PART 7

1505 Words
s**t. Benarkan? Aleta memang ladang incaran. Jonael sekarang tidak bisa santai. Sendok dan garpu jatuh berserak di meja. Tangannya menumpu di dagu. “Apa kau masih menyukainya?”, selidik Jonael. Aleta tergagap. “Tentu tidak. Itu sudah berlalu sangat lama. Aku bahkan sudah lupa dengan sosoknya.”, jelas Aleta. “Bagus.” Aleta melihat raut muka Jonael berubah-ubah sejak tadi. “Apa yang kau pikirkan, Jo? Maksudku tentang cerita ini.” Jonael tercekat mendengar pertanyaan dari Aleta. Karena hatinya sudah terlanjur bergemuruh entah dikontrol oleh apa, kini dia beranikan diri untuk menggenggam tangan wanita itu. Pelan sekali dia menautkan jarinya. Aleta mencoba menarik tangannya tapi telambat. Jonael menahannya erat. “Apa ini?”, tanya Aleta. “Kau bertanya bagaimana pikiranku, bukan?” Aleta mengangguk. “……. Maka jawabannya adalah aku tidak suka. Aku tidak suka ada laki-laki mengejarmu.” Runtuh sudah. Aleta belum bisa berbicara karena tenggorokannya tercekat cepat. Dia takut mendengar kalimat selanjutnya. “……. Aku tertarik padamu, dan aku ingin lebih mengenalmu, Ale. Diluar pekerjaan.”, pungkas Jonael dengan jelas. Tangan mereka masih bertaut. Tiba-tiba keringat dingin muncul dari pelipis Aleta. Disinilah kesempatan Jonael untuk memperlihatkan kesungguhannya. Jonael mengulurkan satu tangan yang bebas untuk meraih wajah Aleta dan menghapus peluh yang baru muncul. Iya, romantis. Aleta hanya bisa mematung. Sekitarnya terasa kosong. Dia masih fokus mengembalikan kesadaran bahwa yang sedang berbicara padanya adalah Jonael Sagha. Sesekali Aleta melirik pada tangan mereka yang masih bertaut. “Ini tidak boleh terjadi, Jo.” “Kenapa? Kau menyukai orang lain?” “Tidak. Tapi kita- maksudku kau adalah atasanku. Pekerjaan kita akan terganggu jika masuk ke ranah pribadi. Itu tidak baik.” “Jadi kau tidak tertarik padaku?” Oh God. Aleta bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Dia pusing. Aleta menggeleng. Artinya adalah tidak, tapi dia memberi penjelasan lainnya. “Kita baru dekat beberapa hari, Jo.” “Tapi firasatku berkata aku sudah sangat mengenalmu. Jauh sebelum ini, Ale. Aku tidak suka mendengar kau dekat dengan laki-laki lain. Aku seperti tersinggung dengan itu.” Aleta menegang, “Kau berlebihan. Tidak ada perasaan seperti itu diantara kita. Aku berhak dekat dengan siapapun.” “Termasuk aku, bukan?” Aleta seperti tertodong. Jonael mengejar jawaban tanpa ampun. Saat Aleta mencoba menarik tangannya kembali, Jonael menahan semakin kuat. “Jo, ini salah. Kau hanya terbawa suasana, atau mungkin kau hanya tertantang. Sungguh ini tidak masuk akal.” Jonael tidak berkutik untuk meletakkan tatapannya pada Aleta. Selama beberapa saat mereka diam. “Baiklah. Aku tidak menuntut jawaban. Memang kita baru dekat, tapi aku hanya ingin kau tahu pendapatku tentangmu, Ale. Aku juga ingin meminta sebuah kesempatan. Ya…. Kesempatan untuk melihat apakah perasaanku ini benar seperti yang kau bilang tadi atau bahkan lebih jauh dari itu.” Aleta menggeleng cepat. Dia terkejut namun masih menangkap kalimat Jonael dengan jelas. “Aku tidak menyukai ide itu.” “Ale, anggap aku seperti laki-laki lainnya. Mereka juga mendekatimu, bukan?” “Mereka siapa, Jo? Tidak ada yang mendekatiku.” “Kau hanya tidak menyadari itu.” Saat Jonael lengah, Aleta menarik tangannya dengan keras. Kali ini berhasil lepas. “Terserah apa yang ingin kau lakukan, tapi aku hanya menganggapmu sebagai atasan. Kita dekat untuk hal pekerjaan. Hanya sebatas itu.” Jonael berubah sendu. Dia seperti tengah patah hati mendengar jawaban Aleta. Secara tersirat dia berkata tidak tertarik pada Jonael. Sial. Meski begitu, dia tidak ingin memperburuk suasana dengan mengeluarkan emosinya saat ini. Dia sadar Aleta berkata terserah pada Jonael untuk melakukan apa saja. Ya, itu bisa diartikan sebagai sebuah kesempatan. Jonael berdeklarasi dalam hatinya sendiri. “Oke, aku lega sudah mengatakan keinginanku. Semoga kau tidak menghindar meski kau benci atau apapun itu padaku.” “Kita tetap satu tim, Jo.” “Ya benar. Terimakasih. Sekarang makanlah. Tadi siang kau tidak makan dengan benar.”, pinta Jonael dengan perhatian khusus. Sebenarnya hati Aleta berdesir hangat, tapi temboknya tidak boleh luntur. “Nafsu makanku hilang.”, balas Aleta. “Karena aku?”, tanya Jonael. “Menurutmu?”, tantangnya. “Oke, memang karena aku. Sorry.”, Jonael memelas. Dia bahkan meletakkan kembali sendok garpu yang ia pegang. Aleta melihat itu. Jonael juga tidak berencana memakan menu di hadapannya. Makan malam yang ia reservasi akan terbuang percuma jika dia tidak memperbaiki situasi. Baiklah. Aleta mulai mengangkat garpu dan pisau untuk memotong beef. Jonael terkejut sekaligus mulai tersenyum kecil. Jonael mulai ikut menyuap makanannya. “Seingatku, tidak ada wine dalam reservasi ini.”, ungkap Aleta sambil mengunyah. Jonael kembali mematung. “Aku yang memesan.”, jawabnya. “Beberapa bulan lalu kau berjanji—maksudku kau bilang akan berhenti dari alkohol. Sepertinya kau lupa.” “Benarkah? Apa aku harus mengembalikannya?”, Jonael tidak berniat menyangkal. “Tidak perlu. Sudah terlanjur dipesan. Kau bawa pulang saja, tapi tidak perlu diminum.” Jonael mengangguk dan melanjutkan makan. Dia mulai berusaha mencairkan suasana dengan membahas hal ringan bersama Aleta. Entah itu kehidupan sehari-hari, hobi, atau dunia politik yang bisa membawa kebijakan untuk pengusaha seperti dirinya. ****** Hari Jumat adalah hari favorit pekerja. Semangat itu terlihat dengan ramainya lobby ketika saat pagi. Banyak manusia bertegur sapa dan berlalu lalang. Sebagan menunggu dengan sabar di depan lift. Jonael terpaku di depan pintu masuk, satu senyum terbit dari wajahnya. Dia senang melihat para pegawai bersemangat. Aksa datang dari belakangnya dengan satu tepukan kecil. “Selamat pagi, Tuan Jona.” Jonael menoleh, “Kau…” “Sudah tidak pusing?”, Aksa menggoda tentang curahan hati Jonael tempo hari. “Sialan. Memangnya aku terganggu dengan itu?”, kilah Jonael. “Ehmm… oke aku percaya. Kalau begitu segeralah naik. Biar aku jaga disini.” Jonael bingung, “Jaga apa?” Aksa sedikit mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu, berbisik, “Kau tahu, mereka yang diam di depan lift sedang menunggu kedatangan Aleta. Mencari kesempatan untuk bisa satu lift dengannya.” Mata Jonael membelalak, “Tidak mungkin sampai begitu. Mereka hanya menunggu antrian. Sialan kau.” “Sssstt… perhatikan saja dan kau akan mengerti.” Wajah Jonael sedikit memerah. Dia tidak percaya Aleta benar-benar menjadi bunga kantor. Spontan dia melonggarkan dasi, tidak peduli akan terlihat berantakan. Di depan pegawainya. “Haaasshhh….”, keluhnya. “Oke, selamat memperhatikan. Aku akan naik, tidak ada yang ingin satu lift denganku, jadi aku tidak ikut dalam antrian itu. Hahaa….”, ejek Aksa dengan meninggalkan Jonael yang masih mematung. Beberapa detik kemudian aroma Aleta mencuak di sekitar Jonael. Lelaki itu menoleh ke kanan dan kiri. Benar. Iya, wanita favoritnya baru saja mensejajarkan diri dengan Jonael. Aleta di pagi hari memang mempesona. Sialan, parfum apa yang ia gunakan? Ini bisa memikat banyak laki-laki. Ahh. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, semuanya indah. “Tutup mulutmu, Jo.”, bisiknya melihat Jonael terpaku dengan mulut sedikit terbuka. Jonael terkesiap kembali pada kesadarannya. Dia sadar Aleta barusan berbicara. “Kau datang setelah aku?”, Jonael membalas. Aleta menunjukkan jam di tangannya, “Masih di bawah jam keterlambatan.” Tanpa menjawab, Jonael meraih tangan itu dan menariknya. Mereka berjalan di balik kerumunan, Jonael yakin tidak ada yang melihat. Aleta mengikuti langkah Jonael dengan wajah berkerut bingung. “Lepas, Jo. Kau gila?”, protes Aleta tidak berhasil menghentikan langkah Jonael untuk membawanya ke lift di ujung lobby. Jonael tidak melepaskan tangan Aleta saat menanti pintu lift terbuka. ‘Tiiiing’, mereka pun masuk. “Mulai besok kau harus pakai lift VIP. Aku tidak suka keterlambatan.” “Tapi aku sangat jarang terlambat.”, tegas Aleta. “Tolong jangan melawan. Kau mendapat akses dariku, mengerti?” Aleta menghembuskan nafas kasar. Dia lalu sadar jika tangan mereka masih bertaut. Sialan, kenapa baru sekarang? Dengan satu tarikan, genggaman itu terlepas. “Jangan pernah melakukannya lagi, aku tidak suka mendapat cibiran dari pegawai lain.”, maksud Aleta adalah tarikan tangan, oh bukan, itu genggaman tangan. Jonael tidak memberi jawaban. Dia justru menatap lekat pada kecantikan Aleta. Belum bosan meski sejak tadi dia sudah bersama wanita itu. “Sejak kapan kau menghuni apartemenmu? Sewa?” Aleta tidak menyangka akan datang bahasan ini. Jonael tadi malam mengantarnya pulang. Dinner berlangsung cukup lama sehingga usul Aleta pulang dengan taxi tentu ditolak mentah-mentah oleh lelaki itu. Jonael sudah mengeluarkan banyak uang untuk mengatur acara tadi malam, maka kesempatan untuk mengetahui rumah Aleta tidak boleh disia-siakan. “Sekitar satu tahun. Iy… iya aku menyewa. Kenapa?” “Apa perlu kuberi fasilitas kantor? Ada beberapa apartemen yang masih kosong. Kau tidak perlu mengeluarkan uang sewa.” Apa-apaan ini? Aleta menggeleng. “Aku lebih nyaman tinggal di tempat pilihanku sendiri. Terimakasih.” “Kau susah sekali dibujuk.” Tanpa terasa lift sudah sampai di lantai sepuluh. Mereka berdua keluar dan mendapat tatapan bertanya dari pegawai lain yang sudah disana. “Aku harus rapat di mana?” “Lantai sembilan, ruang rapat tiga. Jam sembilan tepat.” Aleta menghentikan langkah begitu sampai di depan mejanya, sementara Jonael lanjut menuju ruangannya. Baru satu detik duduk, Aleta seperti terganggu dengan pikirannya sendiri. Dia memutuskan untuk mengejar Jonael. Sialan, kenapa dia harus menjadi asisten pria itu? Aleta membuka pintu tanpa mengetuk dan membuat Jonael berbalik. “Ada apa?”, tanyanya. Tangan Aleta terulur naik, menuju leher Jonael dengan pelan. Lelaki itu seketika menegang bukan main. Tidak disini, tidak sekarang, kenapa, tapi apa? Pikiran Jonael berkabut melihat perlakuan Aleta. “Perhatikan penampilanmu.” Ucap Aleta kemudian tangannya sampai pada kerah Jonael, dia membenarkan posisi dasinya. Brengsek Jonael, pikiranmu terlalu jauh. Aleta hanya ingin membenahi penampilanmu. Ahh…. Pupus. Tangan Aleta masih bergerak di sekitar leher Jonael yang menegang. Sesekali dia berdehem untuk menghilangkan sunyi diantara mereka. “Sudah?”, tanya Jonael ketika tangan Aleta turun. “Kau ini. Kenapa bisa berantakan?” “Itu karena aku mendapat kabar buruk di pagi hari.” “Tentang apa?” “Ehm… tentang—Sudahlah. Lanjutkan persiapanmu. Kita turun satu jam lagi.”, ucapnya. Tidak mungkin dia mengatakan alasan sesungguhnya. Ya, itu terjadi saat dia marah mendengar pegawai di lobby menunggu kesempatan untuk satu lift bersama Aleta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD