Tommy membawakan minuman hangat untuk Aleta. Wanita itu berada di tengah kubikel, berbicara santai bersama pegawai lainnya.
“Hanya Aleta yang kau belikan?”, protes salah satu pegawai wanita bernama Bella.
“Benar, apa kau coba mendekati dia, Tom? Kau tidak tertarik padaku, huh?”, canda pegawai lainnya.
Mereka semua hanya tertawa dan menganggap itu sebagai candaan.
“Sebenarnya Tommy berhutang padaku. Satu tugasnya aku bantu selesaikan.”, terang Aleta dengan menyeruput creamer tea panas. Senyum manis masih melekat di wajahnya.
“Kontrak baru dengan sub convenience store di Sulawesi sudah selesai. Periksalah sebelum diserahkan Pak Jonael.”, pinta Tommy.
“Oke.”, Aleta mengacungkan jarinya.
Beberapa detik kemudian Jonael datang dan berjalan lurus tanpa menyapa gerombolan pegawai disana. Aleta mengabaikan pikiran aneh dan justru berpikir pada hal lainnya. Dia menyudahi pembicaraan dan pamit dari orang-orang.
Aleta menaruh cup minuman di mejanya, kemudian mengetuk pintu Jonael. Pada ketukan ketiga dia dipersilahkan masuk.
“Ada apa?”, tanya Jonael langsung.
Aleta masih mengamati atasannya dengan serius. Jonael duduk dan mulai menyalakan monitor. Dia belum menatap Aleta. Secara tidak langsung dia menyia-nyiakan kesempatan untuk pemandangan pagi yang biasa ia nantikan.
“Kenapa kau ke kantor?”, akhirnya Aleta bersuara setelah beberapa saat ruangan itu hening.
Jonael merasa aneh dengan pertanyaan itu, “Aku bekerja.”
“Aku sudah bilang bahwa ada toleransi karena kau sakit, Jo.”
“Ale, dengar. Hanya keluhan di badan tetapi pikiranku masih normal. Jangan menganggapku lemah dan kau jangan selalu berlagak sok tahu seperti itu. “, kali ini ada penekanan di kalimat Jonael.
Apa???
Oh….. Aleta dianggap berlebihan? Oke, wanita itu tersinggung dengan kalimat terakhir Jonael.
“Baiklah.”, ucapnya kemudian berbalik keluar. Tanpa pamit.
Sial, kondisi apa ini? Jonael marah bukan karena perhatian Aleta, tetapi karena dia melihat Aleta mulai dekat dengan Tommy. Dia diam di depan lift ketika para pegawai di tengah kubikel memberi candaan untuk hubungan Aleta dan Tommy.
Kini Aleta yang justru tersinggung karena mendapat keluhan dari atasannya di pagi hari. Awal yang buruk.
******
Mood Jonael semakin buruk ketika dia terpaksa turun ke lantai delapan untuk bertemu Aksa. Ruangan disana terkesan sangat penuh dan riuh. Jonael melihat gambar berbagai macam di sepanjang dinding. Dia hanya berdecak tanpa berniat marah karena dia di masa lalu pasti sudah tahu tentang ini dan nyatanya tetap terjadi.
Aksa tidak menyadari kedatangan Jonael. Dia masih tertawa terbahak bersama rekan satu tim lainnya. Ketika rekan disana melongo melihat sosok Jonael, barulah Aksa menoleh dan sadar bahwa tatapan mata Jonael sedang tidak baik.
Dengan gugup Aksa membenahi posisinya berdiri kemudian bersikap formal menyambut atasannya itu.
“Selamat siang, Pak Jona. Mari ke ruangan saya.”, ucapnya dengan mengarahkan tangan pada ruangan tengah diantara ruangan berbaris lainnya.
Jonael berjalan di samping Aksa dengan ekspresi mengeluh, lebih pada dekorasi yang memang tidak ia sukai.
Begitu sampai di ruang Aksa, Jonael melupakan segala keluh kesahnya tentang pekerjaan. Memang banyak hal yang dia lupa, tapi dia tidak menyangka justru banyak persoalan-persoalan pelik di dalamnya.
Aksa memperhatikan temannya dengan tenang.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?”, Jonael risih dengan tatapan Aksa.
Aksa menggaruk dagu, “Sepertinya kau banyak pikiran. Jika hanya tentang pekerjaan, tidak akan ada kalimat panjang sumpah serapah begitu. Ada apa? Mau berbagi cerita?”, tawar Aksa sebagai teman yang baik.
Jonael mencebik kemudian mengambil minum.
“Aku hanya tak habis pikir, kenapa aku bisa lupa ingatan….”
“Itu karena otakmu bergeser, Dude. Beruntung anggota badanmu yang lain masih lengkap.”, candanya.
“Sialan kau. Memang kepalaku terbentur keras tapi haruskah separsial ini? Aku bahkan tidak mengingat Aleta sama sekali.”
“Wait, kenapa nama Aleta tiba-tiba muncul?”
“Dia membuatku pusing.”, keluh Jonael dengan memijit pelipisnya.
“Bukankah dia pegawai yang profesional, Jo?”
“Memang. Tapi- Ah pusing. Dia seperti sesuatu.”
Aksa menautkan alis tanda tidak mengerti.
“Kau ini bicara tentang apa? Masih tentang pekerjaan atau keluar dari itu?”, tuduh Aksa tepat sasaran. Jonael beringsut dari posisinya duduk. Tanda tak nyaman karena Aksa mulai membaca pikirannya.
“Kau tahu, seperti perasaan nyaman tiba-tiba muncul. Oh- sekarang aku tanya padamu… bukankah dia cantik? Menarik?”
Aksa mengangguk, “Iya. Dia sangat cantik dan bisa merawat diri dengan baik. Lalu?”
“Sial, kau mengakui itu. Berarti aku normal dan rasional, bukan?”
“Kau suka Aleta?”, todong Aksa tanpa basi-basi.
Haaaash… Jonael justru menyemburkan nafas berat.
“Aku tidak tahu. Mungkin ini terjadi pada sebagian besar lelaki di bumi, tetarik pada wanita cantik. Aku suka melihat dia, aku suka karena dia cantik. Ya, hanya sebatas itu.”, kilah Jonael.
“Bukankah kau harus bersyukur pada kecelakaan itu? Setidaknya Aleta kini bekerja dekat denganmu.”
“Hey diamlah. Sudah kubilang ini hanya perasaan biasa.”
“Benarkah?”
“Iya.”, jawabnya yakin.
“Baguslah.”
Jawaban Aksa justru membuat Jonael terheran.
“Bagus?? Apa maksudmu?”
Aksa menggeleng pelan dan menepuk pundak Jonael yang sedang memasang wajah menantang.
“Jika sampai kau suka… huh, rumit. Sejak Aleta masuk di perusahaan, banyak laki-laki yang mengincar dia. Menurut berita, dari timku saja sudah ada lima orang.”
What? Seketika mulut Jonael terbuka dan dahi mengkerut tajam. Sial. Dia terkejut bukan main.
“…… sebenarnya ini rahasia tapi karena kau hampir masuk ke dalam club penggemar itu, maka aku peringatkan, sainganmu banyak.”, tambah Aksa.
Jonael kemudian tertawa keras. Meyadari kebodohan diri sendiri.
“Huh??? Aku bersaing dengan mereka? Kau tidak salah?”, ejeknya.
“Tapi Aleta memang berkelas, bukan? Tidak hanya cantik, dia bahkan memiliki otak yang pintar. Meski dari keluarga biasa, tapi terbukti dia memiliki posisi tinggi di perusahaan. Bukan hanya pegawai, beberapa partnermu juga mengajukan diri untuk bisa dekat dengannya, Jo.”
“Waw s**t. Kau sungguh pembohong besar, Aksa.”
“Tidak, Tuan Jonael Sagha. Saya mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi… apa mungkin kau merasa pesimis sebelum berperang?”
“Tutup mulutmu. Sudah kubilang aku hanya mengagumi kecantikannya, bukan berarti aku harus masuk ke daftar penggemar itu. Sialan, kau menjatuhkan wibawaku.”
“Ya… itu terserahmu. Selama Aleta belum menemukan tambatan hatinya, maka semua orang berhak untuk berjuang.”
Oh, jadi wanita itu belum memiliki kekasih? Jonael sedikit lebih tenang.
“Sudahlah… percuma bicara padamu. Masalahku justru tidak memiliki solusi. Aku pergi.”
Jonael bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan Aksa sambil memperhatikan wajah para pegawai laki-laki yang ada di lantai itu. Standar. Tidak ada yang tampan, sama sekali.
Oh dan satu hal lagi, Jonael memang muak melihat cat dekorasi disana. Terlalu ramai. ingatkan dia untuk menegur Aksa di lain waktu.
******
Aleta menarik satu kursi untuk bisa duduk berdekatan dengan Bella. Salah satu pegawai di lantai sepuluh yang dekat dengannya. Dia tidak ingin orang lain mendengar percakapan mereka.
“Astaga kau mengejutkanku, Ale…”, keluh Bella dengan mengelus dadanya.
“Lelaki sialan itu bilang aku sok tahu. b******k memang.”, keluh Aleta dengan mengibas-ibaskan rambut.
Hanya Bella dan Aksa yang mengetahui hubungan Aleta bersama Jonael. Rahasia selalu memiliki tameng cerita dan itu dilakukan mereka.
“Pak Jona-mu, huh?”, goda Bella. Mereka masih bicara dengan pelan sambil memperhatikan sekeliling. Pegawai lain masih sibuk dengan layar monitor masing-masing.
“Jangan buat aku juga kesal padamu, Bell.”
“Yang terjadi selalu kebalikannya, Ale.”, katanya mengedikkan bahu.
“Hasss…. Aku ingin menjambak rambutnya. Tidak tahu terimakasih.”
“Kau akan bingung saat dia berterimakasih dengan manis. Sudah benar dia bersikap kejam.”
Aleta meruncingkan alis, “Melantur sekali mulutmu.”
“Belikan aku latte panas lalu mulut ini akan memberi solusi dengan baik.”, saran usil dari Bella.
“Selama ini tidak pernah berhasil….”
“Hahaa kau sadar juga. Tapi aku selalu ada sebagai tempat sampahmu, mendengar sumpah serampahmu, dan menerima kekesalanmu. Aku tetap berjasa, bukan?”
“Kita sedang membahas aku, bukan dirimu. Aneh.”
Bella menggeser mineralnya untuk Aleta.
“Tenanglah. Kau harus bersikap biasa saja. Jangan terlihat terganggu meski kau memang terganggu. Jaga wibawamu.”
“Ahhh benar. Aku masih sadar siapa aku dan siapa dia yang sangat jauh berbeda.”, ucapnya dengan meneguk mineral itu.
“Bagus. Kita hanya pegawai tapi kau punya peluang dekat dengan dia. Menarik. Sekarang kembalilah bekerja dan jangan lupa meminum vitamin-mu.”
“Kenapa kau perhatian sekali?”
“Karena aku sedang flu dan kau mungkin saja tertular.”, jawabnya santai. Bella memberi kode dagu ke arah mineral di tangan Aleta.
Sialan, botol ini milik Bella, dia meminumnya secara langsung.
“Kau menjebakku, huh? Oh, aku membencimu, Bella.”
Wanita itu hanya tertawa melihat rekannya kelabakan lalu pergi sambil mengipas-ngipas mulutnya yang terbuka.
******
Hari sudah sore. Para pegawai berangsur pulang. Satu interkom memaksa Aleta untuk bertahan disana.
“Ya?”, jawabnya.
“Masuk.”, pinta Jonael untuk ke ruangannya.
Aleta masuk dengan wajah lelah karena seharian ini memang tugasnya sangat banyak.
“Bacakan agendaku besok.”
Aleta mengernyit, “Sudah aku kirim ke email-mu sejak tadi siang.”
“Aku tak sempat membuka, Ale. Bacakan saja.”, kesalnya.
“Oh… oke, besok pagi kau harus menghadiri rapat internal bersama tim pengembangan lantai lima, mereka memiliki program penting yang mendesak. Selanjutnya makan siang bersama pimpinan Baktijaya-…”
“Dimana?”
“Di Resto De’Geule, sesuai permintaan beliau.”
“Oke. Kau ikut.”, perintahnya.
“Iya, pasti.”
“Lalu?”, susul Jonael.
“Sore hari, kau harus memeriksa beberapa berkas. Salah satunya tentang pembaharuan kontrak dan laporan pajak.”
“Ada lagi?”, tanya Jonael dengan datar. Dia bahkan tidak memandang Aleta sejak tadi. Matanya tertuju pada monitor, meski entah dia sedang mengerjakan apa.
“Cukup itu untuk besok.”, jawab Aleta.
“Baiklah, tambah satu lagi agenda, makan malam di tempat yang sangat bagus. Kau pilih tempatnya, aku tidak mau hal receh. Pastikan semua berkualitas.”
“Untuk berapa orang?”, tanya Aleta.
“Dua orang.”
“Oke, aku reservasi segera.”, wanita itu mencatat di buku pentingnya.
Aleta berpikir jika atasannya kini sudah mulai membuka hati untuk wanita. Baguslah. Dia tidak akan lagi merasa risih dengan segala ucapan aneh Jonael seperti beberapa waktu terakhir.
Tiba-tiba ponsel Aleta berdering ketika ia tengah mencatat. Jonael akhirnya menoleh.
“Maaf.”, ucap Aleta.
“Angkat saja.”, Jonael mempersilahkan.
Lelaki itu kembali membuang muka ke arah monitor.
“Halo?”
“……….”
“Oke, aku segera turun. Tunggu di lobby saja.”
“……….”
“Iya tidak lama. Bye.”, kemudian panggilaan ditutup.
Telinga Jonael menangkap itu.
“Apa ada lagi yang kau tanyakan, Jo?”, tambah Aleta sebelum meninggalkan ruangan.
“Tidak ada. Tapi- Oh. Kau harus bisa menjaga sikap sebagai asistenku. Jangan membuat namaku buruk.”
Aleta mendengus lirih. Lagi-lagi lelaki ini bersikap aneh. Kesalahan apa yang dia lakukan sehingga harus dapat peringatan? Ahh…. Aleta malas berdebat. Dia segera pamit dan pergi.
Kembali, Jonael melongo karena merasa ajakan debatnya diacuhkan Aleta. Sungguh sial. Tangannya meninju angin yang tak nampak. Dia bingung menghadapi wanita susah ditebak seperti Aleta.