Aleta bersama temannya, Zia, mengunjungi sebuah café yang sangat tenang. Musik instrumen menghiasi seisi ruangan yang bernuansa peach itu. Mereka memesan minuman favorit masing-masing dan membeli beberapa snack.
“Bagaimana pekerjaanmu, Ale?”, tanya Zia membuka percakapan.
“Sejauh ini bagus.”
“Syukurlah. Kakakmu sangat rindu. Jadi kapan kau pulang?”
“Oh, mungkin akhir pekan.”
“Bukan itu… maksudku pindah untuk tinggal bersama kami. Apa tak bosan kau hidup seorang diri?”
“Lebih tepatnya mencoba mandiri, Zi. Kau tahu suamimu itu terlalu protektif padaku. Mana bisa aku mengeksplor diri jika begitu, huh?”
Zia menghembuskan nafas lelah, “Kalian sama-sama keras kepala.”
“Maka bilang padanya untuk tidak menghawatirkan aku secara berlebihan-“
“Nyatanya memang kau butuh perhatian lebih, bukan? Lihat kondisimu, Ale.”
“I’m fine, oke? Look…. Aku bisa beraktifitas seperti biasa.”
Zia mengambil satu tangan Aleta dan menggenggamnya erat, “Jangan ragu menghubungiku jika ada apa-apa, oke?”
Aleta tersenyum senang, “Iya kakak ipar cerewet….”
“Sialan, aku tidak cerewet.”
Mereka kemudian tertawa bersama. Menikmati hari hingga tak terasa waktu sudah malam. Mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing.
Zia tinggal bersama kakak Aleta, mereka menikah sekitar tiga tahun lalu. Aleta sadar bahwa kakaknya butuh privasi maka dia berinisiatif untuk menyewa satu apartemen kecil di sekitar kantor. Lebih dari itu, Aleta memang ingin belajar mandiri.
******
Jonaeal melewati kegiatan pagi dengan meeting. Beruntung Aleta sudah mempersiapkan kopi latte dan snack ringan sebelum acara itu berlangsung. Jonael terlalu mudah lapar saat otaknya dipaksa berpikir keras.
Siang harinya, mereka berdua berangkat menuju lokasi meeting di sebuah resto. Sebenarnya, jika diperhatikan dari jauh, kedua insan ini sangat serasi. Mereka sama-sama memiliki paras yang bagus, kharisma, dan postur tubuh yang sepadan. Tinggi Jonael hanya sepuluh centimeter lebih tinggi daripada Aleta. Bantuan heels lima centi membuatnya semakin pas.
Saat melewati lobby, berbagai pasang mata memperhatikan gerak langkah mereka. Jonael sedikit risih dan khawatir. Dia yakin Aleta lah yang menjadi hiasan siang ini. Padahal, dirinya juga menjadi bagian dari itu. Dengan langkah yang semakin tegap, Jonael membusungkan d**a dan memasang kacamata hitam. Ya, dia ingin menunjukkan bahwa yang berhak bersanding dengan Aleta adalah orang yang berkelas, pikirannya melantur sesuka hati.
Sesampainya di resto, Aleta sedikit heran karena partner yang hadir bukan seperti rencana awal. Jonael menangkap gelagat aneh itu.
“Kenapa?”
Aleta menunjuk satu meja di dekat lukisan besar, “Itu, bukan pimpinan Bakti group.”
“Lalu? Aku bertemu siapa?”
“Dia putranya. Isaac Baktijaya.”
“Oh, tidak masalah bukan?”
“Ah- ti…..tidak. Kau bisa memulai perkenalan dahulu karena kalian memang belum pernah bertemu. Mari kita sapa.”
Jonael berjalan di depan Aleta untuk mendekat ke meja itu.
“Selamat siang, Mr. Isaac Baktijaya.”, sapa Jonael dengan sopan.
Kedua mata orang itu menatap Jonael, mengulurkan tangan, lalu beralih pada Aleta.
“Senang bertemu anda, Mr. Sagha…. dan anda juga, nona Aleta yang cantik.”
Jonael terkejut mendengar sapaan Isaac untuk wanita di sampingnya.
“Ah… kalian sudah pernah bertemu?”, tanya Jonael sambil mengambil duduk. Sebelum itu, dia menarik satu kursi lain dan mempersilahkan Aleta mendudukinya. Yash, perlakuan manis itu dia tunjukkan di depan Isaac.
“Terimakasih.”, ucap Aleta untuk Jonael.
Isaac memancarkan senyum melihat perlakuan itu, “Kami hanya pernah bersapa di beberapa acara.”
“Oh… senang jika asisten pribadi saya memiliki koneksi hebat seperti anda.”, sanjung Jonael.
Setelah basa-basi yang menurut Jonael tidak menarik itu, kahirnya mereka masuk pada pembahasan kerjasama. Perusahaan Isaac ingin berinvestasi di proyek yang akan diluncurkan Sagha group tahun depan.
Beberapa hal mereka bahas secara profesional. Aleta berperan apik sebagai asisten Jonael. Dia tidak ragu untuk ikut berdiskusi yang mana hal itu membantu Jonael dalam berargumen. Perfect Girl, batin Jonael…….. dan Isaac.
Hari hampir gelap, meeting itu berakhir dan mereka berpisah.
Aleta diam dan hanya memandang ke luar jendela. Mobil melaju pelan karena situasi jalanan lumayan padat. Jonael memperhatikan sejak tadi dan tidak berniat membuka suara.
“Pak Bima, antarkan saya ke Blitz Tower, lalu antar Aleta pulang.”
Karena namanya disebut, wanita itu menoleh dan membenarkan posisi duduknya.
“Ah… iya. Reservasi atas namamu, meja nomor 35. Paket premium dinner untuk dua orang.”, jelas Aleta.
“Iya, aku ingat.”, balas Jonael.
“Tapi aku bisa pulang sendiri. Lebih baik Pak Bima menunggumu saja.”, saran dari Aleta yang tidak diterima Jonael.
“Aku bisa pulang bersama Chintya, teman dinnerku.”
Boom. Waw. Ya… Aleta sadar jika Jonael memang akan berkencan. Baiklah, dia tidak menolak untuk diantar sopir Jonael. Pak Bima hanya mengangguk memperhatikan pembicaraan dua orang di kursi belakang.
******
Jonael turun dan berlalu memasuki gedung, sementara mobil Aleta dan Pak Bima mulai meninggalkan area itu.
“Nona baik-baik saja? Saya lihat dari tadi hanya diam.”, ucap Pak Bima.
“Ahh… ternyata Pak Bima lebih peka daripada Jonael.”
“Hahaa…. Karena saya sudah tua, Non.”
“Lebih banyak pengalaman, benar?”
“Iya.”
Mereka memutus keheningan di dalam mobil dengan saling bertukar cerita. Saat mobil sudah berjalan sekitar lima belas menit, tiba-tiba ponsel Pak Bima berdering. Melalui mode audio car dia mengangkat panggilan itu. Ternyata Jonael.
“Iya, Tuan Jona.”, buka Pak Bima.
“Putar balik, Pak. Bawa Aleta kemari-- Dan kau, pasti kau juga mendengarku, Ale. Naik ke lantai dimana kau reservasi. Segera.”
“Siap, Pak.”, jawab Pak Bima kemudian mulai mencari celah melalui kaca spion.
“Aku? Tapi kenapa, Jo?”, jawab Aleta dari belakang.
“Ini perintah, Ale. Jangan membantah. Aku tunggu.”
Kemudian panggilan diakhiri.
Ada apa ini? Perasaan Aleta tidak tenang. Apakah ada masalah? Pekerjaan atau apa? Tapi Jonael sedang bersama Chintya, dia tidak ingin mengganggu.
Kini Aleta terdiam ragu di depan pintu lobby. Apa benar apa yang ia harus naik?
“Non Ale….”, suara Pak Bima menginterupsi lamunannya.
“Oh… Pak Bima?”
“Mobil sudah saya titipkan valet. Saya pulang dengan taxi.”
“Huh?”, Aleta bingung.
“Iya, baru saja Tuan Jona menghubungi saya. Permisi.”, ucapnya lalu meninggalkan Aleta begitu saja.
Dengan lunglai Aleta melangkah masuk. Dia tidak punya pilihan lain. Semoga semua baik-baik saja. Terutama degup jantungnya.
Jonael melihat kedatangan Aleta dengan lekat. Wanita ini membuatnya gila. Hilang akal.
“Duduk.”, pintanya.
Perlahan Aleta meletakkan tubuhnya di kursi, seperti tidak percaya dia yang berada di hadapan Jonael saat ini.
“Sorry, tapi Chintya?”, Aleta ragu dan takut jika tiba-tiba diamuk wanita itu.
“Aku tidak mengenalnya.”
What?? Is he joking? Aleta menatap penuh tanda tanya.
“Apa kau marah jika aku minta penjelasan? Sebenarnya itu urusanmu, tapi begitu kau menyeretku kesini maka aku berhak bertanya, bukan?”, cerocos Aleta tidak memutus tatapan mata Jonael pada matanya.
“Aku melihatmu tidak nyaman saat bertemu Isaac. Kenapa?”, lelaki itu justru menyuarakan kegundahan hatinya sejak tadi.
Aleta kini jengah dengan sikap Jonael, “Aku bertanya lebih dulu.”
“Oke oke. Aku tidak tahu siapa itu Chintya. Aku hanya ingin makan malam denganmu sebagai ucapan terimakasih karena sudah membimbingku beberapa hari ini, kemudian aku malu, dan ya, itu teralihkan dengan Chintya.”
“Kenapa tidak kau katakan secara langsung? Kenapa harus ada nama Chintya?”
“Itu karena aku- Sudahlah alasannya tidak penting. Sekarang kau boleh cerita tentang Isaac.”
Aleta memijit pelipisnya. Memang benar firasatnya. Hari ini akan berakhir buruk.
“Tidak ada yang penting di antara kami.”
“Aku tahu kau berbohong. Aku memperhatikanmu sejak tadi siang.”
Oh ternyata laki-laki ini tidak benar-benar bersikap acuh. Aleta merasa sedikit tersentuh karena mendapat perhatian.
“Hal ini tidak akan berpengaruh padamu.”
“Katakan saja.”, tuntut Jonael.
“Aku sempat dekat dengan dia, itu dulu. Saat aku magang kuliah di perusahaan Ayahnya.”
Sial, begitukah? Isaac lebih dulu mengenal Aleta.
“Kenapa hubungan kalian berakhir?”
“Ehm…. Saat itu kami masih muda, tapi aku sudah memegang prinsip tidak menyukai lelaki hidung belang. Jadi, ya begitulah… kami berakhir bahkan sebelum memulai hubungan.”
Jonael tanpa menelan sadar saliva. Sekali lagi, hal mengejutkan dari Aleta. Dia bahkan pernah dekat dengan orang berkelas seperti Isaac. Jonael semakin tertantang.
“Jika dia tidak membuatmu nyaman, kau boleh menghindarinya. Aku bisa bertemu dia seorang diri.”, usul Jonael.
“Tidak. Aku masih tahu batasan dimana aku bekerja. Jadi pekerjaan ya pekerjaan. Aku bisa menahan itu. Semua sudah berakhir hingga-“
“Hingga apa?”
“Ehm… hingga dia menghubungiku lagi saat perjalanan kesini.”