PART 11

1534 Words
Hari berganti minggu, Jonael mulai bisa mengikuti ritme banyak pekerjaan dan proyek di perusahaannya. Kemajuan ia tunjukkan, tak ayal membuat sang Ayah bangga. Meski begitu, ingatan Jonael belum sepenuhnya kembali. Banyak hal yang masih ia lupa. Selain itu, Jonael terus berusaha untuk mendekati Aleta, dalam rangka penasaran. Hatinya tidak mengizinkan sebuah kata menyerah. Aleta tetap pada pendiriannya untuk tidak tergoda, kecuali dia sudah terbiasa dengan usaha yang digalakkan Jonael. Sebenarnya, dia sempat terkesan namun logikanya masih mendominasi. “Selamat pagi, semuanya…”, sapa Aleta dengan manis pagi hari ini. “Hai, Aleta. Oh… selamat kau sudah mendapat bunga di pagi hari.”, sapa salah satu pegawai. Aleta mengernyit bingung, “Bunga?” “Ya, sebuket mawar merah, sudah di mejamu. Kami tidak sempat membaca pengirimnya.”, jelasnya lagi. “Oke, thanks.”, Aleta berjalan menuju mejanya di ujung. Dia sempat melirik pada Tommy yang hanya diam menatap monitornya. Setelah sampai di meja, benar saja, ada sebuket mawar merah disana. Aleta mengambil kartu ucapan yang terselip di bawah kelopak. Shit, hell No. Aleta tidak suka membacanya.     ****** Aleta baru selesai mendampingi Jonaael untuk rapat direksi. Banyak progres yang mereka bahas hingga banyak tugas juga kedepannya. Dia merasa lelah dan pusing, mungkin Jonael juga merasakan itu. Terlihat dari bagaimana dia tidak terlalu ceria hari ini. Mereka kembali masuk ke ruangan Jonael. “Kenapa kau hanya diam sejak pagi?”, tanya Aleta saat memperhatikan Jonael melepas jas dan menyampirkan ke sembarang tempat. “Kau pikir kenapa?”, dia bertanya balik. “Mana kutahu.”, jawab spontan Aleta dengan melipat tangan di d**a. Haasssh… Jonael membuang nafas berat. “Alasannya karena kau dan bunga bodohmu itu.”, jawab Jonael tegas. Kini dia menyandarkan punggung lelah di kursi kebesarannya. Aleta sedikit berpikir kemudian dia teringat jika pagi tadi Jonael datang lebih dulu, maka dia yakin lelaki ini sudah membaca pesan di dalamnya. “Kau melanggar privasiku dengan membaca pesan di buket?”, selidik Aleta. “Kukira aku berhak karena aku sudah menyatakan ketertarikan padamu.” “Itu tidak bisa dibenarkan, Jonael.” “Lalu kau merasa bahagia jika Isaac memberikan mawar merah? Sial, aku bisa memberi yang lebih besar daripada itu.” Deeg. Aleta merasa terhimpit dengan pernyataan Jonael. Memang Isaac yang mengirimnya, tapi bukan dia yang menginginkan itu. Isaac seperti begitu karena memang selama ini Aleta tidak memberi respon sedikitpun. Sialan, Jonael justru salah sangka. “Kau tidak perlu memberi apapun. Aku tidak suka mawar merah, jadi itu memang percuma.”, Aleta meluruskan atau justru menghibur lelaki menyebalkan di hadapannya. “Benarkah?”, sahutnya antusias. Ada rasa senang dalam hati kecilnya. Bunga Isaac tidak berarti. “Apa aku terlihat bahagia? Apa kau masih melihat bunga itu di mejaku?” “Tidak.”, jawabnya yakin. “Maka diamlah, jangan bersikap kekanakan hanya karena sebuah bunga.”, pungkas Aleta. Jonael merasa tersinggung dengan kalimat pamungkas itu. Wanita ini memang selalu bisa membuatnya naik turun dalam satu waktu. Kau menarik, Ale. Tapi kau sulit sekali dibaca, batin Jonael. “….. Aku ingin ambil libur.”, tambah Aleta semakin membuat Jonael terkejut. “Tidak bisa.”, jawabnya asal. “Jangan sarkasme begitu. Aku bahkan menerima pekerjaan di akhir pekan. Aku minta dispensasi.” “Untuk apa hari libur?”, tuntutnya. “Teman kuliahku akan menikah.” “Oke, setengah hari. Kau bisa menghadiri acara lalu kembali bekerja.” “Kau gila? Tidak, aku ingin tiga hari.” “Kau yang gila, Ale. Bisa apa aku tiga hari tanpamu- maksudku itu terlalu lama, sial.” Alis Aleta mengernyit mendengar pengakuan tidak sengaja itu. “Temanku menikah di Bali. Aku tetap ingin tiga hari.”, jelasnya. Mereka masih berdebat dengan pendirian sama keras. “Jangan tiga hari, kumohon.”, Jonael menurunkan nada. “Tidak bisa ditawar lagi, Jo. Aku sudah berjanji padanya. Dia sudah baik padaku selama kuliah di Singapore, aku tidak ingin mengecewakannya.”, Aleta juga menurunkan tensi bicara. Dengan wajah sedikit memelas Aleta berhasil membuat Jonael bingung. Lelaki itu tidak suka dengan ide ijin tiga hari tapi dia juga tidak ingin egois dan berakibat Aleta membencinya. Demi Tuhan mereka baru dekat beberapa waktu lalu. “Oke oke… you win. Dapatkan libur sialan itu.” Aleta tersenyum puas. Dia memang yakin akan mendapatkannya. “Yash. Thank you, tapi tenang saja, aku siapkan keperluanmu selama tiga hari kutinggal dan aku masih memantau dari jauh.” “Ya… yaaa… terserahmu.” Setelah kata itu tiba-tiba Jonael bangkit dari kursinya sambil membawa satu berkas di tangan. “…..sekarang tolong jelaskan tentang editing proyek ini. Kenapa rumit sekali? Aku pusing.”, keluh Jonael dengan membawa Aleta duduk di sofa. Mereka bersanding dengan menatap pada tulisan yang ada di lembaran itu. Aleta juga tampak bingung, “Kukira kau sudah faham, aku juga belum tahu alurnya….”, sanggah Aleta sambil mengambil lembaran dari tangan Jonael. Ketika Aleta fokus pada materinya, Jonael mulai berulah. “Aku tidak peduli, pelajari lalu jelaskan padaku.”, pinta Jonael dengan tiba-tiba memaksakan kepalanya untuk masuk ke bawah lingkaran tangan Aleta. Jonael merentangkan tubuh, mensejajarkan kaki di atas sofa, dan menaruh kepala di pangkuan Aleta. Gila. Wanita itu terkejut dan mengangkat lembaran yang menggantung di tangannya. Secara tidak langsung dia justru memberi ruang untuk Jonael. Bodoh. “Jo, ini kantor.”, protes Aleta sambil menggerakkan pahanya yang dijadikan bantalan kepala Jonael. “Maka ingatkan aku untuk melakukannya juga di luar kantor.”, ucap Jonael dengan menatap lekat Aleta yang salah tingkah. Aleta mengehela nafas berat. Dia ingin menimbun tubuh Jonael dengan benda-benda yang ada di ruangan ini. Dia tidak bisa bergerak dengan nyaman, bahkan dia harus menghindari tatapan mata Jonael saat ini juga atau dia akan terbawa suasana. Sungguh ini romantis, namun salah. Aleta mengacuhkan Jonael dan lebih memilih beradu dengan lembaran di tangannya. Dia terus mencari titik fokus pada materi dan bukan pada tingkah lelaki tampan di pangkuannya ini. “Kau tahu, Ale. Aku bahkan tidak mendapat waktu senggang sedikitpun, tapi kau akan mendapat liburmu.”, keluh lelaki itu. “Apa kau mengeluh? Siapa yang dulu bersemangat hingga tidak ingin ada jeda?”, Aleta mengingatkan dengan masih enggan menatap Jonael. Kertas lebih menarik. Jonael mengusap wajahnya yang lelah. Dia tidak berbohong untuk mengeluh. Jonael memiringkan tubuhnya menghadap pada permukaan perut Aleta. “Jo….”, protesnya. Jonael menggerakkan tangannya untuk memutari pinggang Aleta. Dia meringkuk, memeluk erat, dan menyusupkan wajahnya di perut Aleta. Tidak peduli apapun, he need it, a lot. “Aku manusia biasa. Jujur aku pusing dan lelah.”, ucap Jonael dengan sayu dan lirih. Aleta masih bisa mendengar kalimat itu dengan baik. Aleta urung menarik tubuh Jonael untuk menjauh. Rasa simpatinya kembali muncul. Dia sangat benci melihat Jonael lemah. “Kau sudah kontrol tentang kesehatanmu?”, tanya Aleta. “Kau lebih tahu tentang itu.” “Apa aku harus membatalkan jadwalmu hari ini?”, tanya Aleta pelan. “Seandainya bisa, tapi aku sudah berjanji dengan Mr. Nakamura jam dua.”, suara Jonael tertelan di lekuk perut Aleta. Wanita itu sebenarnya merasa geli namun hal ini sudah pernah terjadi dan dia harus menormalkan nafasnya kembali. Aleta menunduk dan satu tangannya mengusap kepala belakang Jonael. “Buatlah hatimu bahagia, makan yang banyak juga, maka kau tidak akan jenuh.”, lembut dia berucap. Tubuh Jonael seketika tersengat listrik ribuan watt. Demi apapun, Aleta tidak menampik posisi mereka saat ini. Wanita ini justru menaruh perhatian lebih pada Jonael. Belaian Aleta, astaga. Jonael justru semakin menyerukkan wajahnya. Aroma ini memang favoritnya. Dia juga mengeratkan pelukan. Aleta hanya bisa merasakan pergerakan itu tanpa protes. “Aku bahagia jika setiap hari bisa begini. Aku seperti mendapat energi baru.”, ucap Jonael parau. Aleta menegang. Dia merasa Jonael memerankan peran dengan optimal. Meski sedikit terganggu, namun Aleta tidak ingin membahas tentang hubungan mereka saat ini atau pertikaian akan datang kembali. “Kau mengantuk? Jangan melantur.” “Aku ingin tetap seperti ini. Biarkan aku istirahat sebentar.”, pintanya dengan mata terpejam. “Tapi aku sudah memesan makan siang untukmu. Makan dulu.” “No, kau akan melepasku jika aku lengah.” “Hmmm…. Sinting.” Aleta kemudian mengambil ponsel Jonael di atas meja. Dia bahkan tidak sadar bahwa dadanya sempat menyentuh puncak kepala Jonael. Lelaki itu hanya tersenyum dalam diam. Double wins. “…. Jika aku tidak bisa lepas, maka siapa yang harus aku minta mengambil makanan? Tidak mungkin resepsionis naik dan melihat tingkah gila bosnya.”, keluh Aleta. Jonael terkekeh kecil dalam pelukannya. “Pak Bima.”, ucap Jonael dengan lebih pelan. Kesadarannya hampir hilang. Aleta setuju, kemudian menghubungi Pak Bima melalui ponsel Jonael karena ponselnya tertinggal di meja kerja. Bukan aneh lagi jika Aleta tahu passcode ponsel Jonael. “…….Iya, Pak. Order atas nama Aleta. Mungkin akan datang sedikit lama karena jarak restorannya jauh dari sini. Terimakasih, Pak Bima.”, pungkas Aleta kemudian menaruh ponsel Jonael di samping duduknya. Lelaki itu tidak bergerak sedikitpun. Aleta yakin dia sudah tidur. Aleta menjaga keseimbangan tubuhnya agar Jonael tidak terganggu. Aleta mencoba tenang dan hanya diam, kembali membaca lembaran tadi. Tiga puluh menit kemudian, Pak Bima masuk dengan instruksi pelan dari Aleta. Wanita itu menaruh lembaran berkas di meja kemudian memasang telunjuk di depan bibir tanda silent mode. “Astaga….. maaf saya tidak tahu jika----“, Pak Bima terkejut melihat kelakuan dua orang disana. “Ssstt… jangan keras-keras nanti dia bangun, Pak.”, bisik Aleta. Melihat Aleta tampak santai, Pak Bima memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya. Jujur, dia yang justru merasa malu melihat Jonael tertidur pulas meringkuk di pangkuan Aleta. Pak Bima hanya bisa menatap punggung Jonael yang membelakanginya. “Ini pesanan anda, Nona.”, suara Pak Bima sangat lirih. “Terimakasih, Pak Bima… dan tolong jangan ceritakan ini pada siapapun. Saya percaya sama Bapak.” Pak Bima mengangguk, “Tenang saja, saya faham, Non. Heee… Pak Jona tidak pernah mendapat tidur siang selama ini.” “Mmmhhh… sebenarnya ini bukan pertama kali, Pak. Dia sering tertidur di kantor saat benar-benar lelah.” “Itu karena anda, Non. Dia sedikit berubah setelah mengenal anda beberapa bulan lalu.” Mereka tertawa lirih. Sebelum mengenal Aleta, Jonael merupakan atasan yang baik namun sangat jarang tersenyum dan tidak pernah bersikap ramah. Dia selalu terlihat kaku dan tegas, namun untuk substansi pekerjaan dia lebih luwes, tidak sekaku penampilannya. Meski sikapnya berbanding terbalik dengan penampakan luarnya, namun beberapa pegawai masih merasa takut. “Sekarang dia jauh lebih manja, Pak. Saya pusing.”, sepertinya Aleta nyaman bercerita dengan sopir Jonael. Ya, lelaki paruh baya itu sudah ikut keluarga Jonael sejak ia bayi. Maka tidak heran jika Pak Bima juga tahu rahasia-rahasia bosnya. “Setidaknya dia tahu kemana dia harus bersikap begitu, Non. Terimakasih sudah menjaga Pak Jona.”, ucapan tulus Pak bima disambut senyum dan anggukan kepala oleh Aleta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD