PART 8

1336 Words
Jonael tidak mengizinkan Aleta pulang tepat waktu. Dia memintanya untuk kerja overtime. Mereka sudah berada di pusat perbelanjaan yang menyuguhkan banyak gerai branded. “Kau bisa mengajak teman kencanmu, Jo. Bukan aku.”, protes Aleta. “Untuk apa? Aku punya asisten tapi aku tidak punya kekasih. Tidak ingat, terlalu lama.” “Kasihan, mantan kekasihmu dua tahun lalu tidak masuk dalam kenangan?” “Darimana kau tahu?” “Sudah menjadi gosip di perusahaan.” Sial. Benarkah? Seingat Jonael, dia selalu tertutup untuk masalah pribadi. Tak lama, mereka masuk ke salah satu gerai pakaian formal. “Setelah tadi pagi kau mengingatkan tentang kerapian, aku berpikir untuk membeli baju model baru.” “Beli saja. Kenapa harus ada aku?” “Kau asistenku. Kau harus memperhatikan pekerjaanku, juga personalku.” “Ya yaa hmm….”, ucapnya asal lalu berjalan mendahului Jonael. Aleta pergi ke arah kemeja. Dia melihat beberapa jenis kemeja dan mulai memanggil pelayan. “Mbak, warna ini slim fit ukuran 16 ada?” “Saya periksa dulu, Bu.” “Terimakasih.” Jonael menahan tangan Aleta yang sejak tadi bergerak memilah pakaian. “Darimana kau tahu ukuranku?” “Asisten harus mempelajari itu.”, jawabnya singkat lalu mencoba melepas tangan Jonael. Oh, iya memang harus begitu. Alasan bisa diterima. “Biar begini sebentar saja, boleh?”, pinta Jonael. Tangannya enggan melepas tangan Aleta. Aleta memperhatikan tangan mereka dan perlahan menggeleng. Jonael melihat itu dan mulai melepaskan. Raut wajahnya sangat layu. Aleta dan Jonael kembali memilih beberapa kemeja dan jas untuk setelan kerja. Tak lupa Jonael juga membeli T-shirt santai untuk di rumah. Setelah menenteng dua paperbag besar, mereka berjalan keluar gerai. “Kau mau makan?”, tanya Jonael mencari kesempatan. “Iya. Aku lapar.” “Good. Pilih menu sesukamu.” Aleta semakin heran dengan kedekatannya dengan Jonael. Mereka seharusnya disebut sedang bekerja, tapi malam ini seperti lebih dari itu. Jonael membawa dua paperbag di tangan kirinya dan meraih pinggang Aleta untuk merekatkan jarak, berjalan beriring menuju restoran. Aleta lelah untuk melarang lelaki itu melakukan kontak fisik. Kali ini dia coba membiarkannya. Jonael senang tidak mendapat perlawanan. Tak lama, mereka masuk ke sebuah Restoran BBQ, dua lantai di atas gerai pakaian tadi. Dengan cepat Jonael menaruh paperbag ke masing-masing kursi secara bersebelahan lalu mengambil duduk di kursi seberang meja. Aleta menatap kesal dengan tingkah itu. Lelaki yang dia pandang hanya mengendikkan bahu merasa tak bersalah. Aleta terpaksa duduk di sebelah Jonael. Memang begini niatnya. Lelaki itu tertawa dalam hati meski raut wajahnya hanya datar tak berbentuk apapun. Seorang pelayan datang membawa menu dan mencatat pesanan, kemudian berlalu. “Besok kau pergi kemana?”, tanya Jonael tiba-tiba. Besok adalah hari Sabtu. “Aku ingin menikmati weekend bersama keluarga.”, jawab Aleta cepat. “Dimana? Jauh?” “Tidak. Masih di Jakarta.” “Ohh… Oke.” Kemudian mereka hening dengan ponsel masing-masing hingga makanan datang. Aleta mengambil es dari minuman jonael dan membuangnya di satu wadah kosong. “Kenapa?” “Tenggorokanmu sensitif, Jo. Jangan minum terlalu dingin.”, perhatian sekali. Jonael kembali menurut. “Sejak kapan aku mengurangi alkohol dan minuman dingin?”, tanyanya. Aleta mulai menyuap makanan ke mulutnya. Dia serius sudah lapar sejak tadi. “Sekitar tiga bulan lalu. Aku lupa pastinya.” “Karena apa aku melakukannya?” Kunyahan Aleta terhenti dan dia menoleh pada Jonael. “Ka… karena- karena kau ingin menjaga kondisi tubuhmu.” “Begitu?” “Iya. Memang apalagi?” “Tidak.”, jawab Jonael, lalu menyantap makanannya. Seorang wanita paruh baya datang dan berdiri di hadapan mereka berdua. Wanita dengan dandanan yang sangat tertata, menenteng beberapa paperbag branded yang tak kalah mahal dari milik Jonael. Jonael dan Aleta sama-sama terkejut melihat sosok itu. Jonael menegang, Aleta merasakan itu. Kedua tangannya sudah mengepal, menekan pada sendok yang dia pegang sejak tadi. “Jona….”, sapanya. Jonael diam dan berdehem beberapa kali. “Selamat malam, Bu Dhayana.”, sapa Aleta mencoba sopan. Wanita paruh baya itu menoleh pada Aleta yang sedang menyapa dengan berdiri. “Kau siapa? Aku lupa.” “Oh… kita bertemu saat saya masih menjadi sekretaris Jonael.” Alis Dhayana berkerut karena mengingat-ingat. “Ah… iya benar. Waktu singkat itu, aku ingat. Lalu apa yang kalian lakukan disini?” Aleta memperhatikan Jonael, lelaki itu hanya menunduk diam, menatap makanan yang belum selesai ia makan. “Kami membeli baju kerja untuknya, Bu.”, jawab Aleta. Wanita itu sedikit menunduk untuk melihat wajah Jonael. “Jo….. kau tidak mau melihat Ibu?” Ibu. Ya, dia dalah Ibu Jonael. Kedua orangtuanya bercerai ketika Jonael akan memasuki kehidupan perkuliahan. Dia sudah cukup besar untuk memahami segala hal yang terjadi. Dan satu hal yang membuatnya marah adalah fakta bahwa ibunya tega berselingkuh kemudian menikah dengan selingkuhannya itu. Pedih. “Kapan Bu Dhayana datang dari Medan?”, suara Aleta mencairkan ketegangan diantara Ibu dan anak yang sejak tadi diam. “Aku hanya mampir karena suamiku ada pekerjaan di Jakarta. Tidak kusangka aku bisa bertemu Jonael disini.”, jawabnya masih memperhatikan Jonael dari atas. Aleta duduk dan mengusap pelan lengan Jonael, “Jo, sapa ibumu sebentar.” Jonael memasang wajah seram kepada Aleta. Rahangnya tampak mengeras. Oke, Jonael tidak suka dengan ide itu. “Selamat menikmati Jakarta, Bu.”, kembali Aleta yang berbicara pada ibu Jonael. “Baiklah, sepertinya dia memang tidak ingin melihatku. Nikmati waktu kalian, aku pamit. Jaga dirimu dengan baik, Jo. Kapan-kapan kita bertemu lagi.”, Dhayana sadar diri, kemudian dia berlalu pergi tanpa memperpanjang percakapan. Jonael menatap punggung ibunya dengan kesal. Dia bahkan menumpu kepalanya dengan dua tangan mengepal. Dia menunduk marah. Aleta kembali menyadarkan Jonael dengan mengusap lengannya. Lelaki itu belum bergeming. Aleta memberanikan diri menarik pundak Jonael agar kembali duduk dengan tegak. Dia meraih satu sisi pipi Jonael untuk menatap ke arahnya. Mata mereka bertemu. “Lupakan yang tadi. Kau sedang makan bersamaku.”, lembut Aleta berucap. Tangan halus Aleta masih bergerak pelan di pipi Jonael, menyalurkan perasaan terlindungi. Jonael yang sejak tadi bersikap garang kini mulai melemah. Matanya tidak lagi memerah, tetapi mulai berkaca-kaca. Aleta tidak kuat melihat pemandangan di hadapannya. Jonael yang lemah? Itu tidak baik. Aleta segera menarik tubuh jonael untuk ia peluk. Tidak peduli dimana mereka sekarang, Aleta hanya ingin lelaki ini tenang. Seketika tangan Jonael menyelusup ke punggung Aleta. Dia butuh sandaran seperti ini. Ya, dia membutuhkannya. “Aku tidak ingin bertemu dia.”, ucap Jonael dengan serak. “Iya… kalian hanya tidak sengaja bertemu.”, jawab Aleta dengan mengusap punggung lelaki itu. Selang beberapa waktu, Aleta mengurai pelukan mereka. Ada rasa tak rela datang dari hati Jonael. “Kita makan lagi, oke?”, pinta Aleta lembut. “Tidak. Aku ingin pulang.” “Sedikit saja, lalu kita pulang.”, dia belum menyerah. “Sudah kukatakan, aku tidak ingin makan, Aleta.”, bentaknya. “Jona…..”, tegas Aleta, membuat lelaki itu diam. Tatapan mata Aleta kali ini lebih tajam. Jonael menangkap perubahan itu. Aleta menyendok makanan Jonael dan menyodorkan pada mulut lelaki itu. “Makan sedikit saja…… lupakan yang tadi. Ini demi aku, oke? “…………..” tak ada tanggapan dari Jonaael. “Jo, makan atau-“ Haap. Mulut Jonael langsung menyantap suapan Aleta. Dia tidak ingin menyulut kemarahan wanita yang sudah baik padanya. “Bagus. Aku tahu itu berat, tapi kau harus mengelola emosimu.”, pinta Aleta masih dengan menyuapkan makanan ke mulut Jonael. “Maaf aku membentakmu.”, Jonael sadar. Aleta mengangguk manis. Meski Jonael sedih dan marah, tapi dia juga merasa menang malam ini. Aleta dan perhatiannya menjadi milik Jonael. Dia kembali bertekad untuk itu.     ****** Aleta dan Jonael duduk di kursi penumpang. Mereka dalam perjalanan ke apartemen Aleta. Tiba-tiba panggilan datang di ponsel Pak Bima. Dengan speaker mobil, dia menjawab. “Selamat malam, Tuan.”, sapanya. “Malam, Pak Bima. Jonael bersamamu?”, itu suara Runadi Sagha. “Aku disini, Ayah.”, sahut Jonael dari belakang. “Syukurlah. Aku merasa khawatir setelah mendengar kau baru bertemu-“ “Iya, Ayah. Aku baik-baik saja. Tapi maaf, aku sepertinya tidak pulang malam ini. Ada sedikit urusan.” Ada jeda yang diambil Runadi Sagha sebelum menjawab. “Oke tak apa, take your time, Son.” “Terimakasih, Ayah.” Panggilan berakhir. Jonael membenahi posisi duduknya dan melihat ke jendela luar. Dia bahkan mengabaikan Aleta karena suara Ayahnya berhasil membuat dia sedih. Beberapa waktu kemudian, mata Jonael sudah menutup. Sepertinya dia tertidur. Aleta melirik dari samping. “Pak Bima, dia minta diantar kemana setelah ini?”, ucapnya pelan agar Jonael tidak bangun. “Ke hotel, Non. Dia takut teringat kenangan yang ada di rumah. Itu selalu terjadi setelah dia bertemu ibunya.” Aleta berdecak heran. “Pak Bima, mmm… malam ini biar Jona di tempat saya saja. Saya takut jika dibiarkan sendiri justru membuatnya kacau. Kondisi badannya belum stabil setelah kecelakaan.”, pinta Aleta yang sebenarnya tidak bisa disetujui atau ditolak oleh sopir Jonael. Sesampainya di depan lobby, mobil berhenti. Aleta membangunkan Jonael. Lelaki itu sedikit terkejut dan membuka matanya, melihat ke sekitar dan sadar jika dia sudah di area apartemen Aleta. “Kau turun?”, tanya Jonael. Aleta menggeleng, “Kita turun.”, dia membenarkan. Jonael masih terbawa mimpi mendengar ucapan Aleta. Tidak jelas. “Pak Bima, tolong bawa mobilnya ke basement, ini uang untuk Bapak naik taxi. Biar Jona disini dulu.”, Aleta berkata sambil menyerahkan uang. Kalimat itu membuncahkan hati Jonael. Tapi apa ini nyata? “Apa yang kau katakan, Ale?” “Tawaran terakhir, Jo. Kau pilih disini atau tetap ingin ke hotel?”, mereka saling bertatap. Jonael mencari pembenaran pada apa yang baru saja dia dengar. “Ak… aku turun.” Tanpa menjawab, Aleta membuka pintu dan turun terlebih dahulu. Jonael mengikuti. Tak lupa, Aleta membawa paperbag yang tadi baru dibeli Jonael.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD