Aleta memasuki kamar dengan lelah. Dia melepas sepatu heels yang sejak tadi mengganggunya dan mengganti dengan satu sandal hotel. Aahh ringan sekali. Dia berjalan santai ke arah ranjang.
Sebelum melepas gaun dan menghapus riasan, dia berniat menghubungi seseorang. Satu panggilan telah tersambung. Nama Jonael tertera besar di layar itu.
‘Ya, Halo?’, sapa suara di seberang sana.
Aleta sedikit terkejut karena panggilaan diterima pada dering pertama.
“Kau belum tidur?”, tanya Aleta saat mendudukkan diri di tepi ranjang, menghadap pada jendela besar. Dia berbicara sambil memberi pijatan pada kakinya.
‘Belum, masih sibuk dengan beberapa hal. Bagaimana pestamu? Kenapa kau menghubungiku?’
“Mmhh… baru saja selesai. Aku akan istirahat tapi aku ingin memberi kabar baik padamu.”
‘Kabar apa itu?’, tanya Jonael.
“Perusahaan Baktijaya menaikkan angka investasi. Hal ini akan meringankan kita dalam pemenuhan jumlah investor.”
Ada jeda karena Jonael tidak langsung menyahut. Aleta menunggu reaksi atasannya.
“… Jo? Kau masih disana?”
‘Ah… Iya. It’s sounds good. Darimana kau tahu?’
Aleta menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, dia tengah memilih kata, “Mmmhh… Isaac memberitahuku. Kami tidak sengaja bertemu di acara tadi.”
God, terdengar satu deheman kecil di seberang. Jonael sepertinya terkejut. Bahkan suara tarikan nafas lelaki itu bisa didengar oleh Aleta.
‘Baguslah. Setidaknya beban pikirku tentang investor bisa berkurang. Terimakasih, Ale.’
Lelaki itu menurunkan nada suaranya. Dia melemah. Sialan, nama Isaac begitu menyebalkan bagi Jonael.
‘……Pak Jona, untuk paparan tadi siang…. Ouh anda sedang bertelepon, maaf…..’, suara seseorang menginterupsi dari balik Jonael, setelah itu terdengar suara pintu tertutup.
Aleta mengernyit penasaran, “Jo, itu Tommy? Kau dimana jam segini? Kau masih di kantor, huh?”
‘Tid—tidak. Aku sedang menonton film di rumah.’, kilahnya.
Aleta tidak percaya, dia mengganti voice call ke sebuah mode video call. Tidak lama, layar ponsel Aleta menunjukkan wajah lelah Jonael di ruangannya. Tebakan yang tepat.
“Kau berbohong.”, todong Aleta yang tengah melihat Jonael duduk di kursi kerjanya.
Jonael terdiam karena dia terpana. Mengabaikan kemarahan Aleta, dia justru mengagumi sosok itu dengan balutan gaun indah dan riasan simpel yang manis. Ahh… tatanan rambut Aleta sangat menggemaskan. Jonael merinding tanpa alasan.
‘Gorgeous’……, ungkap Jonael spontan.
“Kenapa kau bekerja selarut ini, Jo? Pulang sekarang.”
Jonael tersadar karena bentakan Aleta.
‘Iya iya… hampir selesai. Aku akan pulang sebentar lagi.’
“Apa perlu aku memarahi Tommy?”
‘Jangan berlebihan, Ale. Dia tidak salah. Aku yang memintanya bekerja overtime hari ini. Semua gara-gara asistenku tidak ada.’, keluh jonael.
“Kau menyalahkanku?”
‘Termaafkan karena kecantikanmu malam ini. Kau tahu, kau mengagumkan dengan gaun itu. Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya langsung.’
Aleta bergerak salah tingkah. Jonael sialan.
“Diamlah, jangan melantur dan segeralah pulang. Kondisimu tidak boleh terlalu lelah.”, tegasnya.
‘Aku merindukanmu….’, ungkap Jonael dengan ekspresi serius. Mata lelaki itu tidak lepas dari layar ponselnya sejak tadi.
‘….. kau tidak begitu? Apa hanya aku?’, tambahnya lagi. Aleta masih diam meski hatinya merekah.
“Pulanglah.”, ucapnya dengan mengalihkan pandangan.
‘Oke. Aku pulang sekarang. Tapi berjanjilah satu hal…’
“Apa?”
‘Aku tidak tahu bagaimana dirimu sebelum acara, tapi penampilanmu setelah pesta menjadi hal yang aku favoritkan mulai sekarang. Jangan pergi dengan sembarang lelaki… Lain kali, after party langsung pulang. Kau membahayakan.’
Aleta tersengat kupu-kupu terbang di perutnya. Ungkapan Jonael berhasil memberi efek padanya. Oh God, menelepon Jonael di malam hari ternyata juga berbahaya. Aleta tidak yakin bisa tidur nyenyak setelah ini.
Tanpa menjawab, Aleta memilih mengakhiri panggilan video itu. Sudah cukup, dia tidak ingin semakin bergelinjang hanya karena ucapan lelaki yang bahkan berada jauh darinya.
******
Aleta menolak ajakan Jetski dari Isaac karena memang dia telah berencana untuk mengunjungi sebuah desa wisata di tepi Bali.
Pagi ini dia berkendara seorang diri dengan menyewa satu mobil klasik. Dia bergerak menjauh dari kota. Pemandangan alam yang indah bisa ia dapatkan, mulai dari area persawahan hingga area pepohonan rimbun di kanan-kiri jalan.
Hari beranjak siang. Suara bising sudah tidak lagi ada. Hanya kedamaian desa yang ia dapatkan.
Beberapa jam ia nikmati dengan bersenandung bebas hingga dia tidak sadar jika kondisi jalan semakin menanjak. Area persawahan sudah habis. Kini hanya ada pohon-pohon besar mengapit jalan kecil di sekelilingnya.
Detik setelahnya, mobil Aleta mengeluarkan asap dari kap mesin. Setelah bersuara buruk, mesin pun tiba-tiba mati dan mobil berhenti mendadak. Aleta reflek menarik hand rem untuk mencegahnya tergelinding mundur ke bawah.
Aleta segera keluar dari mobil dan mencari udara segar. Dia panik namun dia tidak berani membuka kap mesin yang telah berasap itu.
Ahh, momen bahagianya seketika berubah sial.
Aleta mengambil ponsel dan mencari nomor resort dimana ia menginap serta menyewa mobil. Setelah beberapa saat akhirnya dia mendapat jawaban. Pihak resort akan menjemput Aleta.
Bernafas lega. Meski dia berada di lokasi semi-hutan, namun dia beruntung masih mendapat sinyal seluler. Meski begitu, ada rasa takut karena disana sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda manusia berlalu lalang. Sejak tadi hanya ada Aleta dan suara burung tak dikenal.
Aleta memperhatikan jam, dia takut harus menunggu petugas resort hingga malam hari. Oh Tuhan, jangan sampai. Saat ini siang mulai berubah menjadi sore, kekhawatirannya beralasan.
Aleta bergidik ngeri, dia tiba-tiba membayangkan ada hewan liar yang siap muncul kapan saja. Ouh, dia menyesal tidak membawa driver.
Satu panggilan datang ke ponsel Aleta.
“Isaac?”, sapanya dengan cepat.
‘Kau dimana, Ale? Aku kembali mencari peruntungan tentang jets--….’
“Isaac dengar, aku sepertinya tersesat dan terkena sial. Aku berada di hutan dan mobilku rusak. Aku-“
‘Dimana itu?’, potong Isaac.
“Aku tidak tahu. Aku buta arah.”
‘Share location, Ale. Jangan panik.’
“Ah… iya, aku tadi sudah mengirim pada pihak resort, mereka bilang akan datang tapi tak juga sampai.”
‘Aku akan kesana bahkan lebih cepat dari petugas resort itu. Kau sendirian, bukan? Maka kirim lokasimu sekarang juga.’
“Oke, aku kirim sekarrr—”
“Nonaaaa…….”, sebuah sentuhan datang ke punggung Aleta.
“Aaaaaahhhhh….”, teriak Aleta keras. Dia terkejut hebat.
Ponsel yang ia gunakan terjatuh di tanah. Suara Isaac tidak lagi terdengar karena Aleta tidak sengaja menekan tombol merah - end call.
Aleta benar-benar terkejut dan rasa takutnya menjalar ke sekujur tubuh. Dia memutar badan dengan d**a bergemuruh. Tidak ada manusia sejak tadi… apakah ini… oh God, Aleta masih ingin hidup.
“Nona siapa?”, tanyanya lagi.
Kini Aleta sudah membalik tubuh dan menghadap pada si penyentuh punggungnya. Betapa terkejutnya ia melihat seorang Nenek tua dengan tubuh bungkuk menatapnya dengan mata membesar…….. Ahh Nenek itu terlihat menyeramkan dengan satu tongkat di tangan kirinya.
Aleta tidak bisa berteriak lagi karena suaranya menghilang, tenggorokannya berat. Dia masih belum bertemu kesadarannya.
“Nonaa sadarlah… Nona mau kemana?”
Aleta bergerak mundur dan berusaha menutup mulutnya yang sejak tadi terbuka.
“Ak---aku….”, terbata dia berucap. Sang Nenek justru mendekat.
“Jangan melanjutkan perjalanan. Ini jalan buntu.”, ungkapnya.
Menyadari sang Nenek memberi informasi, Aleta menetralkan perasaannya. Dia harus yakin jika Nenek ini manusia sungguhan.
“Tap—tapi Nenek…”
“Aku warga sini, Nona. Rumahku ada di lereng gunung.”, ucapnya dengan menunjuk ke arah dataran atas.
Aleta perlahan tenang. Benar, Nenek ini manusia.
“Ma—maafkan saya, nek. Saya terkejut.”
Sang Nenek justru tersenyum, “Kau takut padaku? Tak apa. Aku memang seperti ini.”
“Bu—bukan begitu. Maaf…. aku hanya sedang takut karena sendirian. Lal--lalu Nenek datang dan… yah begitulah….”, jelasnya dengan terengah-engah.
“Iya iya… kau mau kemana, Nona?
“Aku hanya ingin berkeliling tapi aku tidak tahu jika mobilku akan mati di tempat ini...”
“Sudah menghubungi rekanmu? Jangan pergi seorang diri di tempat asing.”
Aleta menghapus sisa keringat dingin di dahinya, “Iya, Nek. Mereka akan datang tapi aku tidak yakin dalam waktu dekat.”
“Benar, desa ini sangat jauh dari kota. Apa kau mau menunggu di rumahku? Tapi kau harus naik beberapa sengkedan dulu.”, tawar sang Nenek.
Naik? Sengkedan? Aleta tidak yakin dengan ide itu.
“Oh… terimakasih, Nek. Aku takut mereka tidak menemukanku nanti. Aku menunggu di dekat mobil saja.”
“Kau yakin? Aku tidak bisa menemanimu karena aku harus segera pulang, Nona.”
“Iy—iya, Nek. Tidak apa aku menunggu sendi-maksudku aku takut tapi aku harus berani. Iya, tidak apa-apa sendi…ri…”
“Benarkah? Kalau begitu aku pergi...”
“Tunggu, Nek.”, Aleta sedikit mendekat ke arah Nenek, “Ap--apa daerah ini menakutkan?”
Sang Nenek melihat ke sekeliling dengan waspada, ahhh hal itu justru menakuti Aleta. Kenapa harus dengan ekspresi seperti itu?
“Selama niatmu baik, kau pasti selamat. Tidak ada penjahat, tidak ada hewan buas, hanya saja…. Itu….. Sudahlah, yang penting kau orang baik, tak masalah.”
“Neneeeeek…..”, rengek Aleta kembali pada ketakutannya.
Aleta menumpu kepalanya dengan dua tangan. Dia benar-benar takut.
“Ale…..”, suara itu… suara itu datang dari balik punggung Aleta. Dengan hati membuncah dia segera menoleh.
Aleta tidak bisa lagi membendung tangisnya karena ketakutan yang ia rasakan hingga detik ini. Melihat sosok itu datang ternyata berhasil melegakan hati Aleta. Dia berlari ke sumber suara. Dia bahkan mengacuhkan sang Nenek, dia hanya ingin perlindungan dari orang yang ia kenal. Aaaa…. Tangisnya pecah di dekapan orang itu.