PART 12

1092 Words
Akhirnya hari libur yang diimpikan Aleta bisa terwujud. Dia sudah berada di Bali dengan hati yang gembira. Teman kuliahnya yang bernama Ellen akan menikahi seorang pengusaha properti terkenal, pemilik Gimawan Group. Sebenarnya ada satu kejanggalan pada hatinya. Gimawan Group pasti mengenal Sagha Group, beberapa kali mereka bekerja sama, namun dia tidak tahu hubungan antar pemimpin dua group tersebut sedekat apa. Apakah telalu dekat hingga Jonael mungkin diundang ke acara ini? Entahlah, Aleta bahkan tidak mengaku siapa nama temannya pada Jonael. Ellen menyambut Aleta dengan riang, mempelai wanita itu tidak memiliki banyak teman, hanya beberapa orang terdekatnya yang bisa menjadi pendamping di hari bahagianya ini. “Kau sangat manis dengan gaun itu, Ale. Proud of me yang bisa menyesuaikan seleramu dan teman-teman lainnya.”, candanya di ruangan khusus. Acara berlangsung outdoor di sebuah resort mewah. Mereka masih berada di dalam kamar hingga acara akan dimulai. “Kau juga sangat cantik dengan gaun pernikahan impianmu. Simple tapi elegan. Ahh aku menyukainya.”, sahut Aleta. “Aku bisa memberi rekomendasi terbaik untukmu.” “Ingatkan aku untuk itu.” Ellen melirik beberapa orang di sekitarnya yang masih tampak sibuk. Dia mendekat pada tubuh Aleta dan berbisik, “Bagaimana Tuan Saghamu, Ale?” Aleta terperanjat, ahh Ellen menyebalkan. “Dia marah karena aku mengambil libur tiga hari.” “Tiga hari? Kau bahkan baru mendarat hari ini.”, Aleta sengaja menyisakan dua hari setelah acara pernikahan itu. “Iya, aku ingin berlibur juga, Ell. Gila, bekerja dengannya sangat berat. Akhir pekanku penuh dengan rencana kerja.” “Owh… okey. Masuk akal. Lalu bagaimana akhirnya dia setuju?” “Aku harus memberi tampang memelas, gila kan? Bukan gayaku.” Ellen tertawa dan menyikut tubuh Aleta. “See, dia memang menyukaimu, Aleta. Dia bisa luluh dengan mudah.” “Aku bahkan tidak tahu kemana arah pengakuannya itu. Dia bukan orang yang mudah memberi komitmen pada wanita. Aku tidak boleh terkecoh.” “Tapi, apa kau menikmatinya? Maksudku hubunganmu dengannya yang seperti ini.” “Mmmhh… demi keluargaku, aku tetap harus melakukannya.” “Yaa, benar. Baiklah, semoga kau bisa menikmati itu.” “Tunggu, aku ingin bertanya satu hal.”, sahut Aleta. “Apa?” “Jonael Sagha. Apakah Arslan mengundang dia? Seingatku mereka pernah menjalin kerjasama.” Ellen tersenyum lebar sambil membenarkan tatanan rambut Aleta. “Kau ingin jawaban jujur?”, tanyanya membuat Aleta penasaran. “Ya.” “Oke, dia memang diundang.”, jawaban Ellen menghentakkan hati Aleta. “Sial, dia tidak minta mengosongkan hari. Aku sudah mengatur jadwalnya secara padat hari ini, Ell.” “Tenang…. Dia memang diundang tapi tidak berjanji bisa hadir, Arslan bilang begitu. Oh, dan aku tahu karena aku yakin kau akan bertanya.” “Shhh… kau memang teman pengertian, tapi jawabanmu tidak membuatku puas.” “Tidak puas di bagian mana? Dia yang ternyata diundang atau dia yang tidak berjanji akan datang?”, tuntut Ellen dengan cengiran. Aleta berdecak heran, karena dia juga tidak tahu jawabannya. “Entahlah. Aku hanya tidak suka jika dia mendapat kesulitan.”, jawab Aleta mengambang. “Uuuwh sikap asisten sekali, ya? Hahaaa… Kita lihat saja apakah dia ada di bawah.” Mereka kemudian turun karena acara akan segera dimulai. Aleta bergabung bersama teman-teman lainnya. Mereka belum saling mengenal karena hanya Aleta yang berstatus teman kuliah Ellen.    ****** Nihil. Tidak ada Jonael hingga acara berakhir. Lelaki itu mungkin memang tengah bergulat dengan pekerjaan. Ellen sengaja membuat acara di weekday malam karena mayoritas tamunya adalah petinggi yang bisa mengatur jadwalnya sendiri. Aleta hanya memperhatikan para tamu yang berangsur pulang. Dia akan segera kembali ke kamar yang telah disewakan Ellen namun satu cekalan menghentikan langkahnya. Tangan Aleta ditahan oleh seseorang. Double sial. Isaac disini. Mata Aleta membulat karena bukan ini yang ia inginkan. “Isaac? Apa yang kau lakukan disini?” Lelaki itu dengan sopan melepas tangan Aleta. “Aku masuk daftar undangan bersama Ayahku.” Aleta ber-oh ria karena kalangan sekelas Isaac pantas berada disini. “Oh, iya. Kalau begitu selamat menikmati pesta.” “Tunggu, kau mau kemana, Ale?” Aleta menghentikan langkah, “Aku sudah selesai. Aku akan istirahat.” “Tapi acara belum berakhir, mmhh… maukah kau menemaniku?” “Tidak. Kau bisa bersama Ayahmu.”, sergah Aleta dengan wajah datar. “Kau tahu, obrolan para orangtua tidak bisa ku ikuti.” “Maka kau bisa pulang dan istirahat. Maaf sekali lagi, aku ingin sendiri.” “Ayolah, aku tidak akan mengganggu. Sekarang kita hanya akan keluar sebagai teman saja. Bisa, kan?” Aleta mengambil waktu untuk berpikir, “Tidak ada topik yang bisa kita bahas.”, jawabnya. “Apa kau tidak ingin berbicara padaku lagi?” “Bukan begitu, Isaac. Hanya saja aku malas berbasa-basi. Kita sudah punya hidup masing-masing. Ini seperti memulai dari awal lagi dan aku tidak ingin melakukannya sekarang. Aku sedang kelelahan.” “Apa kau juga baru mendarat hari ini?” “Iya.” “Oh, pantas kau lelah. Tapi aku tahu tempat istirahat yang menyenangkan, Ale. Aku yakin kau suka.” “Aku hanya ingin tidur, terimakasih.” Isaac menggaruk kepalanya, dia hampir frustasi membujuk Aleta yang keras kepala. “Kau membenciku?”, Isaac bertanya dengan serius. “Tidak. Aku sudah tidak lagi memikirkan dirimu. Sungguh, kita buat ini menjadi simpel, Isaac. Jangan lagi dekati aku. Jangan gunakan alasan apapun, meski hanya untuk pertemanan. Cukup kita sebagai partner kerja sekarang.” Isaac menghela nafas panjang, “Bagaimana jika ini memang tentang pekerjaan?” “Jangan membodohiku.” “Sama sekali tidak. Jadi….. aku berpikir ingin menambah jumlah investasi ke perusahaan Sagha. Ini terjadi setelah aku berdiskusi dengan Ayahku tempo hari.” “Kenapa kau tak bilang juga tempo hari?” “Kenapa kita tidak membahas itu sambil duduk santai?”, balasnya cepat. “Sialan kau.” Isaac tersenyum lebar karena sepertinya ia berhasil.    ****** Isaac dan Aleta tidak pergi dari acara itu. Mereka hanya mencari tempat yang sedikit sepi di area pojok dengan satu kursi panjang. “…… jadi begitu, Ale. Ayah berpikir ini langkah yang baik, kami percaya pada kemampuan Jonael.”, jelas Isaac. Aleta menimbang dalam diam. Ini mungkin menjadi berita bagus untuk Jonael. “Baiklah, akan aku sampaikan pada Jonael.” “Tunggu, kalian seakrab itu dengan hanya memanggil nama?” Oh, Aleta terkejut dengan dirinya sendiri, “Aaahh… hanya ungkapan santaiku saja. Jangan dianggap serius.” Isaac menganggukkan kepala tanda setuju, “Oke. Jadi aku jujur, bukan? Memang aku ingin membahas pekerjaan dan aku juga butuh teman berbincang. Lihatlah para bapak-bapak itu, mereka tertawa dengan penuh kepalsuan.” Isaac menunjuk beberapa orang yang tengah menikmati hidangan di satu meja besar. “Kau bisa saja menambah koneksi dengan bergabung bersama mereka.”, usul Aleta. “Dan aku akan mati bosan.”, Isaac menambahkan. “Lalu kenapa kau mau terjun ke bisnis ini? Kenapa tak kau lanjutkan saja hobi Jetski-mu itu?”, tanya Aleta yang masih mengingat kebiasaan Isaac di waktu dulu. “Ya, aku mengurangi kegiatanku setelah Ayah memaksa untuk memasukkanku dalam jajaran di perusahaan.” “Kau belum terbiasa?” “Sama sekali belum. Ini bukan passionku.” “Poor you.”, ungkap Aleta. “Yash, poor me. Kapan kau kembali ke Jakarta?”, tanya Isaac penasaran. “Kenapa?” “Jika saja aku beruntung, aku ingin mengajakmu bermain Jetski. Besok? Kau bisa?” Aleta menggeleng cepat, “Terimakasih, aku sudah memiliki agenda.” “Ah… aku terlambat membuat janji denganmu.” “Aku tidak sepenting itu hingga harus membuat janji.” “Hahaaa kau ini. Yasudah… sepertinya pesta hampir selesai. Kau bisa kembali ke kamar dan aku akan menemui Ayah.” Aleta mulai berdiri, “Benar. Aku sangat lelah dan butuh istirahat.” “Terimakasih atas waktunya, Ale…. dan terimakasih untuk memaafkan aku yang dulu.” “It’s ok. Semua orang pernah berbuat kesalahan, termasuk aku.”…. yang sempat tegoda olehmu, dulu… lanjut Aleta dalam hati. “Sampai jumpa lagi, Ale.” “Yaa, aku permisi, Isaac.” Mereka berpisah dengan kata damai. Isaac bergerak ke arah Ayahnya dan Aleta pergi ke kamar miliknya. Acara inti sudah ia lewati bersama bridesmaid lainnya. Sekarang mereka memiliki waktu luang dan Aleta memilih untuk istirahat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD