Pak Bima pulang dengan taxi. Di tengah perjalanan dia sempatkan untuk kembali menghubungi Ayah Jonael.
“Halo? Bagaimana Pak Bima?”, sapa suara di seberang.
“Kami tidak jadi ke hotel, Tuan.”
“Kenapa?”
“Pak Jona sekarang berada di apartemen Nona Aleta.”
“Apa?”, dia terkejut.
“Iya, Tuan. Itu sudah terjadi. Nona Aleta yang memintanya sendiri.”
Runadi Sagha mengambil nafas. Dia terkejut mendengar kabar ini.
“Yasudah tidak apa. Setidaknya dia aman berada disana… bersama Ale.”
“Saya juga ikut tenang, Tuan.”
“Terimakasih, Pak Bima.”
******
Jonael sedikit tercengang melihat apartemen Aleta.
“Ini lebih besar daripada perkiraanku.”, gumamnya sambil berjalan mengikuti langkah Aleta.
Wanita itu menaruh paperbag milik Jonael di sofa tengah.
“Kamar tamu ada di sebelah sana. Gantilah dengan baju yang tadi kau beli. Aku ingin istirahat.”
Got it. Jonael mencekal tangan Aleta dan tidak membiarkan wanita itu beranjak.
“Kenapa kau membawaku kesini?”, tanyanya dengan sorot mata dalam. Sangat dalam hingga Aleta sampai tenggelam.
“Kau bilang malam ini tidak ingin kembali ke rumah. Aku mencoba bersikap baik dengan memberi tumpangan.”, jawabnya ringan.
“Tapi ini sangat privasi. Kau bilang hanya menganggapku atasan.”
“Lalu apa aku membahas lebih dari itu, Jo? Tidak. Lupakan gender, anggap saja seorang asisten sedang membantu Bosnya. Mudah, bukan?”
Jonael menggeleng, “Tidak semudah itu.”
“Apa yang kau pikirkan kalau begitu? Aku sudah membuka hati? Cih, kau remeh sekali dengan perhatian.”
Jonael sedikit tersinggung dengan pernyataan itu. Dia menarik tubuh Aleta untuk menempel padanya.
“Aku sudah menahan untuk tidak mengatakan ini, Ale. Tapi sulit. Jujur, segala tentangmu sangat tidak asing bagiku. Kau, wajahmu, aromamu, sikapmu, bahkan apartemen ini. Aku tidak mengingatnya tapi aku merasa ini tidak asing.”
Aleta salah tingkah.
“Ka—kau hanya mengarang. Kita memang dekat, kau juga mengenalku, tapi hanya sebagai sekretaris waktu itu.”
“Jangan bohong.”, tegas Jonael masih merapatkan tubuh mereka, kali ini justru semakin menempel. Kepala Jonael mendekat pada milik Aleta.
“Lepaskan, Jo. Aku tuan rumah disini. Bersikaplah baik.”
“Kau hanya bercerita tentang kehidupan kita di kantor. Bagaimana dengan diluar kantor, Ale? Aku sungguh tidak percaya jika hanya sebatas itu.”
Aleta menahan nafas ketika Jonael merapatkan dahi mereka. Nafas lelaki itu sudah bisa dirasakan Aleta. Sangat dekat. Aleta bergeming namun tidak berhasil. Cekalan Jonael terlalu kuat.
“Tidak ada yang terjadi di luar kantor.”, jawabnya gugup.
“Kau tahu? Aku sebenarnya tidak berharap memiliki hubungan serius dengan siapapun, tapi aku hanya ingin mengingat kembali.”, nada bicara Jonael meninggi.
Aleta tercengang, b******n. Prinsip Jonael yang nuruk itu selalu terpatri. Lelaki itu benci pada komitmen, sejak dulu.
Jonael menaikkan satu tangannya untuk menangkup pipi Aleta. Dia membawa wanita itu hingga menatapnya dengan jelas, sangat jelas.
“Sekarang katakan kenapa kau membawaku kesini!”, perintah Jonael.
“Tanpa alasan, Jo. Cukup.”
“Aku tidak percaya.”
“Terserah, aku tidak ingin bertengkar. Kau tetap aman karena tidak memiliki hubungan dengan siapapun termasuk aku. That’s it.”
Jonael mendekat, “Matamu tidak berkata seperti itu….”, tuntut Jonael menekankan pandangannya. Dia lebih mendekat lagi, “Jujur, aku tersiksa saat aku ingin mengingat tapi aku tidak bisa. Kau kini memperburuknya. Katakan kenapa, Ale, kenapa??”
Aleta menelan saliva, matanya terpanah pada mata Jonael. Dia terhanyut, sudah hilang tembok yang ingin dia bangun. Jonael menakutkan.
Dengan terbata dia menjawab, “Ak- aku tidak bisa melihatmu lemah….”
Detik itu juga, dalam satu sergapan biibir Jonael menangkup bibir Aleta dengan cepat. Wanita itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Tangan Jonael bergerak dari pipi ke tengkuk. Satu tangan lain masih menangkup pinggang Aleta untuk tetap di posisinya. Melumat dan melumat. Setiap detik bertambah semakin panas. Usaha Aleta untuk melepaskan diri sama sekali tidak berguna. Lidah Jonael sudah merayu ingin segera memasuki mulut manis itu.
Jonael menarik bibir atas dan bawah milik Aleta secara bergantian. Dia menyesap dalam-dalam. Menyalurkan dahaganya atas wanita ini. Sungguh hal yang selalu menghantui Jonael, kini berhasil ia dapatkan. Dia bukan b******n, bukan. Dia serius tertarik dengan Aleta.
Aleta terbawa alur lumatan Jonael. Dia tidak membalas tapi juga tidak menolak. Bibirnya sudah terkulum basah oleh permainan Jonael. Terus berganti dari bibir atas ke bibir bawah, menariknya beberapa kali hingga berdecap keras di penjuru ruangan. Erangan Jonael pun tak bisa dielakkan. Lelaki itu memenuhi hasratnya.
Dalam satu detik Jonael menarik diri untuk mereka mengambil nafas kemudian tanpa aba-aba dia kembali merapatkan kedua bibir itu kembali. Jonael bringas. Kali ini Aleta lengah dan lidah Jonael berhasil masuk ke mulut wanita itu. Menjelajahi barisan gigi, bermain dengan lidah Aleta, dan menyesapnya sekuat tenaga. Persetan dengan tanggapan Aleta setelah ini, dia hanya ingin mencium bibir panas yang selalu mengganggunya setiap hari.
Tangan Aleta berada di d**a Jonael. Dia berhenti mendorong dan justru mencengkeram kemeja Jonael dengan kuat. Sesekali dia menariknya, seirama dengan gulatan panjang bibir mereka.
Jonael panas. Dia benar-benar bisa meneruskan ini ke tahap selanjutnya jika saja tidak ada nada dering di ponsel Aleta. Sial.
‘Ddrrttt…drrrtt’ Nada Panggilan masuk………………..
Mereka berdua melepaskan diri dengan nafas terengah-engah. Tubuh keduanya penuh dengan keringat. Meski begitu, Jonael belum melepaskan tubuh Aleta. Dia menariknya menempel saat menggapai tas di meja. Jonael memberi kode untuk Aleta mengangkat panggilan itu.
Dengan susah payah karena tubuhnya yang ditahan Jonael, dia berhasil menekan tombol hijau lalu menggesernya.
“Yaa?”, sapa Aleta dengan gugup. Detak jantungnya belum kembali normal. Super sial, Jonael masih bergelayut di tubuhnya. Kali ini Jonael memeluk tubuh Aleta dari samping. Beberapa kali Aleta memiringkan kepalanya karena Jonael menyerukkan kepala ke leher jenjang Aleta.
“…………”, suara di seberang tidak bisa di dengar Jonael.
“Oke Zia, beh-sokh… aku bawakan… untuk kalian.”, nafasnya tersengal saat tiba-tiba Jonael mengecup lekuk lehernya dengan keras.
“………..”
“Ah… Tidak apa-apa. Aku hanya- sedikit berolahraga.”
“………..”
“Oke, good night.”, kemudian panggilan berakhir.
Aleta melemparkan ponselnya ke sofa lalu membalik tubuh untuk menatap pada Jonael.
“Kau……” telunjuknya hampir menyentuh hidung lelaki itu.
Jonael bersikap tenang, mengunci tatapan mereka, dan hanya wajah datar yang ia keluarkan. Ekspresi puas ada di hatinya. Bibir indah itu miliknya. Hanya miliknya.
Tangan Jonael kembali menangkup pipi Aleta.
“Kau tahu? Ciumanmu memberi efek aneh padaku, Ale. Jantung ini berdegup sangat kencang. Hati ini menghangat. Tolong…. jangan membenciku, sampai aku tahu jawabannya.”
“Kau melebihi batas, Jo. Kuharap rasa penasaranmu berhenti sampai disini.”
“Kita tidak pernah bersepakat tentang batasan apapun, ingat? Aku tidak peduli, Ale. Aku ingin dirimu.”
Jonael menarik tubuh Aleta menuju kamar lain yang tidak ditunjuk Aleta. Tadi dia hanya menunjuk kamar tamu.
“Ini kamarmu, bukan? Kita istirahat sekarang.”, ucap Jonael percaya diri.
“Jona, b******k kau…..”
‘Plaaak’, satu tamparan datang dari Aleta. Dia kesal dengan sikap menuntut Jonael.
Jonael diam terpaku memegang bekas tamparan itu. Dadanya bergemuruh aneh. Kali ini ia sangat takut. Rasa percaya dirinya seketika menghilang. Tiba-tiba bayangan Ibunya yang selalu penuh kekerasan datang. Dia tidak pernah lupa dengan kenyataan itu.
Jonael meringis dengan rahang bergetar. Ya, dia takut, meskipun dia sadar sosok di hadapannya ini adalah Aleta, bukan Ibunya.
Jonael melangkah mundur. Dia masih membisu. Dengan menggerakkan kepala ke kanan-kiri, dia menjauh dari tubuh Aleta.
Aleta melihat perubahan itu. Jonael kini terlihat sangat takut. Tangannya tidak lepas dari pipi yang baru saja ia tampar. Lagi-lagi, lelaki ini belum bisa sembuh dari traumanya.
Aleta tidak sengaja memberi tamparan, namun ketika dia tahu efek ini, dia berpikir apakah Jonael sudah sembuh atau belum…. Dan jawabannya adalah belum. Aleta menyesal.
Wajah khawatir muncul dari wanita itu, dia mencoba mendekat ke arah Jonael.
“Tidak…. tidak. Jangan sakiti aku. Iya, aku salah.”, racau Jonael dengan bergidik takut, kakinya tetap bergerak mundur menjauhi Aleta.
Tangan Aleta terulur namun belum bisa menggapai lelaki itu.
“Jo, tenang. Ini aku, Ale. Lihat aku baik-baik. Aku yang baru saja menamparmu, bukan orang lain. Maafkan aku, oke?”
“Cukup, jangan lagi. Aku tidak akan menyentuhmu.”, kali ini Jonael berkaca-kaca.
“Dengar, kau aman disini. Bersamaku. Jangan takut. Apa yang aku lakukan tidak akan merubah-- Ehm Jo, kemarilah. Maafkan aku.”
“Sakit, Ale. Ini sakit.”, ucapnya dengan merubah gerak tangan ke arah d**a. Oke, jadi Jonael sudah sadar jika di hadapannya adalah Ale.
Aleta luluh, dia berlari mengejar tubuh Jonael sebelum lelaki itu menggapai pintu apartemennya. Aleta menangkup tubuh itu, memeluknya erat.
“Ini aku, Jo, kau aman. Tidak ada yang ingin menyakitimu. Maaf.”, berulang kali dia mengucap kalimat itu, berharap Jonael kembali pada kesadarannya.
Aleta menarik kepala Jonael untuk bersandar pada dadanya. Dia mempererat pelukan itu agar Jonael semakin sadar.
“Aku takut….”, ucapnya sambil merapatkan tubuh mereka.
Jonael menangis. Aleta mengusap kepala yang bersandar di dadanya itu. Dia juga mendekap erat punggung Jonael yang masih bergetar.
Lelaki ini kembali memunculkan sikap lemahnya. Dia takut untuk disakiti. Satu kekerasan dari wanita pasti membuatnya sangat sakit, secara psikis. Dulu sudah pernah terjadi beberapa kali, hingga Aleta tahu jika kondisi ini adalah penyakit. Ya, penyakit psikis Jonael. Saat ini Aleta merasa bersalah.