PART 10

1395 Words
Dan disinilah kenyataan itu berada. Selama enam bulan yang ia lupakan, Jonael memiliki hubungan dekat dengan Aleta sebagai partner mutualism. Aleta menerima tawaran Jonael untuk membantunya sembuh, yakni mengimbangi ketakutan pada wanita dengan sebuah intimate. Jonael tidak pernah benar-benar mencintai wanita karena banyak ketakutan dalam dirinya. Maka dari itu, dia juga belum pernah merasakan kasih sayang yang selalu ia impikan. Hatinya belum bisa menerima. Suatu hari ide itu muncul, ketika dia berpikir Aleta mungkin bisa menjadi sosok yang akan merubah ketakutannya. Dia harus segera sembuh. Jonael tertarik pada personaliti Aleta yang saat itu bekerja sebagai sekretarisnya. Dia berharap rasa tertarik akan berubah menjadi rasa cinta dan menumbuhkan keberanian pada Jonael untuk melindungi wanita. Dia tidak ingin lemah terhadap wanita, sudah cukup dengan semua itu. Kemudian kesepakatan terjadi. Aleta merasa kasihan melihat atasannya kesakitan, maka dia menerima tawaran itu. Wanita ini memiliki hati yang lembut. Meskipun dia sadar ada satu kelemahan lain dari Jonael yang belum bisa ia terima yakni Jonael membenci komitmen. Lelaki itu sangat takut untuk memiliki hubungan dan berakhir buruk seperti orangtuanya. Tapi tidak masalah karena Aleta juga memiliki alasannya sendiri. Beberapa kali saran Psikiater sudah dicoba, namun tetap tidak bisa. Efek Ibu yang membesarkannya dengan kekerasan, kemudian menyakitinya dengan sebuah perpisahan tak pernah hilang dari ingatan Jonael. Mereka menjalani hubungan mutulism selama beberapa bulan. Semua berjalan dalam kedok usaha penyembuhan. Belum ada hasil yang bisa mereka dapatkan karena kecelakaan itu sudah dulu terjadi. Jonael perlu istirahat selama tiga minggu dan kehilangan ingatan dalam jangka waktu enam bulan. Aleta membiarkan Jonael mengingat apa yang ingin dia ingat. Lalu, kedekatan kali ini, saat Jonael lupa ingatan, adalah sebuah ketidaksengajaan. Lelaki tu sendiri yang berniat mendekati Aleta diluar pekerjaan. Aleta percaya Jonael memanfaatkan sisa waktu di perjanjian mereka dan tidak ingin rugi. Lelaki sama saja. Pertanyaannya? Kenapa Aleta mau melakukan ini semua? Entahlah. Bahkan Aleta belum bisa menerka isi hatinya. Segala yang berhubungan dengan Jonael selalu memiliki kepentingan, maka dia tidak ingin terjebak dan melewati batas, seperti dulu. Nyatanya, segala penolakan Aleta tidak membuat Jonael menyerah, seperti malam ini, lelaki itu bahkan berani menciumnya dengan paksa. Dalam hati kecil, Aleta penasaran. Baiklah, untuk sementara Aleta akan memupus logikanya dan hanya ingin membuat Jonael tenang kembali. Kali ini dia ingin membantu Jonael tanpa kesepakatan apapun. Biarlah semua berjalan secara alami, karena sejujurnya dia juga ingin mengetahui isi hatinya sendiri. “Kau sudah tenang?”, tanya Aleta. Jonael membenahi posisinya dengan makin menyerukkan kepala pada d**a Aleta. Mereka masih berpelukan di dekat pintu. “Maafkan aku, Ale.”, ucapnya lirih. “Oke, Jo. Aku juga minta maaf.”, Aleta kembali mengelus kepala Jonael. “Jangan mengusirku.” “Iya… kau tetap disini.”, lelaki ini semakin terlihat lemah, hati Aleta mendesir. “Aku membutuhkanmu….”, pungkas Jonael membuat Aleta menarik kepalanya naik dan menatap manik mata lemah itu kembali. “Iyaa…iya….”, Aleta mengangguk dan mengecup bibir Jonael sekali. Akhirnya lelaki itu bisa bernafas lega.    ****** Jonael belum melepas tubuh Aleta. Mereka tertidur di sebuah sofa. Tidak banyak yang terjadi pada malam itu. Mereka hanya saling diam, bergelut dengan pikiran masing-masing lalu jatuh tidur. Matahari semakin naik, mata Aleta mulai terbuka. Pelan dia menatap sosok lelaki yang merapat di tubuhnya. Jonael masih terlelap. Aleta mengingat kejadian semalam dan dia tahu ini akan terjadi. Bukan, bukan pelukan namun niat awal yang dia ingin lakukan adalah tidak membiarkan Jonael terlantung sendirian di hotel. Tidur berdua tidak termasuk di dalamnya, namun kenyataan berkata lain. Dengan pelan Aleta menarik tangannya dari tubuh Jonael. Dia meminimalisir gerakan agar lelaki itu tidak bangun. Dalam beberapa detik, dirinya berhasil melepaskan diri. Hanya ada dengusan kecil dari Jonael saat tubuh mereka terpisah. Aleta pergi ke kamar miliknya dengan wajah lelah. Dia berharap Jonael tidak bangun hingga dia selesai bersiap. Setelah beberapa saat, Aleta sudah siap dengan pakaian casual. Hari ini weekend dan dia tampak segar dengan pakaian itu. Aleta keluar kamar dan berjingkat kecil ketika Jonael sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan datar. “Kau mau kemana?”, tanya Jonael cepat. “Aku akan mengunjungi keluargaku.” “Aku antar.”, tawar Jonael dengan wajah berantakan. Aleta memperhatikan itu dengan kesal namun tidak memungkiri ketampanan masih ada disana. Aleta berjalan melewati Jonael ke arah sofa. Dia sempatkan waktu untuk merapikan beberapa sisinya yang juga berantakan. “Kau bisa pulang sekarang, jangan lupa membawa paperbagmu.”, pinta Aleta. Jonael yang masih memperhatikan gerakan wanita itu hanya diam di tempat. “Aku akan mengantarmu pulang.”, ulangnya. “Tidak perlu. Aku ingin memiliki quality time dengan keluargaku.” “Aku tidak bilang akan mengganggu. Hanya mengantar.” “Tapi aku jelas menolak. Apa kau tidak malu?”, tegasnya. Jonael menghela nafas kesal melihat kelakuan Aleta. Baiklah dia mengalah. Bagaimanapun, wanita ini yang telah menyelamatkannya semalam. “Fine. Aku pulang.” Aleta merasa lega dengan jawaban itu. Dia melihat Jonael merapikan rambut dengan jari-jarinya lalu bergerak mengambil paperbag miliknya. Aleta juga berjalan keluar dengan menenteng tas kecil. Dia terlihat santai kali ini. Berbeda dengan Jonael yang masih mengenakan baju kerja lusuh. Mereka keluar dari apartemen bersama-sama, berjalan menuju lift. “Terimakasih untuk semalam.”, Jonael membuka suara dengan datar. Mereka sudah di dalam lift yang bergerak turun. “Aku lebih suka kau melupakannya.”, balas Aleta acuh. Hanya sebuah lirikan yang muncul dari Jonael saat mendengar itu. Aleta kembali pada mode ketus yang sangat ia benci akhir-akhir ini. ‘Tiiiing’ Lift sudah sampai pada lantai yang mereka tuju. Sebelum pintu terbuka, Jonael bergerak cepat menoleh pada Aleta dan memiringkan kepala untuk mengecup bibir wanitu itu. Cup. Got it. Selama beberapa detik bibir mereka menempel. Aleta masih tidak sadar pada apa yang terjadi hingga lelaki itu mundur kemudian berbisik di depan wajahnya. “Aku tidak mungkin melupakan bibir manis ini. See you on Monday, Ale.”, ucapnya kemudian berlalu pergi, meninggalkan Aleta yang masih mematung. Damn you, Bastard. Aleta lemas mendapat serangan di pagi hari.     ****** Sebuah rumah dengan gerbang besar dan halaman serba hijau yang luas terpampang di hadapan Aleta. Mobilnya bergerak masuk setelah penjaga menyambut dengan senyum ramah. Sudah berapa lama dia tidak berkunjung? Apa mungkin itu sebulan? Sepertinya begitu. Aleta turun untuk menuju pintu utama yang menjulang tinggi disana. Dia membukanya dengan pelan. Satu suara menyambut dengan ceria. Wanita paruh baya dengan logat khas miliknya. “Selamat datang, Ale-ale holay???”, sapanya riang. “Bi Imah tidak bosan memanggilku begitu?” Mereka tertawa bersama, “Tidak, Non. Anda masih semanis dulu.” “Memang. Mana bisa aku menua sepertimu?”, candanya dengan mengapit lengan Bi Imah untuk dia tarik ke ruangan dalam. Aleta memeluk lengan itu sembari melihat ke sekeliling. “Dimana mereka?” “Oh, ada di halaman belakang. Mereka sedang berenang.” “Termasuk Tristan?”, Aleta terkejut. “Iya, Non.” Haassh…. Dia medengus kesal dan mempercepat langkah menuju ke belakang. Sesampainya disana, Aleta berkacak pinggang melihat senda gurau tiga orang di hadapannya. “Zia, kau gila?”, teriaknya dari tepi kolam. Wanita yang dipanggil menoleh, “Aleeee…. Akhirnya kau pulang juga, berandal kecil?” “Sialan. Keluarkan Tristan dari sana, bodoh. Demi Tuhan dia masih dua tahun.”, Aleta berbicara tentang keponakan satu-satunya. “Hey, kau jangan mengoceh saja. Bantu dia mengeringkan badan.”, pinta lelaki dengan perawakan tegap dan tinggi seperti Aleta versi laki-laki. Ya, dia adalah Marvelo Adnan. Kakak kandung Aleta. “Diam kau Marvel. Aku marah jika sampai Tristan sakit.” “Jangan berlebihan, Ale, kami sudah tahu ilmunya. Dua tahun sudah terlambat untuk membuatnya bisa menyelam seperti ini.”, bela Zia. “Kalian berdua memang gila. Kemarikan keponakanku. Jangan harap kalian bisa menyentuhnya hari ini. Dia adalah milikku.”, tegas Aleta untuk mendekat ke arah dimana Tristan tersenyum sambil memainkan air di gendongan Zia. Aleta meraih Tristan untuk dia bawa ke kamarnya.    ****** Hari beranjak siang, keluarga Aleta sudah siap di meja makan. Aleta duduk disamping Tristan. Anak itu bergerak aktif di kursi kebesarannya. Dengan penuh senyum Aleta berinteraksi dengan keponakannya. “Kau masih bekerja di Sagha Group?”, suara Marvel menginterupsi. Aleta menoleh pada sang kakak. “Iya.” “Jika dia memperlakukanmu dengan buruk, kau boleh keluar.”, tambahnya. “Aku tidak perlu ijin darimu lagi. Apa yang aku kerjakan sekarang sudah menjadi niatanku sendiri.” “Baguslah, kau memang harus mulai bertanggung jawab dengan hidupmu.” “Terimakasih kau mempercayaiku, Marvel.” “Dan kalian seperti dua orang asing.”, potong Zia yang melihat kekakuan dua orang itu. Marvel hanya mengedikkan bahu sementara Aleta mengacuhkan dengan beralih pada Tristan. “Tidak ada yang ingin memulai?”, tanya Zia kembali. “Oke oke. Aku menyayanginya, hanya saja mungkin dia tidak sadar.”, sahut Marvel. “Ale?” Aleta menoleh pada suara Zia yang menunggu jawabannya. Dengan raut bertanya, “Apa?” “Tidak ada yang ingin kau ucapkan pada kakakmu setelah sekian lama tidak bertemu?” Aleta menghela nafas sebelum menjawab, “Hmm… baiklah. Aku merindukan Marvel tapi aku tidak suka dikekang. Jika kami kembali akrab, maka aku takut akan terlena dan kembali ke rumah ini.” “Bagus. Itulah suara hati kalian masing-masing. Sekarang kalian sama-sama tahu, bukan? Jadi stop untuk bertindak seperti orang asing. Kalian ini keluarga, tidak ada lainnya. Lalu kenapa kalian menyia-nyiakan waktu, huh? Sekarang baikan. Tunjukkan sikap dewasa kalian.”, pinta Zia dengan harap. Marvel menatap Aleta dengan lembut, “Ak- Aku janji tidak akan memaksamu kembali ke rumah.”, ucapnya. Aleta bahagia mendengar itu, dia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Marvel. Aleta memberi pelukan hangat untuk sang kakak. “Terimakasih kau sudah menjagaku selama ini, aku menyayangimu, Marvel.” Zia tersenyum lebar melihat kejadian itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD