahat sebelum agenda pertama Jonael diadakan malam hari. Sangat disayangkan, permohonan Jonael untuk berbeda hotel dengan Isaac ternyata tidak dikabulkan. Lelaki pengganggu itu sudah berdiri di depannya tengah melakukan check in. Jonael menatap kesal dan menoleh pada Aleta yang sejak tadi bertahan dalam diam. Jonael mencoba peruntungan, “Aku ingin kita cari hotel lain. Aku tidak peduli keluar banyak uang.” Aleta maju satu langkah tanpa memandang Jonael, “Silahkan saja, tapi aku tidak akan kemana-mana.” “Jangan melawanku, Ale.” “Tidak. Kau bebas memilih hotel lainnya, akan kuurus pesananmu disini.” “Kau ikut.” “Aku tetap disini. Silahkan pergi.” SIAL. Jonael menelan resikonya akibat berbohong. Kini Aleta berubah acuh, tidak seperti kemarin siang yang masih penuh perhatian. Jonael menghentikan rengekannya dan menuruti Aleta. Dia berjalan di samping wanita yang siap mengurus masalah resepsionis. Tanpa bicara apapun, Aleta tahu jika Jonael menyerah dan tetap tinggal disini. Dengan cepat dia sudah mendapatkan dua access card dan memberikan satunya pada Jonael tanpa sepatah katapun. Aleta berjalan cepat di depan Jonael yang mematung. “Kau sungguh tidak membawa barang apapun, Ale?”, tanya Isaac yang memperlambat langkahnya demi mensejajarkan diri dengan Aleta. “Iya.” “Aku bisa bantu cari keperluanmu jika kau butuh.”, tawarnya. “Terima kasih, Isaac. Tapi aku bisa sendiri.”, Aleta menjawab dengan tenang. “Oh, okey. Lalu kau di lantai berapa?” “Sepuluh.” “Waw, sebuah kebetulan yang sangat indah. Kita sama.” “Aku hanya berpikir untuk menguras uang seseorang tanpa mempedulikan kebetulan.”, jawab Aleta acuh sambil terus berjalan. “Pilihanmu memang terbaik, Ale. Kau wanita biasa yang memiliki selera tinggi.” Aleta tertegun lalu menghentikan langkahnya. “Maaf Isaac tapi bisakah kau berhenti bicara padaku? Aku lelah menanggapi basa-basi ini.” “Kenapa? Apa karena kau tidak enak dengan Bosmu?” “Tentu tidak. Bosku tidak peduli pada perilaku ‘wanita biasa’ sepertiku.” Sebuah sentakan yang sama sekali tidak dirasa oleh Isaac. Aleta sedikit tersinggung dengan julukan itu. Aleta meninggalkan Isaac dan berjalan semakin jauh hingga dia naik dan mencapai kamarnya. “Sialan, semua lelaki hari ini menyebalkan.”, teriaknya begitu masuk ke dalam kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD